Rabu, 10 Agustus 2016

Perempuan Minang Urban dalam Lakon Teater Menimbang Lapuk

Rabu, 10 Agustus 2016 | teraSeni ~

Menimbang Lapuk adalah sebuah naskah teater yang ditulis Dela Nasution dan pernah dipentaskannya pada tahun 2011 lalu di Taman Budaya Sumatra Barat atas dukungan Empowering Women Artists Yayasan Kelola. Naskah Menimbang Lapuk mengisahkan seorang perantau yang berasal dari Minangkabau untuk mengadu nasib di kota besar Jakarta. Dela yang memerankan tokoh Etek harus membiayai ‘tiga’ orang ponakan, yaitu anak dari adik perempuannya yang telah meninggal dunia.

Hal itu tentulah tidak gampang, karena Etek, sebagai seorang perempuan harus bertindak sebagai kepala keluarga untuk menafkahi ‘dua’ orang ponakan yang masih sekolah. Apalagi, ponakan yang paling tua seorang laki-laki yang terlalu idealis dalam mencari pekerjaan. Malah terkesan, ia terlalu sibuk dengan urusan ‘kemanusiaan’nya sebagai aktivis yang berdemonstrasi untuk membela hak-hak rakyat.

Perantau Minang yang miskin, atau masyarakat perantau yang marjinal, itulah mungkin yang dapat ditangkap lewat pementasan lakon Menimbang Lapuk karya sutradara Dela Nasution ini.  Dela Nasution selaku seorang penulis lakon dan sutradara sepertinya ingin memperlihatkan bahwa budaya, bahasa, dan adat-istiadat  serta sejarah ‘perempuan’ yang telah mapan di Minangkabau ternyata masih mentah di tengah kota besar seperti Jakarta.

Bundo kanduang, sumarak rumah nan gadang, dan limpapeh rumah gadang adalah analogi-analogi yang sesungguhnya terlanjur dan terlalu 'manis' untuk menggambarkan perempuan Minangkabau. Terlanjur 'manis', karena perempuan di Minangkabau adalah sosok makhluk yang dianggap lemah lembut, tidak berwibawa tapi melahirkan ‘keelokan’ nagari. Ia tidak memiliki keberanian namun mempunyai wilayah berupa tanah pusaka.


Perempuan Minang  dalam lukisan Wakidi - teraSeni
Gambaran Perempuan Minang
dalam lukisan karya Wakidi (1969)
(Sumber Foto:
www.visualheritageblognasbahry.blogspot.com)

Tidak demikian halnya di dalam naskah Menimbang Lapuk, tokoh Etek telah keluar atau mungkin tercampak dari lingkaran perempuan Minang yang selalu dianalogikan manis tersebut. Lalu sebuah pertanyaan muncul, kenapa bisa demikian? Mungkin ini bisa dikaitkan dengan daerah rantau. Memang daerah rantau sudah barang tentu bukan lagi kampung halaman yang secara sosial bisa diajak kompromi. atau barangkali persoalan ekonomi yang menghimpit dan persaingan hidup yang ketat. Maka hal demikian telah memaksa perempuan Minang yang biasanya dipandang mapan atas kodrat keperempuanannya kini dengan hidup yang termarjinalkan di tengah msyarakat kota besar menjadi seorang perempuan perkasa, tangguh, terkesan keras dengan dialektikanya yang sarkas.

Kota besar bagi sebagian orang mungkin saja bisa menjadi semacam Sorga Dunia dengan segala kemudahan yang bisa didapat melalui kekayaan harta benda. Kota memang menawarkan kemegahan dan hiburan yang menjanjikan kenikmatan dengan berbagai alternativ. Tapi bagi masyarakat yang marjinal yang hidup dalam ekonomi serba terbatas seperti tokoh etek dalam naskah Menimbang Lapuk, kota tentu saja merupakan hal sebaliknya, dimana kota akan terlihat seperti medan juang yang mengerikan dan penuh kekerasan, atau seperti pertaruhan di meja judi dimana setiap orang akan mencuri-curi setiap kemungkinan agar dapat meraup setiap keuntungan yang berlipat.

Tentu saja dalam hal ini tokoh etek tidak lagi bisa berpegang terhadap adat istiadat dan sejarah keperempuanannya seperti perempuan dalam konsep di Minangkabau, apalagi terhadap pola bahasa dalam dialektika yang tertata seperti kato nan ampek, dimana dalam praktiknnya dibutuhkan kepekaan sosial. Bagi tokoh EEtektek entah secara sadar atau tidak, daerah rantau seperti kota Jakarta adalah sebuah medan juang yang kasar dan keras tentu saja dalam stuasi ini keberanian dan harga diri harus ditunjukan dengan tegas dan disampaikan dengan bahasa-bahasa sarkas pula.

Di akhir cerita, Yoga yang merupakan keponakan laki-laki yang paling tua tertangkap oleh aparat Polisi waktu berdemonstrasi di depan gedung DPR. Kabar tertangkapnya Yoga ini merupakan kemalangan yang datang secara beruntun, dimana sebelumnya tokoh Etek telah bersedih hati karena Bening yang merupakan koponkan paling keci tidak bisa melanjutkan pendidikan kesekolah yang bermutu karena persoalan ekonominya yang morat marit. Dua peristiwa ini akhirnya membuat tokoh Etek luluh dengan ber urai air mata, maka sebuah kesimpulan, bahwa tokoh Etek secara piskologi adalah perempuan yang bukan secara kebetulan bisa berubah lembut. Dan secara antropologi, ia adalah perempuan bersama sejarahnya yang tidak mungkin bisa terlalu jauh dari konsruksi takdir keperempuanan, maka wajar bila air mata menjadi solusi terakhir bagi Etek.

Tentang Pilihan
Teater yang merupakan salah satu seni pertunjukan, merupakan kesenian yang paling dianggap komplit, karena melibatkan beberapa unsur kesenian yang lain di dalam pertunjukannya. Sebut saja misalnya ada gerak tarian, nyanyian, musik, akting, dan seni rupa. Maka di dalam pertunjukan Menimbang Lapuk, Dela Nasution berhasil mengkolaborasikan setiap unsur seni tersebut menjadi sebuh pertunjukan yang utuh ke dalam artistik pemanggungan teater.

Tentu saja keberhasilan di atas tidak terlepas dari jam terbang atau pengalaman dari banyaknya naskah-naskah yang telah disutradarai Dela Nasution, sehingga porsi dari setiap elemen seni pertunjukan menjadi terasa pas di dalam karya pementasan Menimbang Lapuk. Sebagai contoh, psikologi perantau Minang dapat digambarkan dengan dendang-dendang ratok yang dijadikan sebagai ilustrasi musik pertunjukan, atau bagaimana keceriaan anak-anak yang akan menuju dewasa dapat terwakilkan dengan tari-tarian. Maka keberhasilan dalam menyatukan setiap elemen seni ke dalam sebuah seni pertunjukan teater dapat dikatakan sebagai pilihan estetika yang pas bagi seorang sutradara. Sebagaimana dikatakan Wadjid Anuar, objek estetika merupakan bentuk cita manusia yang tetinggi, keindahan adalah suatu pengalaman-penglaman seorang seniman.

Seorang seniman dalam menciptakan karya sangat dibutuhkan sensitifitas, baik terhadap yang bersifat vertikal maupun yang bersifat horizontal. Sensitifitas yang bersifat vertikal, akan melahirkan karya-karya yang bersifat eksistensial, seperti hubungan dengan Tuhan, atau keraguan tentang keberadaan dan kebenaran manusia itu sendiri. Karya-kaya seperti ini sekarang lebih dikenal dengan sebutan karya Absurd.

Sementara itu densitifitas yang bersifat horizontal akan melahirkan kritik-kritik sosial dan berbau kepedulian kepada lingkungan sekitar. Di dalam buku Seni Dan Kehidupan Tommi F Awuy mengatakan Seniman yang muncul dari gejolak pisikis pada hakekatnya adalah sebuah sublimasi atau katarsis menurut bahasa Aristoteles dan Sigmund Freud. Friederich Nietzsche bahkan melihat bahwa gaya hidup seorang seniman itu layaknya seperti dewa-dewa dalam mitologi Yunani, misalnya Dionysius Sang Dewa Pemabuk, pengganggu atau pembuat onar, namun penuh dengan gejolak perasaan cinta.

Maka dapat dikatakan, bahwa sebuah karya seorang seniman dapat dikatakan berasal dari kecintaannya terhadap hal-hal yang diamati. Tentu saja dalam hal ini, bagi Dela Nasution kebudayaan Minang dan persoalan masyarakat perantau yang menanggung beban ekonomi dengan susah payah serta termarjinalkan di tengah gemerlapnya kota besar telah menyentuh perasaannya dan kemudian menjadi cikal-bakal gagasan atau ide karya Menimbang Lapuk. Lebih dari itu, tentu saja Menimbang Lapuk pada dasarnya adalah pandangan dan sikap Della atas fenomena perempuan Minang di perantauan.

Secara keseluruhan petunjukan Menimbang Lapuk menggambarkan kehidupan sebuah keluaraga dengan ironi ditengah kota besar. Ironi yang dimaksud ditemui dari beberapa peristiwa yang terdapat di dalam naskah lakon. Misalnya, seorang anak yang bernama Bening ingin melanjutkan sekolahnya ke SD yang lebih bagus dan berkualitas, namun keinginan tersebut hanya tingal keinginan dan menjdi mimpi yang tidak bisa diwujudkan hanya lantaran persoalan ekonominya yang morat-marit.
Meski secara nilai dan kecerdasan Bening bisa bersaing dengan teman-teman seangkatannya, namun tetap saja Bening yang sesungguhnya memiliki kecerdasan lebih dari teman-teman lainnya harus bersedih untuk menerima kekalahannya yang dianggap sungguh tidak adil itu.

Contoh lain terdapat pada tokoh lain, yaitu Yoga keponakan paling besar yang terlalu sibuk mengurus persoalan sosial dengan berdemonstrasi untuk membela hak-hak rakyat kecil, sementara Yoga tidak bisa melihat kesusahan seorang Etek yang bersusah payah untuk membiayai dua orang adinya untuk bersekolah. Yoga selalu beralibi bahwa memebela hak-hak rakyar kecil harus disokong dan Yoga tidak mau dibilang kurang solid oleh teman-teman yang melakukan pembelaan terhadap rakyat kecil tersebut.

Di sepanjang pertunjukan Dela Nasution kita dapat membaca pesan-pesan yang ingin disampaikan. Setidaknya dari pesan-pesan itu dapat diambil sebuah kesimpulan. Dela seakan-akan ingin mengatakan kepada penonton bahwa sesungguhnya ada dua pilihan di dalam kehidupan ini. Pilihan pertama adalah rasa keinginan dan yang kedua rasa yang didasari oleh kebutuhan. Maka di dalam pertunjukan Menimbang Lapuk banyak dihadirkan gambaran bahwa banyak keinginan-keinginan yang kemudian tidak bisa diwujudkan, malah mungkin berujung pada kekecewaan. Dalam hal ini ada pesan tersirat yang ingin disampaikan Dela, tampaknya, ialah bahwa di dalam kehidupan sesungguhnya hal yang terpenting bagaimana kita bisa memilah antara keinginan dan kebutuhan, dan sejauh mana kita bisa melihat bahwa kebutuhan ada pada posisi prioritas utama bila dibandingkan dengan keinginan. Apalagi, jika itu terjadi dalam kehidupan di kota besar, dalam lingkungan urban yang kompleks.




Redaksi teraSeni berterimakasih jika teman-teman berkenan meninggalkan komentar, namun mohon untuk meninggalkan komentar yang tidak melanggar batas-batas etika, HAM, SARA dan tindak kriminal. Terimakasih.
EmoticonEmoticon