Selasa, 04 April 2017

Pager Bumi: Mengurai Paradoksal Memahami Cikal Bakal

Selasa, 4 April 2017| teraSeni.com~


Belakangan ini tegangan hingga konflik antar kelompok kerap terjadi, dan tidak jarang berakhir dengan kekerasan. Pasalnya, mereka berdalih bahwa aturan kelompoknya bertumbukan dengan aturan kelompok lain, sehingga kata damai jauh panggang dari api. Terbetik dari konstelasi yang terjadi, Garin Nugroho berinisiatif membuat sebuah pertunjukan yang nyaman dilihat, tentu dengan pesan yang tidak kalah mendalam. Alih-alih mengambil variabel persoalan dengan wantah, Garin justru membawa unsur tradisi dengan latar belakang awal abad 19. Alhasil Garin mengajak penonton untuk menanggalkan pengetahuan dan mengedepankan pengalaman dalam mengalami cerita yang disusun olehnya.

Pager Bumi, karya Garin Nugroho-teraSeni.com
Pager Bumi, karya Garin Nugroho,
Sebuah gambaran tentang perjalanan manusia Jawa
(Foto: Aji Wartono)

Garin membawa kita pada zaman di mana cikal bakal kelompok dan pengaruhnya baru berkembang. Digambarkan dua pengaruh besar yang berkontestasi, yakni kolonial yang kapitalistik, sehingga perdagangan dan keuntungan menjadi target utama; dan [Garin menyebutnya dengan] ideologi dan agama baru dengan pelbagai cara. Singkat kata, Jawa terasa sangat membingungkan, bercampur baur tanpa kesadaran, hingga pada titik paradoks. Dan naasnya, dengan bangga kita memetik paradoksal tersebut tanpa daya kritis yang menyertainya.

Bertolak dari tatanan itulah, maka atas dukungan Dinas Kebudayaan Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, Garin membuat sebuah pertunjukan bertajuk Pager Bumi: Jalan Sunyi Manusia Jawa. Sebuah pertunjukan lintas disiplin, antara tari, musik, teater, dan beberapa konsep wayang serta film, atau sederhanya dapat ditautkan pada sendratari. Dalam merancang dan menyusun karya, Garin menggandeng beberapa seniman lain untuk berkerja-sama, yakni: Bimo Wiwohatmo pada koreografi, Ong Hari Wahyu pada artistik, Bagus Mazasupa pada musik, dan Retno Damayanti pada kostum.

Sedangkan dalam mewujudkan gagasan tersebut, Garin mengajak Cahwati (vokal) dan Eko Purnomo (musik); tiga penari utama: Nungki Nur Cahyani, Anter Asmorotejo, Anggono Kusumo, serta grup penari yang beranggotakan: Galih, Riana, Dita, Mayong, Ayu, Acintyaswati. Dipertunjukan di Pendhapa Art Space, Yogyakarta pada hari sabtu (25/3), pertunjukan juga dihelat di Brisbane, Australia pada tanggal 1 April. Pergelaran sendratari ini merupakan pertunjukan pertama dari tetralogi yang akan dibuat oleh Garin.

Pager Bumi, karya Garin Nugroho-teraSeni.com
Salah Satu Adegan dalam Pager Bumi, karya Garin Nugroho
(Foto: Aji Wartono)

Kembali pada cerita yang disusun, Pager Bumi ini menceritakan perjalanan sekelompok manusia yang ditujukan untuk mencatat pelbagai perubahan yang terjadi di tanah Jawa. Diwujudkan dengan seorang Ksatria Islam Jawa—dimainkan oleh Anter—, sang Istri—dimainkan oleh Nungki—serta hewan penjaga (baca: anjing)—dimainkan oleh Anggono. Dalam perjalanannya, para pejalan tersebut menemukan pelbagai pagar—baik yang terwujud ataupun nirwujud—untuk pelbagai hal, dan kerap bergesekan. Bertolak dari cerita inilah, Garin membawa penonton berandai-andai guna mengurai parodksal yang kini terasa semakin gamang.

Pager Bumi: Perayaan dan Pertikaian
Bunyi ritmis kendang terdengar mengagetkan dari belakang bangku penonton. Seorang pemusik dengan mengenakan topeng merah memainkan kendang dengan riang memecah keheningan. Berjalan perlahan mengarah ke arena pertunjukan menarik perhatian. Setibanya di arena pertunjukan, ia menghela nafas, menghentikan permainannya. Alih-alih diam, ia justru berteriak lebih lantang “Arak-arakan yo.” Sontak dari sebuah pintu di sisi kanan arena, satu rombongan keluar bergantian. Menyambut panggilan sang pemusik, rombongan yang berjumlah duabelas orang—sembilan penari serta tiga pemusik— turut menari dan bernyanyi membuat suasana semakin gegap gempita.

Seorang perempuan pembuka jalan membawa persembahan, di belakangnya turut disusul oleh sang Ksatria, istri dan hewan penjaga, serta diikuti oleh enam penari berbusana seragam menari dengan riang. Enam penari ini cukup memberikan efek yang ramai, terlebih mereka bergerak dengan menggunakan pecut—lazim digunakan Jaranan—dengan diputar-putarkannya ke segala arah. Belum lagi, Cahwati sang sinden yang seakan membawa persembahan mengisyaratkan adanya arak-arakan. Terbetik dari hal tersebut, arak-arakan dipertunjukan, namun bukan hanya soal ramai yang diciptakan, namun terbetik nuansa perayaan.

Selanjutnya, dialog mulai dibuka oleh sang sinden dengan memperkenalkan diri dan rombongan yang datang sebagai pewarta keliling. Seketika suasana hening, dan para penari mulai berlutut dengan perlahan. Dialog dimulai dengan menarasikan tentang bumi yang gonjang-ganjing, dengan keadaan yang tidak baik-baik saja. Di sela pembicaraan, enam penari yang tengah berlutut mengenakan sebuah penutup kepala ala topi Dolalak. Narasi tadi berhenti pada sebuah terma “arak-arakan”. Kembali seketika mereka menari dan menyanyi dengan semangat menampilkan arak-arakan.

Setelah arak-arakan usai, seorang penari laki-laki—memerankan anjing—berjalan perlahan menuju ke arah depan arena, ia mulai berkelakar bahwa dirinya adalah sang Pager Bumi yang siap menjaga dari pelbagai halang rintang. Laki-laki tersebut pun mulai berucap sambil menuju para enam penari tadi. Turut menggoda sambil menerangkan atas kejadian yang terjadi. Setelahnya mereka kembali menari, namun di satu saat semua penari terhenyak, sementara laki-laki tadi masih terus menari. Mulai tersadar ia berucap “lah kok mandeg!”. Lantas mereka kembali menari.

Kembali pada dialog, istri dari ksatria [diperankan oleh Nungki] mulai berdialog dengan nada lirih menyangangkan pelbagai keadaan, dan mengenang beragam peristiwa. Ia berbalik badan dengan memunggungi penonton, membuka perlahan pakaian yang dikenakan, hingga kemben tersisa. Sang istri mendekati sang Ksatria dan membuka perlahan bajunya. Seketika ia mulai kembali menari. Perempuan menari dengan tenang hingga mempercepat gerak namun ritmik. Sedangkan sang Ksatria bergerak dengan gagah nan agresif. Sementara enam penari lainnya melepas topi disisipi sesekali dengan kosagerak tari.

Sang Ksatria berkelakar “Iki Jaman Opo!” dengan nada yang marah, dinaungi kendang dengan ritmik yang semakin cepat. Setelahnya ia kembali disambut dengan arak-mengarak. Berbeda dengan sebelumnya, enam penari lainnya kini menari dengan kipas. Sedangkan penari yang memerankan anjing mengambil sikap gerak layaknya raksasa (baca: buto). Di sisi yang berbeda ksatria dan istri berjalan perlahan ke arah belakang panggung. Mereka perlahan menggenakan topeng jawa, sedangkan sang istri turut berambut tangkai padi kering—gabah. Sedangkan sang hewan turut berganti wajah dengan topeng yang lain, sehingga ia bergerak layaknya manusia, tidak seperti sebelumnya, menyerupai anjing.

Pager Bumi, karya Garin Nugroho-teraSeni.com
Ksatria Islam Jawa dan sang Istri
dalam Pager Bumi, karya Garin Nugroho
(Foto: Aji Wartono)

Alunan musik terasa lebih tenang, mereka menari dengan perlahan, gerakan tari—mengacu ke alusan—dan terasa ajeg. Ksatria dan istri menari halus dalam gerakan yang serupa dan serentak, disertai dengan gerak serempak dari para penari. Di sisi kiri mereka, sang hewan peliharaan yang telah berubah rupa menari dengan liar membuat kontras pertunjukan semakin jelas. Tidak hanya itu, sang ksatria turut bertikai dengannya. Beragam gerak perkelahian yang distilisasi, bergulingan, hingga saling berjatuhan satu sama lain divisualkan. Berkenaan dengan adegan ini, ksatria merapal kata layaknya mantra. Adegan ini sangat simbolis atas pertikaian dua kelompok tanpa akhir, yang terjadi hanya karena berbeda nilai acuan. Seraya terusik satu sama lain. Dengan adegan pertikaian, kesan chaos tersemat ke benak penonton.

Di akhir pertikaian, sang ksatria berkelakar “duh Gusti, kenapa seperti ini.” Datang menyambangi sang Istri mendatangi merapal keluh menyayangkan peristiwa. Perkelahian tak kunjung usai, sang istri ksatria mendatangi mereka untuk melerainya. Perlahan sang ksatria mendekati sang laki-laki tadi, menarik topeng dari wajah tanpa rupa walau terasa sulit. Perlahan terlepas, mereka mulai tersadar satu sama lain. Nuansa sekamin harmonis ketika para penari mulai bernyanyi lirih dan menari secara bersamaan. Di tengah tarian, sang ksatria berkelakar bahwa perlu ditegakkan pager jiwa dengan pager bumi jawa [di malam itu, seakan semesta menyambut, petir terdengar menggelegar]. Lalu mereka—tiga penari tadi—berlutut dan menyembah, sedangkan enam penari perempuan lainnya menembakan peluru ke udara. Samar-samar lampu padam, tanda telah usai pertunjukan.

Memagari dengan Toleransi
Pada awalnya pertunjukan terasa membingungkan, terlalu banyak arak-arakanan, terlalu banyak perayaan, dan terlalu banyak kemeriahan. Seraya terus mencari apa yang ingin dikatakan dari pertunjukan sendratari tersebut ketika pertunjukan berjalan. Namun kesan yang didapatkan seakan berbeda ketika menyaksikannya hingga usai pertunjukan. Di mana arak-arakan telah menjadi penanda atas sebuah peristiwa, mulai dari arak-arakan penyambutan, arak-arakan perlawanan, arak-arakan modernisasi, arak-arakan penaklukan, arak-arakan nilai baru, hingga arak-arakan pematokan tanah-tanah industri pertanian baru.
 
Dalam hal ini, secara tersurat arak-arakan dapat dimaknai sebagai penanda perayaan atas penerimaan akan hal baru, sedangkan secara tersirat kita dapat mendapatkan nilai ‘kejawaan’ justru dari arak-arakan. Mengapa demikian? Pasalnya, Garin tidak secara jelas meletakan berada di mana letak kejawaan yang dimaksud, terlebih jika melihat susunan penampil yang berbeda asal. Tentu pilihan tersebut dapat ditafsir-ganda (multi-interpretation), dengan dimaknai sebagai perjalanan, dan juga dapat dimaknai sebagai petanda akan jawa yang bergelimang pengaruh hingga berliput paradoks.

Pager Bumi, karya Garin Nugroho-teraSeni.com
Para pemusik dalam Pager Bumi, karya Garin Nugroho
(Foto: Aji Wartono)

Secara lebih lanjut, Garin turut memberikan gambaran jawa yang berbeda. Jawa alternatif. Jawa yang tidak merujuk kekuasaan adiluhung tertentu, namun tetap terasa jawa dengan adanya arak-arakan dan beragam kosagerak tari. Hal ini pun diamini oleh sang koreografer, Bimo Wiwohatmo, bahwa gagasan utama dari pertunjukan ini adalah bedoyo, namun perkembangan cerita gerak tidak menempatkannya lagi pada bedoyo atau bedayan, melaikan Pager Bumi itu sendiri. Alhasil dalam gerak tari pun, gerak-gerak tarian Jawa tetap menginspirasi para penari untuk bergerak walau tanpa pola lantai dan pola gerak yang telah terpakem.

Dalam arti, Garin berkerjasama dengan Bimo Wiwohatmo membebaskan pakem gerak mereka ke sebuah gaya tarian rakyat yang lebih bebas. Dalam pola lantai pun, Bimo akhirnya merujuk pada pola simpingan pada wayang, dan mempertemukan antara satu penari dengan penari lainnya di tengah layaknya di depan sebuah kelir. Sedangkan pada kemampuan penampil, tidak perlu meragukan Cahwati dalam olah suara, nuansa jawa sangat erat terasa, dan alunan musik olahan Bagus juga cukup baik mengiringi. Dan dalam kepenarian, Anter dan Nungki bermain dengan cukup cakap, sedangkan Anggono lebih menyita perhatian. Jika bicara enam penari lainnya, [walau tidak semua] basik kepenarian tari klasik dari para penari tetap terasa, sehingga kurang terasa lepas ketika bergerak ala tari rakyat, dolalak. Pun tidak dipungkiri keenam penari bermain dengan cukup apik dalam porsi dan kesinergisannya dalam karya.

Tidak hanya itu, dalam karya Pager Bumi ini, Garin dkk turut mengandalkan pelbagai permainan simbol. Mulai yang terwujud, antara lain: pecut, topeng, kacamata, kipas, pistol, gabah, dan properti lainnya, hingga yang nirwujud, antara lain: gerak-gerak yang tersusun dalam pertunjukannya. Permainan simbol tersebut sekiranya dapat memberikan tanda adanya perayaan, persembahan, perebutan, hingga penyesalan. Dan simbol tersebut terasa saling menyulam satu sama lain benang merah pertunjukan yakni: Cipta lawang karsa kawujud saka Bumi Jawa.

Bertolak dari itu semua, kendati pertunjukan terasa sangat ramai, semoga para penonton dapat menyadari pesan yang ingin disampaikan, bahwa masyarakat jawa perlu melakukan jalan sunyinya untuk mengenali diri dengan kejawaannya, bukan dengan pelbagai hal baru yang memekakkan mata dan terkadang tanpa makna. Sulit sekiranya, namun perlu rasanya dicoba untuk masyarakat kita yang semakin lapar kuasa.[]


Redaksi teraSeni berterimakasih jika teman-teman berkenan meninggalkan komentar, namun mohon untuk meninggalkan komentar yang tidak melanggar batas-batas etika, HAM, SARA dan tindak kriminal. Terimakasih.
EmoticonEmoticon