Sabtu, 17 September 2016

Perempuan sebagai Tonggak Kebudayaan Maritim Melayu Nusantara: Sebuah Refleksi

Sabtu, 17 September 2016 | teraSeni~

Menghadapi percaturan global kita harus mampu merajut masa lalu untuk membangun masa depan yaitu dengan menggali, mengkaji, dan mengolah potensi budaya lokal, misalnya Melayu, sebagai modal agar mampu bersaing dalam percaturan global.


Sepenggal kalimat tersebut di atas merupakan salinan bagian awal abstraksi dari kertas kerja Prof. Dharsono pada seminar yang diselenggarakan oleh Program Pascasajana ISI Padangpanjang dalam menyambut Ulang Tahun Emas lembaga pendidikan seni tersebut yang ke-50, dengan tema “Pemikiran Seni Peradaban Melayu” di gedung pertunjukan Hurijah Adam (29/10/2015). Prof. Dharsono atau yang akrab disapa Prof. Dhar memulai pembicaraan hangatnya sebagai keynote speaker di sesi awal seminar dengan melantunkan sepenggal lirik lagu, “nenek moyangku orang pelaut”.

perempuan maritim malahayati
Lukisan Laksamana Malahayati (Diedit dari Lukisan
karya Doddy S), Laksamana Perempuan Asal Aceh
(Sumber: www.israindonesia.org)


Penelaahan pun muncul terkait kata ‘nenek’ pada lirik lagu tersebut. “Kenapa yang diakui nenek? Bukankah yang pergi melaut itu ‘kakek’ (barangkali laki-laki)?”, tanya beliau.
Prof. Dhar mengakui ada sisi kerumitan tersendiri dalam menelaah hal tersebut, terutama untuk menjadikan ‘orang pelaut’ itu nenek. Kemudian beliau kembali mempertanyakan, “ada apa dengan nenek dan kakek? Kenapa justru nenek yang mendapat pengakuan dalam lagu tersebut?” tambahnya. Untuk menjawab rasa penasaran dari pertanyaan tersebut, Prof. Dhar mengiring para peserta seminar pada bahasan mengenai ajaran kebudayaan Melayu tentang nenek moyang yang juga menjadi ajaran budaya Nusantara.

Menurut beliau, hampir 70% kesenian di Nusantara (khususnya Sumatera) dibentuk di wilayah pesisir – pesisir laut maupun pesisir sungai (daerah Maritim). Disebut juga kesenian maritim, karena dibentuk oleh aktivitas sosio-kultural masyarakatnya, terutama oleh kaum ibu. Apabila seorang bapak pergi melaut mencari ikan dalam waktu yang singkat, misalnya satu malam atau beberapa hari, ibu (istri) akan menunggu bapak pulang dari melaut sembari menyongket, menenun, dan menyulam. Maka dari itu, ibu/nenek (perempuan) dianggap berjasa dalam menumbuhkan kebudayaan maritim Melayu Nusantara dengan beberapa alasan.

Ada beberapa faktor yang menyebabkan mengapa perempuan sangat memiliki peran penting dalam membangun sisi-sisi kebudayaan maritim yang disebutkan Prof. Dhar. Salah satu alasannya adalah sistem monarki absolut yang biasa diterapkan dalam kehidupan keraton di Jawa, yang ternyata juga terpelihara di rumah-rumah dan dianut oleh keluarga-keluarga masyarakat maritim di Nusantara. Kekuasaan laki-laki memang terlihat sangat dominan, dan di dalam sistem tersebut, sosok ayah merupakan penguasa di dalam keluarganya.

Sebuah pengalaman kemudian diceritakan Prof. Dhar yang ketika kecilnya diasuh oleh nenek. Beliau mengingat setiap pagi neneknya bangun subuh-subuh sekali menyiapkan sarapan untuk suami dan cucunya. Ketika kakeknya pergi ke kantor, nenek bersiap-siap di depan alat-alat batiknya, dan selanjutnya nenek membatik sampai sang kakek pulang, cerita Prof. Dhar dengan logat Jawa yang kental. Beliau kemudian menambahkan bahwa: “perempuan Jawa harus pintar membatik jika ingin bersuamikan seorang priyayi”.

Istri seorang nelayan nyongket, nyulam, atau nenun, ketika suaminya pergi melaut, sementara istri seorang priyayi akan mbatik ketika suaminya berangkat bekerja. Pada dasarnya polanya sama, bedanya hanya siang dan malam; pesisir dan pedalaman. Keduanya merupakan wujud pengabdian seorang istri terhadap suami kemudian beralih kepada pengabdian keluarga,  pengabdian darma kepada tuhan, dan telah menjadi ajaran nenek moyang orang Nusantara. Hal demikian tidak hanya terjadi hanya beberapa tahun, namun telah terbentuk sejak berabad-abad yang lalu. Lantas apakah dapat kita katakan bahwa, ‘pahlawan’ serta yang menjadi ‘tonggak’ dari kebudayaan (Maritim) Melayu Nusantara adalah perempuan?, ya bisa dibilang begitu.

Selanjutnya, disinggung pula tentang ajaran kebudayaan Melayu perihal ibu, nini, dan mama. “Seorang ibu telah ‘mempertapakan’ anaknya selama sembilan bulan sepuluh hari dalam kandungannya, melewati proses melahirkan yang amat sangat berat – antara hidup dan mati – “perang sabil”, sebut Prof Dhar. “Ibu juga menyusui selama lebih kurang dua tahun, menyuapi anaknya selama empat (puluh) tahun,”  guyon Prof. Dhar.

Pada intinya, beliau  melihat begitu pentingnya peranan ibu tanpa mengenal batas usia dalam membimbing anaknya. Makanya sosok Ibu, nini, mama tidak hanya dihormati tapi juga dimuliakan dalam kebudayaan Melayu Nusantara. Sikap tersebut kemudian tercermin dalam beberapa konsep-konsep lokal seperti bundo kanduang di Minangkabau, dan juga terukir dalam beberapa relief Candi Sukuh yang mengambarkan perjuangan seorang ibu, nini, dan mama dalam memperjuangkan anak-anak bangsa yang nantinya akan berperan sebagai pemelihara keberlangsungan kebudayaan Nusantara. “Konsep dan ajaran tersebutlah yang nantinya harus menjadi landasan dalam bekarya - menciptakan karya seni,” sebutnya.

Ada ajaran mengenai ibu bumi – bopo angkoso (ibu bumi – bapak angkasa). Sebuah konsep kosmologi yang dianut oleh beberapa suku murba di Nusantara, salah satunya adalah suku di Sumbawa yang mempercayai tentang adanya konsep hubungan antara dunia tengah – dunia atas – dan dunia atas. Dalam do’anya: ya bapa yang tengkurep –telentang lah,  ya ibu yang tengkurep – telentanglah, lihatlah anakmu yang sedang menderita. Dalam anggapannya, manusia dan semua makhluk hidup di bumi adalah ‘anak’ dari ‘bapak angkasa’ dan ‘ibu bumi’. “Ibu dianalogikan sebagai bumi, maka dari itu seorang ibu mampu meredam, mampu menutupi segala sesuatu yang berkaitan dengan anak dan bapak – sangat luar biasa”, ujar Prof. Dhar. Maka disebutlah dia (ibu) sebagai bumi, hingga tercipta konsep ‘ibu pertiwi’ dalam falsafah yang dikenal sebagai ‘ibu bumi – bapak angkasa’ di Nusantara.

Fenomena kebudayaan Melayu Nusantara yang diamati dan ditelaah oleh Prof. Dharsono sebagai seorang guru besar filsafat seni di ISI Surakarta seperti yang disebutkan di atas bisa menjadi sebuah acuan yang patut kita direnungkan kembali dalam melihat kebudayaan itu dengan segela keelokannya yang penuh nilai. Hal itu juga merupakan sebentuk rangsangan yang ditujukan kepada seluruh pihak – khususnya bagi kalangan akademisi seni untuk melahirkan ide-ide kreatifnya dalam menciptakan karya-karya seni yang bersandarkan kepada nilai-nilai budaya lokal yang sangat kaya. Dalam pandangannya, “untuk mencapai (yang) global, wajib baginya untuk melakukan studi lokal”.

Menyisiri kearifan-kearifan budaya lokal – terutama mengenai konsep perempuan di kebudayaan (Maritim) Melayu Nusantara adalah modal utama (aset ide) dalam menciptakan sebuah karya seni yang nantinya bisa menembus ruang-ruang global. Riset yang mendalam adalah sebentuk tawaran yang diajukan Prof. Dhar guna lebih memaknai sisi-sisi lain yang tak tersentuh dalam sebuah kebudayaan yang nantinya akan menjadi ide dan gagasan bagi seorang pengkarya di berbagai bidang seni. Maka dari itu, kertas kerja yang disajikannya dengan judul “Ideologi Global” dalam Seminar Nasional “Pemikiran Seni Peradaban Melayu” yang berlangsung satu hari dengan beberapa pemakalah pendamping tersebut bisa menjadi acuan pemikiran dalam ruang filsafat dan seni untuk ke depan bagi lembaga-lembaga yang bergerak dalam bidang praktik dan kajian seni khususnya.



Redaksi teraSeni berterimakasih jika teman-teman berkenan meninggalkan komentar, namun mohon untuk meninggalkan komentar yang tidak melanggar batas-batas etika, HAM, SARA dan tindak kriminal. Terimakasih.
EmoticonEmoticon