Kamis, 17 November 2016

Tomorrow As Purposed; Tragedi Macbeth dalam Ritual Panggung Melati Suryodarmo

Kamis, 17 November 2016 | teraSeni~


Berpakaian merah menyala, seorang perempuan terlihat berdiri mematung di tengah panggung sambil memegang sebentuk hati di depan tubuhnya. Sesaat kemudian, terdengar riuh bunyi tetabuhan yang dipukul keras dengan tempo cepat. Perempuan tadi perlahan menaiki undakan memanjang di atas panggung. Pada saat bersamaan, terlihat lima tubuh berbalut baju hitam-hitam berjalan sangat pelan dari arah kiri panggung. Tubuh-tubuh itu seakan tidak menapak, bergerak dengan sangat ringan dan pelan. Kelima sosok itu terlihat berkomunikasi dengan perempuan tadi melalui narasi yang dinyanyikan. Setelah itu, suasana kembali senyap. Perempuan tadi lenyap di balik panggung dan lima sosok tadi bergerak ke arah downstage dan berdiri di sepanjang bibir panggung.

Perlahan kelimanya menarik ujung kain bawahan yang mereka kenakan, menariknya ke arah depan hingga menyelimuti tubuh masing-masing, menciptakan sosok-sosok asing menyerupai penyihir. Dalam balutan kain serba hitam, kelimanya perlahan menarik celana panjang tipis yang dikenakan, dan tanpa diduga dari celana itu berjatuhan paku-paku kecil yang menghasilkan bunyi-bunyi-bunyi logam berjatuhan yang terdengar magis.

Tomorrow As Purposed Melati Suryodarmo-teraSeni
Salah Satu Adegan
dari Tomorrow As Purposed
karya Melati Suryodarmo
(Foto: Erwin Octavio)
Adegan tersebut mengawali pertunjukan Tomorrow As Purposed, yang membuka gelaran Indonesian Dance Festival di Teater Jakarta-Taman Ismail Marzuki pada 1 November 2016 silam. Judul Tomorrow as Purposed sendiri diambil dari kata-kata seorang penyihir dalam lakon Macbeth karya Shakespeare, yang meramal Macbeth kelak akan menjadi seorang raja. Ramalan dari para penyihir inilah yang mengawali terjadinya tragedi perebutan kekuasaan yang berujung pada kehancuran.

Diadaptasi dari naskah drama karya William Shakespeare yang berjudul Macbeth,  Melati Suryodarmo seorang performance artist asal kota Solo, membawa penonton ke dalam sebuah pertunjukan bernuansa ritual yang menegangkan. Babak demi babak mengalir mendebarkan. Tubuh-tubuh dihadirkan secara misterius dan dialog-dialog panjang diubah menjadi nyanyian yang memilukan. Kisah  dibagi ke dalam empat babak yang mencekamkan; ada penyesalan, pengkhianatan, dan gambaran tentang masa depan yang suram. Situasi dimana batas antara realitas dan spiritualitas menjadi sulit untuk dibedakan. Kisah tragedi abad pertengahan tersebut diangkat kembali oleh Melati Suryodarmo ke dalam bentuk pertunjukan yang menggabungkan unsur teatrikal, tari dan musik.  Masih dengan kisah yang sama, namun dengan sudut pandang dan tafsiran yang berbeda. Dalam versi Shakespeare, Macbeth adalah tokoh tragedi yang mengundang rasa simpati, namun di tangan Melati, tragedi itu didramatisir kembali ke dalam pertunjukan bernuansa mistis.

Tomorrow As Purposed Melati Suryodarmo-teraSeni
Melati Suryodarmo
turut tampil dalam karyanya
Tomorrow As Purposed

(Foto: Erwin Octavio)

Tomorrow As Purposed tidak lagi menghadirkan kisah Macbeth melalui dialog-dialog panjang yang bagi sebagian orang terasa membosankan. Penonton sebaliknya, disuguhi pertunjukan yang mengubah dialog ke dalam tarian dan nyanyian yang teatrikal. Para pemain berperan sebagai aktor yang mengartikulasikan kata-kata sama bagusnya dengan menembang dan menari. Kelompok paduan suara yang biasanya tampil sebagai backing vocal yang hanya berdiri di sisi panggung, ikut menjadi bagian dari pertunjukan. Belasan penyanyi dihadirkan sebagai tubuh-tubuh asing berbalut kain tipis berwarna gelap. Tubuh-tubuh itu bergerak bebas di tengah panggung, menyanyikan musik klasik bernuansa Gregorian dari abad pertengahan yang menghanyutkan, tetapi di saat lain tubuh-tubuh tadi berubah menjadi bagian dari narasi yang disampaikan.

Kisah Macbeth adalah naskah drama tragedi yang ditulis oleh Shakespeare berabad-abad silam yang mengangkat kembali realitas kehidupan masyarakat abad pertengahan yang kelam, dimana praktik sihir dan ritual bukanlah hal yang asing pada masa itu. Tommorrow as Purposed berhasil mengangkat kembali kisah kelam abad pertengahan itu ke dalam pertunjukan kontemporer, sehingga terasa sangat aktual dengan kondisi Indonesia hari ini. Kisah tentang penyihir dan konspirasi jahat akan kekuasaan menemukan relevansinya dengan situasi dimana banyak orang, bahkan kalangan terpelajar, lebih percaya pada kekuatan-kekuatan gaib untuk memperoleh kesuksesan dan materi daripada akal sehat.

Macbeth yang dikisahkan oleh Shakespeare beralih wahana menjadi pertunjukannya Melati Suryodarmo. Dengan mengandeng  Naoki Iwata aka Skank asal Jepang dan Paduan suara Voca Erudita dari Universitas Sebelas Maret Surakarta yang tampil begitu memukau, Melati Suryodarmo memberi tafsir baru terhadap kisah Macbeth ke dalam ritual panggung yang menyihir. Melati juga memberikan kejutan-kejutan kecil berupa kepingan-kepingan adegan yang tidak terkait dengan narasi Macbeth. Kejutan yang mengusik kesadaran penonton seperti cerita tentang perempuan dan highheelsnya, atau pun dialog yang mengutip pernyataan Hatta yang terdengar menentramkan, “Aku ingin membangun dunia, dimana semua orang merasa bahagia di dalamnya.”

Tomorrow As Purposed Melati Suryodarmo-teraSeni
Adegan menarik dari  
Tomorrow As Purposed
karya Melati Suryodarmo
(Foto: Erwin Octavio)

Sebagai seorang seniman yang dibesarkan dalam kultur Jawa yang sinkretik, Melati Suryodarmo sendiri memiliki kedekatan terhadap hal-hal yang berbaru ritual. Setelah pertunjukan, seorang teman memberi kabar yang mengejutkan bahwa hati sapi yang dihadirkan ke  atas panggung adalah hati sapi mentah. Sebuah hal yang tidak lazim dalam panggung pertunjukan kontemporer di Indonesia. Aksi panggung Melati mengingatkan pada sejumlah seniman eksperimentalis seperti Tatsumi Hijikata dan Katherine Dunham yang melakukan ritual-ritual magis  dan praktik sihir (vodoo) yang mengejutkan di atas panggung. Walaupun tidak se-ekstrem itu, Melati berhasil membawa idiom-idiom ritual dengan rasa lokal seperti paku-paku yang berserakan dan narasi tentang ayam yang mengingatkan pada kisah Roro Jongrang yang gagal dipinang oleh Prabu Bondowoso, gara-gara ayam berkokok mendahului pagi. Dengan menghadirkan kembali  ungkapan yang pernah dilontarkan oleh Soekarno, Tomorrow As Purposed seperti mengembalikan kembali kesadaran akan akal sehat,  “Ya, bukan karena kokok ayam matahari terbit, tetapi karena matahari terbitlah, ayam berkokok.”

Pernah dimuat di Harian Padang Ekspres, Edisi Minggu, 13 November 2016


Redaksi teraSeni berterimakasih jika teman-teman berkenan meninggalkan komentar, namun mohon untuk meninggalkan komentar yang tidak melanggar batas-batas etika, HAM, SARA dan tindak kriminal. Terimakasih.
EmoticonEmoticon