Minggu, 27 Mei 2018

Lengger: Yang Sebelah Mata Saatnya Bicara

Minggu, 27 Mei 2018 | teraSeni.com~

Suara kendang Jawa mulai terdengar memberi tempo dan nuansa, sementara seorang penari perlahan mulai bergerak dengan ragam tari lengger. Semakin mengalun suara kendang, sang penari semakin luwes mengayun merespon pukulan demi pukulannya. Namun dalam sekejap, sang penari bergelagat aneh. Tatapannya menjadi tajam, gerakan luwesnya bahkan menjadi patah. Bukan tanpa sebab, terdengar simultan suara distorsi dari gitar elektrik yang memekakkan telinga. Hal yang menarik, alih-alih suara tersebut terpisah, suara alunan gitar metal cadas tersebut justru beriringan dengan suara kendang. Lantas sang penari merespon dengan pelbagai gerak dari etude tari lengger, tetapi dengan penekanan-penekanan tubuh yang berbeda dengan lengger lazimnya. 

Tari Lengger: Teraseni.com
Salah satu adegan dalam pertunjukan, tampak penari sedang mengayunkan tanggannya
Foto: Sapto Agus
Menyita perhatian agaknya menjadi frase yang tepat pada pertunjukan bertajuk Lengger karya Otniel Tasman ini. Pasalnya pertunjukan yang dipentaskan pada gelaran Art Jog 2018 (16/5) ini membuka ruang kolaborasi yang menarik. Di mana tari Lengger berkolaborasi dengan genre musik Metal—yang dimainkan oleh Aitra Wildblood pada gitar dan Dewadji Ratriarkha a.k.a. Djiwo pada vokal. Hal ini menjadi persilangan unik, mengingat pertunjukan Lengger lazimnya diiringi calung. Namun, tidak hanya Metal, Otniel tetap membawa salah satu unsur musik dari Lengger, yakni kendang—yang dimainkan oleh Guruh Purbo. 

Dari pertemuan antara Lengger, musik Metal, ataupun Kendang Jawa ini, karya Otniel menjelma menjadi ruang dialog yang produktif. Namun bukan karena kesenian yang berasal dari daerah Banyumas ini tidak pernah berkolaborasi dengan musik Metal, melainkan menjadi wahana bicara atas kegelisahan untuk melawan kemapanan dan mengangkat persoalan kehidupan Lengger yang masih dianggap sebelah mata, juga terpinggirkan. Atas dasar minoritas inilah, Otniel berkolaborasi dengan salah satu genre yang distigmakan serupa. Lantas, ‘bentrokan’ kedua seni ‘minoritas’ ini membuahkan pertunjukan yang menarik, baik secara visual, aural, maupun esensial. 
 
tari Lengger: Teraseni.Com
Tampak penari sedang merespon permainan gitar elektrik
Foto: Sapto Agus
Tubuh yang Berdialog 
Teram temaram lampu menyinari, Otniel Tasman—mengenakan kaus dalam hitam dan celana panjang—berlari ke tengah panggung dengan tergesa. Perlahan lampu menyinari ruas-ruas tubuhnya, sementara itu ia mulai mengayunkan tangannya dengan lentur sambil menembang. Beberapa saat setelahnya, ia terjatuh lunglai, tertelungkup. Alih-alih tetap, ia perlahan bangkit dengan telapak tangan bergetar stabil. Vibrasi dari tangan bergetar tersebut membuat tembangan Otniel kerap terputus. Tubuhnya laiknya terdekap hingga perlahan terurai menggeliat, tangannya ia rentangkan. 

Kemudian cahaya merah mulai pekat, alunan gitar elektrik dengan distorsinya mulai terdengar cukup mengganggu. Alih-alih hanya gitar, seorang lainnya bernyanyi dengan teknik scream (baca: berteriak) dan growl (baca: geraman). Bersamaan dengan itu, dengan tatapan nanar, Otniel mulai memutarkan pinggangnya searah jarum jam. Dalam karya ini Otniel menghadirkan etude dari gerak Lengger, tetapi etude gerak tersebut dilakukan secara lebih arbitrer. Gerak tersebut disertai dengan gestur wajah tidak nyaman, aneh, wajah marah bahkan laiknya kesurupan, ataupun bingung. Kemudian suara kendang mulai terdengar samar-samar, lantas ia merespon dengan menyertakan gerakan patah tersebut. 

Tidak lama berselang, ia kembali tertelungkup dengan nafas yang tergesa-gesa. Paduan bunyi distorsi pun berangsur samar-samar menurun. Dalam posisi tertelungkup, ditanggalkannya baju yang ia kenakan. Sementara kendang terdengar dominan, ia bangkit berdiri merespon asal bunyi tersebut dengan etude gerak Lengger. Pun etude lengger yang ditunjukkan tersebut berbeda dengan sebelumnya—ketika suara distorsi gitar dominan—, di mana Otniel bergerak dengan lebih kaku dan terdapat penekanan pada beberapa bagian yang tidak lumrah, semisal ketika gerak mengayun yang seakan patah-patah, dan lain sebagainya. Namun hal ini lah yang justru menarik, di mana Otniel piawai dalam meletakan gerak patah atau posisi gerak berhenti dengan tepat. 

Tari Lengger: Teraseni.Com
Penari sedang bergerak dalam temaram cahaya
Foto: Sapto Agus
Selanjutnya bunyi distorsi gitar kembali terdengar, sekejap wajah Otniel menjadi gugup, bahkan takut. Lantas kepalanya menengadah laiknya berserah, disertai dengan eksplorasi lingkar pinggul. Tatapannya menjadi tajam, tangannya mulai bergerak laiknya tengah melakukan pemanasan jari. Perlahan ia bangkit dan melangkahkan kakinya ke area depan panggung. Sesampainya di depan panggung, ia kembali memeragakan kuda-kuda lengger. Tidak hanya itu, Otniel turut mempertunjukkan hasil eksplorasinya pada jari, khususnya telunjuk dan jempol. Eksplorasi ini diakui Otniel sebagai eksplorasinya pada mudras. Secara lebih lanjut mudra atau mudras merupakan gestur atau sikap tubuh yang bersifat simbolis atau ritual pada agama Hindu dan Buddha. Dalam hal ini mudra banyak dilakukan pada tangan dan jari. 

Eksplorasinya pada mudras dan etude lengger lalu ditautkan dengan kendang, gitar distorsi, dan teknik vokal screaming. Sebagai contoh ketika Otniel menatap tajam dilatari dengan noise dari distorsi, di mana jari telunjuknya terbujur kaku. Lantas ia rentangkan jari tersebut ke pelbagai arah. Atau ketika produksi suara hanya berasal dari kendang, di mana eksplorasi tubuh Otniel atas etude lengger semakin beragam dengan detail-detail gerak yang spesifik pada satu gerak tertentu, seperti halnya pada gerak mengayun, gerak eksplorasi pada area pinggang, dan sebagainya. 

Hal yang tidak kalah menarik adalah impresi yang diciptakan pada akhir pertunjukan, di mana Otniel berjalan dengan lututnya ke arah pemain kendang. Dengan diiringi gitar distorsi, ia menembang. Sementara itu ia memasang kemben pada tubuhnya dan konde lengger di atas kepalanya. Disertai dengan alunan gitar dan kendang, ia menatap ke arah penonton dengan senyum. Kaki perlahan ia langkahkan, setibanya di area depan panggung lampu pertunjukan memudar. Senyumnya dilumat gelap, tanda usai pertunjukan. 

Bicara Yang Tidak Bisa Dibicarakan 
Bukan tanpa sebab Otniel memadukan antara Lengger dan musik metal. Bagi dirinya, kedua jenis kesenian tersebut sama-sama memiliki kesamaan, yakni terpinggirkan, atau minoritas dalam semesta musik ataupun tari. Di mana Lengger—terlebih Lengger Lanang—sebagai minoritas di dalam jagad tari, ketimbang tari-tari mapan lainnya, seperti bedhaya, gambyong, dan sebagainya. Tidak hanya itu, Lengger Lanang atau Lengger yang ‘dianut’ Otniel merupakan kesenian Banyumas yang mempertunjukkan cross-gender, yakni laki-laki yang menari dan memerankan perempuan di atas panggung. Walhasil, stigma negatif bukan hal asing tersemat bagi Lengger Lanang. Mereka tidak punya suara! Padahal sungguh agung kesenian tersebut diciptakan, di mana Lengger merupakan ritus kesuburan yang mencerminkan keseimbangan hubungan manusia, alam, dan Tuhan. 

Tari Lengger: Teraseni.Com
Dua genre musik yang berbeda Kendang dan musik metal bertemu dalam Lengger
Foto:  Sapto Agus
Tidak jauh berbeda, bagi Otniel dan kolaborator dalam karya ini, musik metal mempunyai pengalaman yang serupa, terpinggirkan. Namun perlu diingat bahwa desiminasi sebuah musik di Indonesia turut didasarkan pada rezim. Dalam hal ini, musik metal sebagai genre memang mempunyai pengalaman serupa, yakni terpinggirkan di tempat asalnya. Mereka menjadi medium perlawanan atas kemapanan. Hal itu tentu betul! Alih-alih sama, di Indonesia mempunyai soal yang berbeda, di mana pada awal persebaran musik metal justru didengarkan oleh mereka yang memiliki akses—yang berarti didengarkan oleh orang-orang yang justru berkebalikan, yakni mapan. Sebuah kenyataan desiminasi musik metal di era orde lama, yang berbeda dengan era global kini. 

Terlepas dari catatan konteks tersebut, bagi Otniel dan kolaborator, lengger dan musik metal dikonotasikan minoritas dan melawan kemapanan. Dalam hal ini, padanan ‘nasib’ dan bentrokan bentuk kedua kesenian ini dirasa dapat memberikan satu pesan yang sama, yakni perlawanan. Hal yang lebih menarik, perlawanan atau mengcounter kemapanan ini tidak diposisikan sebagai wahana balas dendam, namun sebagai ruang refleksi dan dialog untuk pelbagai hal yang lebih aktual dan kontekstual. Lantas perlawanan macam apa yang diwujudkan? Bentrokan antara bunyi distorsi dan alunan kendang memberikan ruang dialog untuk Ontiel. Sebagaimana Otniel berlatar kepenarian, maka tubuhnya menjadi ejawantah atas dialog tersebut. Di mana, Otniel menari dengan ‘asing’ ketika distorsi mengiringi, Otniel menari dengan nyaman ketika kendang, dan padanan kedua tarik ulur tersebut yang ia wujudkan di dalam tubuhnya. Dalam hal ini perlu diakui bahwa tubuh Otniel sudah sangat nyaman dan dalam pada Lengger, di mana ia terlihat sangat menikmati ketika menari etude lengger dengan memejamkan mata. 

Kendati demikian, sempat muncul ketakutan saya akan jenis presentasi yang dilakukan Otniel pada jauh-jauh hari sebelumnya. Seperti, apakah Otniel akan membawa tari lengger yang lazimnya ke pertunjukan kali ini? Pertanyaan-pertanyaan akan bagaimanakah Otniel mengolah Lengger; atau apalagi yang dapat dieksplorasi; dan terus sebagainya. Namun hal tersebut luluh lantah ketika melihat pertunjukannya, di mana eksplorasi tidak hanya pada ketubuhan yang baik—walau perlu dicatat pada bagian transisi dari tiap mood ketika berganti—, melainkan juga pada gagasan yang kritis, bahkan medium kolaborasi yang mengejutkan. Alhasil, kendati tajuk karya Lengger yang cukup ‘menjebak’—dalam hal ini tajuk sangat asosiatif pada karya tari Lengger yang konvensional—, namun dari karya Otniel-lah perlawanan yang kerap kali tidak bisa dilakukan justru dapat diwujudkan.[]

Redaksi teraSeni berterimakasih jika teman-teman berkenan meninggalkan komentar, namun mohon untuk meninggalkan komentar yang tidak melanggar batas-batas etika, HAM, SARA dan tindak kriminal. Terimakasih.
EmoticonEmoticon