Selasa, 02 Agustus 2016

Tari Pasambahan: Tari Minangkabau Dalam Budaya Populer

Selasa, 2 Agustus 2016 | teraSeni ~

Penampilan tari Pasambahan Masakini - teraSeni
Salah satu penampilan tari Pasambahan
dalam acara Masakini
(Sumber: www.tradisikita.my.id)


Tujuh orang laki-laki berpakaian tradisional daerah Minangkabau secara rampak memperagakan gerakan-gerakan mancak (pencak), semacam variasi gerak silek (silat) yang diakhiri dengan sambah (sembah) hormat kepada para tamu. Setelah mereka tujuh orang perempuan, berpakaian adat lengkap menggunakan suntiang (sunting) dan memegang carano (cerana), sementara enam lainnya mengenakan tikuluak tanduak (kain berbentuk tanduk), menarikan gerak-gerak yang kebanyakan berakhir dengan gerak sambah dengan kedua tangan dirapatkan di depan dada.

Diiringi suara bansi (alat tiup tradisional), perempuan yang mengenakan suntiang ditemani dua orang yang mengenakan tikuluak tanduak dan salah seorang laki-laki yang tadi mempergakan mancak kemudian berjalan pelan dan anggun ke arah para tamu. Sesampai di hadapan para tamu, mereka berempat membungkukkan badan, sang laki-laki membukakan tutup carano dan mempersilahkan beberapa orang tamu untuk mengambil sirih dan pinang. Sementara itu, terdengar suara seperti deklamasi dalam bahasa Minangkabau dari pengeras suara mengiringi mereka.

Adegan di atas bukanlah upacara adat atau alek (helat) pengangkatan pangulu (pemuka adat) di Minangkabau, melainkan adalah pemandangan dalam sebuah pembukaan acara bertajuk Malam Pagelaran Kesenian Minangkabau, Dies Natalis ke-36, Unit Kesenian Minangkabau (UKM) ITB, yang digelar di Gedung Sasana Budaya Ganesha ITB, Bandung, Jumat 22 April 2011. Tari yang dalam tayangannya di situs youtube diberi judul “Tari Galombang Pasambahan (Dies Natalis 36) UKM-ITB” itu mengawali acara yang mengusung tema “Minangkabau for Indonesia,” yang menurut rilis panitianya dihadiri sekitar 900 orang penonton yang membeli tiket.

Pemberian judul ‘Tari Galombang Pasambahan’ tersebut di atas menarik karena menggabungkan dua nama tarian yang biasanya digunakan terpisah dalam khasanah seni tari Minangkabau, yakni Tari Galombang atau Tari Pasambahan. Semakin menarik, karena tarian itu tidak ditampilkan dalam suasana perhelatan adat-istiadat masyarakat Minangkabau, melainkan dalam suatu acara yang cenderung bernuansa kehidupan modern yakni sebuah Dies Natalis organisasi. Menarik pula untuk mencermati bahwa penampilan tari Galombang atau tari Pasambahan tersebut berlangsung di rantau, atau jauh dari kampung halaman, oleh sebuah organisasi mahasiswa asal Minangkabau. Sementara, ada pernyataan tentang tari Galombang, yang mengatakan bahwa tarian ini lazimnya hanya ditampilkan sebagai bagian upacara adat di Minangkabau, terutama untuk pengangkatan pangulu.

Budaya Populer dan Tari Pasambahan
Seperti berbagai wilayah di Indonesia, masyarakat Minangkabau di Sumatera Barat juga terlibat secara aktif dalam gegap gempita budaya pop. Kata ‘pop’ menurut Raymond William secara diskursif berasal dari kata ‘populer,’ yang mempunyai makna: disukai banyak orang dan memang diciptakan untuk menyenangkan banyak orang. Adapun menurut Dominic Strinati, budaya populer dihasilkan secara massal dengan bantuan teknologi industri, dan dipasarkan secara professional bagi publik konsumen dengan tujuan untuk mendatangkan profit.

Menurut Dominic Strinati, budaya populer atau budaya massa berkembang, terutama sejak dasawarsa 1920-an dan 1930-an, yang ditandai dengan munculnya sinema dan radio, produksi massal dan konsumsi kebudayaan yang terjadi karena adanya kemajuan media dan teknologi. Budaya pop menghilangkan batasan antara budaya tinggi dengan budaya rendah dan kerap kali dihubungkan dengan ciri-ciri kehidupan postmodernisme.

Memang ada pengaruh kecil dari hal-hal lain, namun identitas didominasi oleh pengaruh dari budaya populer. Budaya populer, menurut Heryanto, perlu dipahami sebagai pelbagai ’’...suara, gambar, dan pesan yang diproduksi secara massal dan komersial’’ dan juga ’’...berbagai bentuk praktik komunikasi lain yang bukan hasil industrialisasi, relatif independen, dan beredar dengan memanfaatkan berbagai forum dan peristiwa seperti acara keramaian publik, parade, dan festival’’ (hlm 22).

Karena itu, bisa dikatakan bahwa identitas Minangkabau populer tersebut juga terbentuk melalui film dan sinetron. Sebagai media komunikasi yang menggunakan audiovisual, pencitraaan tentang Minangkabau masakini dibangun. Namun yang paling kuat pengaruhnya adalah perkembangan internet, terutama melalui media social semacam Twitter, Facebook, dan instagram, yang berperan sebagai pasar citra dan teks.

Seperti halnya masyarakat di beragai daerah di Indonesia, mayoritas penduduk Sumatera Barat juga tergiur dan berperan aktif di dalam budaya populer. Hal itu misalnya tampak dalam berkembangnya industri rekaman lagu pop Minang sejak tahun 1980-an, juga melalui perkembangan Talempong kreasi atau talempong goyang dewasa ini.

Konsumsi budaya pop juga terjadi melalui campur tangan ‘organ tunggal’ yang sempat mewabah di Sumatera Barat. Tentu saja peranan televisi juga tidak kecil dalam menciptakan selera populer ini. Melalui berbagai acara, sejak zamannya TVRI, ‘tari kreasi’ Minangkabau ditampilkan dan diterima sebagai identitas tari secara bersama oleh masyarakat Minangkabau. Melalui penampilan di televisi pula, masyarakat Minangkabau yang berada di rantau terhubung dengan kampung halamannya.

Perkembangan itu diikuti pula oleh berkembangnya jenis tarian yang dinamakan sebagai ‘tari kreasi’ juga sejak dasawarsa 1980-an. Apa yang dinamakan sebagai ‘tari kreasi’ ini umumnya adalah jenis tarian yang dikembangkan dari berbagai tema-tema sehari-hari dengan memanfaatkan ragam gerak dari tari-tari tradisional. Sepintas, hal ini seperti melanjutkan cita-cita pengembangan tari Minangkabau modern yang diperjuangkan Huriah Adam dan Gusmiati Suid. Hal inilah yang dapat dilihat sebagai konteks dari perubahan tari Galombang menjadi tari Pasambahan.

Penampilan Tari Galombang Pasambahan dalam rangka memperingati Dies Natalis ke-36, Unit Kesenian Minangkabau (UKM) ITB di atas karena itu dapat dilihat sebagai salah satu ciri dari berkembangnya budaya popular.  Pada mulanya tari Pasambahan merupakan kesenian tari yang dinamakan tari Galombang, yang berasal dari Minangkabau. Tari Galombang dimaksudkan sebagai ucapan selamat datang dan ungkapan rasa hormat kepada tamu. Setelah Tari Galombang, acara biasanya dilanjutkan dengan suguhan Daun Sirih dalam Carano kepada Sang tamu.

Jika ditelusuri, maka Tari Pasambahan semula diciptakan oleh Syofyani pada tahun 1962, yang ditampilkan untuk penyambutan Raja Belgia (Belanda) di Bukittinggi. Sebagaimana halnya di daerah lain, untuk menyambut para tamu yang datang ke daerah tersebut, disambut dengan suatu upacara adat yang dibuka dengan tarian penyambutan tamu. Itulah kiranya tari Pasambahan  semula berkembang sebagai tarian untuk kegiatan penyambutan tamu.

Tari Pasambahan, yang kini terkadang juga disebut tari Galombang kreasi, menjadi salah satu tarian tradisional yang sangat populer di Sumatera Barat, khususnya di kota-kota. Tari ini sering ditampilkan pada acara-acara seremonial pembukaan acara resmi pemerintah dan acara resmi lainnya. Tarian tari Galombang kreasi atau tari Pasambahan telah dibuat lebih sederhana dari tari galombang yang asli. Durasinya pun cenderung lebih pendek. Galombang kreasi kini berkembang pesat, bagaikan menjamur di musim hujan, meliputi persebaran dan frekuensi pementasan, fungsi dan bentuk penyajiannya. Hampir semua wilayah perkotaan di Sumatera Barat kini mengenal tari Galombang kreasi ini.

Masyarakat di setiap wilayah bahkan seolah-olah berlomba-lomba menampilkannya. Hampir tidak ada resepsi besar yang berlalu tanpa kehadiran Galombang kreasi. Fungsinya pun turut berkembang beriringan dengan aspek-aspek yang lain. Kehadirannya selalu digunakan untuk penyambutan tamu, terutama dalam kemeriahan resepsi pernikahan. Tidak hanya untuk menyambut tamu dan memeriahkan resepsi pernikahan, tari ini juga disajikan untuk kepentingan pariwisata, menandai peresmian suatu bangunan, atau sebagai penanda pembukaan instansi tertentu. Bagi acara tertentu di kalangan pejabat pemerintah tari galombang selalu digunakan untuk menyambut camat hingga Presiden,

Berbeda dengan tari Galombang, koreografi tari Pasambahan sudah tertata secara profesional, sehingga dapat memberikan sajian estetis kepada tamu dan merupakan kebanggaan pula bagi yang punya acara jika dapat menjemput tari galombang untuk disajikan kepada tamunya. Semakin bervariasi koreografi tari galombang yang ditarikan dalam sebuah pesta, semakin tinggi pula kebanggaan atau “gengsi” seseorang atau semakin tinggi nilai penghormatan kepada tetamu. Ada pula yang berpendapat, kedua tari ini dapat dibedakan. Tari Galombang disajikan di luar ruangan, sedang tari Pasambahan untuk dalam ruangan. Wallahualam.


Redaksi teraSeni berterimakasih jika teman-teman berkenan meninggalkan komentar, namun mohon untuk meninggalkan komentar yang tidak melanggar batas-batas etika, HAM, SARA dan tindak kriminal. Terimakasih.
EmoticonEmoticon