Sabtu, 31 Desember 2016

Khuldi, Refleksi Teater ESKA atas Fenomena Partikularitas

Sabtu, 31 Desember 2016 | teraSeni~


Teater ESKA pada tanggal 04 Januari 2017 ini akan  melaksanakan Pentas Produksi XXXIII di Concer Hall, Taman Budaya Yogyakarta. Pentas yang akan dimulai pada pukul 19.30 WIB ini merupakan pungkasan dari pentas keliling tiga kota sebelumnya, yakni Purwokerto, Bandung, dan Bogor. Berturut-turut dari tanggal 12, 14, dsn 16 Desember 2016. Di Purwokerto pentas ini dilaksanakan di GSC IAIN Purwokerto, Bandung di Rumentang Siang, dan Bogor di Auditorium Toyib Hadiwijaya Fakultas Ekologi dan Manusia kampus IPB Dramaga.

Pementasan Khuldi Teater ESKA-teraSeni
Salah Satu Adegan dalam Khuldi,
Pementasan Teater ESKA, Sutradara Zuhdi Sang

Teater ESKA, yang telah berdiri sejak 1980an, melalui karya ini mengangkat isu sosial pasca reformasi dalam pentas berjudul KHULDI. Disutradarai oleh Zuhdi Sang, KHULDI merupakan teks yang diciptakan bersama oleh tim kreatif Teater ESKA, dengan penulis naskah Zuhdi Sang dan Ghoz TE, dua anggota aktif Teater ESKA. Ahmad Kurniawan, lurah Teater ESKA saat ini mengatakan, KHULDI menandai bahwa Teater ESKA terus produktif dan yang terpenting tetap berpegang pada satu prinsip bahwa spirit karya Teater ESKA tidak lepas dengan kajian keislaman. “Kami kelompok kesenian yang berbasis kajian keislaman seperti filsafat Islam, sejarah, dan sebagainya. dan kami juga terbuka pada alternatif kajian lain seperti kritik ideologi dan kajian budaya,” tutur Kurniawan.

Sementara terkait segmentasi penonton, Ramadan MZ, pimpinan produksi, menyatakan bahwa harapannya KHULDI ditonton semua kalangan, seperti masyarakat umum, pelajar maupun mahasiswa, akademisi atau pemerhati sosial dan sebagainya. Sebab isu yang dibawa pentas ini sangat relevan mengingat hari ini marak terjadi konflik horizontal di tubuh masyarakat. Baik konflik beda keyakinan atau agama, beda paham politik atau suku, maupun konflik disebabkan kepentingan ekonomi dan perbedaan klub sepak bola yang didukung. Karena itu KHULDI menjadi penting, sebagai tontonan KHULDI juga tajam membaca fakta sosial. “Kita semakin terpecah-pecah justru ketika kebebasan berpendapat yang tak ternilai harganya itu hadir di tengah masyarakat kita. Padahal tidak seperti ketika Orde Baru yang sedikit sekali ruang kebebasan,” kata Ramadhan MZ, sekaligus menjelaskan latar belakang pementasan KHULDI.

Pementasan Khuldi Teater ESKA-teraSeni
Salah Satu Adegan dalam Khuldi,
Pementasan Teater ESKA, Sutradara Zuhdi Sang

Faktanya, masyarakat terpecah-pecah karena partikularitas kelompok dan partikularitas nilai yang dianutnya. Memang tidak bisa dipungkiri bahwa keberagama partikular adalah syarat terbentuknya masyarakat, tetapi jika salah memahami keberagaman, keterpecahan tak lagi terelakkan. Itulah yang terjadi. Mengutip pemaparan sutradara, Zuhdi Sang, maka seperti suatu bangunan yang runtuh, kita kembali tergeletak di antara 'ketiadaan' sosial dan pertanyaan besar tentang apa itu masyarakat, bagaikan bongkahan batu yang berserak dan bergerak demi menentukan nasib sendiri.

KHULDI, merupakan metafora Teater ESKA atas kegagalan pemaknaan, pemujaan berlebihan kepada objek, dan keruntuhan sosial. Sebagaimana kisah Adam dan Hawa, demi adanya dunia maka buah terlarang itu harus ada. Dengan kata lain, di satu sisi keberagaman sebagai "khuldi-khuldi" adalah hal yang niscaya atau bahkan syarat bagi terbentuknya masyarakat. Namun di sisi lain ia adalah sumber petaka jika kita gagal dalam menyingkap makna atau nilainya. Berdasarkan hal itu, maka pementasan KHULDI pada dasarnya adalah sebuah refleksi atas perjalanan nasib sosial kita hari ini.

Redaksi teraSeni berterimakasih jika teman-teman berkenan meninggalkan komentar, namun mohon untuk meninggalkan komentar yang tidak melanggar batas-batas etika, HAM, SARA dan tindak kriminal. Terimakasih.
EmoticonEmoticon