Kamis, 28 Juli 2016

Teater Anak Apa Sih Perlunya? Ini Lima Alasan di Antaranya

Rabu, 27 Juli 2016 | teraSeni ~

Pertunjukan Teater Kekwa! Alami Mimpimu - teraSeni
Pertunjukan Teater “Kekwa! Alami Mimpimu,"
Produksi Piamare Creative Company, Yogyakarta
Dipentaskan 27-29 Desember 2015
(sumber foto: www.nationalgeographic.co.id)

Banyak orang di negara maju senang bekerja dengan anak-anak, dan hal itu mendorong mereka untuk, salah satunya, menerjuni bidang seni teater anak sebagai pekerjaan. Banyak di antaranya yang berpendapat bahwa kegiatan berlatih dan bermain teater bersama anak justru mengajarkan mereka begitu banyak hal, yang tidak mereka peroleh dalam pergaulan mereka dengan orang dewasa.

Cathlyn Melvin, seorang sarjana Seni Teater di Amerika Serikat, mengakui bahwa dari semua kegiatan yang diikutinya sepanjang hidup, mulai dari masa kanak-kanak, remaja, sekolah menengah, hingga lulus kuliah, ia memperoleh banyak pelajaran yang kemudian menjadi bahan untuk membangun jati diri dan dunianya. Tapi ketika ia menatap kembali seluruh kesibukan itu, ia menyadari bahwa dari semua yang ia ikuti, seni teaterlah yang paling memberinya pelajaran penting tentang siapa dirinya, dan sosok seperti apa yang ia inginkan untuk dicapai.

Tapi mengapa anak-anak sebaiknya berlatih dan bermain seni teater? Cathlyn Melvin, yang meraih gelar sarjana (BA) dalam bidang Seni Teater dari University of Wisconsin, AS, dan kini mengajar teater untuk siswa-siswa sekolah menengah atas kemudian mengatakan bahwa setidaknya ada lima alasan, mengapa anak-anak sebaiknya belajar teater, yakni:

Pertama, Teater memberi kesempatan untuk “berjalan dengan sepatu orang lain”
Selama bermain dan berlatih teater, anak-anak seperti berjalan berpuluh-puluh kilometer dengan sepatu orang lain. Artinya, ketika seorang anak berusaha membaca dan memahami karakter yang akan ia perankan, ia akan didorong untuk memikirkan tentang orang atau karakter itu. Mengapa orang itu berfikir dan bertindak demikian, atau membuat pilihan-pilihan tertentu? Apa yang berusaha dia dapatkan dari orang lain yang dia ajak bicara? Bagaimana cara ia bicara? Dengan sikap tubuh seperti apa dia bicara?

Intinya, sang anak belajar memahami orang lain, yakni tokoh yang diperankannya, serta tokoh-tokoh lain yang berinteraksi dengan tokoh yang diperankannya itu. Selain belajar tentang komunikasi, pelatihan teater serupa itu mengajarkan pula tentang empati. Sementara, banyak di antara kita sudah cukup maklum bahwa kemampuan komunikasi serta empati adalah salah dua keterampilan kepribadian utama yang diperlukan untuk menjadi pemimpin, di mana pun kelak sang anak bekerja, apakah menjadi pimpinan sebuah perusahaan, atau sebuah kantor pemerintahan, bahkan di keluarganya sendiri.

Empati dan komunikasi yang diajarkan melalui pelatihan teater bahkan juga akan berperan penting manakala di kemudian hari sang anak menjadi dokter atau guru, atau penyuluh pertanian. Melalui empati dan cara berkomunikasi yang baiklah, ia bisa mengerti penderitaan pasiennya, persoalan yang dimiliki muridnya, serta masalah-masalah yang dihadapi oleh para petani yang dibinanya.

Banyak yang mengatakan bahwa persoalan dunia hari ini adalah mengeringnya rasa empati dalam masyarakat. Orang tidak terbiasa lagi untuk meletakkan dirinya pada posisi orang lain, untuk dapat memahami keadaan dan kesusahan orang lain. Pelatihan seni teater akan mengajarkan anak-anak untuk saling mengerti satu sama lain di dalam grup latihan. Tapi seni teater mengajak anak-anak tanpa memaksa untuk berempati. Teater bersifat mencetuskan, mendorong, dan menginspirasi. Praktek latihan berkomunikasi dan berempati serupa ini tentunya akan menjadi dasar yang kuat bagi berkembangnya rasa persaudaraan dan kemanusiaan mereka.

Kedua, Teater tidak mendiktekan apa yang harus dirasakan
Seni teater berdasar dari dan berorientasi pada pengalaman pribadi. Memainkan peran, merancang set untuk berpentas, melihat latihan orang lain, memahami cara kerja suatu pementasan, akan memberi anak-anak perspektif, suatu sudut pandang bagi diri mereka sendiri. Namun apa yang dilihat oleh anak yang satu dari suatu peristiwa pentas, belum tentu sama dengan anak yang lain. Demikian pula perasaan dan dorongan yang diperoleh dari pementasan, tidak selalu sama.

Namun justru di untuk itulah seni teater dimaksudkan untuk anak-anak, yakni membuka ruang untuk semua peserta latihan untuk mengeksplorasi emosi dan pandangan mereka sendiri. Melibatkan anak-anak dalam seni teater membuat mereka belajar untuk bebas berpikir, bebas untuk merasa, dan bebas untuk menjelajahi siapa diri mereka sendiri, serta bebas untuk membayangkan ingin menjadi seperti apa mereka kelak.

Ketiga, Seni teater adalah media yang sangat bagus untuk memahami sastra dan sejarah
Ketika seorang anak belajar dalam suatu kelas seni teater, ia akan berkenalan dengan sebuah cerita, dengan sebuah naskah drama. Dari situ ia akan memperoleh pengetahuan awal tentang sastra. Ia juga akan belajar tentang bagaimana sebuah drama disusun, dalam bentuk alur cerita, pertikaian, penokohan, latar kejadian serta pesan cerita.

Tidak mustahil, perkenalan dengan naskah drama itu akan membawanya mengenali berbagai jenis karya sastra yang lain, misalnya puisi, prosa, cerpen atau novel. Dia juga akan mengetahui apa yang membedakan sebuah naskah drama dengan jenis karya sastra yang lain. Mereka juga akan berkenalan dengan nama-nama penulis karya sastra.

Drama yang paling digemari anak-anak adalah yang bernuansa petualangan dan kisah-kisah perjuangan. Mereka bisa belajar tentang sejarah dari naskah-naskah serupa itu. Tapi bukan untuk menghapal tanggal dan tahun kejadian, melainkan memahami situasi dalam kisah sejarah. Ini kelebihan teater sebagai seni peristiwa, di masa sejarah bukan sekadar dibaca, tetapi bisa dialami. Singkatnya, seni teater adalah media dan cara yang sangat bagus untuk memperkenalkan anak-anak dengan tema-tema sastra dan sejarah.

Keempat, teater adalah obat penawar bagi jiwa, pikiran, dan perasaan
Sederhananya, teater adalah terapi. Sebuah penelitian yang mengungkapkan “10 Strategi Penyembuhan Stress pada Anak-Anak" menyebutkan enam di antara cara yang jitu untuk mengurangi stress pada anak adalah: (1) bernyanyi; (2) bermain; (3) berimajinasi; (4) berekspresi; (5) bekerja dalam tim; dan (6) membayangkan masa depan. Dan hebatnya, teater memberi ruang sekaligus memberi pemicu bagi keenam strategi itu.

Kelima, Teater memberikan ruang bagi ketidaksempurnaan
Melalui pelatihan teater, anak-anak mendapat kesempatan untuk menjadi hal-hal yang mustahil, menjadi sebesar raksasa, sekeras batu, atau sekonyol badut. Teater mengajarkan ruang yang tak terhingga dan tak terduga. Teater adalah dunia bercerita, bermain dan bersenang-senang. Melalui pelatihan teater, anak-anak didorong untuk mencoba hal-hal baru. Mereka diajarkan untuk tidak takut mencoba, tanpa takut salah. Mereka akan dibuat memahami bahwa dalam hidup mencoba dan gagal itu bernilai satu, mencoba dan berhasil itu nilainya dua, sementara tidak mencoba nilainya nol.

Teater mengajarkan anak-anak bahwa tidak ada jawaban yang benar dalam seni, yang berarti mereka dapat menjelajahi, menghubungkan ide-ide baru, dan belajar dari apa yang mereka rasakan. Semuanya dapat dicoba sementara keberhasilan dan kegagalan dalam percobaan itu tidak memiliki konsekuensi negatif. Mereka akan mendapatkan kesempatan untuk melihat dunia kemungkinan yang tidak mereka peroleh dalam matematika atau sejarah.

Joe Breault, seorang Kepala Sekolah di sebuah sekolah di California, AS, mengatakan bahwa program seni teater membuat anak-anak menjadi lebih baik di pelajaran yang lain. Ya, teater membantu anak-anak menjadi seorang yang bersikap baik, berkarakter kuat, pemikir yang logis dan kritis, serta peka pada sesama dan lingkungannya.

Singkat cerita, melalui teater warga dunia yang lebih baik dapat dipersiapkan, dan bukankah itu tujuan utama pendidikan? Bukan mustahil, melalui teater anak, manusia bisa mengubah wajah dunia di masa depan. Karena melalui seni teater, anak-anak diajarkan untuk lebih berani, lebih kreatif dan lebih bertanggung jawab. Singkatnya, pelatihan seni teater akan meletakkan dasar yang kuat untuk berlatih berpikir kritis sekaligus berempati bagi anak-anak.

Lalu pertanyaannya, apakah sebaiknya anak-anak di Indonesia juga belajar sambil bermain melalui seni teater?

Redaksi teraSeni berterimakasih jika teman-teman berkenan meninggalkan komentar, namun mohon untuk meninggalkan komentar yang tidak melanggar batas-batas etika, HAM, SARA dan tindak kriminal. Terimakasih.
EmoticonEmoticon