Rabu, 28 November 2018

Musim Paceklik Ngayogjazz

Rabu, 28 November 2018  | teraSeni.com~

Keramaian adalah hal yang lumrah untuk Desa Gilangharjo, Pandak, Bantul Yogyakarta. Pasalnya di desa tersebut terdapat sebuah petilasan bernama Selo Gilang, tempat di mana lokasi Tumurun Wahyuning Mataram yang diturunkan oleh Panembahan Senopati. Berbeda dengan keramaian pada hari-hari biasanya, pada hari Sabtu (17/11/2018) kerumunan manusia berpuluh-puluh kali lipat memadati desa untuk menikmati sajian musik jazz. 

Adalah Ngayogjazz sebuah festival musik jazz yang diselenggarakan setiap tahun dengan tempat penyelenggaraan yang selalu berpindah. Festival yang tahun ini mengusung tema “Negara Mawa Tata, Jazz Mawa Cara” ini memang lazim ‘mengincar’ desa sebagai ruang alternatif penyelenggaraan musik jazz yang kerap kaku di sekat beton gedung pertunjukan. 

ngayogjazz: Teraseni.Com
Panggung Ngayogjazz dari depan, tampak pemain sedang mempersiapkan penampilan
Foto: Agnes Putri Maylani Pamungkas

Di desa Gilangharjo, pelataran hingga lapangan olahraga disulap menjadi enam panggung yang tersebar di area desa. Alih-alih hanya panggung dan rumah masyarakat yang memberikan ambience yang berbeda, Ngayogjazz tahun 2018 ini turut menggandeng Prihatmoko Moki dengan muralnya di tembok-tembok desa dan Annisa P Cinderakasih dengan instalasi bambunya. 

Pada pergelaran Ngayogjazz tahun ini, turut berpartisipasi beberapa musisi jazz tanah air dan mancanegara, semisal: Syaharani dan Queenfireworks, Tophati Bertiga, Yuri Mahatma Quartet, Idang Rasidi and His Next Generataion feat Tompi dan Margie Segers, Brayat Endah Laras, Purwanto dan Kua Etnika, Kika Sprangers, Ozma Quintet, Rodrigo Parejo, dan lain sebagainya. Sejumlah musisi jazz tersebut lantas menjadi agen dalam menghubungkan dan memberikan penonton dengan pengalaman berbeda dalam menyaksikan jazz. 

Tawaran ini lah yang lantas membuat festival Ngayogjazz ditunggu oleh para musisi dan penonton Indonesia—terlebih para penonton baru. Namun untuk mereka yang rajin hadir, rasanya Ngayogjazz semakin terasa biasa-biasa saja. Secara lebih lanjut, sebagai sebuah festival tahunan yang diacu oleh festival jazz lainnya, rasanya Ngayogjazz minim gagasan dan kejutan baru di tahun kedua belas penyelenggaraan. Padahal di belakang pergelaran tersebut, terpampang nama-nama beken pelaku kreatif di Yogyakarta. Mungkin, serupa dengan tidak turunnya hujan di perhelatan Ngayogjazz tahun ini, mereka agaknya tengah mengalami musim ‘paceklik’. 

Pisau Bermata Dua 
Sebuah keniscayaan jika Ngayogjazz ditunggu-tunggu oleh penonton. Pasalnya mereka telah membuktikan dirinya sebagai festival jazz dengan konsistensi dan gagasan yang kuat. Idenya begitu mewah dalam semesta musik Jazz yakni penyelenggaraan di ruang yang tidak pernah terpikirkan oleh kalangan lainnya, desa. 

Ngayogjazz: Teraseni.Com
Panggung Ngayogjazz dari sisi kanan, telihat penonton begitu sesak
Foto: Agnes Putri Maylani Pamungkas
Alih-alih hanya berserah pada ‘keeksotikan’ desa sebagai ruang festival, Ngayogjazz mengajak serta masyarakat setempat untuk berpartisipasi dalam hal penyelenggaraan. Hal ini tentu berkesan positif bagi mereka yang melihatnya dari luar. Terlebih penonton dapat melihat peran aktif masyarakat dalam beberapa hal, seperti: parkir, pusat jajanan, penunjuk arah, dan lain sebagainya. Namun apakah masyarakat setempat—juga dapat dirujuk pada lokasi-lokasi sebelumnya—diberikan peran lebih dalam penyelenggaraannya? 

Terlebih dalam buku program tertulis“Festival jazz yang berkolaborasi dengan pesta rakyat." Dalam hal ini, terma kolaborasi seyogianya tidak berat sebelah. Di mana masyarakat setempat tidak mempunyai porsi dan posisi yang ‘tinggi’ dalam penyelenggaraan ataupun kepanitiaan. Singkat kata, menjadikan masyarakat setempat sebagai objek semata perlu dihindari. 

Pasalnya, jika alasan tidak seimbangnya peran dan porsi penyelenggaraan adalah modal intelektual yang berbeda, bukankah kerja partisipasi semacam ini seyogianya diarahkan pada edukasi untuk masyarakat. Alhasil masyarakat dapat memetik pembelajaran dan dapat mengembangkannya sesuai orientasi mereka masing-masing. Secara lebih lanjut, sebuah festival mempunyai nilai lebih untuk keberlangsungan masyarakat, tidak hanya sebagai ‘peminjaman’ ruang semata. 

Tidak hanya itu, turut tersemat kalimat “mengajak kearifan lokal dan menggunakan jazz sebagai penghubungnya.” Jika langsung dirujuk pada desa Gilangharjo, seberapa jauh Ngayogjazz menjadi penghubung nilai kearifan lokal—baik lokasi ataupun narasi—untuk masyarakat? Pasalnya kesadaran narasi atas kearifan lokal yang dimaksud justru tidak terlalu tampak. Paling banter adalah mengetahui lokasi petilasan, tanpa adanya keingintahuan dan partisipasi lebih, semisal: masuk ke petilasan, atau kearifan apa yang terkandung di dalamnya. 

Kendati demikian, Ngayogjazz tahun ini tetap perlu diberikan pujian atas upaya mengakomodasi masyarakat sebagai penampil festival secara lebih, baik dengan karnaval keliling desa hingga panggung khusus untuk warga. Dalam hal ini, Ngayogjazz telah berani menampilkan masyarakat sebagai bagian dari pergelaran tahunan tersebut. Namun kiranya menyematkan pertunjukan masyarakat setempat dalam panggung yang bercampur dengan musisi jazz agaknya perlu dicoba, guna menghindari pemisahan masyarakat dari panggung ‘utama.’ 
Ngayogjazz: Terseni.com
Panggung Lurah, pangung lain, khusus untuk warga dalam rangkaian Ngayogjazz
Foto: Foto: Agnes Putri Maylani Pamungkas
Pasalnya dapat dipahami bahwa enam panggung yang digelar pada waktu yang bersamaan telah memberikan keleluasaan dan kebebasan untuk memilih. Namun menampilkan kesenian masyarakat di panggung tersendiri telah meminimalisir mobilitas penonton ke panggung tersebut. Oleh karena itu, jikalau kesenian masyarakat bercampur dengan panggung pertunjukan jazz lainnya, kiranya kesempatan mereka mendapat perhatian akan lebih besar. 

Menunggu Tawaran Baru
Hujan mempunyai makna tersendiri untuk Ngayogjazz. Beberapa pergelaran Ngayogjazz sebelumnya kerap dirundung hujan. Tanah, becek, jas hujan, payung, dan alunan jazz seakan menyatu dengan alam. Namun tahun ini hujan seakan enggan turun di tanah di mana pergelaran Ngayogjazz dihelat, pasalnya gagasan dan terobosan baru tak kunjung tiba. 

Penyakit dari kreativitas adalah perasaan mapan yang kerap menenggelamkan ide-ide baru. Hal ini tentu tidak menjadi masalah jika sebuah festival menjadi rutinitas belaka, tetapi hal ini berlaku sebaliknya jika festival diperuntukkan untuk menciptakan pengalaman dan peristiwa. Dalam hal ini, Ngayogjazz agaknya tengah mengalami musim ‘paceklik’, hingga hanya isu jazz di pedesaan terus digaungkan, tanpa adanya eksplorasi yang sebenarnya punya kesempatan untuk terus berkembang. 

Ngayogjazz: Teraseni.com
Penampilan kelompok seni masyarakat
Foto: Agnes Putri Maylani Pamungkas
Dalam hal ini, Ngayogjazz perlu kiranya memberikan tawaran-tawaran baru yang tentu berkenaan dengan masyarakat, semisal: residensi untuk musisi jazz yang ditujukan untuk menciptakan karya yang terinspirasi dari desa setempat; kerja kolaborasi dari masyarakat dan musisi jazz terpilih. Di mana karya akhir dari kerja kolaborasi dipentaskan di panggung Ngayogjazz; pengelolaan program keberlanjutan dari lokasi yang pernah digunakan oleh Ngayogjazz, yang kiranya bisa digunakan sebagai pra-event Ngayogjazz; atau pembuatan statue sebagai tanda pernahnya dihelat Ngayogjazz di lokasi tertentu; dan lain sebagainya. 

Itu semua tentu pilihan dari Ngayogjazz sebagai pihak penyelenggara. Namun menurut hemat saya, dua belas tahun bukan usia yang singkat sebagai sebuah festival di Indonesia. Pasalnya, namanya telah menjadi canon dan para inisiatornya telah menjadi patron untuk penyelenggara festival lainnya.Oleh karena itu, sangat disayangkan jika Ngayogjazz tidak menciptakan terobosan baru atau—bahkan—ketinggalan dari festival berbasis masyarakat ‘kemarin sore’ lainnya.[]

Redaksi teraSeni berterimakasih jika teman-teman berkenan meninggalkan komentar, namun mohon untuk meninggalkan komentar yang tidak melanggar batas-batas etika, HAM, SARA dan tindak kriminal. Terimakasih.
EmoticonEmoticon