Senin, 16 April 2018

Ngetutke Rasa; Rasa Adalah Yang Utama: Hadiah Manis 60th PLTBK

Senin, 16 April 2018 | teraSeni.com~

D ari satu titik, rangkaian cahaya mengarah ke kedelapan penari yang tengah berderap. Menatap tajam ke penonton dan arah datangnya cahaya, sesekali beberapa penari laki-laki berteriak lantang, menambah kesan garang. Bias cahaya tersebut menghasilkan bayangan di belakang para penari, seolah-olah mereka menjadi semakin banyak dan berenergi. Merespon permainan Purwanto Ipung dkk, kedelapan penari memperlihatkan wirama dan wiraga yang berkelindan satu sama lain. Alih-alih hanya menari, karya bertajuk Ngetutke Rasa ini menampilkan rasa kejawaan dengan tawaran konsep pertunjukan yang lebih segar dan kekinian. 

ngetutke rasa: teraseni.com
Tampak para penari menatap tajam kearah penonton
Foto: Guntur Moko
Dari tari kembali ke tari, mungkin frase yang tepat dalam merayakan hari jadi Pusat Latihan Tari Bagong Kussudiardja (PLTBK) yang ke-60th. Perayaan Padepokan Seni Bagong Kussudiardja (PSBK) ini menggelar sebuah pertunjukan tari bertajuk Ngetutke Rasa dalam bingkai acara bulanan PSBK, Jagongan Wagen. Karya yang digelar pada Sabtu, 24 Maret 2018 pada pukul 19.00 di Padepokan Seni Bagong Kussudiardja ini menampilkan koreografer dan penari muda berbakat, yakni: Pulung Jati Rangga Murti, Hermawan Sinung Nugroho, Anang Wahyu, Putra Jalu Pamungkas, Arjuni Prasetyorini, Nurul Dwi Utami, Indiartari Kussnowari, dan Paranditya Wintarni. Tidak hanya itu, pertunjukan tari ini turut menggandeng pemusik handal, seperti: Purwanto Ipung, Boedhi Pramono, Danang Rajiv Setyadi, Desti Pertiwi, Gaung Kyan Rennatya S., Fajar Sri Sabdono, dan Shandro Wisnu Aji Seputra. 

Sebelum pertunjukan, Djaduk Ferrianto turut memberikan ‘kuliah umum’ tentang sang ayah, Bagong Kussudiardja. Alih-alih hanya membicarakan kedirian, Djaduk turut mengulas teknik, karya, serta PLTBK. Dibahas dengan santai, Djaduk berhasil menyarikan pelbagai karya dari alm. Bagong Kussudiardja, yakni Ngetutke Rasa. Sebuah padanan terma yang ditemukan penggagas dan koreografer dari kumpulan arsip maestro tari, alm. Bagong Kussudiardja. Ngetutke Rasa dirasa tepat oleh Djaduk, penggagas, dan koreografer dalam merepresentasikan karya-karya ciptaan alm. Bagong Kussudiardja. Sari dari karyanya ini lantas dianggap dapat menjadi sebuah metode atau tawaran kesadaran dalam menciptakan karya tari, khususnya bagi generasi muda yang kerap tidak mengindahkan rasa dalam menciptakan karya tari. Alhasil, Ngetutke Rasa menjadi sebuah tawaran penting yang ditawarkan Djaduk Ferrianto, PSBK, dkk dalam menyikapi karya tari kini. 

ngetutke rasa: teraseni.com
Salah satu adegan dalam pertunjukan Ngetutke Rasa
Foto: Guntur Moko
Mencari Rasa Meraba Pertunjukan
Pertunjukan diawali tidak di arena pertunjukan, melainkan ruangan di sisi kanan penonton. Sebuah ruangan dengan pintu dorong dibuka dengan cepat, di dalamnya terdapat sejumlah delapan penari tengah melakukan pemanasan. Samar-samar terdengar gesekan alat musik cello membentuk tempo. Sementara itu beberapa dari mereka melatih kuda-kuda, beberapa dari mereka melatih etude tari Jawa, beberapa dari mereka berjalan sambil merenggangkan kaki mereka. Lalu mereka membentuk satu baris dengan tangan posisi tangan terlentang hingga menengadah. 

Alih-alih gerakan berbeda satu sama lain, gerakan kedelapan penari justru serupa satu sama lain. Setelahnya lampu padam, mereka tercerai berhamburan. Beberapa dari mereka berjalan perlahan, beberapa dari mereka mengendap-endap memasuki panggung. Bersamaan dengan itu, suara gamelan mulai terdengar lantang. Pada bagian awal ini, pertunjukan terasa menarik di mana prosesi latihan mereka menjadi bagian dari pertunjukan. Kendati hal ini bukan hal baru dalam pertunjukan kontemporer, namun memasukkan bagian latihan di ruang yang berbeda pada pertunjukan telah mencuri perhatian. Tidak hanya itu, pada bagian ini para penari telah menampilkan basis gerak tubuh tari Jawa dengan pelbagai eksplorasinya. 

ngetutke rasa: teraseni.com
Dalam kegelapan penari memasuki panggung
Foto: Guntur Moko
Gending Jawa mulai terdengar keras, mereka yang tengah mengendap-endap mulai memasuki panggung. Keempat penari laki-laki mulai menempel di dinding belakang panggung sebelah kiri dari penonton, sedangkan keempat penari perempuan mulai menempel di sisi sebaliknya. Menyisakan satu ruang kosong di panggung belakang bagian tengah dari penonton. Pada bagian ini, mereka mulai merayap dan bersandar di sisi panggung masing-masing, hingga memasuki ruang tengah secara bergantian. Pada pertunjukan ini eksplorasi gerak per gerak dari etude tari Jawa, tari modern, ataupun perpaduannya menjadi primadona. 

Bagian lain yang tidak kalah menarik adalah ketika upaya kreatif penggunaan lampu sorot laiknya penggunaan multimedia dalam pertunjukan-pertunjukan tari belakangan ini. Kedelapan penari mulai berdiri berbaris membentuk formasi, mereka mulai berderap dengan cahaya persegi menyinari mereka. Dampak dari permainan cahaya ini membuat bayangan dari para penari seakan semakin banyak. Dengan musik yang berderap dan energik, para penari seakan tampil semakin garang laiknya akan maju berperang. Sesekali mereka berteriak dan mengangkat tangan menambah kesan pertunjukan semakin menarik. Permainan bayangan ini kiranya menjadi terobosan penggunaan media yang sederhana namun berbuah maksimal. 

Masih dengan penggunaan cahaya yang membentuk persegi di sisi belakang panggung, secara bergantian para penari laki-laki masuk perlahan ke dalamnya. Mulai dari mempertunjukkan organ tubuh, seperti kaki, tangan, badan, dan seterusnya, hingga menarikan gerak tari Jawa dengan karakter alusan ataupun gagahan. Setelahnya keempat penari mulai tersebar membentuk satu saf atau deret. Lalu mereka menggelinding (baca: roll depan) secara bersamaan ke arah depan panggung. Sementara fokus lampu berganti, keempat penari perempuan telah duduk terlebih dulu, sehingga keempat penari laki-laki menempati posisi di antara keempat penari perempuan lainnya. Suasana pertunjukan, baik lampu ataupun musik berganti dengan cepat, membuat impresi yang mengalun dan ‘sakral’. Selanjutnya mereka bergerak dengan karakter alusan dalam tari Jawa secara bersamaan. Sembari hal tersebut berlangsung, dari kursi penonton banyak terdengar nada terpukau. Dalam hal ini, tidak dapat dipungkiri bahwa tersebar gerak-momen yang mengandung spectacle di dalam karya ini. 

Namun tidak dapat dipungkiri bahwa apiknya pertunjukan sempat terganggu dengan satu kesilapan yang justru tidak berasal dari penari. Adalah kesalahan teknis yang cukup mengganggu jalannya karya tari. Di mana ketika pada bagian menuju akhir pertunjukan—atau bisa saya terjemahkan klimaks walaupun pada tarian Jawa semisal Bedhaya tidak mengenal hal tersebut—, lampu secara tiba-tiba padam. Sementara musik masih berbunyi, penonton bingung dan mulai bertepuk tangan mengira pertunjukan usai. Sementara itu, di sisi depan panggung, seorang laki-laki dengan gestur kesal berdiri dan menunjuk-nunjuk kawanan operator tata cahaya. Hal ini tentu menjadi catatan buruk bagi kru tata cahaya PSBK yang sebenarnya telah melakukan pencahayaan dengan baik sejak awal pertunjukan. Untunglah lampu kembali menyala secara teram temaram, namun yang cukup disayangkan mood dari beberapa penari dan penonton telah terganggu. Kendati konsentrasi sudah terhambur, profesionalitas justru ditunjukkan oleh para penari dengan baik. 

Ketika lampu kembali menyala, para penari masih berjalan di tempat dengan gerak yang serentak. Lalu mereka kembali terpecah, Mawan dan Jalu bergerak bebas di bagian belakang kiri dari penonton; Paranditya, Indiartari, dan Nurul bergerak perlahan di bagian tengah panggung; sementara Pulung, Arjuni, dan Anang berdiri di sisi depan kanan penonton dengan gerakan eksploratif, di mana Pulung dan Anang bergerak melompat hingga menggeliat khas Jogja Body Movement, sementara Arjuni menunduk dan berderap. Tidak lama berselang, lampu perlahan meredup, tanda pertunjukan usai. 

Merasakan Kejawaan dari Ngetutke Rasa 
Rasa menjadi tawaran menarik dalam pertunjukan tari Ngetutke Rasa—sebagaimana yang disarikan penggagas dan penari dari pelbagai karya tari alm. Bagong Kussudiardja. Namun apakah rasa telah muncul pada pertunjukan tari yang digelar dalam rangka 60th PLTBK – PSBK tersebut? Bertolak dari pertunjukan tersebut ada beberapa hal penting yang terbetik, yakni: basis gerak tubuh para penari tidak ditanggalkan begitu saja, melainkan dieksplorasi secara lebih. Semisal Pulung, Anang, dan Jalu dengan gerak tubuh yang eksploratif, terlebih mereka aktif dengan Jogja Body Movement-nya; atau Mawan dengan tari Jawa tradisi gaya Yogyakarta yang kuat; dan lain sebagainya, dengan cakap ditampilkan dan ditempatkan pada pertunjukan ini. Dari kedelapan penari, persoalan teknik gerak—baik tradisi ataupun eksplorasi—mereka tidak perlu diragukan. Dalam hal ini, rasa memang adalah hal yang utama, namun teknik harus tetap terjaga. Persis yang terejawantahkan dari para penari di dalam karya ini. 

ngetutke rasa: teraseni.com
Tampak seorang penari sedang melompat
Foto: Guntur Moko
Selain itu, ihwal pola lantai, di mana para penari menyiasati dengan pola lantai yang rekat satu sama lain. Kendati mereka terpecah pada kelompok-kelompok kecil, namun mereka tetap menggunakan pola lantai jarak dekat antar satu penari dengan penari lain. Hal ini pun diejawantahkan pada beberapa alur dan gerak dari para penari. Di mana para penari membuat gerak berpola dengan tangan yang seragam, seperti: ketika para penari membentuk lingkaran dengan Anang di tengah-tengah mereka; atau tatkala ketujuh penari membungkuk dan berjalan kecil dengan Pulung di tengahnya, yang berbusung dada dengan menatap tajam; dan sebagainya. Hal ini menandakan adanya kesadaran pola lantai pada pelbagai gerak mereka. 

Tidak hanya itu, pola gerak dan pola lantai tersebut berkorelasi dengan kesadaran irama dalam tubuh penari. Kesadaran irama dapat dirujuk sebagai kesadaran gerak tubuh merespon bunyi, gerak menjadi tanda dalam bunyi, dan perkelindanan keduanya. Hal ini mengingatkan saya pada satu ‘formula’ untuk penari Jawa yang sublim, yakni Wiraga, Wirasa, dan Wirama. Bicara wiraga dan wirama, karya ini telah menunjukkan keduanya, sedangkan ihwal wirama, tidak muluk-muluk jika karya ini telah menuju ke arah tersebut. 

Bertolak dari catatan baik di atas, adapun catatan yang perlu diindahkan dari karya ini, yakni masih terasa terpotongnya pada beberapa bagian di dalam karya ini. Kendati hanya berporsi kecil, namun alangkah baiknya jika perpaduan ide antar kepala para koreografer atau penari dapat dilakukan dengan mangkus dan sangkil. Sebagaimana karya ini diciptakan dari delapan kepala penari—bahkan penggagas—yang terlibat, maka keseluruhan rangkaian gerak perlu dirajut dengan cakap. Kiranya, rajutan tersebut dapat didasarkan pada kepekaan rasa. Kendati demikian, tidak dipungkiri bahwa jahitan rangkaian gerak dari karya ini sudah terasa apik. Namun kiranya rangkaian antar gerak dapat dirajut dengan lebih cakap sehingga sawiji, greget, sengguh, ora mingguh dapat tercapai pada karya-karya tari baru.[]

This Is The Newest Post

Redaksi teraSeni berterimakasih jika teman-teman berkenan meninggalkan komentar, namun mohon untuk meninggalkan komentar yang tidak melanggar batas-batas etika, HAM, SARA dan tindak kriminal. Terimakasih.
EmoticonEmoticon