Selasa, 03 Juli 2018

Legusa; Bunyi yang Melereng dari Lereng Gunung Sago

Selasa, 3 Juli 2018 | teraSeni.com~


Hawa dingin, diikuti kabut tipis, dan angin yang sedikit kencang, turun dari puncak Gunung Sago bagian utara, lalu menyisir sepanjang lerengnya. Terkadang angin dan kabut itu berpiuh karena terhalang gundukan bukit, dan kemudian mencari jalannya sendiri untuk keluar dari keterkungkungan yang ada, seperti yang dikerjakan oleh beberapa anak muda di Nagari Sikabu-kabu Tanjuang Haro Padangpanjang, Kecamatan Luak, Kabupaten 50 Kota. 

Nagari yang memang tepat berada di lereng utara Gunung Sago itu, yang dihiasi beberapa bukit kecil dan lembah yang terbentang sepanjang mata memandang, mulai begitu sibuk dan ramai pasca Hari Raya Idul Fitri ketiga. Bukan karena para perantau pulang basamo seperti yang terjadi di beberapa nagari lain di Sumatera Barat ini, namun kesibukan dan keramaian itu terjadi karena dimulainya Legusa Musik Festival; Perayaan Proses Kreatif Musik Anak Nagari, pada tanggal 18 – 23 Juni 2018.
Legsa Fest: Teraseni.com
Hamparan sawah yang melereng di kaki gunung sago
Foto: Roni Azhar

Seperti yang terbaca pada tajuk judul, acara ini memang benar-benar sebuah perayaan tentang apa yang sudah diperbuat oleh anak nagari selama satu tahun belakangan ini, terutama pada musik tradisi—yang kemudian dibungkus menjadi musik kontemporer. 

Selama ini, dalam dunia seni pertunjukan kontemporer selalu mendengung bunyi “bernapaskan tradisi” atau “kembali pada tradisi”, dengan kata lain bahwa pertunjukan-pertunjukan kontemporer (hendaknya) mengandung unsur tradisi di dalamnya, sebagaimana lazim kita jumpai, misalnya adanya unsur randai dalam sebuah pertunjukan teater atau ada unsur dendang atau saluang dalam sebuah pertunjukan musik, atau setidaknya (semati-mati akal) memakai celana galembong dalam pertunjukannya. Bentuk-bentuk (penempelan) tradisi yang sudah lazim kita saksikan. Lalu, apakah Legusa Musik Festival ini juga seperti itu? Tunggu dulu, jika dibilang “tidak” terlalu cepat untuk menyimpulkan, namun jika dibilang “iya”nanti kita juga masuk golongan “seniman sumbu pendek”.
Legsa Fest: Teraseni.com
Salah satu pertunjukan pada perayaan proses Legusa Music Festival
Foto: Keron

Menancap bukan Mencabut 

Enam hari waktu festival, dengan masing-masing penampil dari enam jorong yang ada di Nagari Sikabu-kabu Tanjung Haro Padangpanjang, yakni Santan Batapih dari Jorong Lakuak Dama, Puti Ambang Bulan dari Jorong Sikabu-kabu, Sabai nan Aluih dari Tanjung Haro Utara, Rantak Sadaram dari Jorong Padangpanjang, Carano Badantiang dari Jorong Tanjung Haro Selatan, dan Puti Indah Jalito dari Jorong Bukik Kanduang. 

Keenam penampil tersebut berasal dari anak nagari sendiri, dengan kata lain festival ini benar-benar berasal dari anak nagari, bukan festival yang dibangun untuk mengundang orang luar tampil di nagari tersebut. Di sinilah letak sebuah proses berkesenian yang luar biasa tersebut. Kerja kesenian yang, mungkin, akan sangat sulit kita temui pada nagari-nagari lain. Ditelisik dari kerja berkesenian ini, proses dari awal terbangun festival ini sampai terselenggaranya Legusa Musik Festival ini sendiri bisa diukur melalui prosesnya (dan mohon dikesampingkan dulu tingkat tingginya kemampuan penampil).
Legsa Fest: Teraseni.com
Pertunjukan penutupan di jorong Sikabu-Kabu
Foto: Keron

Sebagaimana nama dari festival ini, Legusa, yang berarti Lereng Gunung Sago. Nagari Sikabu-kabu Tanjung Haro Padangpanjang ini (yang sudah disinggung di awal paragraf) terletak persis di lereng Gunung Sago. Sebagai nagari yang terletak di lereng gunung dengan suasana dingin berkabut, tentu sudah dapat dibayangkan bagaimana damainya kehidupan di sana. Masyarakat petani yang masih mengolah lahan-lahan pertanian yang begitu luas, baik itu sawah maupun ladang. Lurah-lurah dan bukit-bukit kecil yang masih hijau sepanjang mata memandang. Keadaan seperti itu tentu membuatnya jauh dari gegap-gempita festival, terutama yang bersifat seni kontemporer,walaupun nagari ini berada di pinggir Kota Payakumbuh. 

Ketenangan memang sering menghanyutkan. Siapa menduga, di balik keasrian nagari ini, anak-anak nagari ini tidak mau hanya sekedar berangkat ke sawah, lalu pulang ke rumah dan bergelumun dengan selimut. Mereka tetap bergerak—dengan kesenian, agar darah mereka tetap hangat, tidak ikut beku dipagut dingin. Berawal dari sanggar kecil di halaman sebuah Rumah Gadang di Jorong Sikabu-kabu, lalu yang lain (jorong) ikut bergeliat tidak tinggal diam. Hingga kemudian tercetuslah ide untuk merayakan proses mereka ini dalam bentuk festival, dengan tajuk Legusa Musik Festival.
Legsa Fest: Teraseni.com
Seorang sedang berpose dengan latar Gunung Sago
Foto: Roni Azhar

Ide dan geliat ini tidak datang dari siapa-siapa, dari luar nagari mereka sekalipun. Ide dan geliat ini datang dari anak nagari mereka sendiri, lalu digerakkan bersama-sama oleh anak nagari. Supaya proses itu berjalan, barulah kemudian mereka mendatangkan pengasuh untuk melancarkan proses kreatif mereka. Anak-anak nagari tersebut datang kembali masuk ke dalam nagari mereka, untuk kembali menghidupkan potensi estetik yang ada dalam nagari mereka, berproses, kemudian merayakannya langsung di tempatnya Inilah, kenapa dikatakan menancap. Bukankah nilai estetik itu sendiri datang dari dalam diri. Tidak seperti kebanyakan praktik kesenian, orang-orang datang untuk menyesap dan mencabut estetik yang ada, membawanya dan mengembangkannya sesuai dengan kepentingannya, lalu merayakannya di tempat lain, yang jauh dari akarnya. 

Pamenan Pangulu 

Berkesenian dalam konsep Minangkabau disebut dengan Pamenan Pangulu. Berdasarkan konsep ini, kesenian tidak hanya semata hiburan, namun lebih pada falsafah keseimbangan hidup. Setelah seharian bekerja di sawah dan ladang—atau mungkin di sela-sela rutinitas sehari-hari tersebut, maka di sanalah kesenian itu berlangsung. Tanpa adanya kesenian, maka kehidupan tradisi juga tidak akan berlangsung dengan seimbang. Sebagaimana halnya ketika Legusa Musik Festival ini.
Legsa Fest: Teraseni.com
Salah satu pertunjukan pada perayaan proses Legusa Music Festival
Foto: Muhammad Halim
Festival ini tidak bisa hanya dipandang ketika waktu penyelenggaraannya saja, yang berlangsung pada malam hari. Contohnya, penyelenggaraan festival pada hari ketiga di Jorong Bukik Kanduang, pukul 9 pagi anak nagari di sana sudah berkumpul di sebuah gundukan bukit kecil berupa tanah lapang, lokasi yang nantinya akan dipakai berlangsungnya festival. Jika berdiri di tengah lapangan gundukan bukit kecil itu, mata akan terlempar pada hamparan lembah yang luas, yang langsung dihadang Gunung Marapi di seberang lembahnya. Dan jika memutari arah pandang, Gunung Sago telah memunggungi seolah menjaga lereng itu. 

Pada gundukan tanah lapang itu, anak-anak nagari tengah mempersiapkan lokasi agar mendukung terselenggaranya festival: merambah rumput-rumput liar, membuat panggung di salah-satu sudut lapangan, dan persiapan lainnya. Namun, bukan aktivitas di tanah lapang itu inti dari geliat yang terjadi di nagari tersebut. Gundukan tanah lapang di atas bukit kecil itu juga merupakan jalan bagi orang-orang kampung menuju sawah mereka. Laki-laki dan perempuan berjalan menyisir aspal kasar di pinggir lapangan itu menuju sawah mereka. Namun sebelum itu mereka terlebih dahulu singgah di tanah lapang itu, barangkali sekedar menyapa, atau meninggalkan alat perkakas mereka, bahkan ikut bekerja membersihkan tanah lapang itu sejenak sebelum mereka kembali berangkat ke sawah mereka.
Legsa Fest: Teraseni.com
Bukik Nganang, gundukan tanah lapang yang diseting menjadi lokasi pertunjukan
Foto: Embot Anwar
Ketika siang tiba, ibu-ibu beserta anak-anak perempuan mereka, datang berbondong ke tanah lapang itu membawa daun pisang, periuk nasi, dan talam-talam sambalado. Daun-daun pisang itu dibentangkan di salah-satu sisi lapangan dekat sebuah pohon ketaping yang agak rindang. Nasi dan sambalado dijejerkan di atas daun pisang, lalu orang-orang kampung dan para anak nagari makan bersama di atas tanah lapang itu. Orang-orang yang masih membungkuk-bungkuk di sawah mereka di panggil dan disoraki agar menghentikan pekerjaan mereka sejenak dan ikut bergabung makan bersama di atas tanah lapang itu. Pemandangan seperti inilah sebenarnya yang luar biasa dari festival anak nagari ini. Sebuah keseimbangan antara rutinitas sehari-hari dengan kegembiraan yang terpendam di dalam diri, beserta alam yang menjaga. Dan di situlah letak proses yang sesungguhnya, sedangkan penampilan mereka malamnya itu hanya bonus dari sebuah perayaan diri dengan alam, sebagai hasil dari pamenan diri itu sendiri.

Redaksi teraSeni berterimakasih jika teman-teman berkenan meninggalkan komentar, namun mohon untuk meninggalkan komentar yang tidak melanggar batas-batas etika, HAM, SARA dan tindak kriminal. Terimakasih.
EmoticonEmoticon