Sabtu, 10 Februari 2018

Dancing in Place 2018: Unjuk Aksi Koreografer Muda Asia Tenggara (Bagian 1)

Sabtu, 10 Februari 2018 | teraSeni.com~


Pada awal tahun 2018, terdapat sebuah pertunjukan tari di negeri tetangga, Malaysia, yang rasanya sayang untuk dilewatkan. Pasalnya terdapat sepuluh karya koreografer Asia Tenggara yang dipertunjukkan dalam sebuah pergelaran bertajuk Dancing in Place 2018. Alih-alih hanya menampilkan karya tari jadi, pertunjukan tersebut turut menampilkan karya kolaborasi terutama antar koreografer muda lintas negara.

Ditampilkan selama dua hari, 13 dan 14 Januari 2018 di Rimbun Dahan , Kuang, Malaysia, program ini berhasil berkat kerjasama Rimbun Dahan dan MyDance Alliance . Dari Indonesia, tercatat empat koreografer yang turut serta, yakni: Otniel Tasman, Siko Setyanto, Citra Pratiwi, dan Fadilla Oziana.

Selain dimaksudkan untuk ruang presentasi dan kolaborasi, kiranya kegiatan tersebut turut menjadi ruang interaksi, bernegosiasi serta bertukar pikiran satu sama lain dalam menciptakan karya tari. Proses tarik ulur ini kiranya cukup penting untuk mengetahui dan memahami lebih lanjut atas peta orientasi dan dimensi tari dari negara-negara di Asean yang terlibat.

Dalam pengkaryaan, alih-alih dibatasi dalam menciptakan karya, para koreografer muda tersebut justru diberikan kebebasan tidak hanya secara gerak, namun dari mengusung ide, konsep pertunjukan hingga perwujudan karya. Hal lain yang cukup menarik adalah para kolaborator turut merespon pelbagai ruang di area pertunjukan yang berbeda satu sama lain. Di sisi lain, adapun hal yang kiranya menjadi catatan, adalah durasi pengerjaan karya yang terbilang cukup singkat. Hal ini kiranya dapat menjadi pisau bermata dua, di mana karya kolaborasi dapat berhasil terjalin dengan cakap atau sebaliknya, mengecewakan.

Karya Kolaborasi dan Ragam Orientasi Tari Asia Tenggara

Sepuluh karya tercipta dipentaskan pada sore hari—pukul 15.00 waktu setempat—di kedua hari pertunjukan. Hal yang cukup menarik, sepuluh karya dibagi menjadi dua sesi yang masing-masing berisikan lima karya dan dipentaskan dalam waktu yang bersamaan. Tidak hanya itu, penonton dibagi menjadi dua kelompok yang menonton pada masing-masing sesi. Setelah kelompok penonton A menonton sesi A dan kelompok penonton B menonton sesi B, lantas mereka bertukar tontonan. Hal ini merupakan strategi dalam mengakali area pertunjukan yang tersebar dan terbatas. Dalam kesempatan tersebut, saya menonton pertunjukan sesi B terlebih dahulu ketimbang sesi A.

Karya pertama dari sesi B adalah pertunjukan bertajuk “Undertow”, karya Eli Jacinto. Eli Jacinto adalah direktur artistik sekaligus pendiri sekolah tari balet, modern dan kontemporer, TEAM Dance Studio, Filipina. Di karya ini, Eli bereksperimen dengan basis modern, folk, balet, dan jazz sebagai representasi dari kultural yang dimiliki Filipina. Karya tersebut ditarikan oleh Jacqui Jacinto dan Joelle Jacinto, dengan penata suara ZoĆ« Keating.

Eli Jacinto-teraseni.com
Jacqui Jacinto dan Joelle Jacinto
Foto: Michael HB Raditya
Dipertunjukan di sebuah kolam, seorang penari mulai bergerak senada dengan gelombang di tepian. Di sisi terjauh, seorang penari lain mulai memasuki kolam. Ia berenang perlahan menuju ke penari lainnya di tepian. Sesampainya di tepian, alunan yang didominasi gesekan dawai biola dan cello terdengar samar-samar. Kedua penari tersebut lantas mulai bergerak secara bersamaan, berirama, dan teratur. Diawali dengan bergerak seragam, kedua penari lantas saling bergerak beriringan hingga merespon satu satu sama lain. Hal yang cukup menarik dari karya ini adalah akumulasi gerak yang dihadirkan kedua penari terasa matang dan proporsional antar referensi gerak balet, modern, hingga kontemporer. Padanan tersebut membentuk satu etude yang khas, semisal perkelindanan antar gerak levitasi ala balet dengan gerakan-gerakan menggeliat, dan seterusnya.

Dalam penguasaan ruang pertunjukan, eksplorasi gerak dan pola lantai dalam karya ini terbilang cukup cair. Kedua penari dapat memberikan impresi kebaruan walau menggunakan basis gerak yang telah ajeg, yakni balet. Pertunjukan ditutup dengan satu penari mengayun di tempat, sedangkan penari lainnya kembali masuk ke dalam air. Dalam durasi pertunjukan yang berlangsung sekitar 10 menit ini, kiranya karya “Undertow” dapat menyampaikan gagasan filosofis dengan gerak yang cukup cakap, yakni perasaan kesementaraan dari sebuah keadaan.

Karya kedua bertajuk “Pla(y)nes”, karya kolaborasi dari salah satu koreografer Indonesia, Siko Setyanto (Indonesia) dan Al Bernard Garcia (Filipina). Tajuk karya ini mempunyai dua makna yang tarik ulur, antara playness dan planes. Kemenduaan makna ini membuat karya ini menjadi lebih longgar dalam ruang penafsiran. Usut punya usut, dalam gagasan penciptaan Siko dan Al merujuk pada konsep pertunjukan yang tidak muluk-muluk. Di mana karya ini diarahkan pada gagasan atas permainan, perjumpaan, dan persahabatan antar kedua koreografer.

Tidak hanya itu, merujuk penuturan Siko, karya ini diawali dengan hal yang cukup sederhana, perjumpaan dan kesenangan mereka. Alhasil impresi karya tersebut laiknya mereka tengah bermain-main. Pun tidak jarang penonton mengerenyitkan dahi ketika menyaksikannya, namun bagi saya karya ini menyimpan gagasan menarik atas pertunjukan sebagai sebuah permainan, laiknya Luiz Hetinga dengan Homo Ludens-nya.

Pertunjukan diawali dengan gumaman Siko. Selanjutnya Siko laiknya mengetuk dan membuka sebuah pintu dari bangunan imajiner dari Al. Mereka pun bercakap-cakap satu sama lain. Hal yang cukup menarik, mereka menggunakan bahasa mereka masing-masing, bahasa Jawa dituturkan oleh Siko, dan bahasa Filipina diucapkan oleh Al. Semisal urip dilakoni nganggo dungo (hidup dijalani dengan doa), dan lain sebagainya.

pla(y)nes-teraseni.com
Salah satu adegan pertunjukan ke dua
Foto: Michael HB Raditya
Selanjutnya mereka terhenti, dan menuju ke area penonton untuk meminta operator memainkan musik. Penonton pun mempunyai beragam respon, mulai dari tertawa, kebingungan, ataupun asik menyaksikan. Secara lebih lanjut, karya ini mengajak penonton untuk berfikir tentang batas antara pertunjukan dan yang bukan. Hal ini tentu menarik dalam pengembangan gagasan dalam karya tari. Terlebih ketika musik telah dimulai, mereka bergerak laiknya tengah melakukan pemanasan. Kemudian mereka mulai bergerak dengan basis tubuhnya masing-masing, Al dengan baletnya serta Siko dengan tari tradisi Surakarta dan modern-nya.

Perbedaan bahasa dan persilangan komunikasi ini menjadi satu pesona tersendiri dalam karya “Pla(y)nes” ini. Walau menurut pengakuan Siko, kata-kata yang diucapkan keduanya tidak dirancang bahkan tidak terkait satu sama lain. Namun yang cukup menarik, alih-alih mengandalkan persilangan bahasa, mereka justru menunjukkan bahwa komunikasi mereka sesungguhnya adalah melalui tubuh. Di mana gerakan saling merespon satu sama lain menjadi perwujudan komunikasi yang menyimpan persamaan dan perbedaan, sekaligus.

Karya ketiga dari sesi ini bertajuk “Cendrawasih” (Birds of Paradise). Berbeda dengan karya lainnya, karya ini merupakan karya jadi dari Alla (Malaysia), lulusan program magister tari University of Malaya—kini ia mengajar di beberapa tempat. Karya ini terinspirasi dari tari klasik Malaysia, Timang Burung dan Asyik. Secara gerak, karya ini menirukan gerak burung dengan eksplorasi cerita laiknya burung di habitatnya. Ditarikan oleh sang koreografer dan dua penari lainnya: Lily Terindah dan Munirih Jebeni, karya ini kiranya memperlihatkan karya penciptaan yang berasal dari cerita rakyat setempat.

Pertunjukan diawali dengan ketiga penari yang tengah bergantungan di atas pohon dengan selembar kain. Diiringi alat musik petik, laiknya sape, mereka bergerak menyerupai burung, mulai dari gerakan terbang, terbang ke sarang, dan berjungkir balik, hingga mereka kembali ke atas pohon. Bagi saya, pertunjukan ini terasa wantah dan banal. Dalam hal ini, saya tidak menyoal referensi dan stimulasi karya yang berasal dari burung Cenderawasih, pun juga tidak soal dalam struktur pertunjukan, namun yang menjadi soal justru terletak pada eksplorasi gerak yang dilakukan. Di mana tidak ada pengayaan dan pengembangan yang signifikan.

Bird of Paradise-Teraseni.com
Sebuah adegan menirukan kepakan cendrawasih
Foto: Michael HB Raditya
Sederhananya, mereka hanya memindahkan aktivitas Cendrawasih ke atas ruang pertunjukan, tanpa adanya interpretasi yang matang. Hal ini yang kiranya membatasi koreografer dalam melihat kemungkinan-kemungkinan lain, semisal interpretasi yang lebih kritis pada gagasan yang mereka usung, seperti “burung cendrawasih berasal dari surga dan pergi ke dunia hanya untuk mati”. Pada akhirnya mereka juga terbatasi dalam pengayaan konsep pertunjukan, semisal post-dramatic dalam struktur tari mereka. Kendati dari seluruh karya, sejauh ini karya ini merupakan karya terlemah, namun di luar itu semua, ada satu hal yang dapat dipuji, yakni kesadaran dalam mengangkat kearifan lokal.

Selanjutnya, karya dari koreografer asal Banyumas, Indonesia, Otniel Tasman yang berkolaborasi dengan koreografer asal Malaysia, Chai Vivan. Karya kolaborasi mereka bertajuk “Escape”. Berbeda dengan karya-karya lainnya, pemilihan lokasi terbilang cukup unik. Di mana arena pertunjukan dibatasi pagar berkawat dengan bentuk bangunan laiknya tempat jajan, seperti kantin.
Escape-teraseni.com
Salah satu adegan dalam tari yang berjudul Escape
Foto: Michael HB Raditya

Pertunjukan diawali dengan tergeletak sebuah gundukan berplastik hitam teronggok di atas meja. Dari kejauhan terdengar suara teriakan kata-kata kasar secara berulang dengan nada kesal. Seorang laki-laki berambut palsu dengan kacamata hitam—yang adalah Otniel—berjalan ke kerumunan. Melihat ke penonton, ia masih mengulang teriakannya sembari perlahan menaiki tangga memasuki area berpagar. Kemudian, Otniel mendekati plastik hitam tersebut, perlahan plastik tersebut mengeluarkan cucuran air berwarna merah yang dibayangkan sebagai darah. Keluar seketika seonggok tubuh menggeliat dari plastik tersebut—yang adalah Vivan. Melihat hal tersebut, Otniel menjauh dari meja tersebut hingga pada akhirnya mereka saling berinteraksi satu sama lain. Tidak lupa Otniel turut mendendangkan lagu sambil menarikan beberapa etude tari Lengger.

Selanjutnya Otniel melilitkan kain di bagian tubuh Vivan, dan mereka saling tarik menarik antar satu dengan yang lain. Sementara Vivan telah terikat, Otniel membalik meja tersebut dan mulai mengambil cat warna. Meja yang berdiri tegak laiknya papan mulai ia respon. Alih-alih bergerak laiknya pelukis lazimnya, Otniel menggoreskan pelbagai warna tersebut dengan gerakan-gerakan Lengger.

Sementara itu, Vivan tengah berusaha melepaskan ikatan yang dililitkan oleh Otniel. Selepas menorehkan guratan di papan tersebut, Otniel mengambil sebuah lipstik dengan latar lagu laiknya musik cha-cha. Sedangkan Vivan telah berhasil melepaskan ikatan yang ada pada dirinya. Melihat Otniel tengah asik sendiri, ia menaiki tangga dan berusaha melarikan diri dari cengkraman sang megalomania. Pertunjukan usai.

Bertolak dari pertunjukan Otniel dan Vivan, impresi pertunjukan terasa cukup padat. Banyak lapisan persoalan yang diungkapkan, mulai dari saling mengikat, memanjat pagar, hingga melukis dengan arbitrer. Namun dari hal tersebut, kompleksitas yang terbangun dirasa cukup jelas. Kepadatan yang dibangun selama pertunjukan seakan lepas ketika Vivan berhasil melepaskan diri. Dalam karya ini, karakter Otniel menyerap perhatian lebih, sedangkan Vivan terbilang cukup merespon Otniel. Otniel lebih berhasil dalam mewujudkan perannya sebagai oposisi yang menstimulasi upaya Vivan melarikan diri. Namun yang cukup disayangkan, terdengar suara dari pertunjukan lainnya yang berjalan bersamaan, rasanya hal ini cukup mendistorsi perhatian penonton.

Otniel Tasman-teraseni.com
Adegan tari Otniel Tasman sambil melukis
Foto: Michael HB Raditya
Karya terakhir dari Sesi B adalah karya bertajuk “D.I.D.” dari Sharm Noh. Karir Sharm Noh bermula dari cheerleading yang lulus diploma dari ASWARA Malaysia. Karya yang menyoal terkait sisi manusia—yang erat hubungannya dengan dikotomi manusia dan menjadi ‘robot’ dampak alienasi ini—ditampilkan oleh Akid Jabran, Nadhirah Rahmat, Amirul RXL, Maimun Ismail, Shan Tie dan Syafiq. Digelar di ruang pameran, karya ini dapat dilangsungkan dengan cukup rapih.

Sharm Noh-teraseni.com
Awal adegan tari D.I.D
Foto: Michael HB Raditya
Pertunjukan diawali dengan tiga tubuh yang tengah berbaring. Di masing-masing tubuh tersebut bertumpuk tubuh lainnya. Diiringi dengan musik berderap laiknya house music, mereka mulai bergerak berirama. Gerak-gerak serentak nan variatif menjadi impresi yang muncul dengan cepat ketika menyaksikan pertunjukan ini. Dengan basis tubuh modern dance hingga gerak robotik dikelindankan. Sebagaimana karya yang dibuat oleh pimpinan grup cheers, mereka dapat menampilkan dengan kompak, serentak, dan seirama. Tidak ada kekeliruan! Turut dibumbui dengan gerak akrobatik, karya terakhir ini diperuntukan untuk memukau mata, tapi tidak lebih

Redaksi teraSeni berterimakasih jika teman-teman berkenan meninggalkan komentar, namun mohon untuk meninggalkan komentar yang tidak melanggar batas-batas etika, HAM, SARA dan tindak kriminal. Terimakasih.
EmoticonEmoticon