Selasa, 19 Juli 2016

Menelisik Konsep Kebahagiaan Umar Kayam

Selasa, 19 Juli 2016 | teraSeni ~

Lukisan To Laugh Again  Karya Bob Salo - teraSeni
Lukisan Berjudul To Laugh Again
Karya Seniman Amerika Bernama Bob Salo
(Lukisan Komputer dan Miks Media, 2009)

Almarhum Umar Kayyam menceritakan kehidupan keseharian dengan tutur yang menarik. “Mangan ora mangan ngumpul” adalah kumpulan cerita pendek yang ditulisnya terus menerus dan diterbitkan di Kedaulatan Rakyat (KR) Yogyakarta secara berkala. Kritik-kritik sosialnya teramu sedemikian rupa sehingga memudahkan orang memahami pada semua lapisan masyarakat.

Tujuan tulisan ini supaya memperoleh cara kerja dan mengetahui metode pemikiran Umar Kayyam. Untuk memperolehnya mesti ditinjau secara sistematis dan terbuka, karena banyaknya bentuk penulisan cerpen yang membuat pembaca tidak mengerti dan paham. Juga diduga metode penulisan Umar Kayyam ini yang melahirkan ide drama–drama situasi yang sering ditayangkan Trans-TV, seperti Bajaj Bajuri dan Suami-suami Takut Istri.

Persoalannya, apakah metode Umar Kayyam dan drama-drama situasi tersebut telah mewakili gaya kehidupan orang Indonesia sebenarnya? Ataukah penulisnya betul telah mewakili jiwa kebangsaan yang me-Indonesia?

Kebangsaan menurut Ernest Renan dalam tesisnya yang juga pernah dikutip Presiden Soekarno, bahwa kebangsaan merupakan endapan sejarah kesamaan nasib sekelompok orang dari visi masa depan yang mereka bentangkan bersama (Geger Riyanto, Kompas, 21 Januari 2007).

Sebagai rakyat, Umar Kayyam adalah manusia Indonesia yang sangat merasakan pengaruh kekuasaan dan pengaruh itu melibatkan kekecewaan rakyat kecil, sehingga mereka merespon dengan gaya mereka sendiri. Salah satu gaya itu ialah dengan parody, guyonan menyangkut hal keseharian. Rakyat Indonesia telah mengalami suka duka kehidupan yang panjang –dan hal serupa telah terjadi sejak berabad-abad yang lalu. Ketika ekonomi dan hutang Negara membengkak, BBM naik dan fluktuasi keuangan mengkhawatirkan, orang Indonesia masih mampu menikmati tiwul dan nasi aking sambil berseloroh dan mereka bahkan telah menciptakan keindahan dengan cara mereka sendiri. Sementara keindahan itu sangat kontras dengan usaha untuk mencari hidup seperti tertuang Robert Mason, pelukis Inggris yang karyanya menceritakan kehidupan buruh dan kemiskinan telah mendorong mereka untuk bertaruh dengan nyawa. Seperti di lukisan yang berjudul, “Jakarta Grand Indonesia Series 03”, menampakkan seorang  buruh merayap ke gedung dengan dindingnya yang tinggi –sosok yang rapuh dan kecil ditelan rangkaian besi, baja dan beton yang kuat besar dan angkuh (Ilham Khoiri, Kompas Minggu, 4, 2007).

Sebagai rakyat, Umar Kayyam adalah manusia Indonesia yang sangat merasakan pengaruh kekuasaan dan pengaruh itu melibatkan kekecewaan rakyat kecil, sehingga meeka merespon dengan gaya mereka sendiri. Salah satu gaya itu ialah dengan parodi, guyonan menyangkut hal keseharian. Rakyat Indonesia telah mengalami suka duka kehiadupan yang panjang, dan hal serupa telah terjadi sejak berabad-abad yang lalu. Ketika ekonomi dan hutang  negara membengkak, BBM naik dan fluktuasi keuangan mengkhawatirkan, orang Indonesia masih mamp menikmati tiwul dan nasi aking sambil berseloroh dan bahkan mereka telah menciptakan keindahan dengan cara mereka sendiri. Sementara keindahan itu sangat kontras dengan usaha untuk mencari hidup seperti tertuang Robert Mason : pelukis Inggris yang karyanya menceritakan kehidupan buruh dan kemiskinan telah mendorong mereka untuk bertaruh dengan nyawa. Seperti dilukisan yang berjudul,”Jakarta Grand Indonesia Series 03”, menampakkan seorang buruh merayap ke gedung dengan dindingnya yang tinggi, sosok yang rapuh dan kecil ditelan rangkaian besi, baja dan beton yang kuat besar, dan angkuh, (Ilham Khoiri, kompas Minggu, 4, 2007)

Dalam Mangan Ora Mangan Ngumpul, Umar Kayyam tidak menampilkan kecemasan hidup, justru kebahagiaan di ruang keluarga priyayi yang sederhana. Karena sebagaimana dikatakan oleh seorang filosof muslim, Al Farabi, bahwa kebahagiaan sejati bukan merupakan pra-syarat kebahagiaan abadi, tetapi juga pra-syarat kelangsungan hidup yang nyata setelah kematian, (Madjid Fakhry, Sejarah Filsafat Islam, 1987, h.79). Dalam kartun Benny and Mice yang mengisi tiap minggu di kompas, adalah keunikan orang Indonesia asli. Bukan berarti orang Indonesia adalah tipe lakon-lakon dalam kartun, tapi melalui kartunlah semua persoalan hidup lebih tenang untuk disikapi. Seperti contoh, Benny yang berteman akrab dengan Mice, pergi ke sebuah pusat perbelanjaan. Mereka mengamati semua orang yang lewat dan kemudian meniru pakaian-pakaian yang mereka pakai. Suatu kali Benny menjadi penjaga wc umum dan mengatakan bahwa itlah pekerjaan yang didambakannya.

Konsep Umar Kayyam bisa menjadikan kebahagiaan sebagai antisipasi untuk ketenangan jiwa dan memanipulasi keruwetan hidup menjadi sebuah parody. Kalau diandaikan, Umar Kayyam adalah seorang penulis nakal tapi membuat segan para pembaca tulisannya. Ia adalah sosok sponge-bob, egois dan seenaknya. Sebagai orang Indonesia ia memang egois dan seenaknya dan merupakan sisi sosial masyarakat agraris dan bersifat positif. Seorang buruh tani mencoba mengakali perkataannya untuk mengantisipasi kelangkaan pupuk dengan mengatakan, “Di zaman dulu orang ke sawah tidak juga memakai pupuk buatan pabrik, selama ayam, kerbau dan kambing masih mau berak, kita akan terus juga ke sawah.”

——————–

Begitu Umar Kayyam meninggal dunia, ia justru membuat kematian sebagai tujuan hidup yang dicita-citakan. Rohnya hadir di tengan keramaian malioboro, bundaran UGM  dan antara jalan Solo – Prambanan.

Ia adalah layar teater dengan panggung realist, tanpa coretan background yang makna tidak dimengerti. Itulah tampilan kota seperti Yogyakarta, fenomena tatanan budaya yang mulai memudar. Kota itu telah kehilangan guru atau sesepuh budaya dan murid-muridnya tidak lebih dari mereka yang sengsara dalam kebahagiaan : tukang parkir, buruh kasar, gelandangan dan beberapa orang pelacur di pasar kembang. Mereka mungkin tidak pernah membaca tulisan Kayyam, tapi mereka adalah tokoh-tokoh dari tulisan tersebut. Sebagian justru menolak kehidupan materialisme secara terbuka karena seperti pementasan teater koma dengan  judul “kunjungan cinta”, Riantiarno sekilas merefleksikan kepada penonton bahwa kemiskinan yang getir bisa membuat moralitas goyah, godaan uang bakal menyeret orang menjadi lebih pragmatis, dan banyak orang yang lebih memilih gaya hidup mewah meski dibangun dari utang. (Kompas, 14 Januari 2007). Padahal kru di teater koma itu sendiri hidup dan mencari uang dengan berkesenian?

Umar Kayyam belum berhasil menuai buah pikirannya walaupun benih pikirannya itu masih diragukan, terutama oleh generasi sekarang. Generasi sekarang adalah masyarakat konsumtif, materialisme Barat yang  nyaris tidak memiliki pertahanan budaya jitu. Oleh karena itu pengaruh Umar Kayyam justru tidak dikenal sedikitpun dan hal itu juga yang digukan oleh kebanyakan sastrawan lainnya, mereka mengkhawatirkan akan datangnya masa dimana masyarakat terbentuk oleh satu warna.

Dan warna itu terbuat dari cat yang buruk, dipakai oleh seniman yang selalu mencela ibu bapaknya sendiri……

Redaksi teraSeni berterimakasih jika teman-teman berkenan meninggalkan komentar, namun mohon untuk meninggalkan komentar yang tidak melanggar batas-batas etika, HAM, SARA dan tindak kriminal. Terimakasih.
EmoticonEmoticon