Kamis, 01 Juni 2017

Pertunjukan Sadako; Dua Tradisi, Satu Tubuh, dan Satu Kisah Pilu

Kamis, 1 Juni 2017 | teraSeni.com~


Pelbagai cara dalam membahas tentang isu kemanusiaan dilakukan, mulai dari dialog yang verbal, hingga penulisan yang literal. Cara tersebut merujuk pada satu haluan yakni mendistribusikan sebuah narasi tertentu. Namun tidak dapat disangkal bahwa terkadang dua cara tersebut membeku di dalam persebarannya ke masyarakat, bahkan cukup lumrah jika narasi tadi dibiarkan hilang begitu saja. Alih-alih mengalah pada keadaan, kehadiran seni justru menjadi sebuah terobosan dalam menyampaikan isu-isu tersebut dengan cara yang berbeda. Dengan ragam seni, seperti: lukisan, instalasi, performance art, teater, musik, tari, dan sebagainya, sebuah isu dapat tersampaikan ke penonton tidak hanya dengan logika dan etika saja, melainkan turut melibatkan estetika.

Repertoar bertajuk Sadako, 
ditarikan tunggal oleh koreografernya sendiri
Valentine Nagata-Ramos.

Kiranya hal tersebut tercermin dari pertunjukan yang bertajuk Sadako dari Valentine Nagata-Ramos—seorang koreografer dari Uzumaki Company. Sebuah pertunjukan tari kontemporer yang digelar di Jakarta (16/5), Bandung (18/5), dan Auditorium LIP Yogyakarta, sabtu (20/5) dari seorang koreografer Perancis dengan mengangkat kisah Sadako Sasaki. Kisah dari seorang anak berusia 12 tahun yang meninggal karena leukimia yang dideritanya. Namun tidak sesederhana itu, penyakit tersebut dikenal sebagai penyakit bom atom. Pasalnya ketika berumur dua tahun, sebuah bom atom jatuh di kota di mana ia tinggal, Hiroshima. Sadako dapat bertahan hidup hingga sepuluh tahun setelahnya.

Yang tidak kalah pilu adalah cerita bagaimana ia bertahan hidup. Sebagaimana Asia Timur mempunyai kearifan lokal yang beragam dan hidup bersama masyarakat, maka di Jepang terdapat sebuah legenda yang dipercaya, bahwa “barang siapa dapat membuat seribu origami berbentuk burung bangau, maka permintaannya akan terkabul.” Sadako yang bertekad sembuh lalu membuat seribu origami, layaknya legenda yang ia percayai. Namun malang tidak dapat ditolak, ajal menjemput lebih cepat, belum genap 1000, Sadako menghembuskan nafas terakhirnya ketika ia baru membuat 644 origami burung bangau.

Alih-alih duka melanda, teman sepermainan dan sesekolahnya tidak tinggal diam. Mereka melanjutkan menggenapkan origami yang dibuat Sadako hingga usai. Lantas 1000 origami burung bangau yang telau usai dibuat disemayamkan bersama jenazahnya. Cerita pilu ini bukan sekedar cerita biasa, tidak hanya menceritakan perjalanan hidup seorang anak yang menderita sakit, melainkan tersemat simbol harapan yang luar biasa. Usut punya usut, paska kematian Sadako, legenda origami burung bangau ini menjadi simbol perdamaian.

Tari Kontemporer Sadako-teraSeni.com
Valentine Nagata-Ramos
dalam salah satu adegan
r
epertoar bertajuk Sadako

Bertolak dari cerita inilah, seorang koreografer dengan basis tubuh hip hop dan butoh terinspirasi membuat sebuah repertoar dengan menggunakan nama sang anak, Sadako. Namun sebagaimana seni tidak hanya mempresentasikan dengan wantah atas cerita tertentu, di sini Valentine mengambil cerita tentang perjalanan hidup dari masa kecil hingga menuju dewasa. Untuk tetap mengingatkan kita pada Sadako, lantas Valentine menyertakan origami burung bangau berukuran besar dan dua buah sandal jepang di setiap pertunjukannya.

Pertunjukan Enerjik Berbalut Emosi
Pertunjukan dibuka dengan penampilan dari lima penari hip hop Indonesia, yakni Steven Russel, Eriza Trihapsari, Mario Avner Francis, Dheidra Fadhillah, dan Michael Halim. Dengan mempertunjukan sebuah repertoar hasil dari residensi kreasi lima penari tersebut yang telah dilakukan di Jakarta sejak tanggal 13 hingga 15 Mei, silam.

Diawali dengan panggung tanpa cahaya, suara deru ombak samar-samar terdengar. Dengan cahaya yang teram-temaram, lima penari berpakaian casual mulai memasuki panggung. Mereka bergerak secara senada dengan ragam kosagerak hip-hop dan break dance. Beberapa kosagerak dasar hip hop mereka tunjukan secara bersamaan. Setelahnya suara mendengung terdengar keras, mereka terpecah ke segala arah. Sementara suara nada tinggi dari tuts piano mulai berbunyi bergantian namun perlahan, dua penari di sisi kiri, dan tiga penari di sisi kanan panggung [jika dilihat dari bangku penonton].

Di sisi kiri, seorang laki-laki dengan basis tubuh break dance mulai bergerak secara simultan, kosagerak flares hingga baby spins ia lakukan. Sementara penari perempuan datang menghampiri tiga penari di sisi kanan. Lantas ia menaiki punggung salah seorang penari laki-laki yang tengah terpelungkup. Tidak lama berselang, suara kendang terdengar, seorang penari perempuan tadi menggerakan tangannya layaknya gerak tari Jawa. Pelbagai gerak seperti: ngiting, ukel, dan ragam eksplorasinya ia tunjukan.

Sementara seorang lainnya mendatangi dengan menggeliat, sesekali ia melakukan kosagerak dasar break dance hingga teknik flares. Dua orang penari lain menggeliat turut mendekati, hingga mereka bergerak serupa dan seirama. Selanjutnya mereka membentuk formasi lingkaran, sementara satu di antaranya melakukan windmills, hand hops, hingga flares. Empat penari lainnya bergerak dengan basis eksplorasi hip hop mengikuti pola bunyi.

Tidak lama berselang, tiga penari berjalan meratap ke arah penonton. Sementara satu lainnya perlahan mengikuti dari kejauhan hingga berdekatan. Sedangkan satu penari lainnya melakukan gerak jalan perlahan di tempat terpisah dari empat penari lainnya hingga melakukan head spin. Kelima penari tersebut menari dengan enerik disertai tempo yang cepat. Alhasil tarian nomor pertama ini sarat dengan gerakan cepat, menyerupai semangat akrobatik.

Pada adegan selanjutnya, mereka terpecah, sepasang laki-laki dan perempuan berada di sisi belakang kiri panggung dan sisi depan kanan panggung, sedangkan satu orang tersisa menari di tengah panggung. Dua pasang penari tadi bergerak cukup unik, di mana laki-laki berposisi duduk, sementara penari perempuan melangkah dengan beralaskan kaki laki-laki pasangannya. Sang penari perempuan berjalan memutari laki-laki. Lantas satu penari tersisa menghampiri, memberikan langkah baru bagi perempuan untuk berjalan ke arah yang berbeda. Begitupun dengan pasangan penari di sisi depan. Setelahnya laki-laki tersebut kembali di tengah, ia melakukan flares hingga lampu pertunjukan padam. Repertoar pertama usai.

Tari Kontemporer Sadako-teraSeni.com
Penampilan lima penari hip hop Indonesia
 yakni Steven Russel, Eriza Trihapsari,
Mario Avner Francis, Dheidra Fadhillah, 
dan Michael Halim

Repertoar kedua bertajuk Sadako. Ditarikan tunggal oleh koreografernya secara langsung, Valentine Nagata-Ramos. Dalam cahaya yang berangsur terang, sehelai kertas berbentuk origami burung bangau tergeletak di tengah panggung. Valentine yang tengah duduk bersila menatap tajam ke arah origami tersebut. Alih-alih nuansa yang dibangun tegang, Valentine justru melakukan gerak mengejutkan, yakni dengan melakukan hand hops—berdiri bertumpu pada satu tangan dengan kaki di udara—dan melakukan gerakan head spin—memutar tubuh yang bertumpu pada kepala—dengan durasi yang tidak sebentar. Memberi impresi bahwa pertunjukan akan seperti apa, terlepas dari teknik yang dimiliki akan tari hip hop penari sangat baik.

Tidak lama berselang, Valentine berjalan menuju ke arah penonton. Namun tidak berjalan dengan laku yang lazim, ia justru mengeksplorasi gerak hip hop sebagai kosagerak di setiap rangkaian gerak dalam tarinya. Setelahnya ia kembali menghampiri tempat di mana origami tersebut diletakan. Namun perlu diingat, setiap gerak yang ia lakukan selalu mengandung unsur hip hop, sehingga eksplorasi atas gerak hand hops, elbow hops, flares, windmills, headspins, baby spins, tidak jarang terlihat. Valentine lalu membuka perlahan origami burung tadi hingga berbentuk lembaran. Lantas ia bersimpu di atas kertas tersebut dengan ditemani suara dengung.

Dengan raut wajah ragu, ia berjalan mundur secara perlahan. Kemudian lampu sekejap padam, dan posisi Valentine seakan sedang berjalan menjaga keseimbangan layaknya di ketinggian. Sementara lampu secara banal menyala, menghempaskan bias cahaya secara semena-mena, seakan mengisyarakatkan sebuah tanda akan sebuah perjalanan. Sekian menit ia bergerak, Valentine masih dengan gerak eksploratif dengan tingkat teknik yang sulit. Tersemat impresi bahwa stamina yang dimiliki Valentine dalam menari luar biasa stabil. Pasalnya ia tidak nampak kelelahan, cara pernafasan yang ia lakukan pun menunjukan pola latihan yang terstruktur, sehingga Valentine sudah sangat baik dalam mengatur nafas demi nafas di tiap geraknya.

Valentine bisa sangat mudah melangkah ke segala arah dengan pelbagai gerak eksplorasi yang bertumpu pada basis tubuh hip hop-nya. Kendati ia menari tunggal, ruang pun terasa terisi dengan gerak yang ia lakukan seorang diri. Nuansa akrobatik pun tidak dapat disangkal dengan banyaknya ragam gerak berputar, headspin, flares, windmills, dan sebagainya. Alih-alih hanya menunjukan ketangkasan teknik tubuh dan eksplorasi gerak yang ia rangkai mengisi cerita perjalanan Sadako.

Di adegan selanjutnya, ditandai dengan alunan lirih ‘shakuhachi’, suling bambu Jepang, semua terjadi berkebalikan. Valentine diam termangu menutup tubuhnya dengan kertas origami tadi. Pada adegan ini eksplorasi kesunyian tubuh sebagai bentuk kebiadaban manusia menjadi poin yang utama. Dalam momen inilah Valentine bergerak secara perlahan, menggeliat dengan tempo yang lambat, sebuah jalan eksplorasi dari butoh Jepang. Sesekali ia mengurai rambutnya, dengan melipat kertas dan memeluknya ke sisi panggung yang berbeda. Sekejap impresi akan nuansa pertunjukan berubah signifikan.

Dengan nuansa yang berbeda, gerakan enerjik tidak lagi terlalu dominan. Valentine lebih banyak mengeksplorasi gerakan merayap perlahan, tetapi yang menarik adalah sesekali ia tetap menyisipkan gerakan hip hop menyerupai hand hops, flares atau baby spins. Alhasil butoh yang diwujudkan Valentine tidak ansih layaknya para seniman butoh, seperti Kazuo Ohno, Min Tanaka, atau Akaji Maro, melainkan butoh dari Valentine Nagata-Ramos. Dalam hal ini, semangat dan metode butoh dalam mengekspresikan sesuatu hal itulah yang digunakan Valentine dalam menghadirkan Sadako di atas panggung.

Alunan shakuhachi yang membuat suasana menjadi tenang tersebut lantas menjadi latar belakang ketika Valentine membuat origami burung bangau secara perlahan. Setelah origami burung terbentuk, lantas raut wajah Valentine berbinar. Ia memandang dengan tenang, hingga akhirnya ia menghempaskannya ke udara. Setibanya origami burung bangau mendarat di tanah, lampu pertunjukan meredup, pertunjukan selesai.

Ketika Timur Berbalut Barat dan Sebaliknya
Terbetik dari repertoar Sadako, tersemat banyak poin yang dapat dipetik, di antaranya adalah kerja koreografer dalam mengelindankan basis tubuh tari yang dimiliki oleh seorang atau sejumlah penari. Secara lebih jelas, perkelindanan tari Timur dan tari Barat dari seorang penari, serta bagaimana mengolahnya menjadi satu kesatuan yang utuh. Dalam hal ini penari Indonesia—peserta residensi—dengan basis tubuh hip hop dan basis tubuh tari tradisi Indonesia, serta Valentine dengan basis tubuh hip hop dan pembelajarannya atas butoh. Maka di sinilah peran Valentine dapat dicermati.

Dari repertoar pertama, nampak kerja Valentine tidak terlalu berat pada teknik, terlebih kelima penari memang sudah mempunyai basis tubuh hip hop dan break dance. Namun yang menarik adalah kerja Valentine dalam menyusun gerak yang tidak hanya menarik untuk dipandang, namun memberikan alur yang baik.

Implikasinya adalah penonton tidak merasa bosan ketika menyaksikannya. Lalu yang menarik, Valentine tetap ingin memasukan tubuh tradisi di dalam repertoar pada hasil residensi tersebut, terlihat dari beberapa gerak penari perempuan dengan basis gerak tradisi Indonesia, yakni tari Jawa. Namun sebagaimana residensi dengan durasi waktu kilat, repertoar pertama telah mewakili dua kebudayaan, namun belum menyatu. Kedati demikian, setidaknya pembelajaran untuk menegosiasikan dua kebudayaan tersebut dalam satu tarian dapat dipelajari dari Valentine.

Alih-alih serupa, hal tersebut tidak terjadi di repertoar selanjutnya, Sadako. Repertoar kedua merupakan tingkat lanjut dari pola negosiasi yang ia terapkan layaknya di repertoar pertama. Dalam arti, repertoar kedua terasa preposisi dan ideal dalam saling-silang budaya, hingga pilihan gerak dalam sampaikan gagasan. Pasalnya, Valentine telah mencampurkan tari hip hop dan butoh dengan cukup representatif. Di mana ketangkasan dan teknik tubuh Valentine akan hip hop dan break dance yang ia punya, sudah tinubuh. Secara lebih lanjut, Valentine sudah dapat memilih dan menempatkan gerakan hip hop di dalam repertoarnya dengan tepat. Selanjutnya, Valentine turut mengeksplorasi kosagerak hip hop dan kosagerak butoh di dalam tariannya.

Sebagaimana kosagerak yang diwujudkan Valentine sarat dengan kemampuan fisik, maka kesan yang didapat dari repertoar Sadako memang berangkat dari kepiawaian fisik Valentine. Dalam hal ini, kerap timbul kerancuan yang perlu diartikulasikan, pasalnya pesona tubuh fisik kerap kali menenggelamkan pesan yang ingin disampaikan sang koreografer. Penonton akhirnya terlalu sibuk menikmati dan mengartikan gerakan per gerakan, tetapi lupa ketika gerak tadi menjadi kesatuan. Alhasil hal fisik bukan berarti nirmakna, dalam tari justru visual yang terlihat dapat menyulam imaji dan menyampaikan gagasan tertentu.

Selanjutnya, ketangkasan fisik hip hop seakan lebur ketika bertemu dengan butoh. Namun Valentine tidak wantah mencampurkan butoh dan hip hop, melainkan hanya menyisikpan sesekali pada waktu (timing) yang rasanya penting. Impresi yang muncul adalah percampuran butoh yang berpusat pada detil gerak dengan tempo lambat, menyatu dengan hip hop yang detil dengan tempo cepat. Permainan detil dengan tempo yang berubah menjadi sebuah keistimewaan yang dihadirkan.

Alhasil memesona merupakan terma yang tersemat pada pertunjukan tersebut, namun [sekali lagi] bukan karena Valentine adalah penari Barat dan berjenis kelamin perempuan, melainkan ia dapat menunjukan kerja serius dari kepenarian dan koreografi yang terwujud di karyanya. Ia nampak tidak main-main dengan budaya yang ia emban, gagasan yang ia angkat, dan karya tari yang ia pertunjukan. Menurut hemat saya, ini adalah etos kesenimanan yang perlu dicontoh.

Bertolak dari karya ini, kendati bermula dari gerak, rasanya seni tari bukan hanya presentasi gerak semata, namun cara lain untuk mengapresiasi, bahkan sebagai wujud doa—yang dalam tarian ini ditujukan untuk Sadako. Maka atas apa yang dilakukan Valentine, saya percaya bahwa Sadako selalu tersenyum ketika repertoar tersebut dipertunjukan.

Redaksi teraSeni berterimakasih jika teman-teman berkenan meninggalkan komentar, namun mohon untuk meninggalkan komentar yang tidak melanggar batas-batas etika, HAM, SARA dan tindak kriminal. Terimakasih.
EmoticonEmoticon