Kamis, 28 Desember 2017

Pasar Keroncong Kotagede Sebagai Representasi Kearifan Lokal

Kamis, 28 Desember 2017 | teraSeni.com~


Pasar Keroncong Kotagede merupakan sebuah festival musik keroncong yang diadakan di Kotagede Yogyakarta. Festival musik tahunan yang digelar untuk ketiga kalinya ini kembali digelar pada sabtu 9 Desember 2017. Acara ini diadakan di sekitaran Pasar Kotagede, terdapat tiga panggung yakni Panggung Loring yang terletak di utara Pasar Kotagede, Panggung Sopingen yang terletak di depan Pendopo Sopingen, dan Panggung Kajengan yang terletak di utara Masjid Perak. Pengunjung dimanjakan dengan berbagai sajian keroncong yang dibawakan oleh 14 orkes keroncong.

Filosofi Pasar dan Keroncong
Pasar bagi masyarakat Yogyakarta bukanlah hanya sekedar tempat untuk kegiatan jual beli semata, namun lebih dari pada itu pasar juga merupakan tempat menjalin tali silahturami satu sama lain. Proses tawar menawar yang terjadi di pasar tradisional mengandung nilai-nilai budaya karena melalui peristiwa tersebut masyarakat akan saling berkomunikasi dan mengenal satu sama lain. Pasar merupakan ruang publik di mana masyarakat dari berbagai kalangan dapat bertemu dan berinteraksi.

Di era mileneal ini hal tersebut hampir pudar terutama pada masyarakat urban. Semakin banyaknya pasar-pasar modern (mal) bahkan toko online menjadi alasannya. Berbeda dengan pasar tradisional, pada pasar modern (mal) hampir tidak terjadi nilai-nilai interaksi sosial layaknya yang terjadi pada pasar tradisional.


Pasar Keroncong Kotagede 2017 - www.teraSeni.com
Ya Pasar, Ya Keroncong
(Sumber: Facebook Pasar Keroncong Kotagede)

Musik keroncong dapat diasumsikan sebagai perilaku sosial karena pada prinsipnya seniman musik keroncong berkarya untuk orang lain bukan hanya untuk dirinya sendiri. Dalam sebuah peristiwa berkesenian khususnya seni musik akan selalu terjadi interaksi antara penampil dengan audiens maupun audiens dengan sesama audiens. Kita semua tentu telah merasakan efek dari era digital di mana akses internet yang serba mudah menjadikan kurangnya komunikasi satu sama lain.

Sebagai contoh, perilaku sosial masyarakat masa lalu dan masa kini telah mengalami banyak perubahan. Pada masa lalu warga banyak berkomunikasi dengan warga lainnya karena akses internet belum semudah saat ini sehingga untuk mencari informasi mereka akan banyak bertanya kepada warga sekitar. Berbeda dengan era digital saat ini yang segalanya serba gadget sehingga intensitas komunikasi antar warga menurun.

Penyatuan dua konsep pasar dan keroncong merupakan ide yang sangat baik. Publik seakan diingatkan mengenai sebuah kegembiraan yang akan dialami melalui peristiwa komunikasi antar sesama. Dalam acara tersebut semua merasakan kegembiraan yang sama, tidak ada eksklusifitas untuk kelompok audiens tertentu, tidak terdapat kursi-kursi VIP. Seluruh lapisan masyarakat dapat mengambil bagian dalam pesta “hajatan” yang diadakan oleh rakyat untuk rakyat ini.


Keroncong dan Semangat Guyub 
Yogyakarta merupakan kota yang terkenal dengan keramahan, sopan santun atau unggah-ungguh, serta kebersamaannya atau sering disebut dengan istilah guyub. Hendaknya nilai-nilai tersebut tidak hilang tergerus perkembangan zaman yang serba digital ini. Media sosial kini telah menghilangkan nilai-nilai sopan santun maupun nilai-nilai kebersamaan karena tanpa interaksi yang nyata seorang individu memiliki kebebasan berekspresi yang kurang dapat terkendali.

Keroncong sebagai warisan budaya merupakan sarana guyub untuk saling berinteraksi dan mewujudkan empati sosial secara nyata. Melalui guyubnya interaksi sosial akan dapat membangun persatuan, seperti tagline yang diusung oleh Pasar Keroncong Kotagede 2017 yakni “Gotong Keroncong Bebarengan.” Ditilik dari segi kalimatnya, tagline tersebut merupakan plesetan dari: gotong royong bebarengan. Gotong royong kini telah memudar di kalangan masyarakat, melalui tagline tersebut akan menumbuhkan kembali semangat gotong royong.

Pasar Keroncong Kotagede 2017 - www.teraSeni.com
Tidak Terdapat Sekat-Sekat
Eksklusifitas Antar Penonton
(Sumber: Facebook Pasar Keroncong Kotagede)

Keroncong sebagai musik warisan budaya dan semangat guyub masyarakat Yogyakarta merupakan suatu bentuk kearifan lokal yang telah dikemas secara apik dalam Pasar Keroncong Kotagede. Hal yang cukup menarik adalah karena sebagian besar penampil maupun pengunjung merupakan masyarakat generasi muda.

Fenomena ini tentunya merupakan suatu hal yang sangat baik karena masyarakat generasi muda adalah sasaran efektif untuk menanamkan nilai-nilai kearifan lokal. Selain itu, di tangan para generasi muda lah musik keroncong akan terus dapat terjaga eksistensinya hingga masa mendatang. Semoga Pasar Keroncong Kotagede dapat senantiasa ada setiap tahunnya sebagai representasi kearifan lokal masyarakat Yogyakarta.

Redaksi teraSeni berterimakasih jika teman-teman berkenan meninggalkan komentar, namun mohon untuk meninggalkan komentar yang tidak melanggar batas-batas etika, HAM, SARA dan tindak kriminal. Terimakasih.
EmoticonEmoticon