Kamis, 18 Januari 2018

Yang Dilihat dan Dicatat dari Pertunjukan Pasadatari

Kamis, 18 Januari 2018 | teraSeni.com~


Setelah program Pasadatari pertama dihelat pada bulan Mei 2017 lalu, program tersebut kembali diselenggarakan pada bulan desember 2017 lalu. Masih dalam format yang sama, yakni ‘penggodokan’ para penari atau koreografer muda selama tiga bulan dengan presentasi akhir berupa showcase, ada yang berbeda pada showcase kali kedua ini. Jika pada showcase pertama menampilkan tiga karya dari tiga peserta program, maka pada showcase yang kedua ini Pasadatari menampilkan tujuh karya dari tujuh penampil yang berasal dari gabungan peserta Pasadatari—baik peserta kedua yang berjumlah dua orang dan peserta pertama berjumlah tiga orang—serta dua penampil asal Padangpanjang, Sumatera Barat.

‘Pentas gabungan’ ini lantas diberi tajuk Lingkar Tari sebagai ruang presentasi karya dari para koreografer muda yang menciptakan karya berbasis ‘pendampingan’. Pada showcase kedua yang diselenggarakan di Pendhapa Art Space pada kamis (21/12/2017), Pasadatari menampilkan Aprilia Sripanglaras, Yurika Melani, Irwanda Putra, Endang Setyaningsih, Agnes Pamungkas, Kurniadi Ilham, dan Siska Aprisia. Tidak hanya menampilkan karya, pertunjukan yang dihelat atas kerjasama antara Pendhapa Art Space dan Komunitas Senrepita ini turut menghelat diskusi bertajuk “Dari Gagasan ke Koreografi”, dengan penanggap utama kritikus tari, Sal Murgiyanto. Bertolak dari hal ini, kendati ketujuh penari tidak dapat mewakili semua penari muda Indonesia, namun dari pertunjukan ini rasanya kita dapat melihat ragam pola kerja para koreografer muda era milenial

Gagasan, Tubuh, dan Koreografi: Catatan Pertunjukan
Showcase kedua Pasadatari menampilkan empat karya pada sesi pertama, dan tiga karya tersisa pada sesi kedua. Keseluruhan karya tersebut ditarikan secara tunggal oleh para koreografernya masing-masing. Pertunjukan pertama diawali dengan sebuah karya yang terinspirasi dari pengalaman pribadi akan keadaan kuldesak atas dua pilihan hidup dari sang koreografer, yakni biarawati atau ibu. Perasaan kuldesak tersebut menjadi landasan berfikir Agnes Pamungkas dalam menyusun gagasan dan merangsang garap bentuk dari karyanya yang bertajuk Dilema. Di dalam karya tersebut Agnes turut berkolaborasi dengan penata musik, Harry Kristian Buana Tanjung.

Forum Pasada Tari 2017 - www.teraSeni.com
Agnes Pamungkas
dalam karyanya yang bertajuk Dilema
(Foto: Nanang Setiawan)

Pertunjukan dimulai dalam cahaya panggung yang teram temaram. Seorang perempuan bersimpuh-menunduk dengan gerak yang tidak lazim di tengah panggung. Berkerudung Mantilla—kerudung khas umat Katolik—, tangannya mengepal menengadah laiknya genggaman tangan yang tengah berdoa. Perlahan pergelangan tangan tersebut bergerak memutar ke kiri dan ke kanan. Memberikan kesan khusyuk, sekaligus terpenjara. Dilatari bunyi lonceng yang bernada minor membuat kesan suram tak terhindarkan. Perlahan perempuan itu mulai bangkit dengan genggaman tangan yang tak terlepas. Lantas ia mulai mencondongkan tubuhnya ke depan dan belakang.

Beberapa saat berselang, tangan tergenggam tersebut perlahan tersilang di antara lutut penari. Lantas Agnes mulai bergerak mengayun dengan posisi tangan tersilang. Yang cukup menarik adalah eksplorasi gerak tangan tersilang ini menjadi etude atau dasar gerak dalam karya ini. Secara lebih lanjut persilangan yang dihadirkan Agnes memberikan impresi keterikatan atau keterpenjaraan.

Selanjutnya Agnes sengaja memberi perbedaan gerak yang signifikan di tengah karyanya. Kiranya hal ini menunjukkan bahwa ada dua hal yang ingin ia utarakan. Dan hal tersebut semakin jelas ketika Agnes menyiasati posisi Mantilla yang sebelumnya dikenakan di kepalanya menjadi di pinggangnya yang disiasati di tengah pertunjukan. Perubahan-perubahan yang sifatnya artistik tersebut kiranya menjadi tanda yang cukup eksplisit dalam memperlihatkan adanya perbedaan.

Di dalam karyanya, Agnes mengawali ‘tahap’ kedua ini dengan posisi unggat-unggit yang dilanjutkan dengan gerakan mengayun. Dua gerakan ini kiranya mengantarkan Agnes pada gerak menimang. Gerakan ini mengantarkan persepsi kita akan aktivitas seorang ibu yang tengah menggendong anaknya. Alih-alih ibu adalah tujuan akhir, gerakan menimang tersebut beralih menjadi gerakan yang justru mengikat tubuhnya, laiknya mencekik lehernya sendiri. Dalam hal ini, Agnes menunjukkan bahwa menjadi seorang ibu turut memiliki ‘keterpenjaraan’ tersendiri. Di mana terdapat tahap dimensi kebebasan yang turut terenggut.

Secara lebih lanjut, dua tahap ini menunjukkan adanya perasaan ‘keterkekangan’ yang sama. Hal ini lah yang kiranya mengartikulasikan kedilemaan yang dialami Agnes, sebagaimana tajuk dari karya tersebut. Alih-alih pertunjukan usai dengan dilema tanpa akhir, karya ini ditutup dengan gerakan berputar di tempat laiknya tarian Sufi. Dalam hal ini, Agnes Pamungkas seakan mengembalikan keterjebakannya kepada sang maha kuasa guna menuntunnya mendapatkan jawaban yang terbaik.

Lantas apa yang dapat dipetik dari karya Agnes? Sekiranya, kita dapat melihat gagasan dilema yang dialaminya direpresentasikan ke dalam karyanya. Kendati tidak ditunjukkan secara eksplisit, namun gerak-gerak yang dikoreografikan kiranya mengantarkan kita pada hal-hal bertautan dengan aktivitas biarawati dan ibu. Untuk aktivitas biarawati, Agnes memilih gerakan janggal namun tetap mempertahankan hal-hal yang kuat, seperti genggaman tangan serta bersimpuh. Sedangkan untuk memberikan impresi ibu, Agnes menggunakan etude gerak yang mudah diresepsi, yakni menimang.

Dalam hal ini, kiranya kita dapat melihat secuil kekuatan tari, di mana kepercayaan pada tubuh sebagai medium berbicara yang tidak sembarang janggal namun bermakna. Namun pada karya Dilema ini kiranya Agnes Pamungkas perlu memberikan perhatian lebih pada teknik dan pengembangannya. Hal ini kiranya menjadi kunci agar gagasan yang disampaikan dapat terartikulasikan dengan baik.
Selanjutnya showcase kedua ini menampilkan pemuda asal Sumatera Barat yang tengah menempuh studi di Pascasarjana ISI Surakarta, Kurniadi Ilham. Dalam kerja kepenarian, Ilham mempunyai pengalaman tubuh yang cukup beragam, sebut saja kesertaannya menjadi penari dalam karya Nosheheorit dari koreografer Otniel Tasman atau Meniti Jejak dari koreografer Sherli Novalinda. Pada Showcase Pasadatari ini, Ilham menampilkan karyanya yang bertajuk AKA. AKA bercerita tentang saling silang tubuh silat yang dimilikinya. Di dalam karya tersebut, Ilham berkolaborasi dengan penata musik, Mahamboro dan Jumaidil Firdaus.

Forum Pasada Tari 2017 - www.teraSeni.com
Kurniadi Ilham menampilkan
karyanya yang bertajuk Aka
(Foto: Nanang Setiawan)

Bermandikan samar-samar cahaya, pertunjukan diawali dengan tubuh yang tengah menunduk. Perlahan tubuh tersebut mulai menegakkan ruas punggungnya, dengan posisi kedua lengan yang condong ke depan. Alih-alih tanpa tenaga, gerakan lengan yang condong tersebut justru menunjukkan intensitas tenaga yang lebih, laiknya menggeliat dengan tenaga. Dengan pola gerak yang serupa, selanjutnya ia mulai menggeliat dengan perlahan.

Beberapa saat setelahnya, Ilham turut menampilkan gerak silek Sumatera Barat hingga silat Jawa. Lantas basis gerak bela diri tersebut menjadi etude Ilham dalam mengeksplorasi gerak yang terinspirasi mulai dari gerakan kuda-kuda, posisi menyerang, bertahan, dan lain sebagainya. Silang-silang antar etude dan eksplorasi gerak inilah yang dihadirkan Ilham dalam pertunjukannya. Hal yang kiranya menarik dalam pertunjukan Ilham adalah basis gerak yang jelas, sehingga eksplorasi yang ia lakukan dapat terasa perkembangannya.

Hal lain yang cukup menyita perhatian pada karya Ilham adalah ketangkasan teknik yang ia punya. Dalam hal ini, ragam gerak silat dan silek yang dihadirkan dapat terbedakan secara bentuk. Namun kiranya yang perlu dicatat, Ilham perlu siasat dalam menghadirkan silat sebagai sebuah tarian. Dalam mewujudkannya, tidak hanya penghayatan saja yang kiranya diperlukan, tetapi pemahaman akan historis dan penggunaannya. Kiranya hal ini dapat membantu Ilham dalam memberikan penjiwaan atau rasa yang memperkuat tiap gerak bela dirinya. 

Selain itu, Ilham perlu memberikan perhatian lebih pada gagasan yang ia angkat. Agar teknik tubuh yang cakap dapat bersinergis dengan gagasan yang tajam. Dalam hal ini, mempertajam gagasan dan terimpresi dalam karya tari memang tidak mudah, tapi jika melihat perbendaharaan ketubuhan Ilham yang cukup kaya, niscaya hal tersebut dapat dikejar olehnya.

Sedangkan pada nomor pertunjukan ketiga adalah penampilan dari peserta dari Pasadatari pertama, yakni Aprilia Sripanglaras. Masih dengan tajuk karya yang sama dengan showcase Pasadatari pertama, Aprilia menampilkan Kirig. Sebagaimana basis tubuh kepenarian Aprilia adalah tari Angguk, maka eksplorasi yang dilakukan bermuara pada kesenian tersebut. Hal yang cukup menarik dari Aprilia adalah cara kerja penciptaan yang bermuara dari praktik gerak. Lantas gerak yang Aprilia pilih adalah gerak khas kesenian Angguk, yakni Kirig. Berlandaskan kirig, Aprilia mengeksplorasi gerak dan menautkannya pada beberapa hal penting pada angguk, seperti pada pola tarian angguk hingga tahap trance. Dalam showcase kedua ini, Aprilia mempertunjukkan eksplorasi dan pengembangan dari showcase sebelumnya.

Forum Pasada Tari 2017 - www.teraSeni.com
Aprilia Sripanglaras menampilkan
karyanya yang berjudul Kirig
(Foto: Nanang Setiawan)

Arena pertunjukan telah bertabur mahkota bunga berwarna merah muda, putih, dan merah yang tersebar melingkar. Sorot lampu pada area lingkaran tersebut membuat ambience pertunjukan terasa ‘sakral’. Kemudian seorang perempuan berbusana abu-abu dengan beberapa lonceng/bel yang terletak di pundak dan lengannya mulai bergerak perlahan. Sebagaimana Aprilia terinspirasi dari gerak kirig, maka pundak menjadi pusat getar dari pertunjukan ini. Alih-alih hanya menampilkan gerak kirig lazimnya, Aprilia mulai menampilkan eksplorasi getar lainnya secara bertahap, mulai dari beberapa bagian hingga sekujur tubuhnya. Selain itu, Aprilia juga menampilkan beberapa pola gerak Angguk yang disertai dengan eksplorasi getar dan menghadirkan fase penting pada Angguk, yakni trance.
Dalam karyanya Aprilia memilih bunyi yang ia produksi di atas panggung secara langsung. Bunyi tersebut berasal dari lonceng-lonceng yang terjahit di beberapa permukaan pakaiannya di setiap ia melakukan kirig. Namun agaknya lonceng tersebut membuat perhatian Aprilia terbagi menjadi dua. Dalam hal ini, Aprilia tergoda untuk mengkomposisi bunyi tersebut langsung di atas panggung. Jika hal ini sudah disiapkan sebelumnya maka pertunjukan akan menarik, tapi jika sebaliknya, agaknya rasa pertunjukan menjadi tidak utuh. Padahal seyogianya lonceng terebut digunakan sebagai medium dalam menebalkan gerak, bukan sebaliknya.

Hal yang kiranya menarik dari pertunjukan ini adalah konsistensi kirig yang dihadirkan oleh Aprilia. Secara lebih lanjut, tidak mudah menggetarkan pundak dan lengan secara konsisten dalam durasi yang panjang. Diperlukan teknik getar dan pengalaman kebertubuhan dalam mewujudkannya. Dalam hal ini, Aprilia telah mempunyai teknik tersebut—sebagaimana ia besar bersama kesenian Angguk. Namun yang menjadi catatan, eksplorasi getar yang dilakukan masih terbatas pada satu etude gerak saja. Selain itu, agaknya Aprilia perlu memberikan perhatian lebih pada penajaman gagasan.

Nomor keempat dari showcase ini bertajuk Feel Skizz, karya Endang Setyaningsih. Endang merupakan salah satu peserta dari program Pasadatari kedua. Dalam kerja koreografi, Endang kiranya telah mempunyai beberapa nomor pertunjukan ciptaannya. Di karya ini, Endang mengangkat persoalan yang sedang ia rasakan, yakni pengalaman bersama salah satu saudaranya yang mengalami skizofrenia.

Forum Pasada Tari 2017 - www.teraSeni.com
Feel Skizz,
karya Endang Setyaningsih
(Foto: Nanang Setiawan)

Pengalaman keseharian bersama skizofrenia inilah yang lantas Endang ingin ungkapkan di dalam karyanya. Dengan cara tutur tari, lantas Endang menelaah atas fase yang dialami oleh saudaranya. Lantas ia mendapatkan tiga tarik ulur variabel yang lantas menjadi landasannya menari, yakni kesadaran, di antara, serta skizofrenia. Dalam mewujudkan karyanya, Endang berkolaborasi dengan penata musik, Gendra Wisnu Buana.

Diawali dengan posisi tertelungkup, Endang perlahan bangkit diselimuti cahaya. Menyerupai kayang namun tanpa tumpuan tangan, Endang mulai perlahan berputar dengan posisi yang semakin membungkuk. Setelahnya ia mulai berjalan dengan tatapan tajam laiknya mengintai. Menunjukan adanya kesadaran sekaligus waspada akan satu hal lain. Tidak lama berselang, perlahan laiknya sesuatu mendatangi dirinya hingga ia tak sanggup menguasainya.

Setelahnya, Endang menggunakan gerak level bawah untuk menggambarkan dunia yang ‘terbalik’. Endang memulai dengan gerakan-gerakan yang hampir serupa, hanya saja menggunakan eksplorasi gerakan level bawah. Pada gerakan di level bawah, Endang lebih menggambarkan ambiguitas dan kesadaran yang mulai asing, semisal pada gerakan menggeliat di lantai. Dalam memperkuat halusinasi tersebut, Endang menggunakan bedak sebagai medium dalam menebalkan geraknya. Alhasil setiap Endang bermain di level bawah, kesan asap selalu muncul di setiap ia bergerak. Pertunjukan diakhiri ketika Endang yang dengan ‘susah payah’ kembali bangkit, dan menatap nanar ke arah penonton.

Lantas apa yang dapat dinikmati dari karya Endang? Toh persoalan skizofrenia bukan hal baru dalam karya tari. Dalam hal ini, Endang mencoba memberikan satu perspektif akan skizofrenia dari apa yang ia rasakan ketika bersama saudaranya. Alih-alih mewujudkan ketakutan-ketakutan yang dialami kakaknya, Endang justru menunjukkan fase-fase yang dialami oleh orang yang menderita skizofrenia. 

Namun kiranya Endang perlu memberikan perhatian lebih pada pendalaman gagasan dari fase yang ingin digambarkan. Pasalnya Endang telah mempunyai pengalaman tubuh dan teknik gerak yang cukup, sehingga Endang memungkinkan untuk mengeksplorasi dan membakukan etude dari gagasan yang ingin dikemukakan. Hal ini kiranya akan membantu penonton menikmati karya Endang dengan lebih tepat sasaran.
Karya selanjutnya bertajuk Kembara Rasa dari Siska Aprisia. Koreografer muda asal Pariaman, Sumatera Barat ini menampilkan karya yang berangkat dari empirisnya dalam menari, yakni tarik ulur antara tari yang ia pelajari di bangku sekolahan dan tari yang hidup bersama masyarakat tempat tinggalnya. Secara lebih lanjut, Siska memperlihatkan basis gerak tari yang berbeda, sekaligus irisan antara keduanya. Namun dalam tarian ini, silek cukup dominan sebagai sumber gerak.

Forum Pasada Tari 2017 - www.teraSeni.com
Karya bertajuk Kembara Rasa
dari Siska Aprisia
(Foto: Nanang Setiawan)

Di dalam karya ini, Siska turut berkolaborasi dengan musisi, Jumaidil Firdaus. Hal yang cukup menarik, Jumaidil menggunakan gitar elektrik yang dimainkan secara langsung di dalam pertunjukannya. Alih-alih hanya mengiringi, Jumaidil mempunyai pengalaman yang serupa. Alhasil di karya tersebut, kiranya Siska dan Jumaidil berupaya mencari bersama menapaki perjalanan mereka masing-masing.

Suara gitar elektrik yang memecah hening pasca istirahat sesi pertama menuntun Siska mulai bergerak dengan beberapa etude silek yang dipunya. Penampilan Siska pada nomor pertama sesi kedua kiranya mencuri perhatian, baik secara impresi, gerak, musik, serta gagasan yang ia angkat. Hal lain yang cukup menarik adalah ketika Jumaidil memetik senar secara perlahan sementara Siska melakukan gerak silek sembari bernyanyi. Alih-alih gerak Siska menjadi tidak stabil, dengan nyanyian tersebut justru membuat gerak silek dan eksplorasinya menjadi semakin mendalam.

Dari apa yang dipertunjukkan Siska, kiranya ia cukup berhasil mengkristalkan perjalanannya menjadi variabel yang dapat dirasakan. Kiranya hal ini penting sebagai landasan berfikir dalam menciptakan karya. Walau tidak dihadirkan secara naratif, kiranya Siska dapat menghadirkan tarik ulur tersebut dalam tariannya. Pun satu hal yang perlu dicatat Siska adalah konsistensi dalam memberikan ‘rasa’ di setiap gerak laiknya ketika ia menari sambil bernyanyi di penghujung pertunjukan.

Nomor selanjutnya adalah karya dari Yurika Meilani yang bertajuk Rambu Rambut. Yurika turut mengangkat persoalan yang personal, yakni rambut. Dilahirkan dengan rambut ikal, Yurika mengalami dampak buruk dari konstruksi ‘perempuan’ yang ditanamkan sejak dini. Pelbagai upaya ia lakukan untuk melawan dan menyiasati, namun malang tak bisa ditolak. Nestapa niscaya teralami di masa remajanya. Berangkat dari persoalan tersebutlah Yurika mengeksplorasi apa yang dialami dan membuatnya menjadi sebuah karya.

Forum Pasada Tari 2017 - www.teraSeni.com
Karya Yurika Meilani
yang bertajuk Rambu Rambut
(Foto: Nanang Setiawan)

Sebagai peserta dari program Pasadatari pertama, Yurika mengembangkan karya Rambu Rambut-nya di showcase yang kedua ini. Hal ini sangat terasa dari alur, gerak, hingga impresi yang diciptakan olehnya. Jika pada showcase pertama karya ini tidak menggunakan musik, maka di showcase kedua ini Yurika berkolaborasi dengan Adnan sebagai penata musik.

Pertunjukan diawali tanpa penerangan, beberapa saat setelahnya sebuah cahaya menyorot ke sebuah kursi. Tak lama berselang cahaya mulai menyinari seorang perempuan yang tengah menunduk sambil mengibas-ngibaskan rambutnya dengan cepat. Dengan sekejap ia berdiri dengan tegak sambil menggelengkan kepalanya sambil terjatuh. Dinaungi musik laiknya suling yang ditiup melengking turut memberikan impresi mencekam. Dan impresi tersebut terjaga di sepanjang pertunjukan.

Dalam gerak, Yurika lebih mengandalkan gerak-gerak keseharian, baik distilisasi ataupun distorsi. Gerak dan eksplorasi tersebut lantas mengisi alur yang telah distruktur sebelumnya. Laiknya bercerita, Yurika menghadirkan ketakutan demi ketakutan yang dialaminya. Alih-alih terbebas, ketakutan itu justru mencekam dirinya, membuatnya tunduk dan tak bisa melawan. Dengan penggunaan isolasi berwarna merah yang ditempelkan di mulutnya, konstruksi atas perempuan cantik berambut lurus menggentayanginya. Di akhir pertunjukan Yurika terduduk di sebuah kursi, isolasi-isolasi ketakutan tersebut perlahan ia lepaskan. Ia tempelkan pada kaki-kaki kursi di tempat ia duduk. Secara lebih lanjut, Yurika mengartikan kursi tersebut sebagai tempat bernaung dan mengadu.

Bertolak dari hal tersebut, kiranya terjadi perubahan yang signifikan pada karya Yurika di showcase kedua ini. Di showcase pertama, eksplorasi Yurika berada di kekuatan tubuh sebagai medium ungkap, sedangkan di showcase kedua, Yurika mengeksplorasi lebih pada alur dan impresi pertunjukan. Dalam hal ini, alur ‘ketakutan’ yang cukup mendalam dan impresi mencekam berhasil ditunjukkan pada penampilannya. Namun kiranya Yurika perlu memperhatikan lebih pada eksplorasi gerak yang ditampilkan. Di mana ia tidak hanya mengisi alur, melainkan menghidupi alur dan struktur yang dibuat.  

Pertunjukan terakhir pada showcase kedua ini adalah karya dari Irwanda Putra. Terinspirasi dari kegemarannya memelihara unggas, Putra tertarik lebih lanjut akan aktivitas pada sabung ayam. Bertajuk Sungkur, Sangkar, Singkir, Putra menghadirkan kontestasi seekor jago pada sabung ayam. Hal yang cukup menarik, Putra menautkan beberapa variabel dalam melandasi tarinya, yakni pertarungan dan tempat bernaung. Pertarungan dapat dilihat pada tersungkur dan menyingkirkan, sedangkan tempat bernaung pada sangkar.

Forum Pasada Tari 2017 - www.teraSeni.com
Irwanda Putra menampilkan karya
Bertajuk Sungkur, Sangkar, Singkir
(Foto: Nanang Setiawan)

Sebagaimana Putra adalah peserta dari Pasadatari pertama, maka karya ini merupakan presentasi kali keduanya. Alih-alih berbeda laiknya karya Aprilia dan Yurika, Putra masih menggunakan pola yang sama. Hanya saja ia mengeksplorasi lebih pada gerak yang mengakibatkan penebalan pada karya tarinya. Berbeda dengan karya lainnya, Putra tidak menggunakan musik pada karyanya. 

Diawali dengan posisi terlentang tak berdaya, Putra ingin menghadirkan seekor jago yang tengah terpuruk kalah tanding. Kendati terseok-seok, ia perlahan bangkit untuk kembali bertarung di dalam laga. Di dalam masa pemulihannya, Putra menautkan pada sangkar. Dalam hal ini sangkar menjadi ruang ‘pemulihan’ ketika unggas tersebut selesai bertarung. Secara lebih lanjut Putra menautkan sangkar sebagai bagian dari pertarungan yang ia angkat. Maka dalam gerak, Putra menampilkan gerak-gerak yang menunjukkan keadaan yang pulih. Setelahnya, Putra kembali mengambil sikap siap bertempur, laiknya melompat, menyerang, bertahan, dan sebagainya. Namun di akhir pertunjukan, Putra kembali menggambarkan keterpurukan. Di mana tubuhnya menegang, kejang-kejang, terengap-engap, hingga lampu padam.

Bertolak dari hal tersebut, kita dapat melihat bahwa orientasi Putra berada pada pertarungan Jago, mulai dari tersungkur hingga menyingkirkan. Alih-alih Putra menunjukan kemenangan di akhir laga. Putra justru memberikan impresi kekalahan, bahkan kematian dari sang petarung. Secara lebih lanjut hal ini dapat dilihat sebagai pernyataan bahwa pertarungan bukan hanya soal menang atau kalah, namun hal yang senyatanya terjadi, bertahan hidup atau terbunuh.

Sebagai penutup showcase Pasadatari, Putra telah memberikan sajian pertunjukan yang berorientasi pada tubuh dan teknik. Secara lebih lanjut, teknik gerak yang digunakan Putra sudah cukup baik—terlebih dengan eksplorasi gerak yang bertingkat dan kaya—, namun kiranya di beberapa titik gerak tersebut terasa terlalu tebal. Celakanya beberapa ketebalan gerak tersebut menenggelamkan apa yang ingin diungkapkan. Dalam hal ini, teknik dalam tari dapat berposisi laiknya pisau bermata dua. Di mana teknik akan membuat karya tari menjadi baik ketika dalam porsi yang tepat, begitupun sebaliknya, membuat karya tari menjadi ‘cerewet’ ketika dalam porsi yang berlebihan. Kiranya Putra perlu menimbang-nimbang hal tersebut. 

Tujuh Karya; Beragam Tubuh dan Persoalan
Dari tujuh karya di atas, kiranya kita dapat melihat dimensi tari yang cukup beragam, baik dari teknik, gagasan, bentuk, struktur, koreografi, kepekaan karya, dan sebagainya. Beberapa penari berorientasi pada gagasan, beberapa lainnya berorientasi pada teknik, beberapa lainnya berorientasi pada artistik, dan seterusnya. Dalam hal ini tidak ada yang keliru dalam cara kerja dan perwujudannya. Pasalnya seorang koreografer mempunyai kecenderungan, pengalaman, pengetahuan, dan media ungkap yang berbeda-beda.

Namun apakah hal tersebut cukup? Dalam hal ini saya sangat setuju dengan pernyataan WS Rendra tentang, “apa artinya seni jika terpisah dari persoalan kehidupan”. Secara lebih lanjut, penata tari atau koreografer perlu menyoal terkait apa yang terjadi di masyarakat, dan dalam hal ini, sudut pandang personal bukan menjadi kesalahan. Justru dengan kesadaran dan pengalaman itulah kerap membuat koreografi dapat bicara lebih dengan cara tutur yang khas, yakni gerak tubuh. Kiranya hal cukup penting dicatat bagi para koreografer.

Pun tidak dapat dipungkiri bahwa terdapat catatan miring yang saya buat untuk ketujuh penari. Setiap catatan pun berbeda antara satu dengan yang lainnya. Mesikpun demikian, saya cukup percaya bahwa mereka dapat ‘melunasi’ catatan-catatan tersebut. Berbekal pengalaman tubuh atas gagasan yang diangkat, kedekatan dengan persoalan kiranya akan membantu mereka menyadari apa-apa saja yang perlu dilakukan. Dengan tuntasnya kedalaman gagasan dan pernyataan, teknik yang tangkas akan membuat karya menjadi semakin utuh. Hal ini memang terkesan ideal, namun dengan usia mereka yang masih ranum, rasanya hal tersebut bukan hal yang terlampau sulit dikerjakan. Selamat bekerja![] 

Redaksi teraSeni berterimakasih jika teman-teman berkenan meninggalkan komentar, namun mohon untuk meninggalkan komentar yang tidak melanggar batas-batas etika, HAM, SARA dan tindak kriminal. Terimakasih.
EmoticonEmoticon