Selasa, 22 Januari 2019

Dibalik Pembatalan Konser Slank Di Aceh

Selasa, 22 Januari 2019 | teraSeni.com~


Slank adalah grup band rock asal Jakarta yang kariernya terbilang gemilang dan konstan di dunia rmusik tanah air. Namun siapa sangka, grup yang telah aktif mengguncang panggung Indonesia sejak 1983 ini justru ditolak tampil di Alun-alun Sigli, Aceh pada 29 September 2018 lalu. Menurut pihaknya, grup ini telah diberi izin oleh Direktorat Intelijen Keamanan Polda Aceh dengan segenap Polri dan TNI yang siap mengamankan jalannya acara. Sayang, tidak demikian dengan MPU (Majelis Permusyawaratan Ulama) yang terang-terangan melarang konser Slank melalui surat edaran nomor 451/314/2018. 

Surat tersebut tidak lain adalah hasil keputusan rapat MPU yang ditandatangani oleh Bupati Pidie Jaya dan seluruh anggota Forkopimda (Forum Komunikasi Pimpinan Daerah). Agus Setyadi, melalui Detik.com mencatat bahwa konser Slank dilarang tampil karena dinilai tidak berkaitan dengan akidah keagamaan, khususnya ajaran Islam. Hal yang cukup disayangkan, pernyataan pembatalan konser baru sampai ke telinga penonton kira-kira satu jam sebelum waktu pentas. Sontak saja hal tersebut membuat ribuan penonton kecewa.
Slank: Teraseni.Com
Slank, sebuah grub band rock asal Jakarta
Sumbe Foto: https://citypost.id/berita-sekian-lama-berkarya-slank-rilis-album-religi-perdananya.html
Kejadian itu ditutup oleh pernyataan Slank yang tak kalah Diplomatis. Melalui sebuah video berdurasi 26 detik, Bimbim selaku drummer Slank angkat bicara, katanya: “Karena dalam keadaan berkabung atas bencana yang terjadi di Palu dan Donggala serta akan diadakan dzikir bersama di Sigli. Maka, dengan berat hati Slank terpaksa membatalkan konser malam hari ini di Sigli, see you next week di Lampung”.

Kejadian ini lantas menuai berbagai asumsi terkait pembatalan konser. Manajer Slank, (Bunda Iffet) menduga ada campur tangan politik dibalik pelarangan MPU terhadap pihaknya. Ia bahkan mengaku bingung, kenapa acara hiburan seperti itu harus diseret ke ranah politik hanya karena persoalan sponsor tertentu. Simpang siur pendapat seperti ini saya kira wajar adanya, mengingat saat itu bukanlah kali pertama Slank menggelar konser di tanah Syari’at Islam ini. Tercatat bahwa sebelumnya Slank pernah tampil dua kali di Aceh. Salah satunya adalah konser cinta damai dan anti-teroris bertajuk Death on Terrorism yang diadakan di Lapangan Blang Padang Banda, Aceh pada Mei 2010 silam. Kemudian selang empat tahun (September 2014), Slank kembali mengadakan konser di Lapangan dalam acara kampanye anti narkoba yang bertajuk Silaturahmi Budaya. 

Pemberitaan pembatalan konser disertai dengan pengetahuan atas riwayat konser Slank di Aceh tentu mengundang pertanyaan besar, bagaimana bisa Slank dianggap tidak mencerminkan Aqidah Islam di tahun 2018, sedangkan sebelumnya Slank ‘melenggang’ aman memasuki panggung pertunjukan di wilayah Aceh; atau, Apakah benar ini terkait Politik karena sponsor tertentu, seperti pernyataan sang manajer Slank, Bunda Iffet? Terkait dengan praduga yang muncul, tentu kita perlu ‘mengintip’ bagaimana MPU di Aceh bekerja. 

Sponsor Rokok dan Konser Aceh 

Usut punya usut ternyata konser Slank yang gagal tampil di Aceh Desember lalu merupakan bagian dari tur Magnumotion yang digelar di sembilan kota di Indonesia. Konser tersebut sengaja digelar dalam rangka mempromosikan Magnum, salah satu brand rokok Indonesia. Tidak begitu jelas mengapa manajer Slank menganggap sponsor rokok ada sangkut pautnya dengan pembatalan konser di Aceh. Apakah karena hukum merokok itu makruh dalam Islam sehingga bertentangan dengan putusan MPU atau kasus ini terpaut urusan politik, seprti yang diungkap oleh wanita yang berumur 81 tahun itu.
Majelis Permusyawaratan Umat: Teraseni.Com
Foto pengukuhan Majelis Pemusyawaratan Ulama Aceh
Foto diambil dari:
https://steemit.com/news/@antonysteem
Untuk tidak terburu-buru memutuskan, mari menyoroti kembali sponsor dari pihak mana sajakah yang pernah melatarbelakangi pendanaan Slank di dua konser sebelumnya. Pertama, konser cinta damai dan anti teroris di 2010. Menurut informasi dari ketua pelaksana konser saat itu, konser yang ikut melibatkan Slank delapan tahun lalu memang tidak melibatkan sponsor dari banyak kalangan. Konser tersebut terlaksana atas sumbangan dari beberapa pengusaha Aceh. Kedua, Road Show Silaturahmi Budaya Slank di 2014. Konser ini dimotori oleh Ikatan Keluarga Anti Narkoba (IKAN) Aceh dan didukung penuh oleh salah satu perusahaan rokok terbesar di Indonesia (Clavo). 

Selain Slank, ada beberapa konser musik lain yang bisa dijadikan bahan pertimbangan. Adalah sederetan grup musik yang juga disokong oleh perusahaan rokok, di antaranya; Konser Grup Band Kotak di Banda Aceh Mei 2010, disponsori oleh PT. Sampoerna. Konser Wali Band Aceh Utara, November 2012 disponsori oleh SURYA 16, setelah itu di akhir Juli 2017 Wali Band hadir kembali di Aceh Tengah yang disponsori oleh Gudang Garam. The Changcuters di panggung Magnify di Aceh Tengah Oktober 2016 lalu. Grup ini bahkan berhasil tampil di Aceh Tengah meski menggunakan sponsor yang sama dengan Slank, yaitu Magnum Filter. Sebenarnya bukan hanya di Aceh, kecenderungan perusahaan rokok mensponsori konser musik memang menjadi lazim sejak era 1980an.

Qanun Aceh Tentang Konser 

Menurut peraturan yang berlaku, untuk menghelat sebuah konser di daerah khusus Aceh terdapat dua pihak yang harus dilewati, yaitu: tahap keamanan negara (Polri dan TNI) dan tahap Hukum Islam Aceh (MPU). MPU adalah pihak yang berhak memberi masukan, pertimbangan dalam menentukan kebijakan daerah dari aspek syariat Islam secara kaffah (keseluruhan). Terkait Syariat Islam, Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh juga telah mengeluarkan peraturan terkait kriteria kegiatan seni budaya dan hiburan yang diperbolehkan dalam Islam. Hal itu tertuang dalam fatwa MPU Aceh Nomor 12 Tahun 2013. Fatwa tersebut nantinya akan mengatur seluruh isi konten nyanyian, kegiatan hiburan, dan penonton. 
Pembatalan Konser Slank: Teraseni.Com
Pemisahan penonton konser di Aceh
Foto diambil dari:
http://aceh.tribunnews.com/2016/08/10
Dari 15 butir fatwa tersebut beberapa berkaitan dengan konser, sebagai berikut: (1) Syair dan nyanyian tidak menyimpang dari aqidah ahlu sunnah wal jamaah, tidak bertentangan dengan hukum Islam, tidak disertai dengan alat-alat musik yang diharamkan, tidak mengandung fitnah, dusta, caci maki dan yang dapat membangkitkan nafsu syahwat; (2) Penyair dan penyanyi harus memenuhi kriteria busana muslim dan muslimah, tidak melakukan gerakan-gerakan yang berlebihan atau dapat menimbulkan nafsu birahi, tidak bergabung/bercampur laki-laki dan perempuan yang bukan mahram, tidak menyalahi kodratnya sesuai dengan jenis kelamin, tidak ditonton langsung oleh lawan jenis yang bukan mahram, kegiatan bernyanyi dan bersyair dilakukan pada tempat dan waktu yang tidak mengganggu ibadat dan ketertiban umum; (3) Penonton hiburan tidak bercampur laki-laki dan perempuan yang bukan mahram. 

Tarik Ulur Peraturan MPU di Aceh dan Sekitar 

Terdapat dua tingkat MPU yang menaungi masyarakat Aceh yaitu, MPU tingkat Provinsi dan MPU tingkat Kabupaten/kota. Semua Pihak MPU pada dasarnya wajib menerapkan aturan yang telah ditetapkan. Walaupun nanti di dalam pelaksanaannya tentu tidak serta merta seragam di setiap tempat. Hal ini akan sangat tergantung pada negosiasi-negosiasi yang terjadi antar pemerintah Kabupaten/kota setempat. 

Ada empat tugas utama MPU tingkat kabupaten/kota. Salah satunya, MPU memiliki hak untuk mempertimbangkan dan memberi saran kepada pemerintah daerah dan DPRK dalam menetapkan kebijakan berdasarkan syariat Islam, termasuk konser. Sebagai contoh, kasus yang terjadi di Meulaboh Kabupaten Aceh Barat di tahun 2016. Band lokal maupun nasional ditolak pentas di tempat tersebut tanpa pandang bulu. Hal ini terjadi karena Ulama Aceh Barat menilai bahwa konser musik bertentangan dengan syariat Islam yang berlaku di Aceh. Merujuk pada Hadits Nabi SAW yang menganjurkan untuk meninggalkan sesuatu yang lebih banyak mudharat dibanding manfaatnya. 

Sejak saat itu baik pihak MPU maupun Pemerintah daerah setempat tidak akan mengeluarkan izin untuk konser musik. Berbeda dengan Aceh Barat, di Kota Banda Aceh justru tetap aktif mengadakan konser hingga saat ini. Walaupun dengan syarat akan selalu mengindahkan aturan-aturan dari MPU. Seperti adanya pemisahan penonton laki-laki dan perempuan, memakai pakaian syar’i dan lain sebagainya. Melihat kejadian di Aceh Barat, tidak menutup kemungkinan jika hal semacam ini juga sedang terjadi di Kabupaten Pidie Jaya terkait pembatalan konser Slank. Telah terjadi semacam negosiasi antar segenap pemerintah daerah dan MPU di tingkat Kabupaten Sigli sehingga sampai pada titik kesimpulan, Slank dilarang tampil di Sigli. 

Melalui pembatalan konser Slank ada hal yang bisa kita pelajari bersama, bahwasanya kebijakan pemerintah Aceh terutama kaitannya dengan Syari’at Islam tidak sama di setiap tempat dan tidak bisa dipukul sama rata. Pada praktiknya hal semacam ini juga akan sangat tergantung pada Ulama dan pemerintah daerah yang menjabat saat itu, sebagai pemimpin yang dipilih masyarakat untuk menentukan keputusan di tingkat daerah. 

Negosiasi Perlu Dilakukan: Sebagai Penutup 

Di balik pembatalan Konser Slank bukan hanya campur tangan MPU, namun ada banyak pihak lain yang turut membentengi para Ulama tersebut. Seperti Bupati yang ikut menandatangani surat penolakan konser, FPI yang mendesak aparat penegak hukum untuk mematuhi MPU, Ormas dan partai-partai lokal ikut unjuk nyali untuk mendukung keputusan Ulama. Mereka siap mempertaruhkan diri demi mempertahankan marwah Ulama. Dengan sekian banyak pertentangan yang terjadi, alhasil konser Slank yang rencana akan tetap digelar meski tanpa restu dari MPU resmi dibatalkan satu jam sebelum jadwal pentas. 

Penulis selaku salah satu warga Aceh juga ikut gelagapan menanggapi kasus seperti ini. Lantas bagaimana nasib konser musik di Tanah Aceh kedepannya? Mungkin sudah saatnya menjadi renungan bersama, apakah Aceh perlu daerah/tempat khusus untuk pelaksanaan konser? Atau pihak penyelenggara yang seharusnya lebih memperhatikan dan mendalami lebih lanjut perihal kebijakan masing-masing daerah, tentu dengan tidak melupakan konteks daerahnya. Dengan begitu, aksi serupa yang merugikan tersebut tidak akan terulang. Mungkin hal ini dapat mulai dipikirkan sekaligus dicoba, dan kiranya tahun 2019 adalah awal yang baik untuk memulai.

Sabtu, 29 Desember 2018

Nosheheorit: Dialog Gender dalam Proses Menjadi Lengger

Jumat, 28 Desember 2018 | teraSeni.com~



Seorang laki-laki menggunakan kemban merah meratap dengan wajah nanar ke penonton. Di dalam pelukannya, terdapat rangkaian bunga mawar. Kiranya terdapat satu kontras di mana tubuh sang laki-laki berpakaian kemban merah memeluk rangkaian bunga tersebut. Sementara lima penari lainnya mengibaskan bunga mawar ke punggung mereka masing-masing. Beberapa menit berselang, laki-laki tadi mulai ikut mengibaskan bunga yang ia peluk ke arah punggungnya. 
Nosheheorit: Teraseni.Com
Penari memeluk bunga sambil menatap ke arah penonton
Foto: Arsip Otniel Tasman
Potongan pertunjukan di atas merupakan secuil peristiwa yang terjadi pada karya bertajuk Nosheheorit dari koreografer, Otniel Tasman. Karya yang menyoal ihwal maskulinitas dan femininitas pada tubuh ini dipentaskan pada gelaran Indonesia Dance Festival (7/11) di Gedung Kesenian Jakarta (GKJ). Karya Otniel ini terinspirasi dari seorang lengger laki-laki dari Banyumas, Dariah. Di dalam karya berdurasi 50 menit ini, Otniel mendialogkan dua gender di dalam satu tubuh hingga menjadi satu kesatuan yang utuh.

Di dalam karya ini, Otniel selaku koreografer bekerja sama dengan Bagus TWU (komposer), Khoerul Munna dan Yenni Arama (pemusik), Iskandar Kamaloedin (lighting designer), Sekar Putri Handayani (produser), Reizki Habibullah (project manager), Dany Wulansari (asistant produksi), dan para penari, yakni: Sutrianingsih, Yoga Ardanu, Kurniadi Ilham, Ahmad Saroji, Damasus CV Waskito. Karya yang sempat dipentaskan di Belgia ini kiranya mengajak kita untuk berpikir ulang soal ihwal gender yang kerap kita abaikan, atau sengaja tidak dibicarakan.  

Tubuh Sebagai Ruang Dialog 
Dengan cahaya samar-samar, seorang perempuan berdiri di tengah panggung. Membentuk kuda-kuda dengan posisi jari laiknya kipas yang bergerak cepat. Dua laki-laki lainnya hanya duduk termangu. Mereka terbangun, menunjukkan gerak gemulai laiknya Lengger tetapi dengan gerak yang patah-patah. 

Sementara terdapat seorang penari berdiri di sisi depan bagian kiri panggung. Adalah Ilham menunjukkan gerak-gerak pencak tetapi dalam busana yang asing, laiknya gaun berwarna hitam dengan sepatu berhak. Di satu sisi ia menampilkan kegagahan, tetapi di sisi lain busana membuatnya kontraproduktif. Gerak demi gerak ia tunjukkan, kuda-kuda demi kuda-kuda ia peragakan hingga suara berbisik “noshe, no he, orit” terdengar lantang. 
Nosheheorit: Teraseni.Com
Penari dengan kuda-kuda serupa pencak silat
Foto: Arsip Otniel Tasman
Dengan suara berbisik tersebut, lantas ia terjatuh di tempat tak berdaya. Sekembalinya ia bangkit, ia lantas berjalan dan bergerak lebih gemulai ke tengah panggung. Lantas ia menunjukkan kontras gerak, dengan bergeal-geol hingga menunjukkan kosa gerak Lengger. Dalam hal ini, kita dapat melihat perubahan kontras tubuh dari basis tubuh pencak ke Lengger. Ada dua yang terlucuti, pertama, pergantian gerak yang signifikan, kedua, konstruksi tubuh dan gender. 

Bertolak dari adegan pertama, hal ini kiranya terjalin kemudahan dalam menangkap adanya dua kecenderungan gender pada satu tubuh. Hal ini kiranya menarik, namun Otniel cukup diuntungkan melihat Ilham berbasis gerak pencak, sehingga gerak maskulin dapat tergambar dengan jelas. Dengan sangat mudah penonton menangkap signifikansi antara maskulin dan feminin yang terejawantahkandengan detail dari basis gerak yang ditunjukkan. Namun, kiranya menarik mengetahui siasat Otniel jika gerak maskulin tidak ditunjukkan dengan gerak pencak. Lebih lanjut, seberapa kuatkan maskulinitas pada tubuh para Lengger Lanang hingga diwujudkan dengan kontras yang tegas? 

Selanjutnya, para penari turut mewujudkan kontak tubuh hingga motif gerak Lengger. Namun yang cukup menarik, Otniel tidak langsung menerapkannya secara eksplisit, melainkan mewujudkannya perlahan, yakni dengan gerak patah-patah—laiknya ada keraguan tertentu yang terjalin. Dalam hal ini, saya melihat bahwa Otniel tidak hanya menggunakan penari sebagai peraga gerak-gerak, tetapi medium interpretasi atas dialog gender. Hal ini kiranya yang membuat karya semakin kaya. 
Nosheheorit: Teraseni.Com
Para penari tampak sedang menjalin kotak tubuh satu sama lain
Foto: Arsip Otniel Tasman
Selain itu, hal yang cukup menarik adalah Otniel membuat dramaturginya bertingkat. di mana ia memulai dengan tubuh personal sebagai pembeda gender. Secara lebih lanjut, setiap tubuh bergerak maskulin, feminin, dan keduanya, baik secara terpisah, patah-patah, hingga berkelindan. Alih-alih hanya menunjukkannya pada tubuh terpisah, Otniel juga menjalin ketersatuan gender ketika setiap penari saling menyentuh dan menyangga satu sama lain. Tidak hanya berpelukan, Otniel turut menyematkan visual pose yang menarik di setiap penari yang menyangga satu sama lain. Pada adegan ini, laiknya semua konstruksi menjadi lenyap dan berkelindan. 

Setelah itu, Otniel muncul dengan kemban berwarna merah. Ia menari lengger sambil menyanyikan beberapa patah frase yang kerap digunakan oleh Lengger. Pasca Otniel masuk, kiranya penari-penari lain dihadirkan bergantian, baik gerak patah-patah ataupun lengger. Interaksi gerak yang muncul pun inovatif dengan eksplorasi gerak dari basis tubuh lengger yang cukup variatif. Eksplorasi gerak itu pun menyuarakan maksud yang berbeda-beda, mulai dari keragu-raguan, keterasingan, hingga keutuhan. 
Nosheheorit: Teraseni.Com
Seorang penari dengan kostum kemben merah
Foto: Arsip Otniel Tasman
Dalam diam dan tubuh kelima penari yang membeku, Otniel berjalan ke dalam panggung sambil memeluk bunga mawar. Ia memberikannya satu per satu ke kelima penari yang ada. Bunga tersebut diletakkan di atas kepala mereka masing-masing, dan perlahan para penari mulai merespons bunga-bunga tersebut. Puncak dari adegan itu adalah ketika kelima penari menyabet-nyabetkan bunga tersebut ke punggung mereka masing-masing, sedangkan Otniel menatap nanar sembari memeluk bunga mawar tersebut. Setelah para penari, lantas Otniel lah yang menyabetkan bunga-bunga tersebut ke punggungnya hingga lampu berangsur padam. Adegan menyentuh tersebut menutup pertunjukan.

Fase Liminalitas dan Cara Ungkap 
Bertolak dari karya tersebut, kita dapat melihat tawaran biografi tubuh dari seorang Lengger Lanang, bernama Dariah. Diibaratkan sebagai sebuah perjalanan, Dariah mengalami fase yang tidak mudah. Pertentangan demi pertentangan terjalin, ketidak-terimaan berbuntut persetujuan diri terbentuk, hingga kehadiran inang membuat seseorang ‘menjadi’ Lengger Lanang terwujud. Dalam hal ini, Otniel mengartikulasikan fase liminalitas (baca: ambang) dari tubuh seorang Lengger Lanang. Secara lebih lanjut, dapat kita lihat adanya fase ‘menjadi’ tubuh Lengger yang melibatkan dialog dua gender yang berlainan. Di mana diawali dengan tubuh laki-laki, persilangan dengan perempuan, dan menjadi Lengger Lanang. 

Hal lain yang cukup menarik, saya melihat karya ini diungkap Otniel dengan cara yang ‘puitis’ dan penuh emosi. Hal ini mungkin dapat ditafsir akan relasi Otniel yang cukup dekat dengan Dariah, sehingga bahasa-bahasa yang muncul begitu dekat dan mendalam. Kiranya Otniel tidak perlu takut soal kedekatan yang terjalin dengan Dariah, pasalnya kreativitas dan inspirasi memang datang dari hal tersebut. Namun Otniel perlu berhati-hati dengan ihwal kedekatan ketika mengartikulasikan kedirian Dariah. Pasalnya subjektivitas kerap menyederhanakan atau memburamkan beberapa momen yang seharusnya penting menjadi tidak, dan sebaliknya. Dalam hal ini kiranya kesadaran Otniel sebagai insider ataupun outsider di dalam Lengger perlu dicoba. Alhasil karya Otniel akan menjembatani segala persoalan, terlebih untuk mereka yang akrab ataupun asing terhadap Lengger.[]

Kamis, 13 Desember 2018

Teriakan Sunyi Milenia*

Kamis, 13 Desember 2018 | teraSeni.com~

Mime on Stage serta Temu Karya Mimer meningkahi geliat milenia dengan pantomim. Kesunyian yang mengakrabkan. Kesunyian yang mengakrabi perubahan. 

Ingatkah anda akan situasi seperti ini: suasana kelas gaduh, murid-murid saling bercanda dan berbincang riuh tanpa peduli guru sepuh yang tengah bersusah-payah menerangkan pelajaran di depan kelas. Betapapun kerasnya upaya sang guru menenangkan murid dan mengharapkan perhatian mereka, tetap saja sia-sia. Semakin cerewet sang guru menggerutu, semakin menggila tingkah polah para murid. Akhirnya sang guru menyerah. Tiba-tiba saja dia berhenti bicara, diam seribu bahasa. Dengan membisu sang guru hanya berdiri di samping papan dan memandang para murid dengan sayu. Anehnya, alih-alih merasa diberikan kesempatan untuk semakin gaduh, semua murid malah perlahan diam dan duduk manis sambil tertunduk seperti anjing yang akan dilempari batu. Kesunyian melawan kegaduhan. Kesunyian jauh lebih nyaring dari teriakan. 
 *** 
Dua bulan belakangan ini, saya bertandang ke beberapa peristiwa “seni sunyi” ini. “Seni sunyi” ini lebih akrab dikenal dengan nama Pantomim. Disebut sunyi sebab kesenian ini menonaktifkan verbal sebagai medium komunikasinya. Tak hanya nirverbal, pertunjukan yang bisa dibilang masih menjadi bagian dari teater ini juga menafikan properti. Ruang, properti, bahasa verbal, bahkan hingga lawan main pun sepenuhnya dibangun oleh bahasa tubuh. 

Pantomime: teraseni.com
mimer (aktor pantomime) dengan ekspresi wajah, gestur, sebagai bahasa berkomunikasi dengan penonton
Foto: Agathon Hutama
Setidaknya ada tiga perhelatan gelar pantomim yang terjadi dalam rentang akhir Oktober hingga menjelang akhir November 2018 ini di Yogyakarta. Ada Mime on Stage yang digelar di Omah Kebon pada 28 Oktober 2018, ada Temu Karya Mimer yang digelar di Yogyatourium Dagadu Yogyakarta pada 30 Oktober 2018 dan ada Tunggak Semi yang diselenggarakan di beberapa lokasi di Yogyakarta dari tanggal 12 hingga 19 November 2018. Sayangnya saya hanya mampu bersilaturahim ke dua perhelatan di awal karena kesibukan saya. Karena itulah, pada tulisan kali ini saya hanya akan lebih banyak membahas tentang kedua pergelaran pantomim tersebut, meskipun tidak menutup kemungkinan Tunggak Semi tetap “kena getahnya” juga. 

Pantomim dalam Pertemuan dan Perubahan 
Meski sama-sama menyajikan pertunjukan-pertunjukan pantomim, Mime on Stage (MOS) dan Temu Karya Mimer (TKM) memiliki perbedaan yang menjadi kekhasan masing-masing. Walaupun tentu saja keduanya sama-sama berupaya untuk menghidupkan kembali geliat pantomim di kota Gudeg ini. 

Adalah tokoh pantomim (mimer) kenamaan Yogyakarta, Asita Kaladewa bersama dua rekannya, Krismantoro dan Markus yang kemudian berkumpul dan mengangkat sebuah kesadaran melalui wacana bahwa selaku mimer sekaligus guru pantomim di sekolah-sekolah, mereka juga membutuhkan ruang untuk mengekspresikan karya pribadi mereka masing-masing. Dari pemikiran inilah, ketiga tokoh ini kemudian mengajak tiga mimer yang lain yakni Banon Gautama, Sabil, dan Feri Ludianto Pawiro untuk menggelar rangkaian pertunjukan pantomim yang diberikan tajuk: Mime on Stage: Mime’s Archive and Collective. 

Pantomime: Teraseni.Com
tampak para mimer dengan rias serba putih seperti topeng
Foto: Qorin Syah
Pergelaran MOS pada 28 Oktober 2018 di Omah Kebon, Nitiprayan, Yogyakarta itu menginjak seri yang pertama. Dengan kata lain, perhelatan yang digelar di homestay milik dramawan senior, Whani Darmawan, itu baru saja menggelar pertunjukan perdana mereka. Menurut Asita, fokus nomor-nomor karya pantomim yang ditampilkan di MOS lebih condong ke pantomim gaya klasik (classic). Pantomim gaya klasik adalah pantomim yang menggunakan teknik-teknik pantomim yang cenderung realis dan berangkat dari peristiwa keseharian. Pantomim realis umumnya lebih dikenal dengan tata rias yang serba putih seperti topeng, mengenakan sarung tangan putih dan baju garis-garis hitam-putih. Meskipun tentu saja masalah sarung tangan dan kostum ini masih bisa dialihrupakan. Menurut Asita, pantomim gaya klasik seperti ini perlu kembali dihidupkan untuk memperkenalkan pantomim ke masyarakat, serupa dasar-dasar berpantomim. 

Pergelaran MOS dibagi menjadi tiga bagian: bagian pertama adalah presentasi karya dari masing-masing mimer, bagian kedua adalah kolaborasi antar mimer, sedangkan di bagian ketiga, para penonton dipersilahkan untuk maju ke atas panggung dan mencoba berpantomim dengan gaya mereka sendiri-sendiri. Penonton tidak hanya menjadi penikmat pertunjukan secara pasif tapi juga diberikan kesempatan untuk merasakan seperti apa rasanya berpantomim itu ibarat ngibing dalam tari-tarian rakyat. 

Yang menarik lagi, meskipun pertunjukan ini tidak berbayar, tapi penonton disarankan untuk menyumbangkan cerita pendek yang ditulis di sehelai kertas sebagai ganti tiket masuknya. Meskipun ternyata ketentuan ini tidak membatasi siapa saja yang ingin menonton walaupun mereka tidak sempat untuk membuat dan menuliskan cerita pendek. Cerita-cerita pendek ini nantinya akan dijadikan bahan nomor-nomor karya yang akan disajikan di pergelaran MOS seri berikutnya. 

Pantomime: Terseni.Com
Penggunaan topeng yang berbeda oleh mimer
Foto: Agathon Hutama
Lain MOS, lain pula TKM (Temu Karya Mimer). Jika MOS baru saja menginjak pergelaran perdananya, TKM, yang digelar tepat dua hari berikutnya, 30 Oktober 2018 di Yogyatourium Dagadu Yogyakarta, itu telah menginjak seri yang kedua. Gelaran yang pertama dari komunitas yang diinisiasi oleh pantomimer Jogja, Ficky Tri Sanjaya dan kawan-kawan, ini telah dilaksanakan di awal tahun 2018 ini. Mengambil tajuk “I Should Be Sleeping Under The Tree With A Cup of Tea”, TKM juga menampilkan karya enam mimer muda Yogyakarta. Bedanya, jika seluruh mimer dari MOS adalah laki-laki, TKM memiliki tiga mimer perempuan yakni Tiaswening Maharsi, Patricia Yuristavia, dan Gabriella Srie Nareswari (Gabby). Tiga mimer pria lainnya yakni Capriano David Liat Tewar, dan Ficky Tri Sanjaya. 

Perhelatan TKM, secara format pertunjukan, juga tidak kalah eksperimental jika dibandingkan dengan MOS. Secara performatif, sebagian besar karya TKM digelar sebagai pertunjukan yang menjaga jarak dengan penonton, dalam artian penonton benar-benar diposisikan sebagai penikmat pasif (kecuali pada karya dari Patricia Yuristavia yang mengajak penonton untuk berpartisipasi di tengah-tengah pertunjukannya). Ruang eksperimental justru terletak di pembagian ruang-ruang pertunjukan. Alih-alih sekedar menggunakan satu titik sebagai panggung, TKM menggunakan tiga titik di Yogyatourium sebagai ruang pertunjukannya. Tiga mimer tampil di panggung ruang terbuka Yogyatourium, satu mimer tampil di samping ruang lesehan penonton, dan dua mimer terakhir tampil di pendopo Yogyatourium. Untungnya, jarak antara ketiga titik ruang ini tidak lebih dari sepelemparan batu sehingga penonton bisa berpindah tempat dengan mudah dan cepat, setidaknya tidak sampai membuat mereka keburu menggerutu. 

Ruang eksperimental lain dari TKM juga terletak pada format bentuk karyanya. Meskipun tiga mimer masih berpentas secara konvensional (pantomim klasik), tiga mimer yang lain sudah berani untuk mengeksplorasi pantomim ke wilayah yang lebih luas. Selain itu, tiga dari enam mimer yang ada memilih untuk tidak mengenakan tata rias serba putih layaknya pantomim konvensional. Ada Gabby dan Tias yang membiarkan wajah mereka natural tanpa riasan serba putih serta Ficky Tri Sanjaya yang bahkan menutupi wajahnya dengan topeng. Sebuah keputusan yang cukup berani, mengingat pantomim identik dengan permainan ekspresi mimik wajah. 

Tiaswening Maharsi (Tias) berpantomim hanya di satu titik tanpa berpindah tempat selangkahpun. Alih-alih sekedar bercerita dengan plot yang linear dan bahasa yang gamblang, Tias menggunakan bahasa puisi sebagai keberangkatannya seperti “Sehelai uban yang melayang menjadi gumpalan awan yang berlarian diterpa angin” dan lain sebagainya. Ada pula Patricia Yuristavia, seperti yang telah saya singgung sebelumnya, yang mengajak dua orang penonton ke atas panggung untuk menyumbangkan masing-masing satu kata yang nantinya akan dia jadikan sebagai bagian dari karya yang ditampilkan. Hingga ada pula Ficky Trisanjaya yang mengajak kolaborasi penari dan koreografer muda, Megatruh Banyumili, untuk mereinterpretasikan tari Topeng Klana ke dalam bentuk pantomim. 

Pantomime: Teraseni.Com
Tampak mime tanpa rias membuat pola atau simbol tertentu dengan kedua tangannya
Foto: Agathon Hutama
Kedua perhelatan ini (MOS dan TKM) juga mengangkat dua tema yang berbeda. Jika MOS lebih menyorot pada tema tentang pertemuan—itulah mengapa ada segmen “pertemuan” antar mimer maupun panggung dengan penonton—maka TKM lebih banyak berbicara tentang waktu dan perubahan. Bagi saya, keduanya sama-sama cukup berhasil dalam mempertanggungjawabkan tema yang mereka angkat masing-masing. Tidak hanya dalam bentuk narasi, tema-tema itu diwujudkan dalam bentuk pilihan format pertunjukan maupun pola interaksi dengan penonton. 

Capaian semacam ini yang sangat patut untuk diapresiasi. Tidak hanya berupaya untuk sekedar menghidupan dan memperkenalkan pantomim ke masyarakat tapi juga mengembangkannya ke dalam wilayah jelajah seni yang lebih luas dan beragam. Bukankah kita memang tengah menapaki era jelajah lintas-apapun? 

Pantomim dan Teriakan Sunyi Milenia 
Entah sudah berapa banyak karya seni yang berupaya untuk menggugah kesadaran kita akan bahaya laten tenggelam dalam dunia sosial media yang begitu hingar-bingarnya saat ini. Kemudahan media komunikasi bukannya membuat kita mampu untuk saling memahami dengan lebih baik tapi sebaliknya, kita malah saling berlomba-lomba untuk mengaktualisasi diri, berpacu untuk didengar. Kebebasan untuk bersuara yang tidak terkendali membiaskan makna dari demokrasi itu sendiri. Demokrasi dimaknai sebagai kebebasan untuk memaki, alih-alih memahami. 

Jenakanya, beberapa karya-karya seni yang berupaya untuk menyindir perilaku masyarakat milenial yang serba hectic di internet itu malah semakin menambah kebisingan yang ada. Eksperimentasi visual yang serba gegap gempita, celotehan-celotehan retorika verbal yang begitu berbusa-busa, hingga gerak-gerak tubuh “kontemporer” yang tidak bermakna dan tidak jelas juntrungannya menambah kecerewetan generasi milenia. Maksud hati mencipta satir, apa daya ikut terpelintir.

Dalam keadaan seperti inilah pantomim kemudian muncul layaknya guru renta yang berupaya untuk membungkam murid-murid yang tidak mengindahkannya—seperti yang telah diceritakan di awal tulisan ini. Sang guru tidak berusaha membungkam para murid dengan kata-kata verbal. Sebaliknya, guru hanya berdiam diri dan menatap sayu murid-muridnya. Begitu semua murid membisu, sang guru tetap tidak berkata sepatah katapun. Dia hanya berbalik menghadap papan, lalu menuliskan beberapa soal dan duduk di kursi guru, masih tanpa sekecap katapun. Meski tanpa mendapatkan instruksi verbal, para murid langsung segera mengambil alat tulis dan mencatat soal yang ditorehkan sang guru di papan lalu mulai mengerjakannya dengan tertib. 

Mungkin pantomim memang tidak seheroik itu sebagai agen perubahan. Tapi setidaknya, dari pantomim kita bisa belajar bahwa menghadirkan peristiwa tidak harus melulu melalui wacana-wacana verbal yang biasanya memang cenderung jadi perang wacana itu. Pantomim seolah ingin mengingatkan kita bahwa yang paling utama dalam hidup adalah bergerak dan beraksi. 

MOS ingin mengingatkan kita bahwa sudah lupakah kita untuk mencari titik temu dalam berkomunikasi, alih-alih sekedar ingin memaki dan didengarkan? 

TKM ingin menyadarkan kita bahwa waktu terus berubah. Kesadaran harus terus dibuncahkan. Jangan terlena pada keadaan. MOS dan TKM ingin mengingatkan: mari bertemu untuk melakukan perubahan!! 

*tulisan ini terinspirasi dari film A Quiet Place arahan sutradara John Krasinski.

Minggu, 02 Desember 2018

Pertemuan Komunitas Seni Anak Muda Sumatra Barat (Catatan Lokakarya: Kota dan Seni Anak Muda)

Minggu, 2 Desember 2018 | teraSeni.com~


Di pertengahan Oktober 2018 lalu, saya diajak bertemu oleh Roni “Keron” Putra di Padang. Ia mengundang Metasinema dan Shelter Utara untuk datang ke Payakumbuh dalam agenda pertemuan komunitas seni anak muda di Sumatra Barat. Setelah bertemu beberapa saat itu, Keron langsung pergi ke Solok, untuk mengundang komunitas-komunitas seni di sana. Ternyata selama tiga hari itu ia bersama rekannya berkeliling Sumbar untuk mengundang komunitas-komunitas seni di provinsi ini. Sebelum ia beranjak dari Padang, saya tanyakan “komunitas seni seperti apa yang Abang undang?”yang terlihat aktif, baik itu di nyata atau di maya, jawab Keron. 

24 November 2018, pukul 20.00 malam, di Basecamp Legusa Fest, Nagari Tanjung Haro, Kabupaten Lima Puluh Kota, agenda itu dihadiri oleh sebelas komunitas berbasis seni dari berbagai daerah di Sumbar. Diselenggarakan oleh Payakumbuh Youth Artee Committee (PYAC), pertemuan itu dijuduli Lokakarya Seni dan Anak Muda: Mengisi Ruang Kosong Kota. Keron sebagai moderator memberi pengantar dan latar belakang agenda tersebut. Pertemuan ini muncul merespon semaraknya media sosial yang berisi kegiatan komunitas-komunitas berbasis seni di Sumbar, munculnya ruang dan media alternatif yang dikelola oleh anak muda, bahkan yang mengisi media cetak di Sumbar kebanyakan anak muda. Bahkan, kegiatan-kegiatan tersebut telah ikut turut menyumbang sesuatu untuk citra dan branding kota. Lantas kenapa kita tidak saling bersinergi dan berkolaborasi untuk memajukan kesenian di Sumbar? 
lokakarya PYAC: teraseni.com
Anak-anak muda pegiat seni Sumatera Barat saling membicarakan apa yang telah dan akan mereka kerjakan
Sepuluh komunitas itu adalah: PYAC berbasis di Payakumbuh, Legusa, di tempat agenda itu berlangsung, Sibiran, Metasinema, dan Shelter Utara berbasis di Padang, Ladang Rupa dari Bukittinggi, Sarueh di Koto Tuo Ampe Angkek, Agam, Takasiboe dari Solok Selatan, Gubuak Kopi di Solok, Sapakek di Padang Panjang, dan 9 Pucuak Fest di Sungai Talang, Lima Puluh Kota. 

Keron meminta para komunitas dengan perwakilannya untuk mengenalkan diri dan apa kegiatan-kegiatannya, dan bagaimana pembacaan serta respon atas kondisi bidang yang digeluti. Pada bagian selanjutnya, pembahasan berlanjut pada kemungkinan kolaborasi antar komunitas. Kebetulan saya diminta untuk jadi pencatat pembicaraan, saya coba rangkum poin-poin itu seperti berikut. 

Komunitas dan Sikap Terhadap Kondisi Sekitar 
Keron melanjutkan dengan penjelasannya mengenai PYAC. Di Payakumbuh, banyak anak muda dengan segala macam kreativitasnya, mereka coba untuk berkumpul dan membuat sebuah ruang jejaring bernama PYAC. Diniatkan untuk merealisasikan ide-ide yang ada pada diri anak muda itu, sehingga tercipta sebuah momen untuk dinikmati oleh warga, bisa untuk saling mendukung dan menginspirasi. Salah satu kegiatannya adalah Ngopini, sebuah diskusi yang dilaksanakan setiap bulan di sebuah kafe atau ruang terbuka untuk mebicarakan fenomena anak muda yang merespon kondisi sekitarnya, baik itu di kesenian, kebudayaan, industri kreatif, sejarah, dll. 
lokakarya PYAC: teraseni.com
Setiap komunitas mempresentasikan program
Vhky Putra dari Sibiran melajutkan pergiliran mikrofon. Dari sebuah industri kreatif, memproduksi buah tangan (merchandise) dari kayu-kayu, kemudian berkembang menjadi ruang kegiatan musik dan teater. Kebiasaan mereka semenjak jadi mahasiswa yang dekat dengan kegiatan itu, ditambah keengganan untuk bekerja dibawah orang lain, akhirnya membentuk sebuah komunitas Sibiran.Ia melanjutkan dengan pengamatannya atas kondisi komunitas seni di Padang.Ia merasa ada yang tidak sehat, komunitas serta kegiatannya itu terfragmen, dan jarang yang melebur antara lain. Akhirnya muncul nabi-nabi (baca:penggiat) di antara mereka, bersabda untuk lingkungan mereka pula. 

Namun, Shelter Utara, seperti yang dipaparkan salah satu penggiatnya Randi Reimena, hadir dan berusaha untuk meleburkan kondisi itu. Sebagai perpustakaan terbuka dan ruang yang bisa dipakai untuk diskusi, pertunjukan, pemutaran, dengan beragam kegiatan disana, mulai dari sastra, musik, film, fotografi, sejarah, dan filsafat. SU agaknya telah berhasil mempertemukan orang-orang dari berbagai kalangan serta memicu berlangsungnya interaksi lintas disiplin. 

Saya menceritakan mengenai posisi Metasinema, yang notabene adalah Unit Kegiatan Mahasiswa, di Universitas Andalas. Satu-satunya komunitas kampus yang hadir di pertemuan ini. Metasinema mencoba menjadi ruang untuk mempelajari film, baik itu sekedar hiburan atau tak sekedar hiburan, karena siapa saja dan dimana saja bisa menonton bahkan memproduksi film hari ini. Atas itu perlu rasanya mengambil kesempatan untuk menjadikan film sebagai medium edukasi. Dengan semangat itu lahirlah program apresiasi seperti Layar Terkembang dan Andalas Film Festival. 
lokakarya PYAC: teraseni.com
Setiap komunitas juga saling bertanya dan berjawab
Lain pula kondisi di kota Bukittinggi dan Padang Panjang. Ladang Rupa lahir karena merespon keengganan kota Bukittinggi atas kegiatan kesenian, terutama seni rupa, jelas Ogy Wisnu, salah seorang penggiat di Ladang Rupa. Sedangkan di Padang Panjang yang telah berdiri kampus seni, mayoritas warga di luar kampus berpandangan negatif atas kesenian, papar Maulana Ahlan, seorang penggiat di Sapakek. Untuk itu mereka mencoba hadir di tengah-tengah masyarakat, dan memperkenalkan seni dengan sehat. 

Sedangkan di Solok, ada Gubuak Kopi yang konsisten dan produktif belakangan ini. Mereka berusaha untuk membaca kebudayaan sekitar, mulai dari sejarahnya hingga perkembangannya hari ini, yang kemudian direproduksi dan didistribusikan dengan seni media. Beberapa programnya adalah Lapuak-Lapuak Dikajangi, Daur Subur, dan Sinema Pojok. 

Jika itu adalah gambaran komunitas dan aktivitasnya di kota, beberapa komunitas fokus di wilayah rural, seperti Legusa dan 9 Pucuak Fest. Andes Satolari menjelaskan ada kondisi yang memprihatinkan di kampungnya.Anak-anak muda kebanyakan mempunyai kegiatan yang negatif, seperti ma lem (menghisap lem), ia contohkan. Atas itu, ia dan kawan-kawan mencoba mengaktifkan kembali kesenian yang pernah ada di jorong-jorong, mengajak anak-anak muda untuk menyentuh kesenian mereka, dan dirayakan di nagari tempat kesenian itu tumbuh.Perayaan itu kemudian disebut Legusa Fest. 

Tidak jauh dari Nagari Tanjung Haro, ada kawan-kawan di Sungai Talang yang memicu potensi-potensi yang ada di nagari mereka untuk digiatkan. Mulai dari bidang pertanian, kerajinan, kuliner, adat, kesenian dipantik dan dirayakan nantinya di 9 Pucuak Fest. Serupa pula dengan apa yang digalakkan oleh komunitas Sarueh di Agam, mereka berusaha untuk mengajak anak muda untuk berkegiatan dan berkesenian, sambung Muhammad Lutfi, salah satu penggiatnya. 
lokakarya PYAC: teraseni.com
Foto bersama seusai lokakarya
Dan tidak semua daerah pula mempunyai ruang-ruang kreatif untuk menstimulus anak muda di sekitarnya. Mardani Syah salah satu anggota Takasiboe menggambarkan kondisi Solok Selatan yang absen ruang-ruang baik tersebut. Tak lain karena kurangnya manusia-manusia yang mau bersitungkin untuk menghadirkan ruang tersebut. Ia kemudian mengajak komunitas-komunitas yang ada dalam pertemuan itu untuk berkolaborasi dengan Takasiboe untuk mencipta ruang dan memicu kegiatan-kegiatan seni di Solok Selatan. 

Ada semangat baik yang terlihat dari gagasan dan kegiatan masing-masing komunitas itu. Baik itu berupa gerakan literasi, seni untuk masyarakat, distribusi pengetahuan yang mudah diakses, dll. Jika komunitas-komunitas ini saling berkolaborasi, apa kemungkinan yang akan terjadi? Kegiatan apa yang bisa muncul dari jejaring ini? Pertanyaan-pertanyaan itu disepakati akan dibahas pada pertemuan selanjutnya di bulan Desember nanti, di markas Gubuak Kopi, Solok. 

Rabu, 28 November 2018

Musim Paceklik Ngayogjazz

Rabu, 28 November 2018  | teraSeni.com~

Keramaian adalah hal yang lumrah untuk Desa Gilangharjo, Pandak, Bantul Yogyakarta. Pasalnya di desa tersebut terdapat sebuah petilasan bernama Selo Gilang, tempat di mana lokasi Tumurun Wahyuning Mataram yang diturunkan oleh Panembahan Senopati. Berbeda dengan keramaian pada hari-hari biasanya, pada hari Sabtu (17/11/2018) kerumunan manusia berpuluh-puluh kali lipat memadati desa untuk menikmati sajian musik jazz. 

Adalah Ngayogjazz sebuah festival musik jazz yang diselenggarakan setiap tahun dengan tempat penyelenggaraan yang selalu berpindah. Festival yang tahun ini mengusung tema “Negara Mawa Tata, Jazz Mawa Cara” ini memang lazim ‘mengincar’ desa sebagai ruang alternatif penyelenggaraan musik jazz yang kerap kaku di sekat beton gedung pertunjukan. 

ngayogjazz: Teraseni.Com
Panggung Ngayogjazz dari depan, tampak pemain sedang mempersiapkan penampilan
Foto: Agnes Putri Maylani Pamungkas

Di desa Gilangharjo, pelataran hingga lapangan olahraga disulap menjadi enam panggung yang tersebar di area desa. Alih-alih hanya panggung dan rumah masyarakat yang memberikan ambience yang berbeda, Ngayogjazz tahun 2018 ini turut menggandeng Prihatmoko Moki dengan muralnya di tembok-tembok desa dan Annisa P Cinderakasih dengan instalasi bambunya. 

Pada pergelaran Ngayogjazz tahun ini, turut berpartisipasi beberapa musisi jazz tanah air dan mancanegara, semisal: Syaharani dan Queenfireworks, Tophati Bertiga, Yuri Mahatma Quartet, Idang Rasidi and His Next Generataion feat Tompi dan Margie Segers, Brayat Endah Laras, Purwanto dan Kua Etnika, Kika Sprangers, Ozma Quintet, Rodrigo Parejo, dan lain sebagainya. Sejumlah musisi jazz tersebut lantas menjadi agen dalam menghubungkan dan memberikan penonton dengan pengalaman berbeda dalam menyaksikan jazz. 

Tawaran ini lah yang lantas membuat festival Ngayogjazz ditunggu oleh para musisi dan penonton Indonesia—terlebih para penonton baru. Namun untuk mereka yang rajin hadir, rasanya Ngayogjazz semakin terasa biasa-biasa saja. Secara lebih lanjut, sebagai sebuah festival tahunan yang diacu oleh festival jazz lainnya, rasanya Ngayogjazz minim gagasan dan kejutan baru di tahun kedua belas penyelenggaraan. Padahal di belakang pergelaran tersebut, terpampang nama-nama beken pelaku kreatif di Yogyakarta. Mungkin, serupa dengan tidak turunnya hujan di perhelatan Ngayogjazz tahun ini, mereka agaknya tengah mengalami musim ‘paceklik’. 

Pisau Bermata Dua 
Sebuah keniscayaan jika Ngayogjazz ditunggu-tunggu oleh penonton. Pasalnya mereka telah membuktikan dirinya sebagai festival jazz dengan konsistensi dan gagasan yang kuat. Idenya begitu mewah dalam semesta musik Jazz yakni penyelenggaraan di ruang yang tidak pernah terpikirkan oleh kalangan lainnya, desa. 

Ngayogjazz: Teraseni.Com
Panggung Ngayogjazz dari sisi kanan, telihat penonton begitu sesak
Foto: Agnes Putri Maylani Pamungkas
Alih-alih hanya berserah pada ‘keeksotikan’ desa sebagai ruang festival, Ngayogjazz mengajak serta masyarakat setempat untuk berpartisipasi dalam hal penyelenggaraan. Hal ini tentu berkesan positif bagi mereka yang melihatnya dari luar. Terlebih penonton dapat melihat peran aktif masyarakat dalam beberapa hal, seperti: parkir, pusat jajanan, penunjuk arah, dan lain sebagainya. Namun apakah masyarakat setempat—juga dapat dirujuk pada lokasi-lokasi sebelumnya—diberikan peran lebih dalam penyelenggaraannya? 

Terlebih dalam buku program tertulis“Festival jazz yang berkolaborasi dengan pesta rakyat." Dalam hal ini, terma kolaborasi seyogianya tidak berat sebelah. Di mana masyarakat setempat tidak mempunyai porsi dan posisi yang ‘tinggi’ dalam penyelenggaraan ataupun kepanitiaan. Singkat kata, menjadikan masyarakat setempat sebagai objek semata perlu dihindari. 

Pasalnya, jika alasan tidak seimbangnya peran dan porsi penyelenggaraan adalah modal intelektual yang berbeda, bukankah kerja partisipasi semacam ini seyogianya diarahkan pada edukasi untuk masyarakat. Alhasil masyarakat dapat memetik pembelajaran dan dapat mengembangkannya sesuai orientasi mereka masing-masing. Secara lebih lanjut, sebuah festival mempunyai nilai lebih untuk keberlangsungan masyarakat, tidak hanya sebagai ‘peminjaman’ ruang semata. 

Tidak hanya itu, turut tersemat kalimat “mengajak kearifan lokal dan menggunakan jazz sebagai penghubungnya.” Jika langsung dirujuk pada desa Gilangharjo, seberapa jauh Ngayogjazz menjadi penghubung nilai kearifan lokal—baik lokasi ataupun narasi—untuk masyarakat? Pasalnya kesadaran narasi atas kearifan lokal yang dimaksud justru tidak terlalu tampak. Paling banter adalah mengetahui lokasi petilasan, tanpa adanya keingintahuan dan partisipasi lebih, semisal: masuk ke petilasan, atau kearifan apa yang terkandung di dalamnya. 

Kendati demikian, Ngayogjazz tahun ini tetap perlu diberikan pujian atas upaya mengakomodasi masyarakat sebagai penampil festival secara lebih, baik dengan karnaval keliling desa hingga panggung khusus untuk warga. Dalam hal ini, Ngayogjazz telah berani menampilkan masyarakat sebagai bagian dari pergelaran tahunan tersebut. Namun kiranya menyematkan pertunjukan masyarakat setempat dalam panggung yang bercampur dengan musisi jazz agaknya perlu dicoba, guna menghindari pemisahan masyarakat dari panggung ‘utama.’ 
Ngayogjazz: Terseni.com
Panggung Lurah, pangung lain, khusus untuk warga dalam rangkaian Ngayogjazz
Foto: Foto: Agnes Putri Maylani Pamungkas
Pasalnya dapat dipahami bahwa enam panggung yang digelar pada waktu yang bersamaan telah memberikan keleluasaan dan kebebasan untuk memilih. Namun menampilkan kesenian masyarakat di panggung tersendiri telah meminimalisir mobilitas penonton ke panggung tersebut. Oleh karena itu, jikalau kesenian masyarakat bercampur dengan panggung pertunjukan jazz lainnya, kiranya kesempatan mereka mendapat perhatian akan lebih besar. 

Menunggu Tawaran Baru
Hujan mempunyai makna tersendiri untuk Ngayogjazz. Beberapa pergelaran Ngayogjazz sebelumnya kerap dirundung hujan. Tanah, becek, jas hujan, payung, dan alunan jazz seakan menyatu dengan alam. Namun tahun ini hujan seakan enggan turun di tanah di mana pergelaran Ngayogjazz dihelat, pasalnya gagasan dan terobosan baru tak kunjung tiba. 

Penyakit dari kreativitas adalah perasaan mapan yang kerap menenggelamkan ide-ide baru. Hal ini tentu tidak menjadi masalah jika sebuah festival menjadi rutinitas belaka, tetapi hal ini berlaku sebaliknya jika festival diperuntukkan untuk menciptakan pengalaman dan peristiwa. Dalam hal ini, Ngayogjazz agaknya tengah mengalami musim ‘paceklik’, hingga hanya isu jazz di pedesaan terus digaungkan, tanpa adanya eksplorasi yang sebenarnya punya kesempatan untuk terus berkembang. 

Ngayogjazz: Teraseni.com
Penampilan kelompok seni masyarakat
Foto: Agnes Putri Maylani Pamungkas
Dalam hal ini, Ngayogjazz perlu kiranya memberikan tawaran-tawaran baru yang tentu berkenaan dengan masyarakat, semisal: residensi untuk musisi jazz yang ditujukan untuk menciptakan karya yang terinspirasi dari desa setempat; kerja kolaborasi dari masyarakat dan musisi jazz terpilih. Di mana karya akhir dari kerja kolaborasi dipentaskan di panggung Ngayogjazz; pengelolaan program keberlanjutan dari lokasi yang pernah digunakan oleh Ngayogjazz, yang kiranya bisa digunakan sebagai pra-event Ngayogjazz; atau pembuatan statue sebagai tanda pernahnya dihelat Ngayogjazz di lokasi tertentu; dan lain sebagainya. 

Itu semua tentu pilihan dari Ngayogjazz sebagai pihak penyelenggara. Namun menurut hemat saya, dua belas tahun bukan usia yang singkat sebagai sebuah festival di Indonesia. Pasalnya, namanya telah menjadi canon dan para inisiatornya telah menjadi patron untuk penyelenggara festival lainnya.Oleh karena itu, sangat disayangkan jika Ngayogjazz tidak menciptakan terobosan baru atau—bahkan—ketinggalan dari festival berbasis masyarakat ‘kemarin sore’ lainnya.[]