Selasa, 19 Juli 2016

Sijobang: Kesenian Tradisi yang Akan Hilang

Selasa, 19 Juli 2016 | teraSeni ~

Asrul Dt. Kodo, Pelaku Sijobang - teraSeni
Asrul Dt. Kodo, Pelaku Sijobang
(Sumber Foto: www.print.kompas.com)

Mestinya, jika anda berasal dari Kab 50 Kota dan atau Kota Payakumbuh tentunya anda mengetahui atau paling tidak pernah mendengar tentang Sijobang, atau Basijontiak. Sebuah kesenian musikal yang mendendangkan kaba Anggun Nan Tungga.

Nama Sijobang ternyata diambil dari tokoh yang ada dalam kaba tersebut yaitu Anggun Nan Tungga Magek Jobang, sehingga masyarakat menamakan kesenian ini dengan nama Sijobang. Biasanya kesenian ini diiringi dengan alat musik Kecapi dan ada juga diiringi dengan kotak korek api yang dijentik-jentikkan ke lantai, oleh karena itu Sijobang kerap juga disebut Basijontiak.

Sijobang adalah sebuah kesenian yang sangat unik dan luar biasa. Bagaimana mungkin cerita Anggun Nan Tungga yang berlatar lokasi pesisir (Tiku, Pariaman) bisa diceritakan dan didendangkan oleh masyarakat darek (daratan), semua detail kehidupan pesisir pantai dan laut yang digambarkan melalui kaba tersebut sangat dikuasai oleh penuturnya melalui Sijobang. Dan jika Sijobang ini memang benar milik masyarakat daratan (Kab. 50 Kota dan atau Kota Payakumbuh) lantas kenapa mereka tidak memilih cerita dengan latar lokasi darek saja?

 Disinilah menurut saya letak luar biasanya kesenian ini. Dan keluar-biasaan tersebut meminta dan membuka kemungkinan bagi suatu pengkajian yang lebih lanjut. Tetapi jika anda tidak tahu dengan hal yang sangat luar biasa ini, maka saya yakin dan percaya bahwa anda hanyalah orang-orang yang biasa. Sepertinya saya sangat beruntung sekali bisa kenal dan saling berbagi cerita langsung dengan pelakunya, dan saya sangat terkesan dengan pelakunya. Lalu bagaimana dengan kita?

Sore itu menjelang magrib hujan mulai mereda. Saat itu juga saya bergegas ke rumah seorang kawan, dan mengatakan padanya bahwa kami akan memenuhi janji untuk berkunjung sekedar ngobrol ringan dengan seorang seniman, pelaku seni tradisi.

Bapak Asrul, begitu namanya dari kecil, dan Datuak Kodo begitu gelarnya setelah besar. Dialah orang yang paling bersemangat, jika siapa saja datang mampir ke rumahnya, apalagi anak muda, untuk berbicara tentang Sijobang. Saya pikir anda harus percaya, kalau tidak silahkan datang sendiri ke rumah kediaman istrinya di Simpang Sugiran, 50 Kota.

Dari pusat kota Payakumbuh anda bisa melewati jalan Tan Malaka lalu anda akan bertemu simpang berbentuk huruf “Y” setelah jembatan Lampasi, lalu anda belok kiri menuju Kec. Guguak. Banyak jalur alternatif yang bisa anda lewati, bisa melewati Piobang, jika anda masuk disimpang tiga Kuranji kemudian anda tinggal lurus dan belok kiri di pertigaan yang ada gardu listrik, kemudian anda tinggal menanyakan di lepau-lepau kopi Jorong Boncah Simpang Sugiran dimana rumah Datuak Kodo tukang Sijobang, setiba di rumahnya saya yakin jika dia sedang tidak berburu maka anda akan disambut ramah oleh gonggongan anjing piaraannya.

Datuak Kodo adalah satu-satunya yang tersisa, yang masih memainkan dan mempertunjukkan kesenian Sijobang: sebuah kesenian yang sudah menjadi ikon Kab. 50 Kota dan atau Kota Payakumbuh, sebuah kesenian musikal yang selalu menjadi buah bibir bagi seniman-seniman, tidak hanya di Sumatera Barat tetapi juga di luar Sumatera Barat.
 “Saudara ayah saya (Pak Etek) dulu tukang Sijobang, tetapi saya belajar bersama murid beliau yang bernama Munin di Kuranji," begitu kenang datuak Kodo yang gemar berkisah ini.

Dia masih ingat betul bagaimana dulu jika betul-betul ingin berguru harus menyanggupi persyaratan-persyaratannya di antaranya: kain putiah sakabuang (kain putih segulung), pitih sapiak (uang secukupnya), boreh sagantang (beras satu gantang), pisau tajam, ayam biriang, lado (cabe), garam, bawang. Beras itu biasanya untuk sebuah kekekalan ilmu karena beras adalah makanan pokok dan sumber kehidupan, sedangkan kain putih merupakan sebuah ketulusan, kesucian untuk berguru, pisau itu supaya apa yang dipelajari menjadi tajam, begitu juga cabe supaya pedas, dan garam supaya apa yang dipelajari menjadi asin dan berguna bagi orang lain. Sedangkan ayam itu tidak boleh dibantai tetapi dipelihara supaya apa yang dipelajari itu bisa berkokok seperti ayam.

Saya membayangkan bagaimana Datuak Kodo muda sedang bersemangat-semangatnya mengayuh sepedanya menempuh perjalanan 6-7 Km dari Sungai Tolang kampungnya menuju Kuranji kediaman gurunya. Dan tentunya sang guru tua juga akan bangga dan berharap bahwa ada generasi muda yang akan mengambil alih sebuah kearifan, dan berumur panjang.

Selama 2 tahun belajar, Asrul, sangat sering sekali dikatakan tenggen (gila), bahkan juga ada orang yang bertanya kepada orang tuanya tentang kebiasaan barunya yang suka bicara sendiri, bernyanyi-nyanyi sendiri, menggumam-gumam sendiri, dimanapun, dan sedang apapun, padahal dia sedang menghapal cerita Sijobang. Tak ayal, masyarakat mencemooh dengan menyematkan predikat "tenggen" pada dirinya.

“Ketika bertemu di warung saya sering disuruh-suruh menyanyikan Sijobang seolah-olah saya ini benar-benar orang yang "kurang" saja, begitulah konsekuensi sebuah kesenian ini”, katanya seolah mencemooh juga. Tentunya dia juga tau bahwa orang-orang kita itu bisanya hanya mencemooh saja, sedang mereka tidak berbuat apa-apa, apalagi bila kita bicara tentang pengabdian.

Setelah beberapa tahun dibawa-bawa gurunya untuk pentas keliling kampung, bukan untuk pertunjukan hanya melihat-lihat, barulah dia berani turun ke gelanggang untuk pertunjukan sendiri. Meskipun takut-takut, hari demi hari, dia mulai menjamah gelanggang yang lebih luas, sampai keluar 50 Kota. Acara apa saja, sebutlah misalnya nikahan, turun mandi, perhelatan peresmian, hingga melepas orang naik haji, jika ada yang meminta Sijobang, maka dia akan penuhi permintaan itu. Bahkan pernah dia tidak berhenti pertunjukan selama satu bulan sebab begitu penuhnya permintaan hingga dia tidak bisa pulang.

Adalah pembuktian yang akan merubah paradigma masyarakat tentangnya, semua cemooh terhadapnya terhenti ketika dia bisa membuktikan bahwa Sijobang bukanlah permainan untuk orang yang “kurang”, kiranya hasil Sijobang ini sangat membantunya dalam hal ekonomi. Datuak Kodo bisa menjemput kembali tanah dan sawah yang tergadai untuk anak dan istrinya. Tentunya itu yang membuat masyarakat ternganga, bahwa Datuak Kodo telah menjelma menjadi seorang yang digemari, populis. Bahkan puncaknya ketika seorang profesor dari Inggris yaitu Nigel Philips menemuinya untuk rekaman Sijobang ini. Tentunya dia tidak akan membayangkan bahwa kesenian dari warung-ke warung, dari kampung ke kampung ini nantinya akan diperdengarkan ke orang-orang di luar negeri, sungguh di luar dugaannya.

Setelah itu semua, Datuak Kodo tidak lagi sekadar tukang Sijobang yang mendendangkan cerita kaba klasik Anggung Nan Tongga, malainkan seorang tokoh yang dicari untuk sebuah keilmuan, Etnomusikologi contohnya. Bagaimana Sijobang dipelajari dan diteliti di lembaga pendidikan seni ASKI/STSI/ISI Padangpanjang, adalah salah satunya. Dan tentunya, Datuak Kodo lah Empu untuk kesenian ini.

Bila masyarakat seni, di luar Kab. 50 Kota, mengenal Kab. 50 kota dan Kota Payakumbuh pada umumnya dengan Sijobang. Lalu bagaimana di Kab. 50 Kota atau Payakumbuh itu sendiri? Saya tidak tahu bagaimana masyarakat, serta lembaga pemerintahannya memandang Sijobang. Karena ketika saya menyinggung soal bagaimana peran serta pemerintahan dan dinas terkait Sijobang ini, beliau menjawab:

 “Sudahlah, tak usah kita bicara pemerintah atau dinas, karena kita semua sudah tahu sendirilah bagaimananya”, katanya sambil tertawa menyengir, sementara saya dan kawan saya tak bisa menglak untuk ikut pula terbahak.

Sabuah lai lah dek mamak, jo pantun andai sabonta sodaran untuang dagang sansai
kok lai kabuliah ambo baporak, racik nan sodang tangah hari, timbakau baampai pulo
Kok lai kabuliah dagang bakondak, basuruik sonjo lah kau hari, dunia ndak namuah jo rang siko
Lapeh nan dari pasa sompan, ondak manjalang bukik apik, parentah lareh tujuah koto
Ooo buruang sampaian posan, baju baguntiang tak bajaik, talotak apo ka gunonyo

Begitu sebuah dendang menghimbau malam, hujan sudah habis, tak ada lagi yang menetes namun senja masih terasa lembab dan mulai mengelam di kediaman istri Datuak Kodo. “Kini sudah 65 umur saya, setelah ini tidak ada lagi yang akan Basijobang”, katanya lirih sambil membakar rokok dan menyeruput teh ramuan istrinya. Agaknya, ucapan Pak Datuak ada benarnya, bahwa seiring waktu Sijobang juga akan ikut menua dan keriput, dan ikut terkubur bersama Datuak Kodo, lalu lenyap dan hilang.

Redaksi teraSeni berterimakasih jika teman-teman berkenan meninggalkan komentar, namun mohon untuk meninggalkan komentar yang tidak melanggar batas-batas etika, HAM, SARA dan tindak kriminal. Terimakasih.
EmoticonEmoticon