Kamis, 19 Oktober 2017

Sally Dansgezelschap Maastricht: Dari Ballet Ke Ihwal Kekinian

Kamis, 19 Oktober 2017 | teraSeni.com~


Pertunjukan tari kontemporer dari Sally Dansgezelschap Maastricht (SDM) digelar di beberapa kota Indonesia, seperti Yogyakarta (7/10), Surakarta (9/10), dan Jakarta (11/10). Erasmus Huis berhasil menghadirkan di Indonesia kelompok tari kontemporer yang telah malang melintang menghasilkan 30 karya dalam rentan waktu tiga dekade. Bekerja sama dengan Warta Jazz, kelompok pertunjukan yang digawangi Stefan Ernst dan Ronald Witjens ini digelar di Pendhapa Art Space, Bantul, Yogyakarta.

Tarun ini pertunjukan SDM diberi tajuk Performance Skyline, merujuk salah satu judul repertoar baru yang menjadi repertoar terakhir dalam pertunjukan tersebut. Pertunjukan yang berhasil menghadirkan tarian karya baru berbasis tari tradisi (baca: ballet), terdiri dari empat repertoar pertunjukan, yakni “The Golden pas de Deux” karya Stephen Shropshire; “It just Happens for a Reason” karya Luis Ricardo Pedraza Cedrón; “Alone Together” karya Patrizio Bucci; serta karya “Skyline” karya Stefan Ernst, Itzik Galili, Roy Assaf.

Performance Skyline Oleh Sally Dansgezelschap Maastricht-teraSeni.com
Pertunjukan tari kontemporer
Sally Dansgezelschap Maastricht
digelar di Pendhapa Art Space Yogyakarta
7 Oktober 2017
(Foto: Aji Wartono)



Hal yang menarik, empat repertoar pertunjukan tersebut menyoal hal yang tidak jauh berbeda, yakni kehidupan sehari-hari—soal-soal yang kerap diangkat oleh koreografer tari kontemporer. Interpretasi masing-masing koreografer dari tersebut lantas berpadu dengan kosa gerak ballet. Terlebih, “Setiap koreografer dan penari mempunyai basis ballet yang kuat”, ungkap Stefan Ernst (pimpinan SDM). Dalam hal ini, Ballet menjadi cara tutur untuk menyampaikan sebuah gagasan.

Namun yang menarik, nuansa dan kedalaman yang masing-masing koreografer buat tidak seragam. Selain terkait dengan interpretasi yang secara sendirinya berbeda, hal ini tentu terkait dengan berbedanya basis ballet yang mereka pelajari. Dalam hal ini, ballet tidaklah tunggal. Terdapat perbedaan pada fokus gerak serta kedalaman, antara ballet Jerman, ballet Perancis, dan seterusnya. Hal ini tentunya mempengaruhi habitus dari koreografer yang berasal dari negara yang berbeda-beda pula. Lantas mereka bertemu serta menghasilkan karya di SDM, membuat ballet menjadi bervariasi baik secara sumber penciptaan, kosa gerak, serta orientasi penonton.

Ballet yang Beraneka
Pertunjukan diawali dengan repertoar tari berpasangan bertajuk The Golden Pas deDeux, karya koreografer, Stephen Shropshire. Dalam ballet, terma Pas de Deux memang tidak asing. Terma tersebut merujuk pada tari ballet berpasangan. Shropshire—sebagai koreografer—ingin mewujudkan esensi dari tari berpasangan tersebut melalui karya koreografinya.

Pada pertunjukan ini, kedua penari menggunakan pakaian ballet yang lebih modern, yakni hanya pakaian berwarna hitam yang merekat pada tubuh, baik penari perempuan ataupun laki-laki. Repertoar pertama ini didominasi sifat gerakan ballet pada umumnya, yakni levitasi. Kosa gerak ballet pun terasa utuh, baik melompat, berjinjit, berputar, menggendong penari lain, yang merujuk pada gerak-gerak menawan secara visual.

Sebagai repertoar pertama, rasanya tepat SDM membuka pertunjukan dengan memberikan keindahan visual ballet. Hal ini tentunya memberikan pondasi referensi yang tegas antara ballet yang ansih dengan tari kontemporer berbasis ballet. Dalam karya tersebut, kedua penari dapat memberikan nuansa ballet yang kental dengan gerakan-gerakan eksplorasi atas kosa gerak ballet yang dikelindankan dengan gerak keseharian. Namun porsi gerak keseharian tidak terlalu dominan pada repertoar pertama.

Performance Skyline Oleh Sally Dansgezelschap Maastricht-teraSeni.com
Repertoar kedua bertajuk
It Just Happens for a Reason
karya Luis Ricardo Pedraza Cedrón
dalam Gelaran tari kontemporer
Sally Dansgezelschap Maastricht  
(Foto: Aji Wartono)

Sedangkan repertoar kedua bertajuk It Just Happens for a Reason karya Luis Ricardo Pedraza Cedrón. Yang menarik dari karya kedua adalah sang koreografer menarikan tunggal karyanya secara langsung. Alhasil mulai dari konsepsi, pembawaan, nuansa, hingga gerak yang dikoreografikan berasal dari sang koreografer secara langsung.

Di awali dengan seorang laki-laki (baca: Cedrón) berpakaian kasual berjalan dari arena penonton. Perlahan menaiki panggung, ia melepas sepatunya. Kemudian sekejap ia bergerak berbeda, dimulai dengan berlari kecil, mendekap, berputar, hingga lompatan-lompatan tinggi ala ballet. Berbeda dengan karya sebelumnya, karya dari Luis Cedrón ini berorientasi pada gagasan, kombinasi gerak, hingga pakaian yang lebih kekinian.

Di Indonesia, beberapa kecenderungan seperti penggunaan pakaian, sturktur pertunjukan di awal dan akhir—khususnya keterkaitan dengan penggunaan artistik (baca:sepatu)—hampir dapat dipandankan dengan karya Sherli Novalinda dengan karyanya yang bertajuk “Meniti Jejak”.

Kembali pada karya, secara gagasan, Cedrón ingin mengajak penonton merespon kehidupan sehari-hari yang divisualkan melalui gerak-gerak ballet. Dalam hal ini Cedrón memang mempunyai basis tubuh ballet yang matang, namun alih-alih mewujudkan setiap gerak ballet, Cedrón melakukan pelbagai kombinasi geraknya dengan gerak-gerak modern dan gerak keseharian.

Performance Skyline Oleh Sally Dansgezelschap Maastricht-teraSeni.com
Repertoar bertajuk Alone Together
karya Patrizio Bucci, membawa gagasan
yang mendalam atas tubuh,
yakni kesendirian dalam kebersamaan 
(Foto: Aji Wartono)

Kombinasi tersebut menjadi sangat menarik secara visual, di mana gerak yang dipertunjukan tidak hanya merujuk pada praktik stilisasi gerak, melainkan memperlihatkan distorsi gerak tubuh. Hal ini menjadi semakin selaras dengan pilihan Cedrón menggunakan pakaian kasual dalam pertunjukannya.

Pada repertoar ketiga, pertunjukan bertajuk Alone Together karya Patrizio Bucci. Karya kontemporer ini membawa gagasan yang mendalam atas tubuh, yakni kesendirian dalam kebersamaan. Karya ini dapat dibaca dan ditautkan pada persoalan kini yang tidak terbatas pada kultur, sosial, ataupun teritori, semisal pada praktik penggunaan gawai oleh keluarga Indonesia, dan sebagainya. Karya ketiga ini membawa gagasan yang universal dan melulu berulang. Gagasan tersebut lantas berpadu-padan dengan kosa gerak ballet—khususnya tari berpasangan—dengan orientasi pada kekuatan.

Karya ketiga ini ditarikan oleh seorang penari laki-laki berbadan tegap dan berotot (Pedro Ricardo) yang mempunyai kosa gerak ballet yang baik dan seorang perempuan berambut bondol (Amy Greene). Pada karya ketiga, gerakan diawali dengan gerak individu dan eksplorasi—baik gerak ataupun ruang—, namun setelahnya interaksi gerak yang diciptakan lebih beragam dan mendalam, seperti ketika laki-laki menangkap perempuan yang melompat lalu memutarkan tubuhnya di dalam dekapannya, penari perempuan yang bercangkung bertumpu pada dengkul sang laki-laki, dan sebagainya.

Sedangkan pada repertoar terakhir adalah pertunjukan puncak yang bertajuk Skyline. Sebelum dimulai, Stefan Ernst mengungkapkan bahwa karya tari tersebut baru diluncurkan beberapa minggu sebelum kedatangannya ke Indonesia. Karya ini menceritakan tentang rasa cinta dari lima individu yang berbeda. Secara lebih lanjut, karya ini menceritakan tentang pertemuan, perbedaan, kepercayaan, kebersamaan, dan cinta. Karya tersebut dicipakan oleh Stefan Ernst, Itzik Galili, dan Roy Assaf.

Berbeda dengan tiga karya sebelumnya, Skyline diawali dengan porsi kosa gerak ballet yang lebih tersirat. Sedangkan gerakan keseharian lebih mempunyai porsi yang lebih banyak. Karya ini lebih wantah dalam pesan, di mana ditandai dengan tiga buah kertas yang bertuliskan Everything You Want Is On Other Side of Fear pada awal pertunjukan, dan Everything You Want is Love di akhir pertunjukan, direntangkan oleh tiga dari lima penari terlibat. Maksud hati tulisan tersebut menambah kesan mendalam pada koreografi yang telah disusun, tulisan tersebut justru membuat pertunjukan menjadi hambar.

Performance Skyline Oleh Sally Dansgezelschap Maastricht-teraSeni.com
Repertoar terakhir bertajuk Skyline,
berkisah  tentang rasa cinta
dari lima individu yang berbeda 
(Foto: Aji Wartono)

Tidak hanya itu, gagasan yang ingin disampaikan agaknya terasa terlalu berlapis. Dalam hal ini gagasan yang membentuk cerita bukan menjadi soal, namun sisipan atau lapisan cerita yang berlebih membuat tingkat sublim pertunjukan menjadi penuh resiko. Dan malam itu, resiko tersebut harus ditanggung mereka. Tidak hanya itu, beberapa gerak yang dikoreografikan untuk menyusun gagasan tersebut seraya terasa mentah, dengan rangkaian alur yang agak dipaksakan.

Usut punya usut, terjadi beberapa penyesuaian dan perubahan pada repertoar Skyline ini, ungkap Stefan Ernst. Penyesuaian tersebut cukup banyak, seperti: seperti durasi pertunjukan yang semestinya 59 menit dipotong menjadi 20 menit; artistik yang semestinya tembok yang kelak dieksplorasi; serta beberapa alur yang dirasa beresiko jika dipertunjukan di Indonesia; dan sebagainya. Atas dasar inilah, segala dugaan menjadi benar. Namun seyogianya, hal tersebut dapat diatasi, seperti orientasi panggung yang dilakukan beberapa hari sebelumnya, riset orientasi penonton, hingga pengaturan ulang alur yang termanifestasikan pada gerak.

Ambil Baiknya Buang Buruknya
Kita dapat menuduh bahwa SDM tidak ‘siap’ pada repertoar Skyline, karya yang digadang-gadang oleh mereka. Namun perlu dicatat, kerja memeras karya yang berdurasi panjang menjadi terbatas, dan layak dipertontonkan itu juga kerja yang perlu diapresiasi. Semisal, kita perlu mengapresiasi beberapa gerak yang memang inspiratif, seperti ketika seorang penari berjalan di antara dengkul penari lainnya, simbol gerak dari ‘kerjasama’, seorang penari menjatuhkan diri ke keempat penari lainnya, simbol gerak dari rasa ‘percaya’, serta beberapa gerak lainnya turut terbentuk dengan pesan-pesan serupa.

Secara lebih lanjut, Stefan menyatakan bahwa orientasi SDM memang lebih kepada pesan-pesan sosial yang disematkan pada gerak. Dengan demikian, cukup jelaslah jika SDM membuat karya untuk banyak usia. Dalam hal ini, karya SDM dibuat berdasarkan negosiasi antara gagasan tari dan orientasi penonton yang akan disajikan—dalam hal ini usia. Namun SDM tidak wantah mewujudkan tari kontemporer untuk penonton anak-anak dengan sikap atau visual seperti anak-anak, melainkan mencari jalan tengah yang lebih berat ke ranah estetik.

Performance Skyline Oleh Sally Dansgezelschap Maastricht-teraSeni.com
Repertoar terakhir bertajuk Skyline,
tampil sebagai penutup Pergelaran tari kontemporer
Sally Dansgezelschap Maastricht 
 di Pendhapa Art Space Yogyakarta
(Foto: Aji Wartono)

Begitupun dengan Skyline, harapan Stefan di dalam repertoar ini dapat memberikan rasa cinta yang beraneka ragam, baik, ras, kultur, sosial, ekonomi, usia, serta jenis kelamin. Maka diwujudkan lah kelima penari yang mewakili asosiasi tertentu satu sama lain. Semestinya, Skyline dapat memberikan satu pengalaman baru untuk masyarakat kita, yang tidak hanya berwarna secara visual, melainkan secara pendalaman gagasan yang matang. Dan mungkin hal tersebut dapat dipetik jika repertoar Skyline dipertunjukan utuh.

Bertolak dari itu semua, SDM telah memberikan referensi gerak ballet yang menarik. Mereka telah memberikan secuil dari cakrawala ballet yang luas. Dari SDM, kita juga perlu telusuri atas sikap mereka dalam mengimani tari kontemporer yang berbasis tradisi. Di mana mereka dapat mewujudkan tari kekinian tanpa meninggalkan tradisi mereka—walau hanya tersisa nuansa tradisi sekalipun. Negosiasi-negosiasi tersebut lah yang menarik untuk diamati. Hal yang kiranya cukup akrab dengan beberapa koreografer tari kontemporer di Indonesia.[]
           
                     


Redaksi teraSeni berterimakasih jika teman-teman berkenan meninggalkan komentar, namun mohon untuk meninggalkan komentar yang tidak melanggar batas-batas etika, HAM, SARA dan tindak kriminal. Terimakasih.
EmoticonEmoticon