Senin, 20 Maret 2017

Mengintervensi Teater Kampus; Ulasan diskusi “Membaca Jejak Teater Kampus Hari Ini”

Senin, 20 Maret 2017 | teraSeni.com~


Seorang pemuda menenteng piring seng sembari berteriak mencari gelas. Dari arah yang berlawanan, seorang pemuda lain menenteng gelas seng sembari memekikkan kata ‘piring’. Kedua orang itu lalu berlari ke tengah panggung dan menabrakkan diri beberapa kali hingga piring dan gelas yang mereka bawa terpental dan menghantam lantai hingga menciptakan kegaduhan yang mencekam. Sementara itu di tengah panggung seorang lelaki tambun berwajah pucat memainkan karimba sembari memandang nanar ke arah lilin mati di hadapannya.

Diskusi Membaca Teater Kampus Hari Ini-teraSeni.com
Suasana Diskusi Diskusi
"Membaca Teater Kampus Hari Ini"
di Taman Budaya Yogyakarta
31 Januari 2017
(Foto: M. Diannu Imansyah)

“Metafor Gelas Pecah” adalah pertunjukan pembuka diskusi program pertama dari Study Theater Club Yogyakarta, “Membaca Teater Kampus Hari Ini…” yang diselenggarakan di ruang Seminar Taman Budaya Yogyakarta pada tanggal 31 Januari 2017. Pertunjukan yang disutradarai oleh Henricus Benny Hendriono ini mengangkat tentang bagaimana manusia mati-matian berjuang untuk memenuhi kebutuhan materi hingga menciptakan kecarutmarutan dalam kehidupan.

Sebagai salah satu penggerak kehidupan berteater di Indonesia, keberadaan teater kampus masih dianggap motor utama untuk terus menghidupkan dunia perteateran. Dengan latar belakang kehidupan akademis, teater kampus memiliki kekhasan tersendiri dalam mewadahi ekspresi berkesenian mahasiswa, khususnya dalam bidang seni peran. Tidak bisa dipungkiri, banyak teatrawan dan komunitas teater besar yang berangkat dari teater kampus seperti WS Rendra dan Teater Garasi.

Dengan menghadirkan tiga komunitas (seni) teater dari beberapa kampus ternama di Yogyakarta yakni Teater Tangga (Universitas Muhammadiyah Yogyakarta), Teater Jaringan Anak Bangsa (JAB – Universitas Ahmad Dahlan), dan Unit Studi Sastra dan Teater (UNSTRAT – Universitas Negeri Yogyakarta) sebagai pemantik wacana, berbagai lika-liku dan problematika teater kampus dibahas di program pertama Study Theater Club Yogyakarta ini.

Meski pada awalnya diskusi terasa cukup lambat karena materi yang disampaikan oleh para pemantik tidak mengerucut pada permasalahan yang dialami oleh teater kampus saat ini tapi lebih kepada perkenalan sejarah dari masing-masing komunitas, diskusi mulai terasa menghangat ketika memasuki sesi tanya jawab. Masalah pertama yang niscaya terjadi pada teater kampus adalah masalah regenerasi. Harus diakui, sebagai mahasiswa yang memiliki keterikatan masa studi dan berbagai macam agenda kegiatan studinya, pengabdian diri kepada dunia teater selalu menjadi permasalahan utamanya. Tidak hanya bagaimana para anggotanya haruskah tetap bertahan di komunitas tersebut pasca selesainya studi tapi juga permasalahan dengan agenda akademis lainnya semacam liburan, masa KKN, ujian semester dan lain sebagainya.

Meski tampak menjadi gangguan dalam kehidupan teater kampus, sebenarnya adanya jadwal agenda akademis ini juga bisa dipandang sebagai kelebihan. Dengan jadwal studi yang jelas, para anggota teater kampus bisa memperhitungkan agenda program kerja mereka dengan lebih baik. Bahkan justru dengan adanya “keterikatan masa” seperti ini, kreativitas mahasiswa dalam memanajemen waktu menjadi semakin terasah.

Permasalahan kedua dari kehidupan teater kampus adalah adanya intervensi dari berbagai pihak. Jika dirangkum, intervensi terbesar berasal dari pihak alumni serta pihak kampus. Mungkin dikarenakan masih terus terbayang akan masa-masa berteater kala kuliah, pihak alumni biasanya masih saja terus eksis untuk memberikan dukungan bahkan ada yang sampai mengontrol jalannya organisasi. Keberadaan pihak alumni ini dirasakah oleh beberapa komunitas selayak benalu yang hanya bisa mengganggu. Pernyataan ini kemudian dimentahkan oleh salah satu penonton yang berasal dari jurusan teater Institut Seni Indonesia Yogyakarta. Menurutnya, keberadaan alumni justru membantu untuk mengarahkan para juniornya untuk mampu menjalani proses berteater dengan lebih baik. Alumni dirasa memberikan dukungan yang baik, alih-alih menjadi benalu.

Adanya perbedaan pendapat ini kemudian memantik pertanyaan di pikiran saya tentang apa yang dinamakan dengan “teater kampus” itu? Sejauh yang saya pahami, secara sederhananya teater kampus adalah wadah berteater bagi mahasiswa. Namun apa bedanya dengan teater lainnya yang umumnya disebut dengan teater independen? Bukankah teater independen juga memiliki anggota yang juga berasal dari kalangan mahasiswa? Pertanyaan ini juga kemudian memancing pertanyaan lain: lalu bagaimana dengan mahasiswa jurusan teater sebuah lembaga pendidikan tinggi seni macam ISI, ISBI, IKJ, dan lain sebagainya? Jika para mahasiswa seni itu mendirikan komunitas teater di kampusnya, apakah juga bisa disebut teater kampus?

Pertanyaan di atas bisa saja terus dikembangkan tanpa berkesudahan. Meski remeh, pemaknaan akan apa itu teater kampus itu perlu dikaji ulang. Sebab inilah yang kemudian mengantarkan kita pada permasalahan teater kampus selanjutnya: Visi dan Misi teater kampus. Permasalahan visi dan misi dari teater kampus ini kemudian menjadi puncak diskusi yang berlangsung hingga menjelang tengah malam ini.

Ada komunitas yang menyatakan bahwa visi dan misi dari teater kampus pada dasarnya sama saja dengan visi dan misi teater lainnya (independen) yakni memberikan kritik sosial terhadap masyarakat. Pernyataan ini kemudian disanggah oleh salah satu penonton yang mengatakan bahwa hal itu terlalu muluk-muluk. Sebagai teater yang pada umumnya hanya dianggap sebagai “icip-icip” terhadap dunia teater, keinginan untuk memberikan kritik sosial atau bahkan perubahan pada masyarakat adalah hal yang terlampau jauh. Teater kampus harusnya sadar bahwa sebagai mahasiswa, para anggota teater kampus diharapkan cukup mampu untuk menciptakan pertunjukan yang baik dan menarik mahasiswa lain untuk menonton. Dari proses upaya penciptaan inilah kemudian bisa dijadikan bekal untuk meningkatkan prestasi akademik, dalam artian menempa diri menjadi pribadi yang tangguh, gigih, dan trengginas. Bukankah teater adalah bagaimana menempa diri menjadi manusia yang utuh?

Terlepas dari apapun visi dan misi teater kampus. Keberadaan teater kampus harus terus didukung dan dihidupkan. Karena teater kampus tidak hanya dianggotai para agen perubahan tapi juga agen kebudayaan.



Redaksi teraSeni berterimakasih jika teman-teman berkenan meninggalkan komentar, namun mohon untuk meninggalkan komentar yang tidak melanggar batas-batas etika, HAM, SARA dan tindak kriminal. Terimakasih.
EmoticonEmoticon