Jumat, 20 Januari 2017

Festival Sebagai Ruang Aktualisasi Diri: Menonton Penonton Pasar Keroncong Kotagede 2016

Jumat, 20 Januari 2017 | teraSeni.com~


In the last decade of the twentieth century in particular, all continents not only witnessed a surge in the number of annual festivals, but also a diversification in the types of festival that became a mainstay of cultural calendars, as well as diversification in local and global festival audiences. As an increasingly popular means through which citizens consume and experience culture, festivals have also become an economically attractive way of packaging and selling cultural performance and generating tourism.

(Picard & Robinson, via. Bennet, 2006: 1)

Meningkatnya kompleksitas kehidupan di masa kini membuat masyarakat semakin terkurung dalam kegiatan rutin, yang bagi kebanyakan orang tentunya menjenuhkan dan membosankan. Tentunya cara mengatasi kejenuhan yang dialami setiap orang berbeda-beda. Salah satu dari sekian banyak cara untuk menghilangkan kejenuhan dari rutinitas yang sama itu adalah dengan mengunjungi festival-festival yang ada di berbagai tempat. Kini, festival bukan lagi hanya peristiwa mengapresiasi suatu bentuk pertunjukan seni tertentu, namun juga merupakan tempat untuk mengaktualisasikan diri, yang dilakukan secara individu maupun secara kolektif.

Saat ini berbagai kota di seluruh Indonesia memiliki agenda festival yang terjadwal setiap tahunnya. Masyarakat dengan mudah dapat mengakses info tentang festival itu melalui berbagai macam media cetak dan elektronik. Banyaknya festival yang diselenggarakan di berbagai kota di Indonesia merupakan suatu kemajuan yang positif, karena melalui festival-festival itu, masyarakat dapat mengalami dan merasakan langsung dampak yang diberikan dari festival, baik itu dampak terhadap bidang ekonomi, maupun sosial dan politik.

Suasana Pengunjung
di Pasar Keroncong Kotagede 2016

Jenis festival pun semakin beragam, menawarkan pelbagai hal kepada pengunjung, mulai dari materi pertunjukan hingga kemasan artistik yang disajikan. Ros Derrett (2009) bahkan mengatakan bahwa festival memiliki peranan penting dalam kehidupan kebudayaan dari masyarakat masakini, karena festival muncul dari budaya lokal masyarakat tertentu yang mengizinkan masyarakat dan pengunjung untuk saling berinteraksi melalui apa yang mereka ciptakan dalam festival.
Dari berbagai macam fasilitas atau layanan yang diberikan oleh penyelenggara festival untuk memberikan sajian menarik bagi para pengunjung salah satunya adalah dengan membuatkan tampilan dekoratif yang menarik di beberapa tempat sehingga bisa digunakan sebagai tempat untuk berfoto oleh pengunjung. Hal ini tentunya menjadi bagian dari strategi penyelenggara festival untuk membuat pengunjung lebih tertarik datang ke festival dan menghabiskan waktu bersama keluarga ataupun teman. Sehingga, pengunjung menjadikan festival bukan hanya untuk menonton suatu pertunjukan seni tapi kemudian festival juga dijadikan sebagai tempat bermain dan menjadi bagian dari aktifitas yang memang diperlukan untuk sekedar mengalihkan perhatian dari rutinitas yang menjenuhkan.

Pengunjung Festival dan Aktifitasnya
Memasuki penghujung tahun 2016 pada tanggal 3 Desember, sebuah festival yang berjudul Pasar Keroncong Kotagede digelar di Kotagede, Yogyakarta. Selain  menampilkan grup orkes keroncong dari berbagai kota di pulau jawa, pada tahun kedua ini Pasar Keroncong Kotagede juga menampilkan beberapa penyanyi kondang lintas genre, seperti genre music jazz dan balada. Festival ini menggunakan tiga panggung utama yang didirikan pada tempat yang berbeda, untuk menyaksikan pertunjukan dari satu penampil ke penampil lainnya, pengunjung harus rela berjalan kaki.

Salah satu penampilan
di Pasar Keroncong Kotagede 2016

Pasar Keroncong Kotagede kali kedua ini dimulai dari selepas sore hingga sebelum larut malam. Konsep yang ditawarkan Pasar Keroncong Kotagede kali ini berbeda dari tahun sebelumnya sehingga memiliki daya Tarik tersendiri bagi masyarakat diluar Kotagede untuk datang dan menikmati festival ini, bahkan pengujung terus berdatangan sampai festival ini berakhir.
        
Salah satu yang menjadi daya tarik dari festival ini adalah banyaknya tempat atau ruang yang disiapkan oleh pihak penyelenggara festival untuk pengunjung bisa berfoto mengabadikan peristiwa. Dekorasi-dekorasi menarik yang dihadirkan membuat pengunjung tidak ingin kehilangan momentum peristiwa dari Pasar Keroncong Kotagede. Bagi sebahagian pengunjung, terutama generasi muda, merupakan suatu kesempatan untuk bisa berfoto selfie ditempat yang telah disediakan. Tidak sedikit dari pengunjung yang datang pada saat itu untuk melakukan selfie, baik secara perseorangan, berpasangan dan juga bersama kelompok rombongan. Aktifitas selfie ini sangat mudah dilakukan, umumnya menggunakan kamera telepon selular yang saat ini bisa dikatakan hampir semua orang memilikinya.

Salah satu dekorasi
yang menarik perhatian Pengunjung 
di Pasar Keroncong Kotagede 2016

Bagi kebanyakan orang, berfoto memang merupakan aktifitas yang menyenangkan, apalagi jika dilakukan bersama orang-orang terdekat seperti pasangan ataupun teman. Keceriaan yang ditimbulkan dari aktifitas berfoto ini sesaat bisa menghilang kejenuhan rutinitas yang dilalui pada hari-hari biasa. Tentu semakin menarik apabila aktifitas berfoto ini dilakukan ditempat-tempat menarik seperti pada saat festival yang mana agenda penyelenggaraan festival biasanya digelar tahunan. Setiap tahun, walaupun pada tempat yang sama digelarnya festival, tentu konsep artistik dekorasi pun akan tidak sama.

Berfoto, dalam hal ini adalah akititas selfie, memang menjadi aktifitas budaya populer dari masyarakat global di abad 21 ini. Storey (2006) mendefenisikan “Budaya Pop” sebagai sesuatu yang “diabaikan” saat kita telah memutuskan sebuah budaya lain yang dapat kita sebut sebagai “budaya luhur. Aktifitas selfie ini tidak hanya dilakukan oleh kalangan anak muda saja bahkan beberapa tahun lalu pejabat negara pun pernah melakukan aktifitas ini dan hasil fotonya pun tersebar luas melalui media massa. Marcy J. Dinius (2015) mengatakan dalam artikelnya bahwa sejarah mencatat aktifitas selfie - aktifitas memfoto atau memotret diri sendiri - sudah dilakukan jauh sebelum ditemukannya ponsel selular. Orang yang melalukan hal ini pertama kali adalah Robert Cornelius, ia mencoba eksperimen selfie ini pada tahun 1839.

Di era teknologi yang semakin modern seperti saat sekarang ini, aktifitas selfie jauh lebih mudah untuk dilakukan, cukup dengan memiliki sebuah ponsel selular (smartphone) aktifitas selfie bisa dilalukan dimana saja. Selfie saat ini seperti budaya populer baru yang mengglobal. Hal ini terjadi karena sangat dipengaruhi oleh kemajuan teknologi, melalui teknologi para pemilik perusahaan-perusahan besar dunia dengan mudah dapat menciptakan budaya baru yang “seragam”. Para pemilik modal melalui pasar yang dibentuknya sangat mudah tentunya menyebarkan budaya yang diinginkannya, dalam konteks ini teori difusi (persebaran) masih sangat relevan untuk melihat fenomena selfie sebagai bentuk budaya populer baru yang mengglobal. Di era serba digital ini, alat telekomonunikasi dan media massa yang kemudian sangat berperan dalam menyebarkan dan membentuk budaya-budaya baru.
 
Konsep lain yang diberikan oleh penyelenggara Pasar Keroncong Kotagede adalah dengan mengadakan lomba foto bagi pengunjung, hadiah yang diberikan pun cukup membuat pengujung tertarik untuk ikut berpartisipasi dalam lomba foto ini. Penyelenggara tidak membuat persyaratan yang cukup sulit, hanya dengan memasukan foto-foto tersebut kedalam jaringan sosial media seperti Instagram, kemudian penyelenggara menentukan pemenangnya. Secara teknis lomba foto ini cukup mudah untuk diikuti, sehingga memotivasi pengunjung untuk berfoto sebanyak mungkin dengan harapan bisa mendapatkan hadiah, tentu aktifitas memotret tersebut selain untuk mengikuti lomba foto yang diadakan, aktifitas tersebut juga dilakukan untuk mengabadikan moment selama berada di festival tersebut.

Perilaku Pengunjung Festival
Usaha yang dilakukan oleh pihak penyelenggara Pasar Keroncong Kotagede 2016 untuk memberikan yang terbaik bagi pengunjung festival tampaknya sangat maksimal. Grup orkes keroncong yang didatangkan dari berbagai kota, plus penyanyi-penyanyi kondang dari berbagai lintas genre. Hal itu masih ditambah pula dengan menyediakan beberapa tempat di kawasan pasar Kotagede yang sengaja disetting dengan sangat dekoratif, merchandise menarik yang dijual dengan harga terjangkau, kemudian ditambah dengan adanya lomba foto yang peserta lombanya bisa diikuti oleh siapa saja bagi mereka yang datang ke festival.

Namun yang menjadi perhatian menarik dari semua itu ialah kenyataan bahwa tidak semua pengunjung datang ke festival untuk menonton pertunjukan musik yang ditampilkan. Banyak dari pengunjung yang datang hanya untuk berfoto dan mengabadikan pertunjukan dengan cara memotret grup orkes keroncong yang tampil, terlebih dengan adanya lomba foto yang diadakan oleh pihak penyelenggara festival.

Dekorasi yang paling diminati
sebagai tempat berfotoi oleh pengunjung 
di Pasar Keroncong Kotagede 2016

Tentu saja, menghadiri dan menikmati festival dengan cara mengabadikan moment dengan berfoto-foto merupakan salah satu cara melepaskan rasa jenuh dari rutinitas sehari-hari. Tapi kemudian muncul pertanyaan apakah pengunjung yang datang hanya untuk menikmati suasana festival dengan cara berfoto bahkan kalau boleh dikatakan datang hanya untuk mengikuti lomba foto yang diadakan tanpa harus menonton dan mengapresiasi seluruh pertunjukan yang ada dapat dikatakan apresian festival?

Jika hal ini benar terjadi, artinya pengunjung hanya tertarik terhadap bentuk lain dari apa yang ditawarkan oleh festival tersebut seperti lomba foto, dan menonton pertunjukan tidak menjadi alasan utama untuk menghadiri festival itu. Terlebih lagi bahwa jenis musik keroncong selalu diasumsikan jenis musik yang digemari generasi tua saja, walaupun pada kenyataannya asumsi ini bisa dikatakan tidak benar setelah melihat apa yang ditampilkan pada perhelatan Pasar Keroncong Kotagede lalu.

Salah satu bentuk dekorasi
yang digunakan sebagai Photobooth
di Pasar Keroncong Kotagede 2016

Berdasarkan fenomena yang terjadi pada festival Pasar Keroncong Kotagede, apa yang dikatakan oleh Jo Mackellar cukup bisa menjelaskan tentang perilaku pengunjung Pasar Keroncong Kotagede, dalam hal ini Jo Mackellar (2014) menggunakan kata partisipan sebagai kata ganti pengunjung, dia mengatakan bahwa partisipan serius (pengunjung) datang ke suatu event khusus yang menarik untuk mencari tantangan baru dalam berbagai aktifitas dan perlombaan.

Merunut pada apa yang dikatakan oleh Mackellar diatas, tentu sebahagian dari pengunjung - walaupun tidak bisa dikatakan semuanya - festival Pasar Keroncong Kotagede tergolong sebagai pengunjung yang berperilaku serius yang datang untuk mencari kesenangan dan tantangan baru dalam berbagai aktifitas dan perlombaan. Jika dikatakan aktifitas ini merupakan bagian dari salah satu cara untuk melepaskan kejenuhan dari rutinitas harian, tentu hal ini juga merupakan solusi yang bisa lakukan pada saat itu.

Tak bisa dipungkiri, memang banyak orang datang mengunjungi festival dengan berbagai alasan dan motivasi yang berbeda-beda. Festival sebagai salah satu aktitas kebudayaan, didalam agendanya juga membentuk “budaya sendiri”, yang bisa diproduksi dengan berbagai cara. Lomba foto yang diadakan oleh Pasar Keroncong Kotagede juga membantu membentuk budaya selfie semakin populer ditengah masyarakat kita saat ini, walaupun sebenarnya budaya memotret diri sendiri (selfie) ini di Indonesia pun juga sudah telah lama ada, paling tidak beberapa tahun belakangan ini.

Lalu aktifitas selfie ini menimbulkan pertanyaan lain, mengapa orang senang berfoto di festival? Udo Merkel (2015) menjelaskan bahwa setiap festival dan event menciptakan dan menawarkan nilai-nilai khusus, yang membantu setiap individu-individu dan masyarakat atau komunitas untuk membuat pengertian tentang siapa mereka. Wacana yang diajukan Merkel itu kiranya cukup menjelaskan bahwa saat ini festival merupakan sebagai penanda kekinian, dan bagi pengunjung berfoto adalah upaya mengindentifikasi diri sebagai orang masa kini.

Setiap penyelenggara festival memang memiliki strategi yang berbeda untuk bisa mendatangkan pengunjung pada festival yang diselenggarakannya. Mengadakan lomba foto pun merupakan salah satu cara untuk mengundang pengunjung datang langsung ke lokasi festival. Dalam konteks ini, mengadakan lomba foto dalam disaat festival sedang berlangsung tentu tidak ada salahnya, pengunjung pun bisa memilih aktifitas apa yang ingin mereka lakukan saat berada dilokasi festival.

Tapi kemudian, jika pengunjung lebih tertarik untuk mengikuti aktifitas lain dari pada hadir untuk menonton sajian pertunjukan yang ada, bagi penyelenggara festival hal ini mungkin perlu dipertimbangkan lagi, karena akan menjadi tidak maksimal jika pengunjung datang hanya untuk mengikuti aktiftas lain sementara agenda inti dari festival seperti menyaksikan penampilan dari berbagai grup musik yang didatangkan kurang menarik perhatian, pertunjukan bukan lagi sebagai agenda utama dari sebuah festival musik.

Festival dan Budaya Selfie
Menurut Sejarah, festival telah menjadi bagian bentuk terpenting dari partisipasi sosial dan kebudayaan. Seperti dikatakan Andy Bennett (2014) festival menyampaikan dan membagikan nilai-nilai, ideologi, mitologi dan pada cara pandang yang baru bagi komunitas lokal tertentu. Pasar Keroncong Kotagede sebagai sebuah festival musik juga memiliki peranan dalam membangun dan membentuk kebudayaan. Didukung oleh teknologi yang modern, persebaran bentuk budaya baru akan sangat cepat tersebar, terutama dengan menggunakan perangkat telekomunikasi dan media massa.

Aktifitas memotret diri sendiri atau yang saat ini sudah lazim disebut dengan istilah selfie, merupakan suatu bentuk budaya populer baru yang mengglobal, karena isitilah selfie ini sangat populer bahkan pada tahun 2013 Oxford Dictionaries (kamus Bahasa Inggris) memasukan kata selfie kedalam susunannya berdasarkan pertimbangan sebagai kata yang sering digunakan untuk memotret diri sendiri.
    
Bisa dikatakan saat ini disetiap agenda festival-festival yang diselenggarakan, aktifitas selfie ini tidak pernah lupa untuk dilakukan, baik dilakukan secara perorangan, berpasangan, maupun berkelompok. Penyelenggara festival bahkan juga terkadang selalu menyiapkan tempat khusus di mana para pangunjungnya bisa berselfie untuk mengabadikan peristiwa. Aktifitas selfie saat ini seperti menjadi bagian yang tak terpisahkan pada saat festival. Ditengah kesibukan dan tuntutan hidup yang semakin padat dan banyak, mengujungi festival untuk melepaskan kejenuhan dari rutinitas harian tentu bisa juga dijadikan salah satu alternatif pilihan. 

Redaksi teraSeni berterimakasih jika teman-teman berkenan meninggalkan komentar, namun mohon untuk meninggalkan komentar yang tidak melanggar batas-batas etika, HAM, SARA dan tindak kriminal. Terimakasih.
EmoticonEmoticon