Rabu, 08 Mei 2019

Tengok Bustaman IV; Bustaman Untuk Dunia Mengulas Figur Kai Bustam Lewat Galeri Kampung

Rabu, 8 mei 2019 | teraSeni.com~

Semarang—Aroma khas kambing menyeruak memenuhi udara. Dari ujung gang, sampai jalan- jalan sempit, memperlihatkan aktifitas warga kampung bustaman—atau dikenal juga kampung penjagal kambing—yang guyup. Sebagian dari mereka, adalah pedagang sekaligus pembeli. Tetangga sekaligus keluarga. Sebuah jalinan yang jarang ditemui di kampung- kampung tengah kota, terutama di tengah arus modernisasi saat ini. 

Tengok Bustaman IV merupakan kelanjutan dari agenda dua tahunan Tengok Bustaman I sampai III sejak tahun 2013. Ada banyak karya seni peninggalan yang masih terjaga, dan atau dimodifikasi oleh warga kampung di sana- sini. Mural di dinding- dinding kampung, Wayang Gaga yang tergantung, hingga komik strip yang mampu mengundang penasaran hingga gelak tawa pengunjung. 

Secara lugas, Tengok Bustaman IV merupakan hasil dari kerja keras kolektif komunitas Hysteria dan warga kampung. Dengan menjunjung frasa Bustaman Untuk Dunia, mereka mencoba menerjemahkan ulang kontribusi figur Kai Bustam beserta keturunannya yang secara langsung maupun tidak langsung mempengaruhi hidup dan kehidupan Kampung Bustaman, bahkan Kota Semarang. Dalam hal ini, direspon dengan pendayagunaan kembali bekas Rumah Pemotongan Hewan (RPH) dalam wujud galeri seni. 

Kampung Bustaman: Teraseni.Com
Arak-arakan bustaman, saat keliling kampung
Foto: Dokumentasi Penyelenggara
Menjelang senja, anak- anak sudah merias diri dengan berbagai macam pakaian adat lengkap dengan segala tetek bengeknya untuk mengikuti ritual pengarakan Bustaman. Yakni, ritual arak- arakan pengantin sunat keliling kampung. Sebenarnya, pembukaan galeri oleh Ayah Hari—figur kampung yang dituakan—akan dilakukan pada tanggal 21 April 2019 malam, sepaket dengan street perfomers art yang melibatkan dengan beberapa seniman dan urbanis. Tetapi, mengawalinya dengan arak- arakan di sore hari sebagai rambu- rambu pengingat acara, barangkali bisa menambah daya tarik pengunjung lebih dini. 

“Karena momentumnya pas. Yaitu bertepatan dengan peringatan hari kartini, akan lebih baik jika kita juga merayakannya sekaligus menghibur adik- adik yang baru saja disunat,” ungkap Ayah Hari dengan wajah berseri- seri, saat ditemui ditengah- tengah ritual arak- arakan pada Minggu (21/04) kemarin. 

Ketika salah seorang warga kampung membakar petasan, maka prosesi arak-arakan pun dimulai. Mereka melakukan pawai keliling kampung, dengan menyenandungkan sholawat nabi yang diiringi oleh grup rebana dan terbangan. 

Tengok Bustaman IV kemudian menjadi respons isu-isu kampung kota dalam bentuk artistik dengan menggandeng banyak seniman dan para urbanis. Sebagai usahanya, seniman- seniman yang terlibat akan mengangkat dan memberdayakan bekas Rumah Pemotongan Hewan (RPH) sebagai ruang publik yang sudah lama ditinggalkan dan diabaikan. Pemberdayaan dan pemanfaatan ini berupa pembuatan galeri seni yang artistik dan estetik sekaligus interaktif bagi partisipasi publik serta ikonik sebagai sebuah ruang yang dapat mengakomodasi ekpresi publik. 

Kampung Bustaman: Teraseni.Com
Rumah Pemotongan Hewan yang sudah tak terpakai yang disulap menjadi galeri seni bustaman, tampak
 dari depan
Foto: Dokumnetasi Penyelenggara
Agenda ini melibatkan sekurang- kurangnya sepuluh seniman (baik grup maupun individu), band, serta muralis warga dengan didukung pula street perfomer artis yang merespon selasar jalan depan RPH sebagai sebuah panggung ekspresi. Seniman yang terlibat diantaranya; Deny Denso, Hasrul (jakarta), Kolase Semauku, Five Miles Stereo. Arsita Iswardhani (Teater Garasi- Yogyakarta), Pop Corn (Surabaya), Resto Samkru, Gracia Tobing (Bandung), Propagandasmu (Magelang), Rizka Ainur R, Gump n Hell, Tesla Manaf (Bandung), Sore Tenggelam, Ok Karaouke, serta Tridhatu. Mereka telah mempersiapkan diri selama satu minggu dibawah arahan Iqbal Al Ghofani selaku kurator, dan Syaifudin Iqbal selaku ketua panitia. 

“Sebagian seniman yang merespon memang belum mengenal secara dalam historis dan latar belakang kampung Bustaman dengan keterkaitannya pada Kai Bustaman. Sehingga sebagian mereka memang perlu datang dan berinteraksi secara langsung, melakukan riset, hingga meski membaca sejarah untuk akhirnya membuat sebuah karya seni yang bernilai artistik, informatif yang dapat mengakomodasi ekpresi publik,” ungkap Adyn Hysteria, selaku direktur Komunitas Kolektif Hysteria yang dalam hal ini sebagai pihak ketiga dalam penyelanggaraan festival. 

Kampung Bustaman: teraseni.Com
Seorang anak tengah memperhatikan komik strip, salah satu karya dalam galeri Bustaman
Foto: Dokumentasi Penyelenggara
Bustaman Untuk Dunia dijadikan sebagai tema besar bukan terjerembab segala sebab. Hal ini pertama kali dinyatakan oleh Ayah Hari jauh sebelum ini sebagai sebuah ulasan kampung yang serba terbatas namun berusaha memberikan kontribusi untuk dunia. “Kampung Bustaman itu kampungnya kecil. Rumah-rumahnya berdempetan. Banyak gang-gang kecil. Tapi kami ini istimewa. Dan justru dengan segala keterbatasan itulah kami berusaha untuk tetap menjaga budaya, menjaga hal- hal yang diwariskan dari leluhur kami. Yakni Kai Bustam,” Terang Ayah Hari. Pandangannya jauh, seakan menyimpan sesuatu pada kampung yang ia banggakan. 

Bekas Rumah Pemotongan Hewan (RPH) yang direspon sebagai Galeri Seni sekaligus partisipasi publik menjadi ikonik dan pembeda dalam Tengok Bustaman kali ini. “Pada awalnya, gedung ini memang digunakan sebagai pemotongan hewan secara komunal, sebelum akhirnya warga memilih untuk melakukan pemotongan kambing di rumah pribadi. Pada Awal tahun 2016- 2017 itu memang sudah tidak berfungsi, dan atas kesepakatan warga, lahan ini dijadikan lahan parkiran. Kemudian atas usul mas Adin dan kesepakatan warga lagi, akhirnya bekas RPH ini dijadikan galeri Bustaman,” tutur Ifkar Izani, salah satu aktivis pemuda kampung Bustaman. Ia mengaku senang dengan gagasan ini. Selain sebagai refleksi diri siapa itu Kai Bustman, agenda ini juga bisa menjadi kabanggaan dan alasan untuk tetap kumpul antar remaja. 

Kampung Bustaman: Teraseni.Com
Beberapa karya seni yang dipamerkan di galeri bustama
Foto: Dokumentasi Penyelenggara
Adin Hysteria, mengundang para seniman lokal semarang dan luar kota untuk merespon dalam bentuk karya seni sebagai ruang publik. Sehingga muncul nama-nama seperti; Deny Denso (Semarang), Hasrul (jakarta), Kolase Semauku (semarang), Five Miles Stereo (Semarang), serta Pop Corn (Shalihah Ramadhanita-Surabaya). Mereka menampilkan garapan dengan gayanya masing- masing. Memadukan sejarah Kampung Bustaman, partisipasi aktif Kai Bustam, serta perspektif tiap seniman. Menggabungkan keterampilan konvensional dan teknologi modern menjadikan karya yang dipajang kian variatif. 

Karya mereka mempresentasikan keagungan dibalik sosok Kai Bustam. Dengan membawa dan mempertanyakan kembali, banyak nilai yang melekat pada objek yang bisa menjadi titik temu warga bustaman dengan leluhurnya. Siapa itu Kai Bustam? Apa Jasanya? bagaimana sikap yang kita ambil sebagai penerusnya? tidak hanya menjadi “sakral”, tetapi kepentingan melekat pada penikmat dan pada akhirnya pada penciptanya. Mereka banyak menemukan fakta- fakta menarik dari figur Kai Bustam. 

“Banyak hal yang menginspirasi kami untuk belajar sebagai seniman dan aktivis kebudayaan,” tungkasnya. Galeri Bustaman, kemudian rencananya akan terus dibuka sebagai ruang publik dalam kurun waktu yang belum bisa ditentukan.

Rabu, 24 April 2019

Para Pensiunan 2049 : Balada Koruptor yang Dikejar hingga Alam Kubur

Rabu, 24 April 2019 | teraSeni.com~

Seonggok jenazah lelaki paruh baya tidak bisa disemayamkan. Sang penjaga kubur kekeh menolak untuk menguburkannya walau jenazah adalah orang terpadang di masa hidupnya. Pasalnya sederhana, sang jenazah tidak mempunyai sehelai surat penting, ‘SKKB’ Surat Keterangan Kematian yang Baik sebagai syarat pemakaman. Jenazah tersebut disinyalir melakukan korupsi di masa hidupnya. Implikasinya sang jenazah akan diperlakukan dan dibuang laiknya sampah. Arwah dari jenazah tersebut gusar, ia mulai mendatangi satu per satu orang yang bisa memberikan SKKB kepadanya. Pelbagai upaya (baca: intrik) mulai dilakukan, agar kelak ia tidak hanya dapat dikuburkan, namun untuk mengembalikan nama baiknya. 

Bukan Teater Gandrik, jika tidak “mengusik” persoalan sosial serta politik Indonesia dan menerjemahkannya dalam peristiwa teater. Bertajuk Para Pensiunan: 2049, mereka mengangkat isu yang familier dan terus berulang di masyarakat Indonesia, sekaligus tak pernah punya jalan keluar, yakni korupsi. Alih-alih mensosialisasikan pesan dan jargon anti korupsi dengan kaku, Teater Gandrik justru menghadirkannya dengan narasi tentang korupsi dan kematian. Namun kematian di sini tidak seperti tayangan azab di layar televisi, melainkan sebuah cerita hukuman duniawi—pasca kematian—untuk para koruptor. 
Tetaer Gandrik: Teraseni.Com
Tampak seorang aktor digambarkan sedang berada pada dimensi lain
Foto: Yuke Arfiyahya
Naskah menarik buatan Agus Noor dan Susilo Nugroho ini lalu disutradarai oleh G. Djaduk Ferianto. Kemudian Rombongan pemain, yakni: Butet Kartaredjasa, Susilo Nugroho, Jujuk Prabowo, Rulyani Isfihana, Sepnu Heryanto, Gunawan Maryanto, Citra Pratiwi, Feri Ludiyanto, Jamiatut Tarwiyah, Nunung Deni Puspitasari, Kusen Ali, M Yusuf Peci Miring, Broto Wijayanto, Muhamad Ramdan, Akhmad Yusuf Pratama, mempertunjukkannya dengan balutan kritik khas ala Gandrik, “guyon parikena”.

Tidak hanya dengan canda dan sindiran ala Teater Gandrik, proporsi plot cerita, pelakonan tiap pemain, hingga alunan musik tergarap sebagaimana mestinya. Kerja sama antar lini, yakni penata musik (Djaduk Ferianto dan Kuaetnika), penata artistik (Ong Hari Wahyu), penata cahaya (Dwi Novianti), penata kostum (Djaduk, dkk), dan penata suara (Antonius Gendel) bersinergi dengan apik. Di bawah komando Djaduk Ferianto, karya  yang digelar di Concert Hall, Taman Budaya Yogyakarta (8-9 April)—dan akan dipentaskan di Ciputra Artpreneur Teater, Jakarta (25-26 April)—ini membuktikan bahwa mereka bukan teater klangenan belaka. 

Persekongkolan Melenyapkan Kebenaran: Tamparan Untuk Indonesia 

Jenazah seorang laki-laki paruh baya terpandang, bernama Doorstoot—yang diperankan oleh Butet Kartaredjasa—ditolak untuk dikuburkan. Penguburannya tidak dapat dilakukan karena terkendala ‘SKKB’ Surat Keterangan Kematian yang Baik yang tidak dikeluarkan oleh ‘KPK’ Komisi Pertimbangan Kematian. Dugaan adanya penundaan terjadi karena Doorstoot disinyalir melakukan tindak korupsi di masa hidupnya. Sementara itu seorang juru doa, Slepen—diperankan oleh Gunawan Maryanto—memperjualbelikan doa dalam pelbagai varian. Namun segala doa tidak dapat dilakukan, pasalnya Kerkop—yang diperankan oleh Susilo Nugroho—sebagai petugas penguburan menjaga marwah makam dengan tegas. Ia menolak pelbagai rayuan, mulai dari harta, takhta, hingga wanita.
Teater Gandrik : Teraseni.Com
Dua orang pemeran digambarkan pada dunia yang berbeda
Foto: Yuke Arfiyahya
Adalah langkah jitu bagi Butet Cs membuka pertunjukan dengan adegan yang menyita perhatian. Di mana beberapa orang tengah menggali kubur, sementara terdapat rombongan yang mengantarkan seonggok jenazah untuk dikuburkan. Proses pemakaman tidak berjalan dengan lancar, terjalin percakapan yang rigid, mengapa hal tersebut terjadi. Tidak dilakukan dengan dingin dan kaku, percakapan justru terasa kuat dengan pendalaman karakter dari setiap tokoh dan lelucon segar yang kerap menaungi mereka. Hal ini kiranya berhasil memberikan landasan persoalan dengan jelas, sekaligus memudahkan penonton mengidentifikasi tokoh hingga persoalan yang diangkat.

Cerita kematian koruptor memang tidak terbayangkan untuk diangkat. Terlebih dengan mengangkat cerita pensiunan yang mengalami kesulitan penguburan. Padahal pensiunan merupakan figur yang lazimnya digambarkan menikmati masa tua dengan tenang. Alih-alih serupa, cerita daur ulang isu Pensiunan (1986) karya alm. Heru Kesawa Murti, diubah sedemikian rupadi tangan Teater Gandrik, khususnya pada alur cerita dan orientasi pensiunan. Di bawah komando Djaduk Ferianto, para pensiunan dibuat ‘sengsara’ dan tidak tenang, terlebih jika mereka melakukan korupsi.

Pelbagai piranti pun disiapkan, semisal plesetan terma yang lazimnya digunakan untuk korupsi, serta terma yang familier. Beberapa di antaranya adalah SKKB, singkatan dari Surat Keterangan Kelakuan Baik menjadi Surat Keterangan Kematian yang Baik; KPK yang lazimnya singkatan dari Komisi Pemberantasan Korupsi berubah menjadi Komisi Pertimbangan Kematian; hingga adanya undang-undang PELAKOR yakni undang-undang pemberantasan pelaku korupsi. Kehadiran Plesetan terma ini berfungsi dengan baik, walau seolah digambarkan berbeda dengan Indonesia tetapi plesetan tersebut membuat persoalan terasa dekat dengan permasalahan di tanah air.

Kembali pada cerita yang dibangun, pertunjukan Teater Gandrik kali ini mengisahkan upaya Doorstoot yang ingin mendapatkan SKKB. Namun menjaminnya tidak korupsi adalah sebuah kemustahilan, maka pelbagai cara mendapatkan SKKB dilakukan, mulai dari upaya keluarga membujuk, menjebak, atau menyuap penjaga kubur; hingga jenazah yang terus mendatangi instansi berwenang dengan harapan mendapatkan SKKB. Narasi tersebut dibangun dengan alur maju mundur pada adegan-adegan berikutnya.
Teater gandrik : Teraseni.Com
Salah seorang aktor terduduk, sementara aktor lain memegang dengan ekspresi cemas
Foto: Yuke Arfiyahya
Di antaranya adalah ketika Katelin—yang diperankan oleh Nunung Puspitasari—beradu argumen dengan sang suami, Jacko—yang diperankan oleh Sepnu Heryanto—yang membicarakan ayahnya serta hutang budi sang suami. Pembicaraan berakhir pada desakan Katelin pada sang suami agar “menyelamatkan” mayat ayahnya . Lainnya, beberapa adegan percakapan Rainne Alleman—yang diperankan oleh Citra Pratiwi—dengan Jacko, serta percakapan dengan para pensiunan, yang membicarakan tentang ketakutan sehingga mereka harus bersatu; dan Doorstoot yang bernegosiasi dengan Kerkop. Selain karakter yang kuat dari setiap tokoh, adegan percakapan tersebut telah mengungkap kausalitas yang artikulatif. Terlebih percakapan selalu disisipi guyonan dan satire politik, sehingga seberapa kompleks cerita yang dibangun, penonton dapat mengikutinya dengan saksama.

Pada struktur pertunjukan, di bawah arahan Djaduk Ferianto, Teater Gandrik menggunakan struktur yang lebih struktural laiknya gaya pewayangan. Di mana berisikan unsur dasar, seperti: pemaparan, konflik, goro-goro, dan epilog. Pilihan struktur pertunjukan ini memberikan alur yang bertingkat, sehingga proses menuju klimaks pertunjukan dapat dirasakan secara perlahan. Hal ini tampak pada konflik yang dimunculkan yakni para pensiunan berkomplot untuk melenyapkan undang-undang PELAKOR. Pun hal ini ditunjukkan secara jelas di dalam pertunjukan, mulai dari laku provokasi terhadap para pensiunan, hingga pertemuan para pemangku kuasa, yakni Doorstoot, Jacko, Vonis—diperankan oleh Broto Wijayanto—, dan Strook—diperankan oleh Feri Ludiyanto—yang sepakat untuk melenyapkan undang-undang PELAKOR.

Konflik tersebut telah mengantarkan adegan “goro-goro”menjadi semakin mendalam. Di mana para pensiunan bekerja sama menguburkan paksa sang penjaga kubur, Kerkop. Hal ini mereka lakukan untuk meniadakan undang-undang PELAKOR yang menyulitkan mereka. Tentu adegan ini telah menjadi penutup yang apik, mulai dari kejutan cerita hingga penggarapan visualisasi di dalam pertunjukan. Tidak sampai di situ, menurut hemat saya bagian paling penting adalah pada adegan setelahnya di mana Onderdeel—diperankan oleh Jujuk Prabowo—sang pemungut jenazah koruptor diam kebingungan. Onderdeel membuka plastik besar yang lazimnya digunakan untuk memungut jenazah koruptor, tetapi undang-undang telah dilenyapkan, sehingga tidak ada lagi undang-undang apalagi koruptor. Sebuah refleksi untuk Indonesia, atas konsensus yang kerap melanggengkan kesalahan untuk kepentingan semata. 

Teater ‘Pensiunan’ yang Kembali Segar 

Pada awalnya, saya mempunyai kecemasan ketika menonton Teater Gandrik; apakah mereka kembali menjadi teater klangenan yang lebih banyak mengeksplorasi guyonan ketimbang teaternya? Namun ternyata saya keliru, berbeda dengan Hakim Sarmin yang tampil tidak menggairahkan, Para Pensiunan 2049 terasa lebih cakap dalam ide, naskah, hingga perwujudannya sebagai sebuah pertunjukan teater.

Menurut hemat saya, latihan delapan bulan yang mereka lakukan telah membuahkan hasil. Kendati Djaduk mengatakan bahwa pada karya ini menggunakan konsep trial and error, tetapi percobaannya cukup berhasil—bahkan melampaui ekspektasi untuk kelompok teater senior tersebut. Hal yang paling saya garis bawahi dari Para Pensiunan 2049 ini adalah proporsi yang tepat di setiap lininya. Isi cerita yang kuat disisipi dengan guyon parikena yang sesuai, bukan sebaliknya. Lebih lanjut, mereka tetap fokus pada struktur cerita yang telah ditetapkan sehingga satire politik menjadi sisipan cerita semata. Alhasil pertunjukan bukan mencari tawa tanpa tahu arah, namun menyajikan sebuah cerita dari kenyataan dan menertawakannya secara bersama-sama.
Teater gandrik: Teraseni.Com
Seorang aktor diatas kasur dikelilingi beberapa aktor lainnya
Foto: Yuke Arfiyahya
Pun hal menarik yang perlu saya catat dari pertunjukan Para Pensiunan 2049 ini adalah pendalaman karakter yang dirasa semakin kuat. Selaku sutradara, Djaduk Ferianto telah berhasil dengan proses penggalian karakter dari setiap pemainnya. Hal ini dapat dilihat dari adegan percakapan antar karakter hingga beragamnya jenis percakapan yang terjalin, mulai dari percakapan biasa, penggunaan nada tertentu, hingga nada laiknya pasio—bacaan kisah sengsara Isa Almasih pada ibadat Jumat Agung. Alhasil munculnya beberapa pemain baru yang mengisi Para Pensiunan 2049 ini tidak sia-sia, melainkan membuat Teater Gandrik semakin berwarna dan kuat di dalam pertunjukan.

Tidak hanya itu, apresiasi juga perlu diberikan pada pencahayaan dan alunan musik. Di mana pencahayaan telah merangkai visual pertunjukan semakin kuat. Sedangkan pada alunan musik, Djaduk Ferianto dan Kuaetnika—Purwanto, Indra Gunawan, Sukoco, Sony Suprapto, Beny Fuad Hermawan, dan Arie Senjayanto—telah menciptakan suasana pertunjukan semakin representatif. Alunan dan susunan suara terasa tepat pada tiap adegan, semisal ketika Djaduk bersenandung di setiap transisi pertunjukan, ataupun menyisipkan bunyi ketika pertunjukan berlangsung. Selain musik, rombongan musisi juga cukup menghibur dengan mengisi ruang tegang pada adegan konflik.

Kendati tetap perlu dicatat bahwa ada perasaan grogi dari segelintir pemain, tetapi hal tersebut tidak terlalu mengganggu solidnya pertunjukan. Alhasil tidak adanya hambatan teknis dan unsur artistika untuk para penonton dalam menyerap pesan dari pertunjukan. Pesan tentang korupsi yang dapat menjadi refleksi kita bersama dan bukan tidak mungkin jika diajukan sebagai usulan hukuman koruptor di negeri ini. Bertolak dari itu semua, Teater Gandrik perlu diapresiasi baik karena kesetiaannya menautkan persoalan dan konteks yang terjadi di Indonesia, sekaligus menerjemahkannya dengan cara yang khas menjadi sebuah pertunjukan menarik nan menggigit.[]

Minggu, 07 April 2019

Sesaji Nagari: Mewacanakan Persatuan Melalui Musik

Minggu, 7 April 2019 | teraSeni.com~


Ketika musik-musik etnik yang sudah familier di telinga masyarakat awam terus direproduksi; ketika banyak kelompok musik etnik yang lebih memilih jalan ‘aman’ dengan mengaransemen ulang lagu-lagu yang telah dikenal, grup musik etnik kawakan, Kuaetnika justru mengusung aksi berbeda. Mereka menggarap lagu-lagu daerah yang—bagi mereka—belum tersentuh dan dikenal oleh publik.

Djaduk Ferianto dan Kuaetnika mengaransemen sekaligus mengembangkan lagu-lagu daerah terpilih dengan satu tujuan, yakni menyelaraskan semangat keindonesiaan. Garapan dengan maksud ‘mulia’ tersebut lantas dikemas menjadi sebuah album yang bertajuk Sesaji Nagari. Alih-alih hanya melalui kepingan cakram padat, Kuaetnika turut mendesiminasikannya melalui konser musik yang diselenggarakan di dua tempat, yaitu: Taman Ismail Marzuki, Jakarta (23/2) dan Taman Budaya Yogyakarta, Yogyakarta (10/3).
kuaetnika: teraseni.com
Tampak seseorang diatas panggung menyapa penonton
Foto: Erwin Octavianto

Di dua tempat tersebut, Djaduk mengajak penonton untuk kembali meresapi apa yang terjadi dengan Indonesia beberapa waktu belakangan. Secara gamblang, Djaduk dan Kuaetnika ingin mengekspresikan kegelisahannya tentang negeri yang sedih. Atas dasar refleksi tersebut, Kuaetnika menyulam kembali rasa persatuan dengan menghadirkan keberagaman melalui 10 lagu—baik lagu daerah ataupun lagu karangan sendiri. Lagu-lagu tersebut diibaratkan menjadi sesaji guna memohon kedamaian, persatuan, dan keutuhan kepada Tuhan, sekaligus umatnya.

Dalam hal ini, pilihan menarasikan persatuan melalui musik tentu menarik. Pasalnya di tengah keruhnya konstelasi politik dan gesekan paham menjelang Pemilu, pelbagai ajakan dan seruan yang eksplisit tentu terasa politis. Bahkan di dalam bukletnya, Kuaetnika turut menuliskan “Ini Bukan Pertunjukan Politik”. Namun apakah Kuaetnika—sebagai kelompok musik—setia menarasikan gagasannya dan berhasil mengartikulasikannya melalui musik, ataukah sebaliknya, terjerembap pada lubang politik?

Mendengar Wacana Menelisik Musik

Sebagai kelompok musik etnik yang dibuat sejak tahun 1996, Kuaetnika memang kerap berkreasi dan melakukan inovasi pada musik-musik daerah. Kuaetnika kerap menciptakan lagu baru dengan sumber, baik aural, ataupun visual dari sosio kultural beberapa lokus hasil eksplorasi mereka. Tidak hanya itu, Kuaetnika kerap melakukan penyilangan genre, eksperimen melodi, tempo, beat, bahkan harmoni.
 kuetnika: teraseni.com
Tampak penyanyi seolah terhanyut dalam lagu yang dinyanikannya
Foto: Erwin Octavianto

Pun konsistensi Kuaetnika tidak bisa diragukan. Mereka jarang absen dalam memproduksi musik, semisal: Nang Ning Nong Orkes Sumpek (1996); Ritus Swara (2000); Unen-Unen (2001); Many Skyns One Rhythm (2002); Pata Java (2003); Vertigong (2008); Nusa Swara (2010); dan Gending Djaduk (2014). Bahkan mereka juga tidak jarang pentas di festival musik, baik lokal ataupun internasional. Alhasil telah terpatri akan kualitas Kuaetnika sebagai kelompok musik yang bernas.

Konser di Yogyakarta (10/3), Kuaetnika mempertunjukkan kesepuluh lagu pada album yang dirilis akhir tahun lalu, dengan urutan sebagai berikut: “Kadal Nongak”, “Doni Dole”, “Batanghari”, “Anak Khatulistiwa”, “Lalan Belek”, “Sesaji Nagari”, “Ulan Andung-Andung”, “Made Cenik”, “Sigule Pong”, dan “Air kehidupan”. Alih-alih dipentaskan secara kaku, konser musik justru berlangsung cair dan akrab. Semisal di awal pertunjukan yang dikemas laiknya mereka tengah berlatih—lebih lanjut mereka melakukan improvisasi dengan prinsip interlocking—, yang kemudian “diganggu” oleh kehadiran Alit dan Gundi, selaku master of ceremony (seterusnya ditulis dengan MC).

Percakapan antara Djaduk dan MC juga melibatkan tema umum dengan gaya yang jenaka. Beberapa tema yang diangkat seperti tingkah laku generasi milenial yang kurang paham tata krama, kecenderungan praktis, penggunaan gadget, dan lain sebagainya. Di dalam hal ini, mereka agaknya menyadari akan posisi anak muda sebagai agent of change ke depan. Pasalnya pelbagai tingkah laku ‘nyeleneh’ anak muda selalu berujung petuah dari Djaduk. Lebih lanjut, petuah-petuah tersebut mengarah pada satu isu, yakni kesatuan Indonesia, atau Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Di dalam konser tersebut, Djaduk dan Kuaetnika ‘menyulap’ sejumlah tujuh lagu daerah—yang bagi mereka kurang mendapat perhatian lebih—dan menciptakan tiga lagu dengan bernuansa nusantara. Khususnya pada tujuh lagu daerah yang berasal dari barat hingga timur Indonesia tersebut, unsur etnik dari setiap lokus tetap dijaga, tidak dicerabut sesukanya.

Terjaganya etnik diejawantahkan dengan penggunaan instrumen asli; penggunaan bahasa dan lirik yang sama; aransemen yang pada beberapa bagian di dalam lagu tidak jauh berbeda. Semisal pada lagu “Kadal Nongak” asal Nusa Tenggara Barat atau lagu “Sigule Pong” asal Sumatera Utara, yang masih mengedepankan instrumentasi di beberapa bagian lagu. Namun cukup disayangkan, pada beberapa bagian musik etnik hanya tampak secara visual. Pasalnya ada beberapa bagian di mana musik etnik yang semestinya ‘tampil’ justru tidak terdengar jelas atau ‘kalah’ dengan suara instrumen lainnya.
kuaetnika: teraseni.com
Siluet dengan latar cahaya biru
Foto: Erwin Octavianto

Pun Kuaetnika juga melakukan inovasi dan sentuhan musik yang berbeda-beda. Pada beberapa lagu tersebut, Djaduk memasukkan unsur genre lain, semisal pada lagu “Kadal Nongak” yang dibuat lebih “pop” pada bagian chorus, atau “Sigule Pong” yang disilangkan dengan genre jazz pada bagian chorus. Sedangkan pada lagu lainnya, Djaduk dan Kuaetnika “bermain-main” dengan beat dan tempo lagu. Semisal beat yang lebih cepat pada lagu asal Poso, “Doni Dole”. Inovasi tersebut tentu memberikan impresi yang berbeda dari lagu aslinya, tetapi apakah perubahan pada beat atau silang genre mempertimbangkan konteks atau impresi dari versi aslinya? Jika demikian, apakah impresi selalu bertuan pada kecenderungan selera konsensus?

Bertolak dari itu semua, Kuaetnika konsisten dalam menciptakan lagu apik serta meracik musik nusantara menjadi sajian pertunjukan yang menarik. Terlebih pada singkupasi, harmoni, hingga perpaduan bunyi dari alat musik yang beraneka. Sesaji Nagari tentu membuktikan kualitas baik dari Kuaetnika sudah menjadi keniscayaan, tetapi laiknya sesaji, mengharap kejutan memukau atau kebaruan tentu perlu dipanjatkan pada kelompok musik dengan potensi yang berlimpah ini.

Wacana Persatuan di tengah Badai Politik 

Tentu menggalang pesan persatuan di tengah hiruk pikuk politik Indonesia belakangan memang penting, tetapi kesan politis tidak dapat terhindarkan. Kenyataannya, perpecahan karena kontestasi pemilu memang menggerogoti masyarakat Indonesia. Keberagaman pun menjadi cita-cita yang kini jauh panggang dari api.
kuaetnika: teraseni.com
Terlihat komunikasi Djaduk dengan MC di atas panggung
Foto: Erwin Octavianto

Dari keadaan tersebut, konser musik Sesaji Nagari dipertunjukkan sebagai doa guna menyadarkan kita akan beberapa hal, pertama, narasi keberagaman; kedua, optimisme akan potensi kebudayaan; ketiga, kesadaran untuk mencintai budaya, terlebih masih banyaknya budaya yang belum terjamah dan dieksplorasi secara luas. Maka kehadiran seniman laiknya Djaduk Ferianto dan Kuaetnika memang diperlukan. Pasalnya jika dalam porsi yang sesuai, melalui senilah kewarasan berbangsa dan bernegara justru dapat distimulasi.

Namun yang perlu menjadi catatan, lagu-lagu pada konser Sesaji Nagari yang sudah menyimpan pesan keberagaman justru terlalu padat dalam pesan. Singkat kata, konser tersebut berlimpah pesan dan muatan oleh karena sesi percakapan yang dirasa terlalu panjang. Hal ini tentu mengundang pertanyaan, mengapa Djaduk memerlukan durasi panjang untuk sesi percakapan di setiap lagu? Tentu hal tersebut sah-sah saja, terlebih percakapan dapat memberikan kesan interaktif dan penekanan, tetapi efek percakapan membuat penekanan dirasa berlebih.

Hal tersebut membuat saya berpikir ulang, tetapi bukan tentang kurasi dibuatnya album, melainkan tujuan konser tersebut dihelat. Pasalnya album Sesaji Nagari sudah memiliki muatan yang baik, terlebih mengangkat lagu-lagu daerah tertentu untuk lebih dikenal luas, bukan ‘belum tersentuh’. Dalam hal ini, beberapa lagu sudah dikenal oleh publik di lokasi dan sekitarnya. Semisal “Sigule Pong” yang kerap menjadi lagu perayaan siklus hidup ataupun dinyanyikan Pesparawi (Pesta Paduan Suara Gerejawi) untuk publik Sumatera Utara dan sekitar, dan lain sebagainya. Lebih lanjut, album Sesaji Nagari mempunyai misi menunjukkan keberagaman sebagai potensi kekayaan dari bangsa Indonesia. Hal ini kiranya dapat menjadi contoh baik bagi kelompok musik etnik lain untuk lebih mempopulerkan atau mengaransemen lagu-lagu daerah lainnya. Upaya tersebut perlu dimulai kembali guna menguatkan ulang kesadaran masyarakat akan berbudaya.

Lantas, apakah keliru jika sebuah konser mempunyai tujuan dan kepentingan politik? Tentu hal tersebut juga bukan kekeliruan, pun dari konser Sesaji Nagari juga lah saya melihat bahwa musik tradisi mempunyai suara untuk bersumbangsih pada konstelasi perpolitikan. Namun alangkah eloknya jika pesan musik dan muatan politik dalam satu level kepentingan yang tidak jauh berbeda, sehingga sebuah pertunjukan dengan maksud politik apapun dapat terjalin tanpa mengingkari atau mengorbankan kekuatan dari pertunjukan itu sendiri.[]

Selasa, 22 Januari 2019

Dibalik Pembatalan Konser Slank Di Aceh

Selasa, 22 Januari 2019 | teraSeni.com~


Slank adalah grup band rock asal Jakarta yang kariernya terbilang gemilang dan konstan di dunia rmusik tanah air. Namun siapa sangka, grup yang telah aktif mengguncang panggung Indonesia sejak 1983 ini justru ditolak tampil di Alun-alun Sigli, Aceh pada 29 September 2018 lalu. Menurut pihaknya, grup ini telah diberi izin oleh Direktorat Intelijen Keamanan Polda Aceh dengan segenap Polri dan TNI yang siap mengamankan jalannya acara. Sayang, tidak demikian dengan MPU (Majelis Permusyawaratan Ulama) yang terang-terangan melarang konser Slank melalui surat edaran nomor 451/314/2018. 

Surat tersebut tidak lain adalah hasil keputusan rapat MPU yang ditandatangani oleh Bupati Pidie Jaya dan seluruh anggota Forkopimda (Forum Komunikasi Pimpinan Daerah). Agus Setyadi, melalui Detik.com mencatat bahwa konser Slank dilarang tampil karena dinilai tidak berkaitan dengan akidah keagamaan, khususnya ajaran Islam. Hal yang cukup disayangkan, pernyataan pembatalan konser baru sampai ke telinga penonton kira-kira satu jam sebelum waktu pentas. Sontak saja hal tersebut membuat ribuan penonton kecewa.
Slank: Teraseni.Com
Slank, sebuah grub band rock asal Jakarta
Sumbe Foto: https://citypost.id/berita-sekian-lama-berkarya-slank-rilis-album-religi-perdananya.html
Kejadian itu ditutup oleh pernyataan Slank yang tak kalah Diplomatis. Melalui sebuah video berdurasi 26 detik, Bimbim selaku drummer Slank angkat bicara, katanya: “Karena dalam keadaan berkabung atas bencana yang terjadi di Palu dan Donggala serta akan diadakan dzikir bersama di Sigli. Maka, dengan berat hati Slank terpaksa membatalkan konser malam hari ini di Sigli, see you next week di Lampung”.

Kejadian ini lantas menuai berbagai asumsi terkait pembatalan konser. Manajer Slank, (Bunda Iffet) menduga ada campur tangan politik dibalik pelarangan MPU terhadap pihaknya. Ia bahkan mengaku bingung, kenapa acara hiburan seperti itu harus diseret ke ranah politik hanya karena persoalan sponsor tertentu. Simpang siur pendapat seperti ini saya kira wajar adanya, mengingat saat itu bukanlah kali pertama Slank menggelar konser di tanah Syari’at Islam ini. Tercatat bahwa sebelumnya Slank pernah tampil dua kali di Aceh. Salah satunya adalah konser cinta damai dan anti-teroris bertajuk Death on Terrorism yang diadakan di Lapangan Blang Padang Banda, Aceh pada Mei 2010 silam. Kemudian selang empat tahun (September 2014), Slank kembali mengadakan konser di Lapangan dalam acara kampanye anti narkoba yang bertajuk Silaturahmi Budaya. 

Pemberitaan pembatalan konser disertai dengan pengetahuan atas riwayat konser Slank di Aceh tentu mengundang pertanyaan besar, bagaimana bisa Slank dianggap tidak mencerminkan Aqidah Islam di tahun 2018, sedangkan sebelumnya Slank ‘melenggang’ aman memasuki panggung pertunjukan di wilayah Aceh; atau, Apakah benar ini terkait Politik karena sponsor tertentu, seperti pernyataan sang manajer Slank, Bunda Iffet? Terkait dengan praduga yang muncul, tentu kita perlu ‘mengintip’ bagaimana MPU di Aceh bekerja. 

Sponsor Rokok dan Konser Aceh 

Usut punya usut ternyata konser Slank yang gagal tampil di Aceh Desember lalu merupakan bagian dari tur Magnumotion yang digelar di sembilan kota di Indonesia. Konser tersebut sengaja digelar dalam rangka mempromosikan Magnum, salah satu brand rokok Indonesia. Tidak begitu jelas mengapa manajer Slank menganggap sponsor rokok ada sangkut pautnya dengan pembatalan konser di Aceh. Apakah karena hukum merokok itu makruh dalam Islam sehingga bertentangan dengan putusan MPU atau kasus ini terpaut urusan politik, seprti yang diungkap oleh wanita yang berumur 81 tahun itu.
Majelis Permusyawaratan Umat: Teraseni.Com
Foto pengukuhan Majelis Pemusyawaratan Ulama Aceh
Foto diambil dari:
https://steemit.com/news/@antonysteem
Untuk tidak terburu-buru memutuskan, mari menyoroti kembali sponsor dari pihak mana sajakah yang pernah melatarbelakangi pendanaan Slank di dua konser sebelumnya. Pertama, konser cinta damai dan anti teroris di 2010. Menurut informasi dari ketua pelaksana konser saat itu, konser yang ikut melibatkan Slank delapan tahun lalu memang tidak melibatkan sponsor dari banyak kalangan. Konser tersebut terlaksana atas sumbangan dari beberapa pengusaha Aceh. Kedua, Road Show Silaturahmi Budaya Slank di 2014. Konser ini dimotori oleh Ikatan Keluarga Anti Narkoba (IKAN) Aceh dan didukung penuh oleh salah satu perusahaan rokok terbesar di Indonesia (Clavo). 

Selain Slank, ada beberapa konser musik lain yang bisa dijadikan bahan pertimbangan. Adalah sederetan grup musik yang juga disokong oleh perusahaan rokok, di antaranya; Konser Grup Band Kotak di Banda Aceh Mei 2010, disponsori oleh PT. Sampoerna. Konser Wali Band Aceh Utara, November 2012 disponsori oleh SURYA 16, setelah itu di akhir Juli 2017 Wali Band hadir kembali di Aceh Tengah yang disponsori oleh Gudang Garam. The Changcuters di panggung Magnify di Aceh Tengah Oktober 2016 lalu. Grup ini bahkan berhasil tampil di Aceh Tengah meski menggunakan sponsor yang sama dengan Slank, yaitu Magnum Filter. Sebenarnya bukan hanya di Aceh, kecenderungan perusahaan rokok mensponsori konser musik memang menjadi lazim sejak era 1980an.

Qanun Aceh Tentang Konser 

Menurut peraturan yang berlaku, untuk menghelat sebuah konser di daerah khusus Aceh terdapat dua pihak yang harus dilewati, yaitu: tahap keamanan negara (Polri dan TNI) dan tahap Hukum Islam Aceh (MPU). MPU adalah pihak yang berhak memberi masukan, pertimbangan dalam menentukan kebijakan daerah dari aspek syariat Islam secara kaffah (keseluruhan). Terkait Syariat Islam, Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh juga telah mengeluarkan peraturan terkait kriteria kegiatan seni budaya dan hiburan yang diperbolehkan dalam Islam. Hal itu tertuang dalam fatwa MPU Aceh Nomor 12 Tahun 2013. Fatwa tersebut nantinya akan mengatur seluruh isi konten nyanyian, kegiatan hiburan, dan penonton. 
Pembatalan Konser Slank: Teraseni.Com
Pemisahan penonton konser di Aceh
Foto diambil dari:
http://aceh.tribunnews.com/2016/08/10
Dari 15 butir fatwa tersebut beberapa berkaitan dengan konser, sebagai berikut: (1) Syair dan nyanyian tidak menyimpang dari aqidah ahlu sunnah wal jamaah, tidak bertentangan dengan hukum Islam, tidak disertai dengan alat-alat musik yang diharamkan, tidak mengandung fitnah, dusta, caci maki dan yang dapat membangkitkan nafsu syahwat; (2) Penyair dan penyanyi harus memenuhi kriteria busana muslim dan muslimah, tidak melakukan gerakan-gerakan yang berlebihan atau dapat menimbulkan nafsu birahi, tidak bergabung/bercampur laki-laki dan perempuan yang bukan mahram, tidak menyalahi kodratnya sesuai dengan jenis kelamin, tidak ditonton langsung oleh lawan jenis yang bukan mahram, kegiatan bernyanyi dan bersyair dilakukan pada tempat dan waktu yang tidak mengganggu ibadat dan ketertiban umum; (3) Penonton hiburan tidak bercampur laki-laki dan perempuan yang bukan mahram. 

Tarik Ulur Peraturan MPU di Aceh dan Sekitar 

Terdapat dua tingkat MPU yang menaungi masyarakat Aceh yaitu, MPU tingkat Provinsi dan MPU tingkat Kabupaten/kota. Semua Pihak MPU pada dasarnya wajib menerapkan aturan yang telah ditetapkan. Walaupun nanti di dalam pelaksanaannya tentu tidak serta merta seragam di setiap tempat. Hal ini akan sangat tergantung pada negosiasi-negosiasi yang terjadi antar pemerintah Kabupaten/kota setempat. 

Ada empat tugas utama MPU tingkat kabupaten/kota. Salah satunya, MPU memiliki hak untuk mempertimbangkan dan memberi saran kepada pemerintah daerah dan DPRK dalam menetapkan kebijakan berdasarkan syariat Islam, termasuk konser. Sebagai contoh, kasus yang terjadi di Meulaboh Kabupaten Aceh Barat di tahun 2016. Band lokal maupun nasional ditolak pentas di tempat tersebut tanpa pandang bulu. Hal ini terjadi karena Ulama Aceh Barat menilai bahwa konser musik bertentangan dengan syariat Islam yang berlaku di Aceh. Merujuk pada Hadits Nabi SAW yang menganjurkan untuk meninggalkan sesuatu yang lebih banyak mudharat dibanding manfaatnya. 

Sejak saat itu baik pihak MPU maupun Pemerintah daerah setempat tidak akan mengeluarkan izin untuk konser musik. Berbeda dengan Aceh Barat, di Kota Banda Aceh justru tetap aktif mengadakan konser hingga saat ini. Walaupun dengan syarat akan selalu mengindahkan aturan-aturan dari MPU. Seperti adanya pemisahan penonton laki-laki dan perempuan, memakai pakaian syar’i dan lain sebagainya. Melihat kejadian di Aceh Barat, tidak menutup kemungkinan jika hal semacam ini juga sedang terjadi di Kabupaten Pidie Jaya terkait pembatalan konser Slank. Telah terjadi semacam negosiasi antar segenap pemerintah daerah dan MPU di tingkat Kabupaten Sigli sehingga sampai pada titik kesimpulan, Slank dilarang tampil di Sigli. 

Melalui pembatalan konser Slank ada hal yang bisa kita pelajari bersama, bahwasanya kebijakan pemerintah Aceh terutama kaitannya dengan Syari’at Islam tidak sama di setiap tempat dan tidak bisa dipukul sama rata. Pada praktiknya hal semacam ini juga akan sangat tergantung pada Ulama dan pemerintah daerah yang menjabat saat itu, sebagai pemimpin yang dipilih masyarakat untuk menentukan keputusan di tingkat daerah. 

Negosiasi Perlu Dilakukan: Sebagai Penutup 

Di balik pembatalan Konser Slank bukan hanya campur tangan MPU, namun ada banyak pihak lain yang turut membentengi para Ulama tersebut. Seperti Bupati yang ikut menandatangani surat penolakan konser, FPI yang mendesak aparat penegak hukum untuk mematuhi MPU, Ormas dan partai-partai lokal ikut unjuk nyali untuk mendukung keputusan Ulama. Mereka siap mempertaruhkan diri demi mempertahankan marwah Ulama. Dengan sekian banyak pertentangan yang terjadi, alhasil konser Slank yang rencana akan tetap digelar meski tanpa restu dari MPU resmi dibatalkan satu jam sebelum jadwal pentas. 

Penulis selaku salah satu warga Aceh juga ikut gelagapan menanggapi kasus seperti ini. Lantas bagaimana nasib konser musik di Tanah Aceh kedepannya? Mungkin sudah saatnya menjadi renungan bersama, apakah Aceh perlu daerah/tempat khusus untuk pelaksanaan konser? Atau pihak penyelenggara yang seharusnya lebih memperhatikan dan mendalami lebih lanjut perihal kebijakan masing-masing daerah, tentu dengan tidak melupakan konteks daerahnya. Dengan begitu, aksi serupa yang merugikan tersebut tidak akan terulang. Mungkin hal ini dapat mulai dipikirkan sekaligus dicoba, dan kiranya tahun 2019 adalah awal yang baik untuk memulai.

Sabtu, 29 Desember 2018

Nosheheorit: Dialog Gender dalam Proses Menjadi Lengger

Jumat, 28 Desember 2018 | teraSeni.com~



Seorang laki-laki menggunakan kemban merah meratap dengan wajah nanar ke penonton. Di dalam pelukannya, terdapat rangkaian bunga mawar. Kiranya terdapat satu kontras di mana tubuh sang laki-laki berpakaian kemban merah memeluk rangkaian bunga tersebut. Sementara lima penari lainnya mengibaskan bunga mawar ke punggung mereka masing-masing. Beberapa menit berselang, laki-laki tadi mulai ikut mengibaskan bunga yang ia peluk ke arah punggungnya. 
Nosheheorit: Teraseni.Com
Penari memeluk bunga sambil menatap ke arah penonton
Foto: Arsip Otniel Tasman
Potongan pertunjukan di atas merupakan secuil peristiwa yang terjadi pada karya bertajuk Nosheheorit dari koreografer, Otniel Tasman. Karya yang menyoal ihwal maskulinitas dan femininitas pada tubuh ini dipentaskan pada gelaran Indonesia Dance Festival (7/11) di Gedung Kesenian Jakarta (GKJ). Karya Otniel ini terinspirasi dari seorang lengger laki-laki dari Banyumas, Dariah. Di dalam karya berdurasi 50 menit ini, Otniel mendialogkan dua gender di dalam satu tubuh hingga menjadi satu kesatuan yang utuh.

Di dalam karya ini, Otniel selaku koreografer bekerja sama dengan Bagus TWU (komposer), Khoerul Munna dan Yenni Arama (pemusik), Iskandar Kamaloedin (lighting designer), Sekar Putri Handayani (produser), Reizki Habibullah (project manager), Dany Wulansari (asistant produksi), dan para penari, yakni: Sutrianingsih, Yoga Ardanu, Kurniadi Ilham, Ahmad Saroji, Damasus CV Waskito. Karya yang sempat dipentaskan di Belgia ini kiranya mengajak kita untuk berpikir ulang soal ihwal gender yang kerap kita abaikan, atau sengaja tidak dibicarakan.  

Tubuh Sebagai Ruang Dialog 
Dengan cahaya samar-samar, seorang perempuan berdiri di tengah panggung. Membentuk kuda-kuda dengan posisi jari laiknya kipas yang bergerak cepat. Dua laki-laki lainnya hanya duduk termangu. Mereka terbangun, menunjukkan gerak gemulai laiknya Lengger tetapi dengan gerak yang patah-patah. 

Sementara terdapat seorang penari berdiri di sisi depan bagian kiri panggung. Adalah Ilham menunjukkan gerak-gerak pencak tetapi dalam busana yang asing, laiknya gaun berwarna hitam dengan sepatu berhak. Di satu sisi ia menampilkan kegagahan, tetapi di sisi lain busana membuatnya kontraproduktif. Gerak demi gerak ia tunjukkan, kuda-kuda demi kuda-kuda ia peragakan hingga suara berbisik “noshe, no he, orit” terdengar lantang. 
Nosheheorit: Teraseni.Com
Penari dengan kuda-kuda serupa pencak silat
Foto: Arsip Otniel Tasman
Dengan suara berbisik tersebut, lantas ia terjatuh di tempat tak berdaya. Sekembalinya ia bangkit, ia lantas berjalan dan bergerak lebih gemulai ke tengah panggung. Lantas ia menunjukkan kontras gerak, dengan bergeal-geol hingga menunjukkan kosa gerak Lengger. Dalam hal ini, kita dapat melihat perubahan kontras tubuh dari basis tubuh pencak ke Lengger. Ada dua yang terlucuti, pertama, pergantian gerak yang signifikan, kedua, konstruksi tubuh dan gender. 

Bertolak dari adegan pertama, hal ini kiranya terjalin kemudahan dalam menangkap adanya dua kecenderungan gender pada satu tubuh. Hal ini kiranya menarik, namun Otniel cukup diuntungkan melihat Ilham berbasis gerak pencak, sehingga gerak maskulin dapat tergambar dengan jelas. Dengan sangat mudah penonton menangkap signifikansi antara maskulin dan feminin yang terejawantahkandengan detail dari basis gerak yang ditunjukkan. Namun, kiranya menarik mengetahui siasat Otniel jika gerak maskulin tidak ditunjukkan dengan gerak pencak. Lebih lanjut, seberapa kuatkan maskulinitas pada tubuh para Lengger Lanang hingga diwujudkan dengan kontras yang tegas? 

Selanjutnya, para penari turut mewujudkan kontak tubuh hingga motif gerak Lengger. Namun yang cukup menarik, Otniel tidak langsung menerapkannya secara eksplisit, melainkan mewujudkannya perlahan, yakni dengan gerak patah-patah—laiknya ada keraguan tertentu yang terjalin. Dalam hal ini, saya melihat bahwa Otniel tidak hanya menggunakan penari sebagai peraga gerak-gerak, tetapi medium interpretasi atas dialog gender. Hal ini kiranya yang membuat karya semakin kaya. 
Nosheheorit: Teraseni.Com
Para penari tampak sedang menjalin kotak tubuh satu sama lain
Foto: Arsip Otniel Tasman
Selain itu, hal yang cukup menarik adalah Otniel membuat dramaturginya bertingkat. di mana ia memulai dengan tubuh personal sebagai pembeda gender. Secara lebih lanjut, setiap tubuh bergerak maskulin, feminin, dan keduanya, baik secara terpisah, patah-patah, hingga berkelindan. Alih-alih hanya menunjukkannya pada tubuh terpisah, Otniel juga menjalin ketersatuan gender ketika setiap penari saling menyentuh dan menyangga satu sama lain. Tidak hanya berpelukan, Otniel turut menyematkan visual pose yang menarik di setiap penari yang menyangga satu sama lain. Pada adegan ini, laiknya semua konstruksi menjadi lenyap dan berkelindan. 

Setelah itu, Otniel muncul dengan kemban berwarna merah. Ia menari lengger sambil menyanyikan beberapa patah frase yang kerap digunakan oleh Lengger. Pasca Otniel masuk, kiranya penari-penari lain dihadirkan bergantian, baik gerak patah-patah ataupun lengger. Interaksi gerak yang muncul pun inovatif dengan eksplorasi gerak dari basis tubuh lengger yang cukup variatif. Eksplorasi gerak itu pun menyuarakan maksud yang berbeda-beda, mulai dari keragu-raguan, keterasingan, hingga keutuhan. 
Nosheheorit: Teraseni.Com
Seorang penari dengan kostum kemben merah
Foto: Arsip Otniel Tasman
Dalam diam dan tubuh kelima penari yang membeku, Otniel berjalan ke dalam panggung sambil memeluk bunga mawar. Ia memberikannya satu per satu ke kelima penari yang ada. Bunga tersebut diletakkan di atas kepala mereka masing-masing, dan perlahan para penari mulai merespons bunga-bunga tersebut. Puncak dari adegan itu adalah ketika kelima penari menyabet-nyabetkan bunga tersebut ke punggung mereka masing-masing, sedangkan Otniel menatap nanar sembari memeluk bunga mawar tersebut. Setelah para penari, lantas Otniel lah yang menyabetkan bunga-bunga tersebut ke punggungnya hingga lampu berangsur padam. Adegan menyentuh tersebut menutup pertunjukan.

Fase Liminalitas dan Cara Ungkap 
Bertolak dari karya tersebut, kita dapat melihat tawaran biografi tubuh dari seorang Lengger Lanang, bernama Dariah. Diibaratkan sebagai sebuah perjalanan, Dariah mengalami fase yang tidak mudah. Pertentangan demi pertentangan terjalin, ketidak-terimaan berbuntut persetujuan diri terbentuk, hingga kehadiran inang membuat seseorang ‘menjadi’ Lengger Lanang terwujud. Dalam hal ini, Otniel mengartikulasikan fase liminalitas (baca: ambang) dari tubuh seorang Lengger Lanang. Secara lebih lanjut, dapat kita lihat adanya fase ‘menjadi’ tubuh Lengger yang melibatkan dialog dua gender yang berlainan. Di mana diawali dengan tubuh laki-laki, persilangan dengan perempuan, dan menjadi Lengger Lanang. 

Hal lain yang cukup menarik, saya melihat karya ini diungkap Otniel dengan cara yang ‘puitis’ dan penuh emosi. Hal ini mungkin dapat ditafsir akan relasi Otniel yang cukup dekat dengan Dariah, sehingga bahasa-bahasa yang muncul begitu dekat dan mendalam. Kiranya Otniel tidak perlu takut soal kedekatan yang terjalin dengan Dariah, pasalnya kreativitas dan inspirasi memang datang dari hal tersebut. Namun Otniel perlu berhati-hati dengan ihwal kedekatan ketika mengartikulasikan kedirian Dariah. Pasalnya subjektivitas kerap menyederhanakan atau memburamkan beberapa momen yang seharusnya penting menjadi tidak, dan sebaliknya. Dalam hal ini kiranya kesadaran Otniel sebagai insider ataupun outsider di dalam Lengger perlu dicoba. Alhasil karya Otniel akan menjembatani segala persoalan, terlebih untuk mereka yang akrab ataupun asing terhadap Lengger.[]