Kamis, 13 April 2017

Kebo Iwa dalam Goresan Perupa Muda Bali: Pengorbanan Demi Nusantara

Kamis, 13 April 2017 | teraSeni.com~


Kolaborasi antara I Gede Arya Sucitra dan Agus Putu Suyadnya dalam Duo Art Exhibition yang digelar di Bentara Budaya Yogyakarta pada tanggal 21-28 Februari 2017 lalu mengambil tema “Kebo Iwa dalam Goresan Perupa Muda Bali: Pengorbanan Demi Nusantara”. Kedua seniman ini berasal dari Bali dan menempuh pendidikannya di ISI Yogyakarta dengan mengambil minat seni murni. Tema ini diambil karena sebagian besar masyarakat Bali menganggap bahwa sosok “Kebo Iwa” sering disamakan dan disejajarkan dengan Maha Patih Gadjah Mada dari Kerajaan Majapahit. Kebo Iwa adalah seorang patih dan panglima kerajaan Bedaulu pada masa pemerintahan Sri Gajah Waktera yang bergelar Sri Astasura Ratna Bumi, yang berkuasa di Bali pada awal abad ke-14.

Sucitra menggunakan elemen warna putih secara dominan dalam setiap wujud karyanya. Ini mengintepretasikan sifat-sifat kebenaran dan pencerahan yang selalu diajarkan Kebo Iwa kepada nusantara. Sementara itu, Suyadnya memilih sifat-sifat hero yang dimiliki Kebo Iwa. Ini terlihat dari beberapa karyanya yang menggambarkan kekuatan, ketangkasan, dan kegagahan sosok Kebo Iwa dengan dilengkapi berbagai atribut perangnya berupa pedang dan seragam yang membuat Kebo Iwa terlihat lebih gagah dan kuat.

Sucitra dan Suyadnya dalam Duo Art Exhibition kali ini banyak menampilkan karya lukisan dan hanya beberapa karya yang diwujudkan dalam bentuk tiga dimensi. Mereka menggambarkan Kebo Iwa sebagai seorang guardian. Mereka juga mengeksplorasi lebih dalam dan menceritakan bagaimana Kebo Iwa membangun dan merawat nusantara 2 hingga menyatukan nusantara (Bali). Nilai-nilai pengorbanan dan kepahlawanan inilah yang diangkat dan menjadi ide dasar penciptaan karya dalam Duo Art Exhibition.

Lukisan I Gede Arya Sucitra-teraSeni.com
Memutih Menyatu Nusantara Pertiwi, I Gede Arya Sucitra, 200 × 150 cm, 2017
(Foto: Evan Sapentri) 

Karya I Gede Arya Sucitra ini adalah sebuah karya lukis yang dibuat dengan menggunakan cat akrilik. Ukurannya 200 × 150 cm dan dibuat pada tahun 2017. Dalam lukisannya kali ini, secara dominan Sucitra menggunakan warna hitam dan putih. Terlihat samar-samar beberapa objek yang hendak disampaikan seperti bukit/pegunungan dengan komposisi di tengah yang dibalut warna putih. Semakin landai Sucitra menerapkan warna putih sebagai wujud dari tanah yang berundak. Warna hitam digunakan sebagai warna langit dan tanah 3 dimana orang-orang berpijak dan bersatu.

Kombinasi dan pertemuan warna hitam dan putih ini kemudian dipadukan sehingga membentuk dimensi visual bagi pemirsa agar dengan mudah membedakan dan mengenali objek yang hendak disampaikan Sucitra. Goresan-goresan warna putih di bagian ujung kiri bawah mengimpresikan sebuah pohon dengan beberapa ranting di tengah dan sedikit daun yang menjuntai mengarah ke samping kanan. Sementara itu, untuk menonjolkan objek manusia yang sedang melakukan aktivitas membawa semacam senjata yang panjang, Sucitra memadukan warna hitam sebagai latarnya.

Terdapat ruang kosong di bagian atas. Sucitra sengaja memilih warna hitam sebagai warna langit dan simbol dari keadaan yang mencekam. Terlihat bahwa Sucitra memilih warna hitam sebagai latar yang berfungsi sebagai pengikat objek penting yang ditonjolkan Sucitra. Warna putih dengan goresan garis-garis tebal ke bawah, mengarah ke samping kanan dan kiri, ada yang tidak beraturan mewakili objek penting yang digambarkan Sucitra seperti bukit, manusia, dan pohon. Garis-garis horizontal di bagian tengah karya ini menggambarkan bidang tanah yang datar. Sucitra menerapkan garis-garis secara vertikal ketika menggambarkan kontur tanah yang berundak dan mengesankan bentuk tanah atau posisi yang lebih tinggi. Garis-garis lengkung terlihat ketika Sucitra hendak menggambarkan kondisi bukit di bagian tengah antara langit dan bidang tanah yang datar. Di bagian atas dimana orang-orang berkumpul ada dua garis tebal yang mengerucuk ke atas sebagai simbol kontur tanah yang menonjol.

Sucitra mencoba mengeksplorasi lebih dalam dengan tidak hanya menampilkan Kebo Iwo dalam perspektif fisik saja namun juga nuansa spriritualitasnya. Sucitra memilih objek Nusantara sebagai wujud representasi Kebo Iwo dalam menyatukan Nusantara (Bali). Keadaan genting ini dilukiskan Sucitra dengan memilih warna hitam pekat yang menumbuhkan persepsi duka mendalam, perasaan haru, sekaligus 4 semangat. Warna putih dijadikan “objek kunci” sebagai simbol kebenaran dan pencerahan sebuah ide dan konsep yang selalu didengungkan oleh Kebo Iwa dalam masa penaklukannya terhadap Majapahit. Perjuangan dan luasnya pengembaraan yang dipimpin oleh Kebo Iwa melewati batas-batas lembah maupun bukit. Bentuk dari pesatuan yang kuat dan kokoh digambarkan dengan sekerumunan orang yang terlihat bersatu padu dengan semangat membara membawa senjata dan selalu bersiap siaga.

Lukisan Agus Putu Suyadnya-teraSeni.com
The Guardian Series “Janji Sang Penakluk”,
Agus Putu Suyadnya, 200 × 200 cm, 2017
(Foto: Evan Sapentri) 

Karya Agus Putu Suyadnya ini merupakan karya lukis dengan ukuran 200 × 200 cm, yang dibuat dengan menggunakan cat akrilik pada tahun 2017. Sosok Kebo Iwa digambarkan tangan kanan dengan erat sedang memegang pedang berwarna putih keabu-abuan. Seekor 5 burung dengan kepala hingga leher berwarna jingga menghadap ke kanan, di bagian atas badan berwarna coklat kehitaman, dan di bagian bawah hingga kaki berwarna putih, terlihat sedang santai hinggap di tangan kiri Kebo Iwa. Warna hijau menyelimuti dari kepala hingga pundak Kebo Iwa lengkap dengan kedua gading putih yang melengkung ke depan. Warna coklat melekat pada tangan hingga kaki. Ikat pinggang berukuran besar berwarna coklat mengapit pada bagian perut.

Sementara itu, kedua tangan Kebo Iwa dibaluti kain berwarna coklat begitupun di kaki kanannya. Sepatu coklat keemasan yang terlihat sangat kuat dan kokoh melengkapi penampilan primanya ini ditengah-tengah hutan belantara. Pandangan mata yang tajam kedepan, badan yang sigap dan gagah, begitupun kedua tangan dan kaki yang besar dan berotot. Agar terlihat lekuk tubuh dan pergerakan Kebo Iwa yang gagah, Suyadnya menambahkan kain berwarna jingga yang terlihat terpasang melingkar di bagian pinggul Kebo Iwa. Tempat pedang berwarna putih pun juga telah disiapkan dan mengantung di bagian pinggul mengarah ke samping kiri. Garis-garis tebal mapun kecil berwarna putih kecoklatan digambarkan sebagai kayu atau akar yang menghalangi perjalanan Kebo Iwa di tengah hutan belantara. Sebagian besar bentuknya vertikal terutama dibagian belakang Kebo Iwa, sedangkan dibagian bawah tepat disebelah kaki Kebo Iwa kayu-kayu atau akar-akar pohon terlihat melilit dibagian kaki kanan dan kiri Kebo Iwa.

Kebo Iwa diimpresikan sebagai penjaga/palang pintu (guardian) terbentuknya nusantara (Bali). Suyadnya lebih mengedepankan sisi hero/kepahlawanan sang Kebo Iwa. Warna putih terpancar dibagian belakang Kebo Iwa. Ini menandakan bahwa Kebo Iwa sedang melakukan perjalanan pengembaraannya melewati beberapa ujian dan rintangan selama perjalanan dan semakin lama melangkah keadaan hutan belantara akan semakain gelap. Mata yang tajam tertuju kedepan dengan jelas membawa tujuan dan harapan Kebo Iwa dalam 6 menyatukan Nusantara (Bali).

Cengkraman tangan yang kokoh membawa pedang dibalut kain di kedua tangan dan kaki dibagian kanan melambangkan bahwa sosok Kebo Iwa sudah sering mengalami pengembaraan jauh menghadapi medan tempur apapun itu resikonya. Rasa sakit, luka, dan kepedihan hampir tak dirasakan oleh Kebo Iwa. Suyadnya sangat cerdik memberikan sentuhan visual dengan menambahkan kain putih yang membaluti kedua tangan, kaki kanan, dan dada, sekaligus sebagai simbol kekuatan akan rasa pedih yang dirasakan Kebo Iwa dalam mengarungi berbagai medan selama proses pengembaraannya itu. Ikat pinggang yang terlihat sangat kuat mengikat dan melekat dibagian perut sebagai pertahanan Kebo Iwa dalam melakukan pergerakan dan mobilitasnya selama pengembaraan.

Burung kecil yang selalu menemani perjalanannya itu dapat dijadikan sebagai teman dan sebagai pengintai musuh yang hendak mendekat. Ruang gerak kaki yang terlihat cekatan dengan dibalut dengan sepatu yang kokoh ditengah lebatnya hutan belantara. Suyadnya mengambarkan kaki kanan di depan dan kaki kiri dibelakang dengan posisi condong atau sedang membentuk posisi kuda-kuda, menandakan akan sigapnya sosok Kebo Iwa hingga memperhatikan detail setiap langkahnya. Postur badan yang sigap dan tegap dengan posisi tangan kanan yang memegang erat sebuah pedang sebagai simbol kesiapan sang Kebo Iwa untuk menjemput janji-janjinya. Sebuah sejarah yang menjadi akhir pergulatan antara patih kerajaan Bali dengan patih Gadjah Mada dari Majapahit yang bersumpah untuk menyatukan nusantara.

Duo Art Exhibition yang mengusung tema “Kebo Iwa dalam Goresan Perupa Muda Bali: Pengorbanan Demi Nusantara” ini bertujuan untuk memperkenalkan sejarah, budaya, dan ilmu pengetahuan mengenai Kebo Iwa yang sebagian besar masyarakat Bali menganggapnya sebagai mitos dan legenda yang diwariskan secara turun-temurun. I gede Arya 7 Sucitra dan Agus Putu Suyadnya yang sejatinya memang berasal dari Bali mempunyai ide dan konsep untuk mempekenalkan ke masyarakat umum melalui karya-karya lukisnya. Bagaimana sosok Kebo Iwa ini menempuh perjalanan spiritualitasnya hingga mengabdikan dan mengorbankan dirinya untuk Nusantara (Bali).

Sucitra dan Suyadnya menggambarkan sosok Kebo Iwa dengan penuh semangat dan kepahlawanan. Beberapa karya secara langsung dapat diindikasikan sebagai perwujudan Kebo Iwa dalam membangun dan merawat nusantara (Bali). Karya-karya dalam Duo Art Exhibition ini menunjukkan betapa kuatnya, kokohnya, dan gagahnya sosok Kebo Iwa dalam menghadapi berbagai ujian dan rintangan yang harus dilewatinya untuk mewujudkan janji-janji dan mimpi-mimpinya dalam menyatukan nusantara. Karya-karya yang dipamerkan ini juga mempresentasikan wujud dan upaya Kebo Iwa untuk memperkuat dan memperkokoh kekerabatan dan jaringan dalam membangun partner spirit of nusantara. Beberapa karya juga menggambarkan perjalanan dan upaya Kebo Iwa dalam menaklukkan Majapahit. Budaya asal (Bali) ini dijadikan contoh bagi Sucitra dan Suyadnya sebagai representasi kecintaan mereka terhadap tanah kelahiran yang diwujudkan secara artistik dalam bentuk karya visual.

Redaksi teraSeni berterimakasih jika teman-teman berkenan meninggalkan komentar, namun mohon untuk meninggalkan komentar yang tidak melanggar batas-batas etika, HAM, SARA dan tindak kriminal. Terimakasih.
EmoticonEmoticon