Senin, 16 Januari 2017

Saling-Silang Tubuh Dalam Seni Pertunjukan; Catatan dari Diskusi FTJ 2016

Senin, 16 Januari 2017 | teraSeni.com~


“Teater dengan segala kemampuannya, selalu menjadi tempat untuk bertindak dan bersikap bagiku. Ia mampu mengadakan tantangan bagi dirinya sendiri dan bagi penonton dengan memporak-porandakan visi, perasaan dan pendapat stereotipe yang telah mapan...lebih menggetarkan karena teater “tercitra” di dalam organisme pernafasan orang, dalam tubuh dan detak jantungnya.”
“Aktor melakukan penyerahan diri secara total. Ini adalah teknik trance, suatu teknik integrasi antara psikis dengan kekuatan tubuh aktor yang muncul dari pengenalan yang paling intim terhadap diri dan nalurinya yang memancar dari apa yang disebut trans lumination.” (Jerzy Grotowski, sutradara teater)

“Teater Melarat identik dengan konsep poor theatre-nya Grotowski. Yang penting dalam teater adalah aktor, bukan yang lain-lain.” (Tengsoe Tjahyono, aktor, sastrawan)

“Kekuatan aktor yang ditunjang modal dasar aktor yang ampuh inilah yang kemudian berkembang menjadi konsep ‘berangkat dari yang ada’” (Darmanto Radjab, aktor)

“Bagiku, tari itu ya tubuh, tubuh yang berbicara.” (Eko Supriyanto,  koreografer, penari)

“A good dancer is a good dancer whatever style.”
“I was always working very hard, and I only wanted to be a dancer. My wish was only to dance. I found only that dancing was the way I expressed myself. And I found with music and with movement there was something that was me.” (Pina Bausch, koreografer, penari)

Pernyataan para tokoh, kreator dan seniman tersebut di atas menguatkan pandangan perihal tubuh sebagai sentral dalam penciptaan karya seni pertunjukan. Dalam katalog Festival Teater Jakarta (FTJ) 2016 disebutkan bahwa dalam kerja teater tubuh aktor adalah modal kerja utama pemanggungan. Namun demikian, telaah tentang tubuh dari berbagai perspektif belum banyak dilakukan.

Diskusi yang bertajuk Estetika dalam Tantangan Masa Kini adalah ruang yang dihadirkan guna mewadahi perbincangan atas tubuh dalam Seni Pertunjukan. Diadakan pada 6 Desember 2016 di lobi Teater Kecil Taman Ismail Marzuki (TIM), diskusi ini merupakan rangkaian perhelatan FTJ (21 November – 9 Desember 2016). Dua pembicara yang dihadirkan, A. Setyo Wibowo dan Heri Lentho,  saya anggap mewakili pandangan tubuh dari latar belakang filsafat “timur dan barat”.

Diskusi FTJ 2016-teraSeni.com
A. Setyo Wibowo dan Heri Lentho
tampil sebagai pembicara Diskusi FTJ 2016
(Foto: https://web.facebook.com/ftjkita/)

Heri Lentho dalam pemaparannya mengingatkan saya akan kepekaan tubuh “timur” terutama dalam keterhubungannya dengan alam, yang beberapa kali saya tangkap pula dari pengalaman ketubuhan koreografer-penari, Sardono W. Kusumo. Dalam perjalanannya menyusuri Sungai Mahakam Kaltim, tiba-tiba pemandu sekaligus pengemudi perahu yang ditumpangi Sardono dan tim, menghentikan perahu dan meminta seluruh penumpang mengosongkan perahu, karena perahu akan dibalik. Hal itu harus dilakukan karena di hadapan mereka adalah arus berbahaya yang tidak mungkin dilalui.

Setelah itu dilakukan dan menunggu beberapa waktu di tepi sungai, datang sekelompok warga suku Dayak. Mereka masuk ke sungai membentuk formasi, melakukan gerakan-gerakan dan mengeluarkan suara-suara, menyerupai ritual tertentu. Kemudian satu-satu mereka menyelam dan muncul ke permukaan sungai dengan membawa barang-barang milik rombongan (termasuk elektronik), yang tercebur ke air ketika perahu dibalik. Semua barang terselamatkan.

Kali lain, Sardono menceritakan pengalamannya di pedalaman hutan Papua bersama suku Asmat. Ketika itu ia memiliki kesempatan menginap bersama mereka di tengah belantara hutan, dalam perjalanan ke suatu tempat. Di tengah malam, tiba-tiba salah seorang dari mereka terbangun dan mengeluarkan suara, mirip lolongan serigala. Setelah itu ia tertidur lagi. Suara itu rupanya merupakan respon terhadap suara lain di luar sana.

Diskusi FTJ 2016-teraSeni.com
Para Partisipan Diskusi FTJ 2016
(Foto: https://web.facebook.com/ftjkita/)

Heri Lento menuturkan pengalamannya berjumpa pak Marsudi, seorang penganut Hindu-Jawa. Beliau menari di upacara-upacara Hindu, dan dengan tariannya itu ia mampu menghubungkan tubuhnya dengan alam, sehingga turun hujan. Dari pengalaman itu Heri mempelajari bagaimana manusia menghidupkan inderanya.

Salah satu sumbernya adalah pengetahuan Hindu. Dalam pengetahuan Hindu termuat konsep tentang terbentuknya Bhuana Agung terutama pada Roh Agung menciptakan unsur halus berupa panca driyani (lima indera) pembangkit getaran dan menghasilkan lima benih unsur yang sangat halus tanpa bentuk, yaitu benih suara, benih warna, benih rasa, benih bau, dan benih sentuhan/peraba. Pada Bhuana Alit dalam tubuh manusia berwujud panca indera yaitu telinga, kulit, mata, lidah, hidung. Selain itu Heri juga merujuk Karen Amstrong dalam bukunya Sejarah Tuhan, yang pada epilognya menyebutkan bahwa semua agama dan kepercayaan baik yang purba maupun yang terbaru, media bertemu tuhan adalah melalui musik.

Dari kedua rujukan tersebut Heri menemukan kunci yang selanjutnya ia kembangkan dalam proses kreatifnya, yaitu getaran. Selain getaran dalam bentuk bunyi yang bersumber dari tubuh maupun alat/benda, Heri melakukan pengolahan energi dan kekuatan tubuh. Baginya, akhir sebuah pertunjukan adalah potret yang merangkum nilai pertunjukan tersebut. Karenanya, energi getaran di sini harus benar-benar terasa sangat kuat. Lampu panggung yang meredup jusru harus mengesankan sebagai lampu kilat kamera yang memoret (inti) pertunjukan itu. Layaknya doa, energi pertunjukan harus terbawa pulang oleh penonton, tersimpan di dada dan terus melayang dalam imajinasi masing-masing.

Diskusi FTJ 2016-teraSeni.com
Para Partisipan Diskusi FTJ 2016
(Foto: https://web.facebook.com/ftjkita/)


Menurut Heri di sinilah teater/seni pertunjukan berfungsi memanusiakan manusia, yaitu teater yang menyalakan kembali fungsi ke-indera-an manusia seutuhnya. “Apa yang dimaksud seni mempunyai fungsi memanusiakan manusia?”, “Apakah manusia yang akan menonton seni pertunjukan nanti, sudah bukan manusia lagi?”.

Pertanyaan-pertanyaan tersebut adalah perpanjangan dari pengamatan Heri bahwa tubuh manusia sekarang telah menjadi bagian kata kerja peralatan teknologi: alat transportsi modern (sepeda motor, mobil, pesawat, kereta api), komputer, telepon seluler, peralatan rumah tangga modern (kompor listrik, seterika, pemanas air, pendingin ruangan, oven, dll). Semua peralatan tersebut telah menjadi bagian rutinitas tubuh dari waktu ke waktu.

Menurutnya tubuh rutin manusia memerlukan relaksasi, raga dan jiwa, untuk penyegaran kembali keberadaan kemanusiaannya. Dalam posisi penyegaran inilah peran Seni Pertunjukan menjadi penting: Bagaimana teater dapat berperan sebagai ruang meditasi ketubuhan penonton.

Ia melihat, pada masyarakat yang maju, seperti Jepang, mereka melihat teater begitu penting. Bagi mereka menonton teater seperti menyegarkan tubuh yang mengalami kejenuhan dan kepenatan. Bahkan di sana sudah terlihat potret sosial masyarakat tampak di kehidupan teaternya. Teater Sehat = Masyarakat Sehat, Teater Sakit = Masyarakat juga sakit. Nah, pertanyaannya yang menggelitik adalah apakah potret kejiwaan masyarakat kita berbanding lurus dengan potret perteateran di negeri ini ?

Dualisme dan Monisme  
A Setyo Wibowo menyampaikan bahwa dalam filsafat Barat terdapat dua pandangan perihal hubungan tubuh-jiwa. Yang pertama adalah pandangan “dualisme” yang berpendapat bahwa raga dan jiwa terpisah dan bertentangan. Jiwa adalah substansi berpikir, sadar diri, bebas, tidak material dan tidak memiliki keluasan, sebuah “aku”. Raga didefinisikan sebagai materi keluasan, substansi tanpa kualitas psikis, tanpa finalitas.

Cara berpikir modern menghabisi pola pikir magis animis (yang percaya bahwa materi punya daya psikis) dan menolak teori simpati kosmis (bahwa hidup tiap unsur di alam saling berinteraksi). Pandangan modern dualis ini yang kemungkinan membuat kita nyaman makan binatang-binatang tertentu, menebang pohon, mencari batu bara-tembaga-besi-emas, tanpa rasa bersalah karena kita menganggap semuanya hanya raga, materi keluasan tanpa kesadaran dan tanpa rasa.

Dualisme keras ini ditemukan dalam doktrin aliran Orphico---pythagorisme yang menganggap tubuh sebagai penjara dan kuburan bagi jiwa. Tanpa memusingkan bagaimana interaksi keduanya, sejauh raga dianggap amplop atau baju, maka jiwa memiliki hidupnya sendiri, reinkarnasi berkali-kali, bergonta-ganti baju (raga manuia, raga binatang). Raga adalah tempat ujian, tempat pemurnian, sarana bagi jiwa untuk kembali ke yang illahi.

Kedua adalah pandangan “monisme”. Ini adalah pandangan yang tidak peduli kekekalan jiwa, dan menganggap bahwa material adalah satu-satunya realitas. Di jaman kuno, monisme keras diungkapkan oleh Demokritos (segalanya adalah atom) dan Stoicisme (semua adalah tubuh). Baik jiwa maupun raga berasal dari satu prinsip, dari atom (demokritos) atau dari api (stoicisme).

Materialisme modern berpikir mirip: segala gejala psikis atau spiritual diterangkan lewat mekanisme material. Pikiran, emosi, dijelaskan lewat mekanisme molekul-molekul belaka. Wanita lebih mudah menangis dari pria, karena mereka makhluk perasa, tetapi karena hormon prolactyn yang lebih banyak di tubuh mereka daripada lelaki. Kata jiwa adalah sesuatu yang datang menempel pada apa yang landasan pokoknya proses fisis tubuh, aksi-reaksi kelenjar dan syaraf.

Versi lain dari aliran ini adalah teori korporalitas yang mengetengahkan bahwa “corps” (raga) adalah keseluruhan diri manusia, adalah subyektivitas manusia itu sendiri. Ada monisme lain yang tidak material, yang menekankan prinsip kesatuan jiwa-raga. Teori besar Aristoteles tentang Hylemorphisme (kesatuan jiwa dan raga), tanpa mengatakan apakah jiwa atau raga yang lebih utama, merupakan monisme formal.

Platon
Di tengah-tengah teori besar Dualisme dan Monisme, ada pendapat lain. Platon tidak membicarakan jiwa-raga sebagai dua hal yang beroposisi secara sejajar. Ia juga menerima dualitas jiwa-raga tanpa jatuh dalam dualisme orphico-phytagorisme.

Platon menjelaskan bahwa tubuh manusia adalah bagian dari tubuh alam semesta. Materi dasar alam semesta adalah “khora”. Ia misterius, gelap, tak bisa dipikirkan. “Ruang primordial” ini berisi empat macam bentuk padat yang sangat kecil, tidak kelihatan. Tiap bentuk padat bisa ditengarai sebagai unsur-unsur tradisional api (tetrahedron), udara (octahedron), air (icosahedron), tanah (kubus). Bentuk-bentuk padat itu bisa dipecah menjadi dua segitiga, yaitu segitiga sama sisi dan segitiga sama kaki. Proses pemecahan dan penggabungan dua segitiga inilah yang memungkinkan setiap elemen bercampur satu dengan lainnya untuk memunculkan tubuh alam semesta dan tubuh manusia.

Tubuh (soma) manusia adalah tanda (sema) sejauh jiwa adalah yang diprioritaskan Platon. Tubuh menjadi pertanda bagi jiwa yang menghuninya. Sejauh soma hanyalah sema, tubuh bersifat netral. Tubuh hanyalah memberikan indikasi tentang jiwa yang menghuninya. Yang jelas bagi Platon, prioritas ada pada jiwa, karena jiwalah yang menggerakkan raga.

Dalam versi modernnya, orang berbicara tentang kebertubuhan (Leib, daging, hidup, tubuh yang dihayati) yang dipandang lebih aktif daripada sekedar tubuh sebagai benda. Lewat raganya manusia mengalami dan mengekspresikan sesuatu yang lebih lagi.

Di satu sisi bahwa tubuh bisa menjadi obyek karena bisa “dipakai” sebagai alat. Di sisi lain, tubuh-obyek atau tubuh-alat ini juga dipakai untuk mengatakan sesuatu yang ia hayati dari dalam dirinya sendiri. Tubuh kita bisa menjadi obyek (alat) bagi diri kita yang mengungkapkan diri dengan tubuh itu juga (artinya sekaligus subyek). Lewat tubuh kita mengalami diri sebagai le touchant touchee (yang menyentuh adalah sekaligus yang disentuh).

Raga adalah sema / pertanda, persis karena raga selalu merujuk pada sesuatu yang lain dari dirinya. ‘Yang lain’ itulah yang banyak ditemukan oleh para kreator. Tubuh yang menyerap, mengalami, memproses, mengekspresikan, menerima lagi, demikian seterusnya.  

Redaksi teraSeni berterimakasih jika teman-teman berkenan meninggalkan komentar, namun mohon untuk meninggalkan komentar yang tidak melanggar batas-batas etika, HAM, SARA dan tindak kriminal. Terimakasih.
EmoticonEmoticon