Senin, 07 Mei 2018

Pertunjukan Lakon Nyonya Nyonya: Akankah Ini Drama Keseharian Kita Kita?

Senin, 7 Mei 2018 | teraSeni.com~


Sebuah kisah sederhana mengenai seorang Nyonya rumah dengan seorang pedagang barang antik. Seorang yang sangat cermat dalam urusan tawar menawar. Perlahan namun pasti, dengan tipu muslihatnya, barang paling antik milik Nyonya berhasil dimilikinya. Selain menyoal berurusan dengan pedagang barang antik, hidup Nyonya dibumbui intrik dengan para kemenakan-kemenakan (perempuan) suaminya. Mulai dari status kebangsawanan, hingga pembagian harta tanah pusaka, menjadi masalah yang dilempartuduhkan kepadanya. 
Nyonya Nyonya WIsran Hadi: teraseni.com
Pertunjukan naskah Nyonya Nyonya karya Wisran Hadi oleh Teate UI Depok
Foto: Vhky Murder
Begitu, tertulis sinopsis sebuah lakon yang berjudul Nyonya Nyonya karya Wisran Hadi di buku program panitia penyelenggara. Sebuah pertunjukan teater yang dipentaskan oleh Teater Univesitas Indonesia Depok pada Rabu 25 April 2018 di Medan Nan Balinduang Fakultas Ilmu Budaya Univesitas Andalas Padang. Dengan sutradara Alfian Siagian. Pertunjukan ini merupakan rangkaian agenda Festival Nasional Wisran Hadi yang perdana. Helat ini diselenggarakan oleh Teater Langkah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas Padang. 

Panggung pertunjukan yang dinamai dengan Medan Nan Balinduang itu tampak remang. Pentas pertunjukan sejenis Arena tersebut di sekelilingnya dibalut dengan kain hitam. 3 buah lampu dipasang di batten atas penonton, menghadap panggung, sehingga menyinari wilayah panggung sebagai area bloking aktor. 2 lampu berwarna merah dan biru dipasang di belakang panggung sebagai backlight, untuk menekankan suasana tertentu ke beberapa set di atas panggung. 

Beberapa set terlihat di beberapa titik, masing-masing set dibuat tanpa batas yang jelas di antara yang satu dengan yang lain. Di kanan panggung, beberapa box yang dibungkus kain hitam disusun sama tinggi, satunya memanjang dan satunya lagi melebar. Lalu, para pemain mengidentifikasinya sebagai ruang tamu, serupa sofa dan meja tamu. 

Di sebelahnya, kira-kira bejarak 1 meter. Beberapa kotak juga disusun sebagai tempat duduk, di depannya agak meninggi dan diberi alas. Yang kemudian pemain menggambarkan sebagai meja makan, meskipun tidak ada piring, gelas, ataupun ceret tempat minum seperti layaknya sebuah meja makan. Di sebelahnya lagi, satu buah level memanjang, diatasnya diberi alas sedikit tebal. Disampingnya bediri sebuah bingkai, di depan bingkai diletakkan bangku kecil. Jika aktor duduk di bangku tersebut dan menghadap ke bingkai di depannya, maka akan terlihat serupa orang bercermin. Ya, itu seperti kamar tidur. Kamar tidur Nyonya yang nantinya diduduki oleh pedagang barang antik bersama Nyonya. Kemudian di kiri belakang panggung satu level lagi sebagai tempat pemusik juga sekaligus menjadi terminal tempat untuk para aktor menunggu giliran bagian mereka masing-masing. Tempat ini juga menjadi tempat aktor untuk nyeletuk-nyeletuk kepada pemain yang sedang berdialog.

Agaknya, pementasan tersebut dilekatkan dengan pendekatan Lenong, tak lain adalah teater rakyat Betawi. Dimana salah satu ciri khasnya adalah celetukan-celetukan bodoran, humor-humor khas Betawi oleh aktor lain dari luar area permainan sebagai bentuk improvisasi permainan, atau cairnya sebuah pementasan. 

Antara Seorang Laki-laki, Para Perempuan, Dan Uang 
Di kiri belakang pangung, dua orang dengan gitar klasik dan lima orang aktor sedang bersiap untuk pementasnnya. Selayaknya Lenong, pertunjukan malam itu dibuka dengan sebuah lagu yang dinyanyikan secara bersamaan. “ai senangnya dalam hati, kalau beristri dua”. Ya, Madu Tiga, sebuah lagu gubahan Puteh Ramlee atau yang kita kenal dengan P Ramlee. Lagu yang populer pada tahun 60an, yang menyindir dengan satire laki-laki kaya yang gemar berpoligami. Alih-alih lagu itu dinyanyikan dengan merdu diiringi petikan gitar klasik, tetapi terdengar sangat fales dan tidak masuk matnya. 
Nyonya Nyonya WIsran Hadi: teraseni.com
Tampak ekspresi aktor sedang bernyanyi bersama
Foto: Vhky Murder
Sekiranya itu tampak disengaja, seolah benar-benar sedang mengejek laki-laki beruang yang memberlakukan perempuan sebagai barang, siap dibungkus jika hitungan tulus. Tak lama setelahnya, dari kanan panggung seorang laki-laki (Tuan) dengan kostum celana berbahan kain dengan baju kemeja bunga-bunga. Ia masuk sambil bernyanyi-nyanyi kecil, seolah ia sangat senang sekali. Laki-laki itu bediri di teras rumah Nyonya. Nyonya dengan busana celana rok monyet keluar menghampirinya dan menanyakan untuk alasan apa ia bediri di teras rumahnya. 

Barangkali Tuan merasa di atas angin setelah hari sebelumnya ia bisa membeli sepetak tanah di depan rumah Nyonya. Lantas beranggapan bahwa ia akan bisa membeli lebih banyak apa yang ada di rumah Nyonya tersebut. Kontan saja, ia menyatakan ingin membeli marmar dan atap rumah tempat ia berpijak. Tatkala Nyonya ingin mengusirnya, ia menawar dengan harga tinggi, lalu suasana hati Nyonya tampak berubah dari ekspresinya. Seolah dengan uang suasana bisa berubah dengan cepat. Dengan mudahnya Tuan berhasil membeli teras rumah dan atap di depan rumah Nyonya. Kemudian Tuan pergi meningglkan rumah Nyonya dengan girang. Begitu juga Nyonya, tak kalah girang sambil menghitung uang. 

Seorang perempuan muda memasuki panggung. Perempuan itu tak lain adalah keponakan Datuk, suami Nyonya. Berdalih ingin mengabarkan keadaan Datuk yang tidak lagi bisa bicara. Padahal Nyonya sudah mengira bahwa kedatangan ponakan suaminya itu berarti sebuah persoalan. Maka, Nyonya buru-buru memasukkan uang tersebut ke dalam kutangnya. Namun, merasa berhak atas harta di rumah Datuknya perempuan tersebut berhasil mendapatkan uang dari Nyonya. 

Di samping kanan panggung, pemusik dan beberapa orang aktor merespon apa yang dimainkan di atas panggung. Mereka merespon dengan celetukan-celetukan khas Lenong di sela-sela obrolan Tuan pedagang dan Nyonya. Celetukan tersebut mencoba didekatkan dengan apa yang ada di Sumatera Barat, misalnya Semen Padang, masakan Padang. 

Nyonya Nyonya Wisran Hadi: teraseni.com
Aktor mencoba merespon dialog dengan celetukan-celetukan
Foto: Vhky Murder
Babak kedua kembali dimulai dengan nyanyian yang sama. Hanya saja tidak dinyanyikan dengan utuh, hanya satu bait. Menariknya, sebagian liriknya diganti dengan apa yang menjadi persoalan di bagian pertama. Semisal, “uangnya dalam hati, kalau beristri dua”. Tampak Tuan telah berada di kursi tamu milik Nyonya. Ia duduk sambil mengelus-elus kursi tersebut. Seakan ia begitu yakin akan bisa memiliki kursi tersebut. Tentu saja Nyonya kaget, namun dengan dihargainya kursi tersebut dengan uang yang banyak, maka kekagetan Nyonya berubah drastis dengan kerlingan mata tanda ingin memiliki uang tersebut. Semudah mengitung uang, begitu mudah pula kursi itu menjadi milik Tuan pedagang. 

Nyaris sama dengan babak pertama, ketika Nyonya begitu senang mendapatkan uang, ketika itu pula keponakan suaminya datang. Kedatangan keponakan suaminya itu tentunya persoalan. Tidak hanya itu, persoalan-persoalan pada bagian ini semakin mengemuka setelah kehadiran seorang perempuan memakai daster yang mengaku sebagai istri Tuan pedagang yang mencari suaminya. Bisa-bisa nama baik Nyonya bisa tercoreng jika ternyata Tuan pedagang berada di dalam rumahnya. 

Babak ke tiga, pola petunjukan sudah bisa diterka. Dimulai dengan nyanyian, kemudian Tuan pedagang duduk di meja makan milik Nyonya. Lalu Nyonya terkaget, dan Tuan mengeluarkan uang, kemudian Tuan pergi meninggalkan setumpuk uang. Tak lama setelahnya dua orang keponakan Datuk masuk mebawa kabar dari dokter bahwa lidah Datuk akan dipotong, dan Datuk tidak akan bisa bicara lagi. Agaknya ini bagian yang cukup seru, tampak aktor sedikit bermain-main. Terdengar dialog-dialog pingpong masing-masing aktor, sesekali mengajak penonton ikut merespon apa yang mereka mainkan. Improvisasi atas kesalahan-kesalahan dialog menjadi humor tersendiri bagi penonton. 

Nyonya Nyonya Wisran Hadi:teraseni.com
Nyonya menerima seikat uang dari tuan pedagang
Foto: Vhky Murder
Meskipun dengan pola yang hampir sama, babak ke empat menjadi agak riuh. Penonton mulai terpancing untuk ikut berceletuk merespon lelaku aktor. Tawa, suit-suit penonton mulai pecah ketika Nyonya dan Tuan pedagang mulai semakin intim. Terutama pada bagian akhir, setelah merasa berhasil memilik hampir seisi rumah Nyonya, Tuan pedagang pun masuk dan hendak memiliki ruang paling privasi Nyonya. Yaitu kamar tidur. Tampak ekspresi-ekspresi centil Nyonya sambil merapikan rambutnya di depan cermin. Tuan pedagang yang sedang duduk di atas ranjang semakin bergairah merayu untuk menawar barang yang paling antik Nyonya. Pertunjukan diakhiri dengan dialog yang konotatif, antara tawaran harga yang semakin naik dengan pegangan Tuan pedagang yang juga semakin naik. Dari tumit, betis, paha, lalu tawa penonton pecah.
Nyonya Nyonya Wisran hadi: teraseni.com
Tuan sedang menghitung uang diatas ranjang Nyonya
Foto: Vhky Murder

Pertunjukan Lakon Nyonya Nyonya: Akankah ini Drama Keseharian Kita Kita? 
Seusai pertunjukan, ketika diskusi digelar, Alfian Siagian selaku sutradara mengakui bahwa pertunjukan ini tidak dibekali dengan pemahaman mendalam dari aktor-aktornya. Para aktor yang terlibat dalam proses tesebut merupakan mahasiswa-mahasiswa angkatan baru yang dengan senang hati telah memilih teater sebagai ruang pengembangan diri mereka. Menurut Alfian, soal pemahaman itu barangkali soal nomor sekian, setelah yang pertama adalah kemauan anak-anak muda untuk mau terlibat bermain teater. Pemahaman yang dimaksud barangkali menyangkut konteks sosial yang melingkupi naskah yang disutradarainya. Naskah Nyonya Nyonya yang ditulis oleh Wisran Hadi, seorang seniman sekaligus budayawan Sumatera Barat. Sebagaimana dalam naskah-naskah, cerpen, novel serta esai, kritik yang ditulisnya, yang melulu mengkritisi dan membenturkan dengan apa yang sudah diyakini sebagai kebenaran oleh masyarakat Minangkabau. Baik itu menyoal mitos-mitos, hikayat-hikayat, legenda, maupun konsep hidup yang tertuang dalam adat, dan budya Minangkabau. 

Kejujuran itupun diiyakan oleh para aktor, bahwa mereka tidak punya bacaan atau referensi yang banyak soal naskah, ataupun menyangkut tema yang diangkat ke dalam naskah tersebut. Namun, terlepas dari itu semua, bagaimanapun naskah itu dipentaskan malam itu. Bagaimanapun aktor bemain di panggung, bagaimanapun musik dan lagu dinyanyikan dengan fales, hal tersebut tampak tak mengurangi antusias penonton memadati panggung arena Medan Nan Balinduang FIB Univesitas Andalas Padang malam itu. 

Penonton yang hadir ikut larut dalam canda tawa dari adegan per adegan yang dimainkan. Mereka serupa sangat akrab dengan joke-joke yang dilontarkan aktor, serupa ketika aktor mangatakan “Datuk sudah tidak bisa bicara lagi”, “lidah Datuk akan dipotong”. Tentu pada konteks tertentu kalimat serupa itu menjadi sesuatu yang lain. Sebagaimana yang kita ketahui pada kebudayaan tertentu, katakanlah di Minangkabau, atau Melayu, Datuk merupakan gelar kehormatan yang dilekatkan kepada orang yang dituakan, orang-orang yang tinggi harkat dan martabatnya, barangkali serupa penghulu adat. Orang-orang serupa ini adalah orang-orang yang lidahnya sangat “masin” di tengah-tengah masyarakat. Orang-orang yang sebetulnya merepresentasikan suatu masyarakat. Orang-orang tak lain adalah corong suatu masyarakat. Pada forum-forum tertentu orang-orang inilah yang menjadi wakil suatu masyarakat. 

Akan tetapi, dalam pementasan ini orang serupa itu seolah tidak mempunyai daya upaya. Ia digambarkan serupa judul lagu, terkecoh pada yang terang. Orang yang besar bertuah, orang yang keras buku lidah, juga sedang terlibat memperebutkan talang yang pecah. Tidak hanya menyoroti sosok yang terhormat, tokoh perempuan juga menjadi sosok yang disigi dalam pementasan ini. Bagaimana perempuan digambarkan sebagai sosok yang materialistis. Perempuan sekiranya tak butuh akal sehat ketika sudah menyangkut soal uang, soal tawar-menawar. Jika harga sudah pas maka segera akan ditancapkan gas, lalu setelahnya adalah tawa puas. 

Ya, agaknya tawa sebagai sebuah tanda kepuasan pada pertunjukan malam itu, setidaknya bagi saya. Kelompok teater Universitas Indonesia Depok serupa sedang mempertunjukan kebiasaan-kebiasaan serta kepuasan-kepuasan pada kekeliruan yang terlanjur dianggap lumrah bagi masyarakat kita. Saya kira penonton dengan puasnya pula serupa sedang menertawakan diri mereka sendiri, menertawakan ibu-ibu mereka sendiri, bapak-bapak mereka sendiri, kakak, paman, bibi, etek, om, tante, mamak, serta Datuk mereka sendiri.

Senin, 16 April 2018

Ngetutke Rasa; Rasa Adalah Yang Utama: Hadiah Manis 60th PLTBK

Senin, 16 April 2018 | teraSeni.com~

D ari satu titik, rangkaian cahaya mengarah ke kedelapan penari yang tengah berderap. Menatap tajam ke penonton dan arah datangnya cahaya, sesekali beberapa penari laki-laki berteriak lantang, menambah kesan garang. Bias cahaya tersebut menghasilkan bayangan di belakang para penari, seolah-olah mereka menjadi semakin banyak dan berenergi. Merespon permainan Purwanto Ipung dkk, kedelapan penari memperlihatkan wirama dan wiraga yang berkelindan satu sama lain. Alih-alih hanya menari, karya bertajuk Ngetutke Rasa ini menampilkan rasa kejawaan dengan tawaran konsep pertunjukan yang lebih segar dan kekinian. 

ngetutke rasa: teraseni.com
Tampak para penari menatap tajam kearah penonton
Foto: Guntur Moko
Dari tari kembali ke tari, mungkin frase yang tepat dalam merayakan hari jadi Pusat Latihan Tari Bagong Kussudiardja (PLTBK) yang ke-60th. Perayaan Padepokan Seni Bagong Kussudiardja (PSBK) ini menggelar sebuah pertunjukan tari bertajuk Ngetutke Rasa dalam bingkai acara bulanan PSBK, Jagongan Wagen. Karya yang digelar pada Sabtu, 24 Maret 2018 pada pukul 19.00 di Padepokan Seni Bagong Kussudiardja ini menampilkan koreografer dan penari muda berbakat, yakni: Pulung Jati Rangga Murti, Hermawan Sinung Nugroho, Anang Wahyu, Putra Jalu Pamungkas, Arjuni Prasetyorini, Nurul Dwi Utami, Indiartari Kussnowari, dan Paranditya Wintarni. Tidak hanya itu, pertunjukan tari ini turut menggandeng pemusik handal, seperti: Purwanto Ipung, Boedhi Pramono, Danang Rajiv Setyadi, Desti Pertiwi, Gaung Kyan Rennatya S., Fajar Sri Sabdono, dan Shandro Wisnu Aji Seputra. 

Sebelum pertunjukan, Djaduk Ferrianto turut memberikan ‘kuliah umum’ tentang sang ayah, Bagong Kussudiardja. Alih-alih hanya membicarakan kedirian, Djaduk turut mengulas teknik, karya, serta PLTBK. Dibahas dengan santai, Djaduk berhasil menyarikan pelbagai karya dari alm. Bagong Kussudiardja, yakni Ngetutke Rasa. Sebuah padanan terma yang ditemukan penggagas dan koreografer dari kumpulan arsip maestro tari, alm. Bagong Kussudiardja. Ngetutke Rasa dirasa tepat oleh Djaduk, penggagas, dan koreografer dalam merepresentasikan karya-karya ciptaan alm. Bagong Kussudiardja. Sari dari karyanya ini lantas dianggap dapat menjadi sebuah metode atau tawaran kesadaran dalam menciptakan karya tari, khususnya bagi generasi muda yang kerap tidak mengindahkan rasa dalam menciptakan karya tari. Alhasil, Ngetutke Rasa menjadi sebuah tawaran penting yang ditawarkan Djaduk Ferrianto, PSBK, dkk dalam menyikapi karya tari kini. 

ngetutke rasa: teraseni.com
Salah satu adegan dalam pertunjukan Ngetutke Rasa
Foto: Guntur Moko
Mencari Rasa Meraba Pertunjukan
Pertunjukan diawali tidak di arena pertunjukan, melainkan ruangan di sisi kanan penonton. Sebuah ruangan dengan pintu dorong dibuka dengan cepat, di dalamnya terdapat sejumlah delapan penari tengah melakukan pemanasan. Samar-samar terdengar gesekan alat musik cello membentuk tempo. Sementara itu beberapa dari mereka melatih kuda-kuda, beberapa dari mereka melatih etude tari Jawa, beberapa dari mereka berjalan sambil merenggangkan kaki mereka. Lalu mereka membentuk satu baris dengan tangan posisi tangan terlentang hingga menengadah. 

Alih-alih gerakan berbeda satu sama lain, gerakan kedelapan penari justru serupa satu sama lain. Setelahnya lampu padam, mereka tercerai berhamburan. Beberapa dari mereka berjalan perlahan, beberapa dari mereka mengendap-endap memasuki panggung. Bersamaan dengan itu, suara gamelan mulai terdengar lantang. Pada bagian awal ini, pertunjukan terasa menarik di mana prosesi latihan mereka menjadi bagian dari pertunjukan. Kendati hal ini bukan hal baru dalam pertunjukan kontemporer, namun memasukkan bagian latihan di ruang yang berbeda pada pertunjukan telah mencuri perhatian. Tidak hanya itu, pada bagian ini para penari telah menampilkan basis gerak tubuh tari Jawa dengan pelbagai eksplorasinya. 

ngetutke rasa: teraseni.com
Dalam kegelapan penari memasuki panggung
Foto: Guntur Moko
Gending Jawa mulai terdengar keras, mereka yang tengah mengendap-endap mulai memasuki panggung. Keempat penari laki-laki mulai menempel di dinding belakang panggung sebelah kiri dari penonton, sedangkan keempat penari perempuan mulai menempel di sisi sebaliknya. Menyisakan satu ruang kosong di panggung belakang bagian tengah dari penonton. Pada bagian ini, mereka mulai merayap dan bersandar di sisi panggung masing-masing, hingga memasuki ruang tengah secara bergantian. Pada pertunjukan ini eksplorasi gerak per gerak dari etude tari Jawa, tari modern, ataupun perpaduannya menjadi primadona. 

Bagian lain yang tidak kalah menarik adalah ketika upaya kreatif penggunaan lampu sorot laiknya penggunaan multimedia dalam pertunjukan-pertunjukan tari belakangan ini. Kedelapan penari mulai berdiri berbaris membentuk formasi, mereka mulai berderap dengan cahaya persegi menyinari mereka. Dampak dari permainan cahaya ini membuat bayangan dari para penari seakan semakin banyak. Dengan musik yang berderap dan energik, para penari seakan tampil semakin garang laiknya akan maju berperang. Sesekali mereka berteriak dan mengangkat tangan menambah kesan pertunjukan semakin menarik. Permainan bayangan ini kiranya menjadi terobosan penggunaan media yang sederhana namun berbuah maksimal. 

Masih dengan penggunaan cahaya yang membentuk persegi di sisi belakang panggung, secara bergantian para penari laki-laki masuk perlahan ke dalamnya. Mulai dari mempertunjukkan organ tubuh, seperti kaki, tangan, badan, dan seterusnya, hingga menarikan gerak tari Jawa dengan karakter alusan ataupun gagahan. Setelahnya keempat penari mulai tersebar membentuk satu saf atau deret. Lalu mereka menggelinding (baca: roll depan) secara bersamaan ke arah depan panggung. Sementara fokus lampu berganti, keempat penari perempuan telah duduk terlebih dulu, sehingga keempat penari laki-laki menempati posisi di antara keempat penari perempuan lainnya. Suasana pertunjukan, baik lampu ataupun musik berganti dengan cepat, membuat impresi yang mengalun dan ‘sakral’. Selanjutnya mereka bergerak dengan karakter alusan dalam tari Jawa secara bersamaan. Sembari hal tersebut berlangsung, dari kursi penonton banyak terdengar nada terpukau. Dalam hal ini, tidak dapat dipungkiri bahwa tersebar gerak-momen yang mengandung spectacle di dalam karya ini. 

Namun tidak dapat dipungkiri bahwa apiknya pertunjukan sempat terganggu dengan satu kesilapan yang justru tidak berasal dari penari. Adalah kesalahan teknis yang cukup mengganggu jalannya karya tari. Di mana ketika pada bagian menuju akhir pertunjukan—atau bisa saya terjemahkan klimaks walaupun pada tarian Jawa semisal Bedhaya tidak mengenal hal tersebut—, lampu secara tiba-tiba padam. Sementara musik masih berbunyi, penonton bingung dan mulai bertepuk tangan mengira pertunjukan usai. Sementara itu, di sisi depan panggung, seorang laki-laki dengan gestur kesal berdiri dan menunjuk-nunjuk kawanan operator tata cahaya. Hal ini tentu menjadi catatan buruk bagi kru tata cahaya PSBK yang sebenarnya telah melakukan pencahayaan dengan baik sejak awal pertunjukan. Untunglah lampu kembali menyala secara teram temaram, namun yang cukup disayangkan mood dari beberapa penari dan penonton telah terganggu. Kendati konsentrasi sudah terhambur, profesionalitas justru ditunjukkan oleh para penari dengan baik. 

Ketika lampu kembali menyala, para penari masih berjalan di tempat dengan gerak yang serentak. Lalu mereka kembali terpecah, Mawan dan Jalu bergerak bebas di bagian belakang kiri dari penonton; Paranditya, Indiartari, dan Nurul bergerak perlahan di bagian tengah panggung; sementara Pulung, Arjuni, dan Anang berdiri di sisi depan kanan penonton dengan gerakan eksploratif, di mana Pulung dan Anang bergerak melompat hingga menggeliat khas Jogja Body Movement, sementara Arjuni menunduk dan berderap. Tidak lama berselang, lampu perlahan meredup, tanda pertunjukan usai. 

Merasakan Kejawaan dari Ngetutke Rasa 
Rasa menjadi tawaran menarik dalam pertunjukan tari Ngetutke Rasa—sebagaimana yang disarikan penggagas dan penari dari pelbagai karya tari alm. Bagong Kussudiardja. Namun apakah rasa telah muncul pada pertunjukan tari yang digelar dalam rangka 60th PLTBK – PSBK tersebut? Bertolak dari pertunjukan tersebut ada beberapa hal penting yang terbetik, yakni: basis gerak tubuh para penari tidak ditanggalkan begitu saja, melainkan dieksplorasi secara lebih. Semisal Pulung, Anang, dan Jalu dengan gerak tubuh yang eksploratif, terlebih mereka aktif dengan Jogja Body Movement-nya; atau Mawan dengan tari Jawa tradisi gaya Yogyakarta yang kuat; dan lain sebagainya, dengan cakap ditampilkan dan ditempatkan pada pertunjukan ini. Dari kedelapan penari, persoalan teknik gerak—baik tradisi ataupun eksplorasi—mereka tidak perlu diragukan. Dalam hal ini, rasa memang adalah hal yang utama, namun teknik harus tetap terjaga. Persis yang terejawantahkan dari para penari di dalam karya ini. 

ngetutke rasa: teraseni.com
Tampak seorang penari sedang melompat
Foto: Guntur Moko
Selain itu, ihwal pola lantai, di mana para penari menyiasati dengan pola lantai yang rekat satu sama lain. Kendati mereka terpecah pada kelompok-kelompok kecil, namun mereka tetap menggunakan pola lantai jarak dekat antar satu penari dengan penari lain. Hal ini pun diejawantahkan pada beberapa alur dan gerak dari para penari. Di mana para penari membuat gerak berpola dengan tangan yang seragam, seperti: ketika para penari membentuk lingkaran dengan Anang di tengah-tengah mereka; atau tatkala ketujuh penari membungkuk dan berjalan kecil dengan Pulung di tengahnya, yang berbusung dada dengan menatap tajam; dan sebagainya. Hal ini menandakan adanya kesadaran pola lantai pada pelbagai gerak mereka. 

Tidak hanya itu, pola gerak dan pola lantai tersebut berkorelasi dengan kesadaran irama dalam tubuh penari. Kesadaran irama dapat dirujuk sebagai kesadaran gerak tubuh merespon bunyi, gerak menjadi tanda dalam bunyi, dan perkelindanan keduanya. Hal ini mengingatkan saya pada satu ‘formula’ untuk penari Jawa yang sublim, yakni Wiraga, Wirasa, dan Wirama. Bicara wiraga dan wirama, karya ini telah menunjukkan keduanya, sedangkan ihwal wirama, tidak muluk-muluk jika karya ini telah menuju ke arah tersebut. 

Bertolak dari catatan baik di atas, adapun catatan yang perlu diindahkan dari karya ini, yakni masih terasa terpotongnya pada beberapa bagian di dalam karya ini. Kendati hanya berporsi kecil, namun alangkah baiknya jika perpaduan ide antar kepala para koreografer atau penari dapat dilakukan dengan mangkus dan sangkil. Sebagaimana karya ini diciptakan dari delapan kepala penari—bahkan penggagas—yang terlibat, maka keseluruhan rangkaian gerak perlu dirajut dengan cakap. Kiranya, rajutan tersebut dapat didasarkan pada kepekaan rasa. Kendati demikian, tidak dipungkiri bahwa jahitan rangkaian gerak dari karya ini sudah terasa apik. Namun kiranya rangkaian antar gerak dapat dirajut dengan lebih cakap sehingga sawiji, greget, sengguh, ora mingguh dapat tercapai pada karya-karya tari baru.[]

Selasa, 03 April 2018

The Dance of Silence a.k.a Tarian Keheningan: Sebuah Catatan Proses

Selasa, 03 April 2018 | teraSeni.com~


Paul Valery, seorang pelopor estetika modern – tulis ST.Sunardi (2012) dalam artikel “Re-edukasi Tubuh Lewat Tari” – pernah mengatakan; “Manusia adalah salah-satu binatang yang melihat dirinya hidup. Pengalaman melihat dirinya paling jelas ia temukan dalam gerak tubuh sekuensial yang terjadi dalam tari. Begitulah ia melihat tari sebagai seni paling menggairahkan. Dalam seni tari, orang bisa belajar banyak hal tentang fenomena hidup itu sendiri”.

Paul sendiri – masih kata ST.Sunardi, bukanlah seorang penari. Ia lebih dekat dengan dunia sastra, namun ia tidak bisa menyembunyikan rasa kagumnya pada tari. Demikian juga saya, yang tidak bisa menari, tahu sastra hanya sedikit, dan tak pandai menahan kekaguman pada dunia tari. Berbekal pengetahuan yang sedikit itulah saya kemudian tertarik melakukan intertekstualitas. Apalagi ketika mengalami sebuah momen yang jarang saya alami: menjadi penonton tunggal dalam pagelaran yang tidak biasa. Sebuah pengalaman – atau kesempatan, bila boleh dikata demikian, yang tentu saja tidak saya lewatkan begitu saja. Paling tidak dengan mencatatnya, saya bisa mengamankan pengalaman itu dari erosi waktu: ingatan.

Isi dari sebagian catatan itu – yang kemudian tampak dalam tulisan ini, sebenarnya adalah sebuah upaya untuk menangkap momen pertunjukan di balik pertunjukan. Suatu proses, di mana perhatian kritikus seni pertunjukan biasanya tertuju pada titik kulminasi sebuah pagelaran dalam tata artistik panggung yang sempurna belaka. Alih-alih menandai dan menakar titik kulminasi itu, saya lebih tertarik untuk menulis momen proses yang membutuhkan konsistensi dan disiplin luar biasa dari para pelaku kesenian itu, tanpa sama sekali mengurangi estetika pertunjukan sebagaimana ketika mereka tengah mementaskannya. 
bedhaya:teraseni.com
penari mengikuti bunyi musik dari dalam diri
Foto: Rio Belvage
Bermula dari suatu hari ketika saya dihubungi oleh kawan lama untuk main ke tempatnya. “Si Thenk” – demikian ia dikenal. Seorang seniman yang sejak tahun 98 hingga kini telah puluhan kali menjadi artis dan sutradara seni pertunjukan. Ia tinggal di Yogyakarta, dan beberapa tahun belakangan sempat menghilang dari hiruk-pikuk seni pertunjukan. Kebetulan dulu saya pernah mengulas pagelaran teater yang disutradarainya, yang kemudian diterbitkan dalam jurnal Kajian Seni di Program Pengkajian Seni Pertunjukan UGM. Dan pada malam kali itu, setelah lama tak berjumpa, tiba-tiba saya sudah menjadi penonton tunggal dari ide liarnya yang lain. 

Usut punya usut, rupanya ia sedang mengagendakan sesuatu. Sebuah seni pertunjukan yang sebenarnya beberapa kali telah dipentaskan. Nama pertunjukan itu adalah Tari “Bedhaya Banyu neng Segara” – yang dalam terjemahan bahasa Indonesia kurang lebih dapat diartikan sebagai “Tarian Air di Lautan”. Sebuah tarian yang mulanya terbilang sakral, ia didesakralisasi dengan membuat Bedhaya versi sendiri, dan menampilkannya di ruang-ruang publik, seperti di trotoar di pinggir jalan, di warung kopi, bahkan institusi pendidikan sekolah dasar pun juga tak luput dari kunjungan pementasannya. 

Pesan simboliknya bagi saya jelas sekali, dalam konteks sosiologi ruang bernama Yogyakarta, pada saat dimana-mana kesenian tradisi telah umum dikapitalisasi dan dikemas menjadi momen-momen pertunjukan eksklusif, maka dengan ide liar Si Thenk dan kepiawaian penarinya, estetika seni tradisi itu kemudian dapat diakses dan menyambangi banyak orang. Tentu ini konsep yang menarik, yang berbeda dengan pola umum yang berlaku dalam dunia seni pertunjukan, di mana biasanya penontonlah yang akan mengunjungi pertunjukan dan bukan sebaliknya. Oleh sebab itu jika diterjemahkan, tidak berlebihan kiranya menyebut kerja kesenian semacam ini sebagai usaha mengembalikan identitas Jogja sebagai “Kota Budaya” pada makna definitifnya. 
bedhaya:teraseni.com
terasa sekali suasana hening dari ekspresi penari
Foto: Rio Belvage
Walaupun tidak tahu banyak mengenai dunia tari selain unsur semiologisnya, namun malam itu saya merasa beruntung bisa menikmati pertunjukan itu. Bagi saya ini adalah sebuah pagelaran yang memukau. Terlebih ketika mereka sedang unjuk kebolehan menari, keheningan hadir dalam arti yang literal, yakni suatu pagelaran dengan iringan suara jangkrik dan serangga lain yang saling mengisi, di mana momen itu justru menyuguhkan daya tarik tersendiri bagi lelaki yang secara tak terduga tengah berada di sarang penari. Sesekali nuansa mistik hinggap lalu hilang, menyisakan jejaknya pada gerak tubuh penari yang gemulai membius menghanyutkan, di mana mau tak mau membawa saya sepersekian detik memasuki alam dongeng Ahmad Tohari tentang Srinthil dalam “Ronggeng Dukuh Paruk”: “Di halaman rumah.., tidak seperti biasa, pentas kali ini tanpa nyanyi atau tarian erotik.., semua orang tahu permainan kali ini bukan pentas.., biasa (Tohari, 2011:45)”. 

Akan tetapi tentu saja pagelaran pada malam itu berbeda dengan gaya Ronggeng saat menari. Sebab dalam catatan sejarah geopolitik kesenian Jawa abad 19 dan 20, Ronggeng, Tayub, lebih hidup dan dihidupi oleh lingkungan masyarakat yang bermukim di luar Vorstenlanden, di luar jangkauan kekuasaan negaragung atau adat-istiadat keraton, yang selanjutnya hal tersebut sedikit banyak memberi pengaruh pada gaya kinetik tubuh, membuat tarian menjadi lebih “merdeka”, cenderung blak-blakan, erotik, dan tanpa sungkan-sungkan misalnya, nyawer selembar uang dengan menyelipkan ke sela gunungan dada si penari. Sementara di lingkungan Vorstenlanden, pemandangan yang dijumpai cenderung sebaliknya. Tarian mengikuti pakem yang halus. 

Ritme gerakannya lamban, mengikuti alunan gamelan yang mendayu – hingga hal itu menarik minat sastrawan yang lahir di wilayah Jawa bagian utara, di luar Vorstenlanden, Pramoedya Ananta Toer, untuk ikut nimbrung dengan gaya sarkastiknya. Di dalam karyanya yang berjudul “Bumi Manusia”, Pram melihat kedudukan gamelan di lingkungan elit feodal Jawa berelasi dengan watak sesungguhnya dari orang Jawa: “Gamelan itu sendiri lebih banyak menyanyikan kerinduan suatu bangsa akan datangnya seorang Messias – merindukan, tidak mencari dan tidak melahirkan. Gamelan itu sendiri menerjemahkan kehidupan kejiwaan Jawa yang ogah mencari, hanya berputar-putar, mengulang, seperti doa dan mantra, membenamkan, mematikan pikiran..” – bersifat eksklusif, dan kerap dianggap sebagai citra dari seni “Adiluhung”. 

Kemapanan citra Adiluhung itulah yang digebrak oleh pagelaran di mana saya bak mendapat karcis VVIP gratis sebagai penonton tunggal pada malam itu. Tanpa kehadiran pengrawit dan irama gamelan yang disindir Pram, keheningan menyublim menjadi alunan musik tersendiri yang memenuhi ruang tempat penari berunjuk kebolehan. Dengan lampu sanggar yang padam sebelah karena kabelnya rusak sehingga membuat sebagian ruang terang dan yang lain temaram, sama sekali tidak mengurangi penghayatan penari dalam menggerakkan tubuhnya. Di bawah komando kolektif yang tak kasatmata bernama “rasa”, tatapan mata dan air muka mereka berada pada satu titik fokus yang seirama dengan gerakan tubuhnya. Seolah mereka sama sekali tidak terganggu dengan kehadiran saya. Sembari sesekali koreografer berjalan di sela para penari membenarkan gestur tubuh, tak henti-hentinya pagelaran beberapa menit itu menebar aura magnetik (yang bila saja si penari mau usil sedikit dengan melempar tatapan pada lawan jenis dalam tarian semacam itu, tak ada jaminan yang dipandang tak bakal kelabakan panas-dingin susah tidur tiga harmal). 

Itulah yang saya jumpai saat memenuhi undangan kawan lama, main ke Padepokan SangArt. Sebuah latihan yang rupanya rutin dilakukan dan lokasinya tak jauh dari Kali Gajahwong – di mana masih dalam geografi ruang yang sama, yakni di tepi sungai itu, enam belas tahun silam ST.Sunardi juga pernah menulis proses kreatif pelukis Affandi berjudul “Suara Sang Kala di Tepi Gajahwong”. Saya membayangkan, mungkin inilah transformasi “Suara Sang Kala di Tepi Gajahwong” itu. Dulu lukisan, kini tarian.

Senin, 26 Maret 2018

Kandungan Narasi Perut Ibu dalam Mother Earth

Senin, 26 Maret 2018 | teraSeni.com~


Pada cahaya yang temaram, empat orang perempuan dengan gumpalan besar di perutnya menari dengan seragam. Sedangkan di bagian belakang panggung terbentang layar dengan sorotan video yang beraneka ragam. Setelahnya tersorot ke layar, wajah bayi ketika di dalam perut sang ibu laiknya gambar dari ultrasonografi (baca: USG). Perlahan denting demi denting piano dimainkan dengan lirih, sementara seorang perempuan menggeliat dan bergerak acak di tengah bentangan layar terpampang.

Alih-alih terpisah satu sama lain, setiap gerakan dari perempuan dengan gumpalan di perutnya tersebut direspon persis oleh video mapping. Dari pertautan disiplin seni tersebut, karya yang menyoal relasi antara ibu dan anak ini telah memanjakan mata dan menghibur penonton kebanyakan.
klirdotnet: teraseni.com
Tampak empat penari dengan gumpalan besar di perutnya
Foto: kelirdotnet
Secuil peristiwa di atas merupakan potongan pertunjukan dari karya kolaborasi bertajuk Mother Earth yang diselenggarakan pada 13 Maret 2018 di Pusat Kebudayaan Koesnadi Hardjasumantri (PKKH UGM) Yogyakarta. Pertunjukan yang diwujudkan sebagai jawaban dari rasa kegundahan Mila Rosinta (koreografer) atas anggapan sulitnya perempuan berkarya pasca melahirkan. Secara lebih lanjut, Mila bemaksud menautkan rasa ego dari sang ibu terhadap anaknya. Hal ini ditautkan guna memperlihatkan ekspresi kasih sayang dari seorang ibu terhadap anak.

Atas dasar itulah, Mila memformulasikan perjalanan kehamilan hingga melahirkan menjadi sebuah karya. Salah satu fase kehidupan manusia, laiknya rites of passage atau ritus peralihan yang diartikulasikan oleh seorang etnografer-folkloris, Arnold Van Gennep. Selanjutnya, inisiatif pertunjukan ini terjalin ketika Mila bertemu praktisi yang bernasib tidak jauh berbeda, Luise Najib—penyanyi dan pencipta lagu. Dengan Luise, gagasan membuat pertunjukan tersebut terealisasikan.

kelirdotnet:teraseni.com
Sebuah adegan perempuan menggendong anak
Foto: Kelirdotnet
Alih-alih hanya menampilkan gerak tari dan latar suara dari Mila dan Luise, pertunjukan ini melibatkan pelbagai praktisi seni antar bidang, yakni: Gardika Gigih (Pianis) dengan alunan yang menyihir; Lia Pharaoh (Make Up Artist) dengan polesan wajah yang berkarakter; Jenny Subagyo (Hair Stylist) dengan penataan rambut yang mempertebal karakter penampil; Manda Baskoro (Fashion Designer) dengan tata busana yang menawan; Rio Pharaoh (Fotografer) dan Yogo Risfriwan (Videografer) dengan foto dan video yang berkualitas guna material video mapping; Kokoksaja (Visual Artist) dengan rangkaian visual yang menawan; Gading Paksi (Stage Manager) yang mengawal pertunjukan dan menyulap PKKH dengan cakap; dan Mila Art Dance dengan beberapa penarinya, di antaranya: Rizka YP, Krisna Bening, Radha Puri, dan Valentina Ambarwati, yang telah menari dengan penuh energi. Sebuah pertunjukan tari yang kolaborasi dengan pertautan antar bidang seni yang cukup lengkap. 

Pengorbanan Ibu dalam Pertunjukan 
Pertunjukan diawali dengan sebuah tayangan trailer dari pertunjukan Mother Earth yang beberapa hari sebelum pertunjukan telah disebarkan melalui aplikasi instagram di dalam gawai. Tayangan tersebut ditembakkan pada sebuah lembar kain yang membujur sisi belakang panggung. Setelahnya dengan cahaya yang temaram, dua orang dengan perut bergumpal (baca: hamil) berjalan dari sisi yang bersebarangan. Bertemu di satu titik mereka bersimpuh, salah satu di antaranya mulai bersenandung dan bernyanyi. Sementara itu, di akhir lantunan, empat orang lain memasuki panggung dengan perlahan. Mereka membentuk pola berjalan yang saling berlawanan. Sedangkan di belakang panggung, layar terbentang menampilkan video mapping berhiaskan bintang dengan api yang membara berada di tengah panggung. Setelahnya, satu orang di antara mereka terpisah dari kelima orang lainnya. 

Kelima orang tersebut mulai berjalan beriringan ke sisi kiri penonton. Berdiri bersampingan, mereka mulai bergerak seirama dan serentak, mulai dari memegang perut, mengarahkan perutnya ke sana dan kemari, menggeliat, hingga mengerang demi menahan sakit. Sementara itu, layar menampilkan wajah bayi laiknya di dalam kandungan, persis dengan teknik diagnosa pemgambilan gambar melalui ultrasonografi (baca: USG). Pada adegan ini, Mila dkk berupaya memunculkan impresi kesakitan dengan gerakan kesakitan dan erangan kesakitan. Hal yang cukup disayangkan, motif kesakitan justru terasa terhambur jika disandingkan dengan video mapping yang telah gamblang menunjukkan gambar bayi. Dalam hal ini, Mila sebenarnya dapat menambahkan kedalaman—atau bahkan penyederhanaan—gerak pada satu hingga dua motif kesakitan saja. 

Selanjutnya seorang di antaranya mulai terpisah dan berpindah ke bagian tengah pada belakang layar video mapping. Ditemani rangkaian denting yang tercipta oleh Gardika Gigih, Mila menari dengan pelbagai eksplorasinya, mulai dari keadaan perut bergumpal (baca: hamil) hingga menghilang (baca: melahirkan). Setelahnya Mila merayap dari bawah layar ke depan layar terbentang, wajahnya bak berbahagia telah melahirkan seonggok tubuh yang lain. 

Cahaya pun perlahan meredup, Mila menghilang dalam gelap. Sedangkan empat penari lain muncul pada sudut yang lain. Kemudian, Video Mapping mulai perlihatkan sebatang pohon kering berukuran besar. Sementara empat penari lainnya mulai bergerak berayun lesu, dengan tangan berjuntai. Pohon berangsur tumbuh dengan kemuculan Mila, dan keempat penari lainnya mulai saling melemparkan kendi secara berpola. Setelahnya, Mila berdiri pada salah satu kendi di bagian tengah panggung, sedangkan tiga kendi lainnya terletak di atas kepala, dan di kedua tangannya dengan posisi menengadah. Dari tubuh Mila, ditariknya empat ranting pohon yang terbentang ke empat arah berlawanan. Pada akhir adegan tersebut, Mila diangkat oleh keempat penari ke udara dan membanting salah satu kendi ke bagian depan panggung. Secara tersurat, Mila ingin mengartikulasikan relasi antara ibu dan anak yang saling terikat satu sama lain.

kelirdotnet: teraseni.com
Empat orang penari mengangkat seorang lainnya dengan kendi diatas kepalanya
Foto: Kelirdotnet
Pada adegan berikutnya, Mila kembali masuk ke dalam panggung dengan seorang balita berada di pelukannya. Sedangkan empat penari lainnya menggendong satu sama lain, berupaya menunjukkan kedekatan dan kasih sayang. Alih-alih terus berlanjut, sang balita dipisahkan dari sang ibu (baca: Mila), laiknya pergi dan tak kembali. Merespon keterpisahan itu, dengan berwajah cemas, Mila berteriak dengan sendu. Di sisi yang lain, keempat menari menggendong sang bayi. Satu hal yang cukup menarik adalah ketika sang bayi mulai menangis karena kaget mendengar suara teriakan yang justru direspon penonton dengan tawa. Pada akhirnya sang bayi kembali ke dalam pelukan ibunya. Sementara itu keempat penari keluar dari panggung disusul oleh Mila dan balitanya. 

Dalam menutup karya, dengan cahaya yang temaram, suara denting piano dari Gardika Gigih kembali terdengar. Sementara itu Luise yang memeluk balitanya menyanyikan sebuah lagu yang bertajuk Winter’s Fault. Konon lagu ciptaannya ini telah dibuatnya sejak 2012, namun baru pertama dinyanyikan di depan umum pada pertunjukan tersebut. Sambil terus bernyanyi, ia melangkah dari sisi kanan panggung berjalan meratap hingga ke luar panggung. Impresi mendalam terasa pada bagian ini. Sementara itu seorang perempuan lainnya dengan balita di dalam pelukannya berjalan lirih memasuki panggung dari bagian belakang. Perlahan dilangkahkannya kaki hingga ke area depan panggung, menatap dengan wajah penuh keyakinan. Pertunjukan usai.

kelirdotnet: teraseni.com
tampak seorang perempuan serupa sedang menyanyi untuk anaknya
Foto: Kelirdotnet

Pertunjukan Menghibur dan Narasi Tanggung 
Riuh rendah tepuk tangan penonton menyelimuti suasana seusai pertunjukan Mother Earth dilangsungkan. Ratusan penonton yang memadati PKKH UGM turut memberikan apresiasinya, mulai dari pujian, salam, dan swafoto mengalir ke penampil dan penyelenggara. Sebagai sebuah pertunjukan, pujian harus dilayangkan ke tim Mother Earth atas keberhasilan pengelolaan, manjerial, dan perwujudan gagasan di atas panggung. Secara lebih lanjut, tim Mother Earth secara sistematis—dengan promosi dan publikasi—telah berhasil mendatangkan target penonton, bahkan melebihi kapasitas—yang akhirnya banyak penonton tidak mendapatkan tiket dan mendaftar waiting list. Tidak hanya itu, kiranya penonton turut terpuaskan secara visual, baik sulapan artistik panggung dari Gading Paksi dkk dan pesona video mapping dari Kokoksaja yang memanjakan mata. Sangat menghibur! 

Namun, terdapat hal lain yang kiranya menarik, di mana banyak penonton justru pulang dengan wajah sumeringah dan canda tawa, padahal pertunjukan berisikan narasi tentang pengorbanan ibu dan perjalanan fase kehamilan hingga melahirkan. Lantas, apakah pesan atau gagsan pertunjukan tersampaikan dengan baik? Tentu semua mempunyai jawabannya masing-masing, tapi dalam karya ini ada kiranya yang perlu ditilik lebih lanjut: pertama, karya kolaborasi seyogianya menempatkan setiap bidang pada porsi yang sesuai—baik secara penamaan ataupun kerja pertunjukan. Dalam hal ini, Mila sebagai inisiator—baik sadar ataupun sebaliknya—muncul sebagai aktor utama, sedangkan porsi kolaborator lain terasa tidak terlalu kokoh dalam pondasi pertunjukan. 

Untuk penamaan, hal ini cukup terlihat dengan pernyataan penyelenggara di buku program, yakni: “Inilah saatnya membuat ruang baru dalam berkarya. Dengan mengajak beberapa seniman dari berbagai lintas disiplin seni yang disatukan menjadi sebuah pertunjukan tari , diharapkan dapat menambah khasanah baru bagi bagi pertunjukan seni Indonesia”. Dalam hal ini, penyelenggara berhasil mewujudkan keterjalinan lintas disiplin dalam ruang kekaryaan, namun penyelenggara agaknya perlu lebih ketat menerapkan praktik kolaborasi, atau praktik kerja bersama. Alhasil kesan yang muncul adalah pertunjukan tari yang berkolaborasi dengan bidang lain, yang seyogianya telah berkelindan tanpa embel-embel bidang tertentu, yakni “pertunjukan kolaborasi”. 

Jika sudah selesai dengan konsepsi di atas, kiranya tim penyelenggara dapat memformulasikan ‘isian’ pertunjukan dengan mendalam. Semisal dengan menimbang dan mencari motif dan gerakan tari yang tidak terlalu wantah—terlebih telah terbantu dengan adanya kolaborator lain, semisal peran video mapping yang cukup kuat. Selain itu dalam struktur pertunjukan, dalam karya ini penyelenggara menyulam sebuah cerita yang terstruktur dan dramatik. Hal ini memang membantu penonton membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya pada setiap adegan, namun agaknya pilihan lain, semisal post dramatic dapat menjadi pilihan tim penyelenggara untuk memberikan kejutan dan ketidakterkiraan impresi pada penonton. 

Sedangkan dalam mewujudkan pertunjukan, turut diperlukan gagasan yang matang. Dalam hal ini, penggagas perlu memperjelas konsep ataupun gagasan yang melatarbelakangi karya tertaut. Penyematan terma Mother dan Earth, kiranya belum terlalu diresapi dalam pemaknaan dan pengejewantahannya. Semisal di dalam buku program tertulis “Mother Earth adalah personifikasi umum alam yang fokus pada aspek-apsek pemberian kehidupan dan memelihara alam dengan mewujudkannya dalam bentuk ‘ibu’.” Dari kutipan tersebut, penyelenggara memang telah menautkan konsep bumi dan ibu, namun penyelenggara perlu memberikan pemaknaan baru atas padanan terma tersebut. Alhasil, tampak jelas apakah karya tersebut merepresentasikan perempuan—yang dirayakan beberapa hari sebelum pertunjukan, yakni 8 Maret—, ibu—yang dirayakan 22 Desember—, bumi—yang dirayakan 22 April—, ataupun yang lain.

kelirdotnet: teraseni.com
para penari dan kendi
Foto: Kelirdotnet
Bertolak dari catatan tersebut, ada hal yang perlu diapresiasi baik selain pengelolaan dan manajerial, yakni modal awal pertunjukan yang dilandasi dari kegelisahan. Dalam hal ini, mewujudkan kegelisahan menjadi sebuah pertunjukan bukanlah soal yang mudah di mana diperlukan tekad, semangat, dan tenaga untuk mewujudkannya—terlebih pertunjukan kolaborasi. Pasalnya kegelisahan dimiliki semua orang, namun belum tentu semua orang berani mewujudkannya. Dengan begitu, padanan semangat—laiknya yang dimiliki penyelenggara—dan kedalaman pertunjukan—catatan tertaut—dapat diracik guna memberikan pertunjukan yang tidak hanya menghibur, namun mencerahkan.[]

Sabtu, 10 Februari 2018

Dancing in Place 2018: Unjuk Aksi Koreografer Muda Asia Tenggara (bagian 2)

Sabtu, 10 Februari 2018 | teraSeni.com~


Selepas karya terakhir di sesi B, penonton diberikan waktu sekitar 15 menit untuk beristirahat sebelum melanjutkan pertunjukan sesi A, begitupun sebaliknya. Pertunjukan sesi A diawali karya tari kontemporer bertajuk “Courtly Behaviour”. Karya kolaborasi dari Eng Kai Er (Singapura), Colleen Coy (USA/Timor-Leste), Lee Ren Xin (Malaysia), dan Nitipat Pholchai (Thailand) ini dipertunjukkan di sebuah lapangan tenis.

Selepas penonton telah duduk di pinggir lapangan, seorang laki-laki (Nitipat) berjalan sambil bersenandung dengan bergegas menuju ke lapangan. Di lapangan telah tergeletak tiga tubuh yang teronggok tak bergerak, satu di antaranya terlentang dengan keset menutupi wajahnya (Lee), satu dengan jas hujan tergeletak di antara net tenis (Colleen), dan satu lainnya di dekat tiang penerangan lapangan (Eng). Kemudian Eng mulai bergerak dengan basis tubuh balet namun laiknya tengah bermain tenis, sedangkan Lee mulai bangkit menatap kosong dengan gerak laiknya pemanasan, dan Colleen merentangkan tangan laiknya net di tengah lapangan. Melihat itu semua, Nitipat hanya terdiam di pinggir lapangan.
Courtly Behaviour-Teraseni.com
Tampak interaksi antar masing-masing penari
Foto: Michael HB Raditya

Sepanjang karya ini berlangsung, kiranya eksplorasi dan interaksi dari keempat kolaborator tidak berubah secara signifikan. Semisal interaksi antar penari yang tidak intens, gerakan-gerakan eksplorasi yang bertahap, pencarian pola ruang yang cukup arbitrer, dan tanpa alur cerita yang jelas—dapat ditautkan dengan post dramatic. Alhasil penonton tidak dapat membayangkan apa yang akan terjadi pada pertunjukan, bahkan hingga pertunjukan usai.

Atas dasar karya “Courtly Behaviour”, keempat kolaborator berhasil mempertunjukkan karya dengan impresi yang berbeda dengan karya-karya lainnya. Sebagai pengayaan orientasi dan wacana pertunjukan, kiranya karya ini cukup berhasil. Namun agaknya karya ini tidak tepat jika diperuntukkan untuk penonton dengan kecenderungan selera tari hiburan, akrobatik, atau bercerita.

Pertunjukan selanjutnya bertajuk “The Passage”, karya dari koreografer Malaysia JS Wong. Alih-alih dipertunjukan secara langsung, karya ini ditampilkan oleh Tai Chun Wai di arena rerumputan. Pertunjukan ini merupakan pengembangan karya tari rotan yang ditautkan dengan perjalanan waktu. Pertunjukan diawali dengan seorang laki-laki bertelanjang dada (Wai) melangkah perlahan dengan sebilah tongkat di tangannya. Sedangkan di sisi lain, ada seorang laki-laki yang memukul sebuah lonceng. Lonceng yang berbunyi secara teratur tersebut memberikan pola bagi penari tongkat tersebut.
The Passage-teraseni.com
Seorang laki-laki dengan sebilah tongkat
Foto: Michael HB Raditya

Penari dengan tongkat tersebut berjalan perlahan membentuk sebuah lingkaran—walau tak sempurna—dengan penonton berada di dalamnya. Lintasan tersebut lantas menjadi ruang bagi penari. Dalam mengisi gerak di dalam lintasan tersebut, ragam ayunan dan kuda-kuda ditampilkan. Pertunjukan berakhir selepas gerakan dan kecepatan melangkah penari semakin cepat. Dari pola pertunjukan yang statis tersebut, impresi yang muncul mengarah pada kesan kedalaman dalam sebuah perasaan.

Sedangkan pertunjukan selanjutnya bertajuk “Maybe, Not Yet” dari kolaborasi koreografer Malaysia, Fauzi Amirudin dan koreografer muda Filipina, Sarah Maria Samaniego. Pertunjukan ini mengusung ide yang cukup abstrak, yakni ketergantungan yang menuju pada keseimbangan, atau perasaan menunggu yang terlunaskan. Pertunjukan ini seakan menjadi rangkaian ekspresi yang terkemas dengan menarik dan harmonis.
maybe not yet-teraseni.com
Sang penari bediri didepan kaca kemudian berteriak
Foto: Michael HB Raditya

Pertunjukan ditampilkan di sebuah rumah berkaca dengan penonton berada di luar rumah tersebut. Diawali dengan Fauzi dan Sarah yang tengah bersantai di kursi santai, lantas Fauzi mendekati kaca seraya tengah berteriak. Hal yang cukup menarik, karya ini berisikan gerakan-tubuh everyday live, mulai dengan gekstur menunggu, bersantai, hingga bergerak leluasa. Di karya tersebut, interaksi antar Fauzi dan Sarah terkesan serasi, semisal ketika mereka tengah menari berpasangan di pagar. Pertunjukan lalu ditutup dengan perluasan ruang dari Fauzi yang pindah ke lantai dasar dari bangunan tersebut. Suguhan ketiga dari sesi A ini seakan memberikan visual dan rangkaian gerak yang manis nan menawan.

Selanjutnya, karya keempat dalam sesi A bertajuk “Reflets sur l’Eau” atau yang bisa diterjemahkan dengan refleksi atas air. Karya dengan basis balet yang kuat ini dikoreografikan oleh Patrick Suzeau, seorang profesor tari dari University of Kansas dan co-direktur COHAN/SUZEAU Dance Company. Dipertunjukan di dekat kolam, karya ini ditarikan oleh Amelia Feroz, Fara Ling Shu Sean, Yap Chiw Yu, Tan I-Lyn da Yap Ving Yee dengan penata musik, Jan Jirasek.
Reflets sur l’Eau-Teraseni.com
Tampak penari dengan basis gerak balet
Foto: Micahel HB Raditya

Sebagaimana basis balet yang cukup kuat, karya ini mengedepankan unsur levitasi dalam balet. Didominasi dengan gerakan seragam dan bersamaan, kelima penari bergerak terlatih. Tidak melulu menampilkan lima penari secara bersamaan pada setiap waktu, kelima penari kerap terbagi di antara ruang depan area penonton dan jembatan di tengah kolam. Kendati terpisah, para penari seakan menjalin harmoni gerak yang menarik dan terkait satu dengan lainnya. Terinspirasi dari refleksi terhadap air, impresi mengayun dan mengalir terasa sangat kuat di dalam pertunjukan tersebut. Berbeda dengan nomor-tari lainnya yang menggabungkan unsur balet dengan modal gerak lainnya, pada karya ini balet memang menjadi etude utama dalam penciptaan gerak, momen, hingga perwujudan atas gagasannya.

Pertunjukan penutup pada sesi A menampilkan karya bertajuk “Bloom”. Karya ini merupakan hasil kolaborasi dari dua koreografer Indonesia, Fadilla Oziana dan Citra Pratiwi serta koreografer Thailand, Sanoko Prow. Karya tersebut dipertunjukan pada sebuah pelataran dengan kolam renang di salah satu sisinya. Di dalam kolam renang tersebut terdapat seorang penari (Sanoko) yang diam membeku membelakangi penonton, sedangkan penari lainnya Citra duduk termangu di sebelah sebatang pohon, dan Dila dengan kuda-kuda silatnya.
bloom-teaseni.com
Penari Dilla Oziana dengan gerakan silat
Foto: Michael HB Raditya

Diawali dengan ragam gerak silat, Dilla mulai menunjukkan ketangkasan gerak pertahanan dan serangan. Bersamaan dengan hal tersebut, Citra mulai bersenandung hingga mengucap kata-kata secara berulang laiknya mantra. Sedangkan Sanoko mulai membalikan badannya ke arah penonton dengan wajah putih dan mata terpejam. Tidak lama berselang, iringan musik pop dengan irama semangat melatari gerakan Dilla dan Citra. Sanoko yang sebelumnya memejamkan mata mulai merespon musik dengan gimik wajah yang ekspresif, mulai dari tersenyum, cemberut, marah, bahagia, menunggu, dan sebagainya.

Setelahnya Citra mulai berjalan dan menari di tengah penonton. Bersamaan dengan itu, Dilla dan Sanoko menghilang. Di antara penonton tersebut, Citra mulai menyerap perhatian penonton dengan menari tarian Jawa. Setelahnya Citra mulai terbangun melangkah ke area belakang penonton—yang adalah tepian sungai—dan mengucap “I Love You”, “Thank You”, “Terima Kasih” secara berulang. Beberapa detik kemudian, sebuah sampan mendekat. Di atas sampan Sanoko yang tengah mendayung dan Dilla mengabadikan gambar dengan ponselnya ke arah penonton. Menghampiri tepian, sampan tersebut menjemput Citra untuk ikut. Lantas Citra terus meneriakan secara berulang hingga kapal menjauh pergi. Pertunjukan usai. Bertolak dari karya tersebut, kiranya “Bloom” memberikan gambaran lain atas akumulasi ekspresi dan perasaan dari sebuah hal. Di mana terjalin kebahagiaan sekaligus kesedihan dalam satu keadaan.

Antara Keindahan Gerak hingga Kekayaan Orientasi Pertunjukan

Sepuluh karya telah berhasil dipentaskan dengan cukup baik di pelbagai ruang Rimbun Dahan, Malaysia. Bertolak dari pertunjukan Dancing in Place 2018, adapun pelbagai catatan dalam segi perwujudan peristiwa seni tersebut.

Pertama, kegiatan ini terbilang positif dalam menjaring koreografer—yang didominasi anak muda—dalam menjalin kerja kesenian antar negara. Sebagaimana penyelenggara yang menyatakan bahwa program ini telah diinisiasi sejak tahun 2009, maka semangat dan konsistensi patut diapresiasi baik. Konsistensi ini juga kiranya yang membuat beragam strategi dalam mengemas pertunjukan dengan cukup baik.

Kedua, pada dasarnya durasi pertunjukan dari setiap karya terbilang cukup menjebak. Di mana setiap karya hanya berdurasi 10 hingga 15 menit, tidak lebih. Tentu kita bisa berdalih sebuah karya tidak dapat dibatasi oleh waktu, biarlah rasa yang menggiring, namun aturan waktu ini membuat koreografer harus memutar otak dalam memeras atau menyederhanakan ide dan gagasan mereka secara ramping. Tentu hal ini tidak mudah.

Ada dari mereka yang berhasil, ada dari mereka yang keteteran. Terlebih, usut punya usut karya kolaborasi ini terbilang cukup singkat dalam proses penciptaannya. Apalagi karya yang dipentaskan didominasi karya kolaborasi yang lazimnya membutuhkan waktu lebih panjang. Dalam hal ini, kita dapat katakan bahwa waktu mereka berproses kurang ideal dan dapat menjadi halangan dalam bekerja, tapi hal ini dapat menjadi pembelajaran dalam efektivitas pengkaryaan. Dengan adanya kondisi tersebut, kiranya dapat membantu kita untuk tidak memukul rata semua karya dengan kacamata yang sama, namun dapat lebih menimbang antara karya baik dan karya layak.

Ketiga, tidak hanya menampilkan karya tunggal dan kolaborasi, para koreografer turut merespon pelbagai ruang di tempat tersebut. Respon dari pengkarya pun cukup beragam, ada dari mereka yang menggunakan area-area spesifik hanya sebagai ruang pertunjukan, ada dari mereka yang menjadikan ruang pertunjukan bagian dari karya mereka. Semisal “Escape”, “Maybe, Not Yet”, dan “Courtly Behaviour”, “Bloom” dapat menjadikan arena pertunjukan turut terlibat di dalam karya. Kesadaran ruang dalam pengkaryaan kiranya menjadi hal yang menarik dalam menciptakan sebuah karya.

Keempat, kendati tidak semua karya berhasil menyita perhatian, namun dari beragam karya tersebut, kita dapat melihat sejauh mana perkembangan orientasi dan wacana tari dari representasi negara terlibat. Secara lebih lanjut, kesepuluh karya ini tidak hanya diartikan sebagai sebuah presentasi karya, Dancing in Place tidak hanya ditafsirkan sebagai ruang pertunjukan, namun pertunjukan ini dapat kita fungsikan sebagai pemetaan seni pertunjukan tari di Asia Tenggara, khususnya masa depan tari karena keterlibatan koreografer muda.

Bertolak dari hal tersebut, pemetaan ini kiranya tidak hanya berguna bagi penonton semata, di mana tidak hanya memberikan keberagaman gerak dan orientasi pertunjukan masing-masing negara, namun turut berdampak pada pada koreografer atas kerja kolaborasi mereka. Ruang persilangan—tidak hanya secara personal, tetapi sosial dan kultural yang berbeda di setiap tempatnya—ini kiranya dapat memberikan perspektif lain bagi para koreografer dalam memperkaya perbendaharaan mereka atas gerak, konsep, gagasan, dan perwujudannya.

Hal ini tentu menjadi kesempatan yang baik untuk para koreografer untuk tidak pernah puas dan terus belajar. Jika ruang semacam ini diperbanyak—tentu dengan durasi waktu proses yang lebih panjang—niscaya masa depan tari Asia Tenggara akan berkembang semakin bertaring.[]