Sabtu, 01 April 2017

Dalam Nikmat Puisi “Gigi Palsu”: Pengalaman Membaca Puisi Riki Dhamparan Putra “Mencari Kubur Baridin”

Sabtu, 1 April 2017 | teraSeni.com~


Tulisan berikut  ditulis oleh Bambang Q Anees, seorang penyair dan penulis buku filsafat untuk anak muda, yang bekerja sebagai Pengajar filsafat di UIN Sunan Gunung Jati Bandung. Tulisan ini dibuat sebagai Pengantar untuk sebuah Diskusi dalam Peluncuran Buku Kumpulan Puisi berjudul Mencari Kubur Baridin, karangan Riki Damparan Putra. Mengingat sudut pandang serta gaya penulisannya yang khas, Redaksi teraSeni menerbitkannnya kembali untuk pembaca. Semoga bermanfaat. 

Saya sungguh tak mengenal Riki Dhamparan Putra. Juga puisinya, karena saya sudah lama tak membaca puisi. Semacam tirakat telah lama saya lakukan, menjauhi puisi bila ia masih dituliskan sebagai kata-kata saja, atau serumpun gagasan yang dibubuhi saus metafora dengan banyak taburan rima.

Puisi, dalam pahamku yang sederhana, seharusnya lebih dari kata-kata saja. Bila hanya barisan kata-kata, iklan lebih pintar memintal kata-kata. Bila serumpun gagasan, politisi ahlinya –dengan sesekali menampilkan hasil statistik hitung cepat. Puisi lebih dari itu.
Apakah iman itu terlalu berlebihan? Mungkin tidak!

Mencari Kubur Baridin, Riki Damparan Putra-teraSeni.com
Mencari Kubur Baridin,  Buku Kumpulan Puisi
yang merangkum 55 karya puisi Riki Damparan Putra
yang diciptakan tahun 2004 hingga 2014,
diterbitkan oleh Penerbit AKAR, Yogyakarta, 2014


Riki Dhamparan Putra, paling tidak telah menghidupkannya. Ia berpuisi tidak dengan menuliskan dirinya melulu, biasanya tentang kisah cinta atau rasa sunyi yang dianggap perlu dikasihani orang lain. Ia bermain-main, seperti kucing yang begitu asyik mengejar ekornya yang oleh entah siapa digantungi plastik. Begitu asyik, berputar-putar, menghadirkan kata dengan kesegaran baru. Lihatlah puisi yang dijadikan pengisi cover belakang buku ini:

“kepadaMu yang memiliki semuanya
Berilah sajakku jalan
Biarlah ia mengepul serupa sup hangat di meja makan
Ia ingin menjadi bagian dari keluarga.
Menjadi nenek, menjadi burung kakak tua.
Sajakku ingin tertawa
ia ingin bahagia dengan gigi palsu
yang telah lama menggigitnya”

Bait ini terambil dari puisi berjudul “Memasak Daging Kurban”. Sebuah puisi yang mengisahkan kesakralan ritual menyembelih sapi atau kambing untuk dibagikan pada seluruh umat manusia. Daging itu dimakan, menjadi bagian dari manusia – sang khalifah Allah. “Hanya melalui manusialah aku bisa menyatu dengan Tuhan” demikian ucap kacang polong dalam sajak Rumi ketika tukang masak menanyai keriangannya di tengah didih air kuah sayuran. Ya, daging-daging kurban itu akan menyatu dengan manusia, lalu melalui manusia, sapi atau kambing itu akan bermuka-muka dengan Tuhan, begitu ujar Rumi.

Riki menafsir dengan forma serupa. Tentu penyair tak cukup kaya untuk berkurban, ia hanya punya puisi. Puisilah hartanya, binatang ternaknya, tunggangannya ke surga, maka puisilah yang harus dikurbankan. Hari ini aku membaringkan sajak – sajakku /di antara hewan kurban /Sajak – sajak manis dan sedih /Sajak – sajak yang pilih kasih. /Aku menjagalnya. Dengan ridha Tuhan...Dan sesudah itu Riki berdoa agar sajaknya diberi “jalan”, “kesempatan””, memohon ampunan dan diterima dalam ketuaan usianya, “menjadi nikmat”, “menjadi berkat”.

Dalam doanya ini, sajak mengembara menjadi segala sesuatu: dari yang profan (“sekadar menjadi bagian dari gigi palsu yang telah lama menggigit nenek”) sampai yang sakral. Sajak itu dibiarkan pergi dan akan kembali seperti Nabi Musa (Biarlah aku dikembalikan/ serupa sungai-sungai mengembalikan bayi-bayi), menjadi bagian  dari kisah Nabi Yusuf (...ke sumur dalam di tengah hutan/yang didasarnya seorang bocah nyaris beku) dan Nabi Yunus, meronta seperti Ismail, dan kemudian:

Kalau di sini suara hujan masih tersedu
Kalau di sini bumi masih merintih untuk melahirkan
Seorang yatim piatu
Biarlah sajakku menjadi ayah ibu

Riki begitu leluasa bermain-main, tanpa harus menjadi mantra atau rentetan bunyi yang melenting-lenting seperti bola pantul. Seperti bola pantul yang ringan, kata disajikan begitu saja seperti sebuah canda: ia ingin bahagia dengan gigi palsu/ yang telah lama menggigitnya. Gigi berfungsi untuk menggigi(t), namun justru pada baris-baris ini gigilah yang digigit. Hahaha entah apa yang terbangun antara sajak dan gigi palsu dalam imajinasi Riki:

Kalau gigi palsu nenek dicabut
Sajakku  akan ompong
Lebih baik biarkan
Toh gigi juga
Toh ia telah banyak membantuku
untuk mengunyah banyak jenis makanan
(Gigi Palsu)

Sajak mungkin sejenis mulut ketika ia sudah tua, yang tetap membutuhkan “pengganjal” seperti “gigi palsu” agar ia terus berfungsi. Tapi apakah “gigi palsu” itu bagi “mulut” sajak?

Beberapa Canda Yang Lain
Bait ini merupakan akhir dari puisi “Ikan Asin”, tentang peleburan “air dengan garam”, air kecil dengan air sungai, atau samudera, atau menguap jadi hujan.

O kata
O duka
Tolonglah aku berakhir dari rahasia
yang tak perlu ini
(“Ikan Asin”)

Puisi ini mengingatkan kisah sufi tentang boneka garam yang menanyakan asal-usulnya pada lautan, lalu lautan menyerunya untuk masuk. Boneka itu masuk dan badannya berkurang digerus air. Tapi ia masih juga bertanya ihwal siapa dirinya, diminta masuk lagi. Ia terus bertanya, sampai ia berbentuk sebutir garam saja. Dan lautan terus menyerunya masuk, sampai tak ada tanya lagi dari garam itu. Riki menulis” Seperti ikan asin/ Di tubuhku  mungkin terlalu banyak garam/jadi gampang larut di air/padahal musuhku bukan air/...”

Pada puisi “Cerita-cerita dari Padang Gembala”, Riki bermain-main dengan tembang yang konon karya Sunan Kalijogo “Ilir-ilir”, ia juga memainkan kisah pisang di antara kura-kura dan monyet pada “Kisah-kisah di Kebun Pisang”. Di Bali ia mengalami Hari Nyepi. Itu pun dimainkannya: Nyepi itu orang asing di Ubud (”Memasak Ubud di hari Nyepi”), ia pun menuliskan upacara Ngaben dengan jenaka:

kata kerja seusai ngaben
buang abu
bawa pulang abu
cuci tangan dengan air mumbang
mandi jangan lupa

itu untuk buang sial
agar kartu – kartu di meja tidak mati
di tangan kita
(“Belajar Bahasa Indonesia di Hari Ngaben”)

Ngaben yang sakral itu dari mata Riki jadi sesuatu yang berbeda. Ia dipenuhi benda-benda yang tidak lagi sebagaimana adanya: mati-matian orang menyelenggarakan upacara kematian ini, iba-ibaan (kenapa?) mungkinkah kata sifat dari ngaben adalah pesta, maka tak ada iba yang sebenarnya, cuma iba-ibaan yang ada.  Ngaben meminta peserta untuk melakukan (kata) kerja: buang abu dan mandi, agar hidup lebih beruntung dan mujur seperti kartu-kartu (saat judi) tidak mati di tangan kita.

Riki tak hendak menertawakan upacara sakral, ia lebih tepat sedang menertawakan dirinya. Ia merefleksi apa yang ditemukannya, dengan apa yang dialami jiwanya secara jujur. Nyepi yang 24 jam bergelap-gelapan, baginya keriuhan menyiapkan makanan dan orang asing. Saat ia menaiki tangga candi (mungkin Borobudur) yang dipenuhi “mitos” bahwa semakin ke atas akan ditemukan pencerahan bermuka-muka dengan Yang Sakral, ia menulis Apakah yang aku tau/Bahkan di ruang yang paling hening aku/ tak dapat mendengarmu (“Menapak Tangga Candi”).

Pada peristiwa lain, Riki menunjukkan kejujurannya di hadapan Tuan Ma (nama bagi Bunda Maria di Larantuka).

Bukan sekali ini aku bertemu airmata
Bukan sekali ini aku tertegun mendengar igau
para pendoa
Tapi milikmu membuatku buta
Serupa palung tersembunyi
Tenagamu menjelma arus yang menyeretku
ke pulau – pulau penuh hantu

Pengalaman religiousitas Riki terbaca pada pertemuan dengan Patung Bunda Maria ini, ia menemukan dirinya fana (rapuh) di hadapan Bunda Maria, sebab:seorang lelaki bukanlah siapa-siapa//seperti juga diriku/memerlukan ibu untuk bisa mengenal/ huruf mengenal nama/ benda-benda (“Tuan Ma”).

Di Mana Bumi Dipijak Di situ Langit Dipuisikan
Ada kesan yang tertangkap pada sebagian besar puisi bahwa Riki begitu menikmati perjalananya. Ia yang mengembara ke banyak tempat, tak cuma sampai ke Bali, ia juga pernah mengembara sampai ke Indonesia Timur. Semua daerah yang diinjaknya menjadi bahan dasar bagi puisinya, tak hanya eksotisme pemandangan namun juga dongeng mitos daerah itu. Jadilah puisi-puisi yang mengandung sejumlah alam dan dongeng dari “langit” yang berbeda-beda.
Alam terbentang bukan sekedar pemandangan, namun pengajaran.

Aku ingin kau mengerti betapa panorama yang hijau ini
Tak ubahnya penipu di mataku
(“Cerita Bodoh”)

Ia bertemu Lorojongrang, bertemu Baridin dan Suratminah di Cirebon, bertemu Dirah di Bali – di samping Nyepi, Ngaben, pemahat dan patungnya, dan kota: sebuah tiang kilometer berdebar/seperti musuh menunggu musuh (“Di Sebuah Tiang Kilometer”). Di Yogya ia bertemu Ida (mungkin Ida dari puisi Chairil), Engku Marijan, Pak Suryanto. Di NTT ia bertemu dengan Uis Pah dan Pah Nitu, di Tasikmalaya ia bertemu Acep Zamzam Noor yang sibuk memelihara ikan. Semua tempat dikunjungi dan langit dijunjungnya:

Sebab begitulah aku belajar
Terbiasa menerima
Umpama kapal
Tak lama-lama di dermaga
(“Selat Solor”)

Kemudian Jakarta, penyair ini menemukan dunia yang berbeda. Tak ada alam yang sungainya mengalirkan jalan ke surga, Jakarta tak menyiapkan gantungan bagi penumpang yang yang terpaksa berdiri dalam buskota, dan kata-kata ikut payah berhening/penyair pun tak punya waktu untuk terus merasa asing(“Bus Dingin”), Jakarta adalah “petilasan monyet”: di mana monyet-monyet tumbuh dan bertempur/ untuk menjadi cerita sehari-hari yang tak bermakna// ia tak mengatakan apa-apa/ aku tak mengatakan apa-apa (“Petilasan Seekor Monyet”)

Puisi Hanya Ihwal Alamat
Apakah puisi bagi Riki?  Tak perduli betul apa jawabannya. Yang penting ada kenikmatkan baru dalam membacanya. Bahasa Minang yang indah, bercampur dengan cara doa teman-teman Nasrani,diselingi  dengan deskripsi situasi dan peristiwa yang lincah dan nakal, sudah cukup memberikan jawaban ihwal keapaan puisi. Riki seperti tak peduli betul pada maksud, pada teleologis dari puisi. Ia hanya meniti kata-kata saja, sesekali dapat makna sangatlah mungkin, kerapkali hanya bertemu suasana, itu pun tak apa.

Mungkin cerita sedang mencari benangnya sendiri
..
Lantaran kisah ini bukan lagi tentang manusia
Tapi tentang alamat
(“Cerita Petang”)

Alamat apakah? Mungkin alamat itu adalah : sebuah pondokan/tabuh bedug dan salawat/ menjaga kampung/ dari kepunahan (“Dari Serambi”). Mungkin juga alamat yang membuat kita tak lupa pada laut, alamat yang mengundang kita ke pesta: semua itu agar kau senang/bersenang-senang/ selamanya (“Lamahala”).

Jika penyair mati
Laut ini akan dilupa bersamanya
Misal pun punah
Isyarat tak terbaca
Sedang pulau pulau yang terik
akan tampak seperti kuburan matahari
yang terapung di tengah
gelombang buta

Jadi apakah “gigi palsu” bagi mulut sajak?  Mungkin “gigi palsu” itu adalah kisah mitos dan masa lalu dari nenek. Puisi harus terus menjadi bagian dari kisah, mitos, dongeng yang berserakan di langit pulau-pulau negeri ini. Dan Riki terus menyebarkan “gigi plasu” itu pada sejumlah besar puisinya. Kini kita tahu, “gigi palsu” itu memang penting agar nenek tetap digigit dan bisa menggigit. Terimakasih Riki!

Redaksi teraSeni berterimakasih jika teman-teman berkenan meninggalkan komentar, namun mohon untuk meninggalkan komentar yang tidak melanggar batas-batas etika, HAM, SARA dan tindak kriminal. Terimakasih.
EmoticonEmoticon