Rabu, 22 Maret 2017

World of Dance; Menarikan Tubuh Ambang Para Migran

Selasa, 22 Maret 2017 | teraSeni.com~


Migrasi memang menjadi perihal yang tidak pernah usai diperbincangkan. Persoalannya bukan hanya perihal berpindah tempat, melainkan berpindahnya seorang atau sekelompok ke kebudayaan yang berbeda dari asalnya. Memang tidak terlampau sulit jika manusia beradaptasi, namun bukan hanya soal menyesuaikan semata, melainkan adanya rasa yang dialami atas pertentangan diri akan pertanyaan jati diri personal ataupun kultural. Alih-alih hanya diperbincangkan, berangkat dari kegelisahan serupa seorang koreografer bernama Nishant Bhola memilih untuk membicarakannya melalui gerak tari.

World of Dance-teraSeni.com
Salah satu adegan dari rangkaian
koreografi bertajuk World of Dance,
karya Nishant Bhola
(Foto: Aji Wartono, 2017)

Lantas Nishant Bhola yang juga seorang migran di Belanda mensinergiskan kegundahannya pada bingkai tari kontemporer. Sebagaimana tari kontemporer harus dilandasi dengan gagasan yang kuat, maka pilihan Bhola mewujudkan apa yang dialaminya seraya terjawab. Dan pada tahun 2017 ini, penonton dan penikmat tari Yogyakarta dimanjakan dengan sajian tari yang berkelas bertajuk World of Dance. Atas kerjasama Erasmus Huis dan Warta Jazz, sebuah pertunjukan digelar di Societet, Taman Budaya Yogyakarta, rabu (22/2). Menjadi kota terakhir perhelatan, setelah Jakarta dan Bandung, agaknya masyarakat Yogyakarta patut bersyukur dapat menyaksikan pertunjukan tari yang apik dengan gagasan menarik.

Tubuh Migran ala Nishant Bhola
Dibuka dengan ajakan oleh Nishant Bhola—selaku direktur artistik—kepada dua puluh penonton untuk menyaksikan repertoar pertama di atas panggung. Seketika melebihi permintaan, dua puluhan lebih penonton berlomba untuk mendapat posisi terbaiknya. Sebuah ide partisipatif yang menarik membuka pertunjukan di malam itu. Di awal pertunjukan, Bhola sudah melakukan dua hal, yakni memberikan pengalaman yang berbeda kepada seluruh penonton akan arti sebuah pertunjukan dan menjadikan penonton di atas panggung menjadi bagian artistik di dalam repertoarnya.

 Repertoar pertama bertajuk Saudade. Repertoar tersebut menceritakan pengalaman ambang Bhola ketika menjadi migran di Belanda sejak sepuluh tahun silam. Karya ini adalah akumulasi dari perasaan Bhola atas konflik batin yang ia rasakan ketika menjadi migran di negara yang jauh berbeda secara kultur dengan kampung halamannya, New Delhi, India. Diiringi oleh alunan musik yang disusun oleh Hans Timmermans, Lili Kok selaku penari dirasa dapat menarikan rasa gundah tersebut dengan baik.

Beberapa menit berselang, Lili Kok memasuki panggung dengan mengenakan sehelai kain berwarna hijau dan kacamata hitam sambil menggengam kantung plastik. Masuknya Lili dengan penampilannya telah memberikan impresi akan dua budaya yang ia emban, yakni kain berwarna hijau layaknya kain sari di India representasi tradisi, serta kaca mata hitam representasi modern. Ketika tengah melangkah, seketika ia tak dapat bergerak, membeku di tengah panggung.

Perlahan terdengar samar-samar suara mencekam, sang penari mulai bergetar, sesekali ia mulai kembali berjalan dengan terbata-bata. Plastik hitam yang ia bawa hanya bisa ia seret dengan susah payah. Bersamaan dengan itu sebuah bunyi nyaring terdengar sesekali namun berulang. Lantas Lili bergerak layaknya kosa tubuh balet dengan patah-patah. Namun seketika ia dapat bergerak luwes ketika kacamata yang dikenakan ia tanggalkan.

Setelah itu ia mulai menggeliat dengan berusaha melepaskan kain yang ia kenakan. Seketika ia menutupi parasnya dengan kain tadi yang mengakibatkan tubuhnya kesulitan bergerak. Sesekali ia melepasnya, dan wajah sumeringah terukir di wajahnya. Kemudian ia mulai membuka formasi ikatan kain, lalu ia bubuhkan kain tersebut sembarang di tubuhnya sesuai keinginan dan kenyamanannya. Alih-alih ia sulit bergerak, Lili selaku penari justru dapat berjalan dengan bebas dan sesukanya. Sebuah pesan yang mendalam bahwa tradisi perlu diperlakukan sesuai dengan kenyamanan personal dan keadaan zaman.

World of Dance-teraSeni.com
Penonton berada di atas pentas
dan dapat melihat dari sangat dekat
koreografi bertajuk World of Dance, 
karya Nishant Bhola 
(Foto: Aji Wartono, 2017)

 Selanjutnya ia membuka plastik hitamnya yang berisikan sebuah tas. Kemudian sebuah sajadah, satu unit laptop, dan sehelai pakawan berwarna merah ia letakan bersebelahan. Ia mulai berrias, mempercantik dirinya dengan lipstik di bibir tipisnya. Yang menarik, ketika ia berrias, ia memperlakukan seorang penonton di atas panggung khayalnya sebuah cermin. Usai berrias, ia mulai menggunakan pakaian merah tadi dan mengibaskan rambutnya ke segala arah.

Seketika mulai terdengar bunyi bertempo lambat, yang ia sikapi dengan sebuah gerak balet dan gerak tari tradisi India. Diselingi dengan bunyi elektronik, gerak balet, tadi disisipi gerak robotik. Dalam hal ini, ia padankan banyak kosa kata gerak di dalam tarinya. Layaknya sebuah gerak terpadu hasil dari banyak latar belakang tari. Musik bernuansa India pun seraya terasa jelas, ia mulai bergerak dengan bebas tanpa pola lantai yang berarti. Menari ke sisi panggung yang satu dan ke sisi panggung yang lain. Hingga ia lelah dan mencari jalan pulang. Ia melompat turun ke arah penonton, mendatangi penonton dari kursi bagian depan hingga belakang. Ia mulai cemas, hingga ia mendapatkan sebuah pintu dan mencoba memasukinya. Setelah masuk ia tak kunjung kembali, tanda pertunjukan usai.

Sedangkan repertoar selanjutnya bertajuk Cyclic. Repertoar ini bermula dari gagasan ‘di antara’ dari dua budaya yang bersemayam di dalam satu tubuh. Secara lebih lanjut, Bhola menautkan repertoar kedua ini dengan gagasan reinkarnasi dari agama Hindu dan Budha. Kontras yang Bhola lakukan seakan lebih tegas, bukan lagi dua budaya, namun dua dunia atau lebih. Tidak hanya itu Bhola menautkan dua konsep penting, chaos dan harmony dalam kehidupan di dalam karyanya. Repertoar ini adalah hasil kontemplasi Bhola disertai diskusi dengan tiga penarinya, Lili Kok, Jens Slootmans, dan Wies Berkhout. Karya kedua terasa magis dengan kostum yang diciptakan oleh Josje Salfischberger.

 Diawali dengan teram temaram pencahayaan, tiga penari—dua perempuan dan satu pria—telah membentuk sebuah formasi di tengah panggung. Satu penari dengan posisi tidur, satu penari dengan posisi tengkurap, dan satu penari lainnya berdiri di antara dua penari tadi. Samar-samar terdengar suara layaknya berat nan panjang layaknya alat musik suku Aborigin, Didgeridoo yang disusul dengan suara merdu suling India. Mendengar rangkaian suara tersebut lantas ketiga penari tadi berdiri saling bertatap satu sama lain. Mereka mulai mengayun seirama selama beberapa menit. Setelahnya penari pria melompat ke sisi yang lain dan mulai bergerak mengayun kembali, sementara dua penari lainnya perlahan mengikuti dengan gaya yang serupa.

Setelahnya mereka terpecah pada sisi area panggung yang berlainan, satu di sisi kiri, satu di sisi kanan, dan satu di sisi tengah bagian belakang. Mereka bergerak dengan seirama, dengan kosa gerak tari tradisi India, tetapi yang sudah tercampur dengan pelbagai eksplorasi akan gerak. Setelahnya mereka kembali berdiri di tengah dengan gaya mengayun yang serupa, dan para penari kembali terpecah dengan gerak tari yang tidak seragam ke sisi yang berbeda.

 Kemudian, alunan musik India yang lebih bertempo terdengar semakin tegas, dua penari perempuan lainnya berputar di tempat layaknya tari Sufi, sedangkan satu penari lainnya mulai menggeliat ke kiri dan ke kanan. Namun seketika layaknya lampu kilat membuat gerak mereka berhamburan dan berlainan. Dua orang penari tergeletak di lantai, sedangkan satu penari lainnya berdiri di depang panggung dengan gerak yang lambat. Sungguh menarik atas apa yang dilakukan Bhola dengan menggunakan pencahayaan sebagai sebuah tanda akan alur yang berubah, namun alih-alih hanya bersifat menjadi tanda, para penari justru merespon dengan gerak yang cakap.

 Lampu kilat tadi terjadi beberapa saat, membuat para penari yang tengah menari merespon dengan pelbagai gerak yang berbeda. Setelahnya satu penari bangkit, ia seakan mau mengucap kata namun tertahan di pangkal lidah. Hanya fonem yang ia keluarkan, tidak bermakna. Namun setelah ia mengucap fonem ia dapat bergerak dengan leluasa, dan begitupun terulang hingga beberapa kali oleh tiga penari tersebut. Dilakukan secara bergantian, penari saling memperlihatkan kebolehan geraknya masing-masing. Selepas mengucap fonem, lambat laun gerak mereka semakin bebas dan ‘liar’. Semakin lama mereka menari semakin tidak terkontrol, seraya menunjukan chaos dan harmoni ada berada di dalam satu tubuh. Hingga lampu pertunjukan mulai perlahan padam menyinari tubuh ketiga penari yang masih bergerak. Pertunjukan telah usai.

Tari Apik dengan Gagasan Menarik
Rasanya cukup membahagiakan setelah menyaksikan dua repertoar Nishant Bhola. Alasannya cukup sederhana, yakni perasaan yang serupa akan tubuh ambang atas masyarakat kita yang tidak asing dengan migrasi dan migran. Tidak hanya itu, perasaan yang tidak jauh berbeda lainnya adalah perasaan gundah Bhola akan pertanyaan atas jati dirinya. Apakah Bhola seorang yang keindia-indiaan, keeropa-eropaan, keduanya, atau tidak sama sekali? Persis dengan dialektika antara perihal tradisi dan modern, khususnya tari di Indonesia.

Namun yang menarik, Bhola justru memilih mendialogkan perasaan ambang atau ‘di antara’ di dalam sebuah panggung. Di dalam kedua repertoarnya, ia mempertemukan kebudayaan yang ia terima dengan refleksi kedirian yang mendalam. Lantas refleksi kediriannya menjadi semacam benang merah yang dapat menyusun alur dengan sangat menarik dan original. Tidak hanya bermuara di gagasan yang mengawang, namun Bhola dengan para penarinya dapat memformulasikan gerak secara detil di tiap repertoarnya. Dengan beragam kosa kata gerak tari dari pelbagai kebudayaan dan kesenian yang ia dapat, lantas Bhola cukup bijaksana menempatkan satu per satu gerak. Alhasil tubuh para penari dapat menyampaikan pesan tersirat dengan apik.

World of Dance-teraSeni.com
Adegan lainnya dalam
koreografi bertajuk World of Dance, 
karya Nishant Bhola 
(Foto: Aji Wartono, 2017)

Dari dua repertoar Nishant Bhola, repertoar yang bertajuk Cyclic lebih menyita perhatian ketimbang repertoar pertamanya, Saudade. Namun bukan berarti repertoar pertama buruk, melainkan repertoar kedua terasa lebih magis tersampaikan. Dengan penggunaan cahaya yang sederhana ditambah dengan asap yang terkungkung di bagian atas panggung membuat tiga tubuh penari semakin kuat dalam pesan. Nuansa keindiaan dan reinkarnasi dapat saya serap ketika menonton. Sedangkan repertoar Saudade cenderung lebih mengutamakan partisipasi akan penonton, seperti: penonton yang berada di atas panggung, penari yang turun ke bangku penonton, dan kegelisahan yang senada. Sebuah ide yang menarik.

Jika ada catatan buruk, maka catatan tersebut bukan dari Nishant Bhola dan para penarinya—terlebih mereka cukup artikulatif dalam gerak pada tarian dan percakapan ketika pertunjukan usai—, melainkan pada para fotografer. Bagi mereka yang sudah kerap menonton pertunjukan di Yogyakarta dengan kehadiran para fotografer yang tidak hanya mengambil gambar namun membuat percakapan dengan volume suara yang cukup kencang maka pertunjukan terasa lazim saja dirasakan, namun bagi mereka yang cukup asing dengan konteks pertunjukan Yogyakarta, maka kehadiran fotografer sangat lah mengganggu. Pasalnya bukan soal mereka mengabadikan momen pertunjukan, terlebih seni pertunjukan turut membutuhkan itu, melainkan etika pengambilan gambar pertunjukan yang perlu diciptakan, seperti: tidak mengambil gambar terlalu sering, kecuali diadakan pertunjukan terpisah dengan penonton; tidak berbicara dengan fotografer lainnya dengan volume suara sekecil apapun. Dengan cara seperti itulah maka seni pertunjukan, khususnya tari bukan difungsikan hanya sebagai pemuas visual semata, namun memberikan pesan reflektif bagi para penonton tanpa terkecuali.

Bertolak dari pertunjukan World of Dance, agaknya banyak yang sekiranya dapat dipetik, seperti: gagasan personal yang kritis dan kuat; kosa kata gerak yang baik dan beragam; sikap Bhola yang memperlakukan tradisi dengan bijaksana; hingga pilihan menegosiasikan antar budaya dengan cakap. Alhasil tidak muluk-muluk jika mengatakan bahwa pertunjukan World of Dance adalah pertunjukan tari kontemporer terbaik di awal tahun 2017 ini. Siapa menyusul?[]


Redaksi teraSeni berterimakasih jika teman-teman berkenan meninggalkan komentar, namun mohon untuk meninggalkan komentar yang tidak melanggar batas-batas etika, HAM, SARA dan tindak kriminal. Terimakasih.
EmoticonEmoticon