Sabtu, 05 November 2016

The Power of Art Festival: Menonton Keberagaman Pengalaman akan Tubuh

Dihelat di akhir bulan Oktober, sebuah rangkaian festival bertema The Power of Art menggelar salah satu pertunjukan bertajuk Divergent of Embodiment (29/10/2016). Bertolak dari kesadaran atas keberagaman akan pengalaman tubuh—baik secara personal ataupun komunal—yang tertaut perihal kultural, sosial, dan kontekstual lainnya, menjadi wacana dalam membingkai dua nomor teater dan satu nomor tari. Alhasil berbicara tentang tubuh tidak hanya merujuk pada tubuh anatomis, namun tubuh yang dikonsepsikan oleh pelbagai kontekstual turut terjalin.

Diselenggarakan dalam rangka Dies Natalis ke-25 Program Studi Pengkajian Seni Pertunjukan dan Seni Rupa (PSPSR), Universitas Gadjah Mada, ini berkeinginan untuk menerapkan wacana ‘daya seni’ yang berkaitan dengan pelbagai faktor di luar seni. Alih-alih hanya berupa wacana yang diproduksi dari meja seminar ataupun konferensi, PSPSR turut mengandalkan praktik seni sebagai medium dalam menyampaikan gagasan tersebut. Dihelat di Gedung Lengkung, Sekolah Pascasarjana, UGM, PSPSR mempercayakan hal ini pada dua teatrawan, yakni Tony Broer dan Wendy HS--dengan Teater Tambologi Padangpanjang--, serta satu koreografer yang sedang di puncak popularitas, Eko ‘pece’ Supriyanto. Tanpa bersusah mengikuti tajuk yang dibuat, tiga seniman ini telah memberikan keberagaman tubuh dengan sendirinya, dan bersinergis mengokohkan Divergent of Embodiment.

Teater Tambologi dalam Festival The Power of Art 2016-teraSeni
Wendy HS, Emri Rky Mulia, dan Leva Kuldi Balti
dari Teater Tambologi Padangpanjang
dalam karya Jilatang is Installed

Satu Tubuh Beragam Pertunjukan
Dibuka dengan pertunjukan Tony Broer, pergelaran telah terasa berbeda, karena Tony sudah memulai pertunjukan sejak penonton berdatangan. Tony Broer adalah seorang pekerja teater, yang terinspirasi Butoh—sebuah kesenian di Jepang—, yang akhir-akhir ini mengandalkan tubuhnya sebagai medium seninya. Dalam karya yang berjudul Tu(m)buh, Tony benar-benar memaksimalkan atas kemampuan apa yang dipunya untuk menghantarkan sebuah perasaan melalui tubuh sebagai mediumnya.

Dihelat di salah satu halaman di Sekolah Pascasarajana, UGM, pertunjukan memang tidak di-setting layaknya pertunjukan dengan panggung ala proscenium. Lebih-lebih, tanpa MC (master of ceremony) yang lazimnya mempersilahkan penonton—sekaligus mengkonstruksi pertunjukan telah dimulai dan berakhir—, pertunjukan berjalan begitu saja tanpa adanya arahan. Dalam pertunjukan tersebut, Tony telah memulai merubah paradigma akan pertunjukan biasanya.

Dengan mempersilahkan penonton duduk, lalu ikut men-setting lampu, bahkan bermain dengan properti yang telah menjadi artistik, membuat penonton mulai bertanya-tanya apakah pertunjukan telah dimulai. Beberapa menit setelahnya, Tony mulai memasuki ruangan dan melepaskan pakaian yang ia kenakan. Ia kembali ke luar layaknya telah bersiap. Tony mulai meminta handphone salah satu penonton dan mengajak selfie beberapa penonton lainnya.

Di sisi yang lain seorang pemain biola menatapnya dari kejauhan. Mulai memainkan repertoar, Tony mulai menari-nari layaknya seorang balerina. Ia melangkah ke sebuah sisi yang tersedia sebuah tong. Di tengah area pertunjukan Tony, telah terduduk enam penonton yang dipilih secara acak sebelumnya—alih-alih penonton dipersilahkan dengan baik, para penonton yang terduduk di depan telah ditutupi mata dan diikat pada bagian tangan. Pemain biola tadi mulai melangkah mendekati penonton tersebut, tetapi seketika permainannya ‘rusak’, layaknya seorang amatiran yang bahkan tidak dapat menggesek senar dan menciptakan nada.

Tony Broer dalam Festival The Power of Art 2016-teraSeni
Tony Broer,
dalam pergelaran berjudul Tu(m)buh 

Sementara itu, Tony mulai memasuki tong merah tersebut dan menggeindingkannya di antara tangga-tangga. Tong tersebut berputar kencang ke arah penonton hingga kembali ke tengah arena pertunjukan. Lalu ia bangkitkan tong tersebut, dua orang penonton mulai mendatangi dengan sepasang tongkat besi. Tony yang berada di dalam tong tersebut dipukuli dengan keras, bahkan hingga tongkat tersebut bengkok.

Setelahnya ia mendekati penonton yang tertutup matanya, dan sebuah layar mulai tersiar sebuah visual akan perang. Tony yang menggunakan masker mulai mendekati dengan sebilah tongkat. Berinteraksi di antara kerumunan visual video dan penonton, Tony mulai menggeliat seakan merepresentasikan dari visual perang. Pemain Biola tadi lantas berjalan menuju sisi yang lain. Berdiri di sebuah bangku, ia mulai memainkan nada-nada minor dan lirih, setelahnya Tony mulai mendekati. Terdapat tiga lembar seng kotor dan berkarat. Lantas ia mendekat, berguling, dan melakukan interaksi dengan seng tersebut. Di sinilah klimaks dari pertunjukan Tony.

Namun alih-alih pertunjukan usai, Tony mengajak penonton untuk naik ke lantai lima di gedung Lengkung. Menadah sebuah seng di atas kepalanya, Tony memimpin barisan penonton untuk naik ke lantai paling atas di gedung tersebut. Berjalan menaiki tangga hingga di lantai empat gedung, tiga orang menunggunya. Tiga orang tersebut lantas mengucap mantra di hadapan Tony. Tony mulai kelimpungan dan berjalan tanpa arah. Penonton yang mengikuti di belakangnya lantas dibuat bingung sekaligus terkesan perasaan magis.

Setelahnya Tony dan tiga orang yang adalah penampil dari Teater Tambologi Padangpanjang, sama-sama memasuki ruangan. Tiga orang tersebut masih berucap mantra, sedangkan Tony masih berputar-putar tanpa henti. Sementara itu Penonton mulai memasuki ruangan, Tony mulai menepi dan keluar dari area pertunjukan. Tiga orang tadi yang adalah Wendy HS, Emri, dan Leva Balti dari Teater Tambologi Padangpanjang.

Setelah mengucap mantra dan mempersilahkan penonton untuk duduk di setiap tempat yang telah disiapkan, Wendy mulai mengucap dengan lantang Jilatang is Installed. Seketika mereka terhenti. Setelahnya ia mulai menepuk bagian bawah kain yang mereka kenakan, metode yang mirip dengan kesenian Tepuk Galembong dalam kesenian Randai. Bertumpu pada akustik ruang, Wendy, Emri, dan Leva seakan bersinergi dengan gerak dan musik ritmis yang diciptakan oleh mereka secara sederhana.

Usut punya usut, hal yang menarik adalah terma Jilatang erat hubungannya dengan tanaman Jelatang yang menyebabkan gatal. Alhasil gerak yang dibuat khayalnya Tepuk Galembong tadi adalah bentuk kausalitas akan respon gatal, yang turut menciptakan daya estetik geraknya sendiri. Selain gerak, Wendy turut mengandalkan praktik bermonolog, suara lantang dan garang Wendy HS seakan bersinergis dengan segala interaksi menjadi pertunjukan yang utuh dan menarik. Berlatarbelakang Minangkabau, pertunjukan Wendy memberikan impresi kultural yang kuat.

Tra.Jec.To.Ry, Eko Supriyanto dalam Festival The Power of Art 2016-teraSeni
Para pneri dalam Tra.Jec.To.Ry
karya Eko Supriyanto

Sedangkan pertunjukan yang dipilih untuk menutup rangkaian keseluruhan Dies Natalis 25 tahun ini adalah repertoar Tra.Jec.To.Ry karya Eko Supriyanto. Bernafaskan pencak silat, Eko secara cermat menarik esensi dari silat dengan impresi maskulin dan gerak repetitif. Dalam karyanya, Eko tidak lagi mempertunjukan gerak ansih pencak dan silat selama pertunjukan. Eko justru memformulasikan gerak-gerak baru yang tidak kalah kuat, walau hanya dengan berputar, ataupun bergerak secara serentak antar satu pemain dengan pemain lainnya. Kendati ciri khas silat sudah samar-samar terlihat, namun dalam karya ini Eko telah memberikan sebuah gambaran tubuh reflektif dalam menyikapi kebudayaan. Sebuah cara pandang Eko dalam menyikapi budaya dan mengintisarikannya menjadi sebuah sajian tari baru dalam bingkai kontemporer.

Satu Tubuh Beragam Tinubuh
Dari ketiga pertunjukan tersebut, kita dapat melihat bahwa tubuh memiliki pengalaman yang ‘menubuh’ (selanjutnya akan disebut tinubuh)—baik disadari ataupun sebaliknya. Pengalaman tersebut lantas tidak tunggal, melainkan beragam, seperti halnya, kultural, sosial, dan pelbagai kontekstual lainnya. Alih-alih merujuk pada satu tinubuh, ketiga pertunjukan seakan memberikan sebuah gambaran yang jelas akan perbedaan tinubuh. Sebut saja, Tony Broer yang lebih mengandalkan pengalaman tubuh personal dalam merespon pelbagai interaksi, dan ia bahkan ingin memberikan pengalaman tersebut melalui tubuh; atau Wendy HS yang lebih merujuk pada pengalaman kultural dan ekologis di Minangkabau; sedangkan Eko Pece lebih memperlihatkan pada pengalaman personalnya akan silat yang ia pelajari sedari dulu. Pengalaman tersebut membentuk tinubuh bagi personal ataupun komunal.

Bertolak dari keberagaman tinubuh ini, secara lebih lanjut kita dapat melihat bahwa tubuh yang melakukan praktik seni dapat memberikan sebuah tawaran baru pada pelbagai kontekstual di luar seni itu sendiri. Di mana melalui seni—khususnya tubuh—dapat memberikan sebuah pengalaman baru dalam menyikapi pelbagai kehidupan. Merujuk ketiga pertunjukan, kendati tidak semua karya bukan kali petama dihelat, namun karya-karya terpilih seakan dapat memberikan pesan yang ingin disampaikan bahwa seni dapat menunjukan keberagaman tubuh manusia yang tidak dapat dilihat oleh pelbagai sudut pandang lainnya. Dan di sinilah seni mempunyai daya untuk memberikan kesadaran akan kehidupan, baik atas masa lalu, masa kini, ataupun masa mendatang.

   

Redaksi teraSeni berterimakasih jika teman-teman berkenan meninggalkan komentar, namun mohon untuk meninggalkan komentar yang tidak melanggar batas-batas etika, HAM, SARA dan tindak kriminal. Terimakasih.
EmoticonEmoticon