Kamis, 04 Januari 2018

Kembara Rasa; Membaca Pertunjukan Kolaboratif Siska Aprisia dan Jumaidil Firdaus

Kamis, 4 Januari 2018 | teraSeni.com~


Dalam gelap dan hening, bunyi petikan tune harmonik gitar elektrik terdengar memenuhi ruangan. Beberapa saat setelahnya, dari belakang panggung perlahan lampu backlight menyala dikuti oleh lampu kiri dan kanannya. Karenanya, tampaklah wajah siluet seorang perempuan yang berdiri tepat di tengah-tengah panggung, dan seorang laki-laki bergitar dengan alat peragat digital yang berada di sebelah kanan perempuan tersebut. Dengan berkostum dress biru, ia bergerak merespon bunyi, gerakannya serupa orang mengeja langkah, langkah sambil menginjit. Langkah itu terlihat ragu dan tidak sempurna benar.

Pertunjukan Kembara Rasa - www.teraseni.com
Kembara Rasa, s
ebuah pertunjukan kolaboratif
antara koreografer Siska Aprisia
dengan komposer Jumaidil Firdaus
(Foto: Roni Keron)

Selang setelahnya, terdengar tema musikal yang lain, transformasi bunyi teknik oyak pada instrument saluang (Minangkabau). Bunyi itu diolah dengan effect reverse, semacam bunyi yang terdengar mundur atau berlawanan dengan bunyi aslinya. Sementara itu, Siska memperagakan gerak serupa orang yang sedang mendayung sampan, atau perahu. Ketika tempo musik semakin cepat, tarian merespon dengan gerak memutar lalu menjatuhkan badannya, dan musik terhenti untuk memulai bagian berikutnya.

Itulah sedikit gambaran dari pertunjukan Kembara Rasa. Sebuah nomor pertunjukan hasil kerja kolaborasi koreografer Siska Aprisia dengan komposer Jumaidil Firdaus. Mereka mempresentasikan premier karya tersebut dalam program Pasadatari, sebuah forum yang mengambil Lingkar Tari yang dilaksanakan di Pendhapa Art Space Yogyakarta, Kamis, 21 Desember 2017 lalu.

Kembara Rasa
Memasuki bagian berikutnya, panggung disinari lampu berwarna orange, pencahayaannya redap redup. Musik dimainkan dengan tempo agak cepat. Permainan looping gitar elektrik yaitu 4 pola ritma berbeda dimainkan berulang, terdengar serupa permainan interlocking pada ansamble talempong pacik (Minangkabau). Perlahan perempuan itu bangkit membiarkan dirinya lepas ke dalam gerak yang tampak tak terpola. Tanpa kesadaran gerak, dia seolah pasrah pada gerak tubuhnya sendiri, mengikuti musik yang secara grafik semakin naik. Oleh karenanya, bagian ini tampak sangat eksploratif. Adakalanya ia berputar-putar dari kiri ke kanan panggung, kembali ke tengah, lalu berputar lagi. Ia melepaskan ikatan rambutnya, sehingga tergerai-gerai dan tampak chaos dengan gerakan kepala yang diputar cukup cepat, lalu ia rebah dan musik kembali berhenti.

Pertunjukan Kembara Rasa - www.teraseni.com
Salah satu bagian dari
pertunjukan Kembara Rasa,
Siska Aprisia memperagakan
gerakan seperti mendayung,
sementara di belakangnya
Jumaidil Firdaus terus mengalirkan
melodi-melodi dari gitarnya
(Foto: Roni Keron)

Bagian selanjutnya, saya kira bagian ketiga. Dimulai dengan sebuah dendang –penyebutan untuk nyanyian tradisi di Minangkabau. Dendang ini diselingi dengan bunyi pekikan gitar yang melengking dengan tempo yang sangat lambat. Penari bergerak serupa melepaskan diri dari sesuatu yang membelenggunya, kemudian menggerakkan tangannya serupa kepakan sayap burung-burung yang ingin lepas dari kemuakannya. Dengan ekspresi marah, tampak sedang melawan, ia mengepalkan dua tinjunya lalu diangkat ke atas, dia jatuh, lalu bangkit lagi, jatuh lagi, kemudian bangkit lagi.

Setelah serasa ada yang lepas dari pikirannya, dengan sangat tenang perempuan ini berjalan perlahan mengelilingi panggung, oleh karenanya saya sebagai penonton serasa ikut menerka-nerka gerak selanjutnya, seraya bertanya-tanya apakah pertunjukan ini sudah selesai. Lalu dengan sangat tenang pula pemusik memainkan melodi pentatonik Minangkabau yang natural tanpa soundeffect, dua nada dimainkannya membentuk melodi. Irama musik tersebut direspon dengan menggerakkan kaki serupa kuda-kuda dalam silat (Minangkabau). Sambil berdendang, tangan penari tersebut bergerak tegas saling besilangan serupa sebuah kemantapan untuk memulai sebuah pertarungan, namun ternyata itu malah menjadi akhir dari pertunjukannya.

Pertunjukan Kembara Rasa - www.teraseni.com
Kembara Rasa dalam sesi latihan,
Siska Aprisia dan Jumaidil Firdaus
terus mencoba
menakar rasa masing-masing
(Foto: Roni Keron)

Membaca Bekal Pengembaraan
Kembara Rasa adalah sebuah karya pertunjukan kolaborasi tari dan musik. Selayaknya karya tari dan musik, tentu ia menandai dirinya dengan teks-teks berupa lelaku gerak dan bunyi, teks ini yang kemudian menjadi alat untuk menarasikan kisah pengembaraan tersebut. Lalu, bagaimana Kembara Rasa mengenali teks-teks tersebut?

Sepeti halnya bunyi, tubuh akan selalu dipengaruhi oleh pengalaman-pengalaman yang terindrawi. Pengalaman yang selalu bersinggungan dengan tubuh, atau bunyi, akan berkumpul dan mengendap dalam ingatan. Ingatan itu yang hendak dipanggil kembali sebagai pengisi buntie atau koper untuk bekal berkembara lebih jauh, lebih dalam ke rantau visual dan rantau bunyi yang maha luas ini. Maka, Kembara Rasa adalah semacam rekonstruksi atas itu. Pengalaman ketubuhan Siska Aprisia sebagai seorang koreografer sekaligus penari dan pengalaman musikal Jumaidil Firdaus sebagai seorang komposer sekaligus pemusik.

Meskipun Jumaidil dan Siska sama-sama dari Minangkabau, namun secara geo budaya mereka sangat berbeda. Secara geografis, Minangkabau terbagi dalam dua wilayah, mereka menamai dengan istilah darek (darat) dan pasisia (pesisir). Pembagian wilayah yang alamiah ini sangat mempengaruhi cara hidup, laku, dan kebiasaan-kebiasaan mereka. Ihwal inilah yang kemudian mengendap menjadi “rasa”.

Pertunjukan Kembara Rasa - www.teraseni.com
Salah satu bagian
dari latihan Kembara Rasa
Siska Aprisia memperagakan
gerakan permulaan Silek Lu Ambek
Sementara di belakangnya
Jumaidil Firdaus
melantunkan dendang
(Foto: Roni Keron)

Saya kira, idiom gerak mendayung menjadi sesuatu yang menarik disini. Katakanlah itu sampan atau perahu. Jika direlasikan dengan latar belakang koreografer yang dilahirkan dan besar di Pariaman – daerah pesisir Sumatera Barat (baca: Minangkabau). Tentu kebiaasaan-kebiaasaan pesisir ini sangat mungkin dibawa Siska ke dunia panggung. Sementara itu, Jumaidil, sebagai orang darek memilih saluang sebagai modal budayanya. Jum, mentransformasikan teknik dalam memainkan instrument saluang ke dalam instrument gitar. Secara historis memang saluang di Minangkabau berkembang pesat di daerah darek (darat). Meskipun Jumaidil merekayasa suara dengan penambahan effect bunyi, namun relasi historis tersebut menjadi mungkin sebagai senjata Jumaidil mengembarai jagat bunyi, rantau yang lain.

Dengan latar yang berbeda itu kemudian Jumaidil dan Siska membungkus pengalaman mereka memulai pengembaraan. Tampak kegagapan memasuki ranah yang asing. Bagi Siska, panggung tak ubahnya serupa pantai yang direklamasi. Ia takut akan semakin meningginya permukaan laut, dan ceruk-ceruk laut yang tertimbun, membuat ikan nelayan akan semakin jauh ke tengah laut. Gerakan-gerakan tak beraturan, berputar-putar, dan chaos menjadi pilihan bagi tubuhnya. Sementara Jumaidil cendrung adaptif, dimana transformasi masih menjadi kekuatan musikalnya. Bunyi-bunyi yang dibawanya dari kampung halaman masih tetap terdengar meskipun dalam gempuran digitalisasi media.

Perjalanan pengembaraan ini mesti tetap harus berlangsung. Mereka terus berdialog, menangkis kegilaan-kegilaan dalam perjalanan itu sendiri. Hingga satu saat mereka menyadari sesuatu. Barangkali mereka tidak membawa serta merta kampung halaman dalam diri. Kampung halaman yang juga sedang bertransformasi menjadi ranah yang asing.

Apakah dendang akan selalu ditangisi serupa ratap? Tetapi ratap bukanlah soal air mata, melainkan jalan menuju pulang, pulang ke dalam diri untuk menjemput yang tertinggal. Ihwal yang bagi Siska berarti bahwa Luambek, pertunjukan tradisional khas Pariaman itu, bukanlah permainan laki-laki saja. Baginya silat yang tidak saling bersentuhan itu adalah jalan menuju kepulangan untuk kembali berkembara.

Membaca Sisa Pengembaraan
Sejatinya hidup memanglah sebuah pengembaraan. Jika pengembaraan dimaknai sebagai rantau, dan rantau itu sendiri adalah sebuah pengembaraan, maka mustilah ada rumah tempat untuk pulang. Namun, jika rumah-rumah telah menjelma hotel berbintang, pusat-pusat perbelanjaan, maka kemana lagi tempat untuk pulang? Atau barangkali pengembaraan diperjauh. 

Saya kira, itulah ihwal yang hendak diungkap dan diekspresikan oleh Siska dan Jumaidil melalui pertunjukan kolaboratif mereka: Kembara Rasa ini. Bahwa, jika semua yang pernah kita miliki telah habis terkikis oleh waktu, maka mungkin yang tetap tertinggal hanyalah rasa.

Redaksi teraSeni berterimakasih jika teman-teman berkenan meninggalkan komentar, namun mohon untuk meninggalkan komentar yang tidak melanggar batas-batas etika, HAM, SARA dan tindak kriminal. Terimakasih.
EmoticonEmoticon